Ruhi amat sangat mencintai uang, karena itulah ia dipilih kakek Bizar untuk menikah dengan cucunya, Asraf.
Dua manusia berbeda generasi, mampukah mereka bersatu? atau malah berhenti ditengah jalan.
Kisah Ruhi dan Asraf di mulai...
✍🏻 revisi typo dan pemberian judul bab 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 - Calon Suami Ruhi
"Apa rumah mu masih jauh?" tanya Asraf setelah mereka turun dari angkot. Randu dan Asraf sudah banyak bertukar cerita, Randu juga tahu jika malam ini sang penolong tidak memiliki tempat untuk singgah.
Randu memutuskan memberi tumpangan pada Asraf untuk menginap malam ini.
"Tidak Om, sebentar lagi kita sampai. Itu, warung di pertigaan jalan adalah rumah ku," jawab Randu sambil menunjuk rumahnya sendiri.
Asraf melongok, dari kejauhan pun terlihat dengan jelas jika warung itu sangat kecil, entah bagaimana bentuk dalam rumah itu.
Huh! Asraf mengehela napas, terpaksa malam ini harus bermalam di rumah Randu.
"Tapi nanti aku pasti diomeli ibu sama mbak, Om harus tebal tebal telinga ya?" ucap Randu, ia menghentikan langkah dan menahan lengan Asraf.
"Om jangan bilang kalau aku tadi hampir pingsan." Randu memohon.
"Baiklah, tapi apa yang kamu lakukan memang salah. Sudah tahu besok akan operasi, kenapa malah keluyuran malam-malam begini." Asraf melihat jam dipergelangan tangannya, jam 10 malam.
Dilihatnya Randu yang terdiam sejenak sebelum mulai menjawab.
"Aku kan sudah bilang Om, aku sangat gugup. Aku takut operasinya gagal, aku takut hari ini terakhir kali aku melihat dunia, aku takut_"
"Sudahlah, semuanya akan baik-baik saja."Asraf menepuk nepuk pundak Randu, benar-benar anak yang malang, pikirnya.
"Asal kamu tahu saja, aku ini sebenarnya adalah orang sangat kaya raya di Jakarta. Jika Operasi mu besok gagal, aku janji aku melakukan apapun untuk kesembuhan mu," ucap Asraf tulus, hatinya benar-benar ingin membantu Randu sepenuh hati.
Om Asraf baik sekali, walaupun dia miskin, tapi dia pura-pura kaya untuk menyenangkan aku. Batin Randu salut.
Sebaiknya aku mengiyakan saja ucapan om Asraf kali ini, agar dia tidak kecewa.
"Terima kasih Om, aku percaya Om akan membantuku," jawab Randu bohong.
Mereka berdua kembali berjalan, nyaris sampai ke rumah dengan cat dinding warna putih yang mulai memudar itu. Randu merasa sangat cemas, sementara Asraf takut-takut. Takut jika isi rumah Randu persis seperti yang ada dalam bayangannya, kumuh.
"Sudah siap Om?"
"Sudah, ketuklah."
Setelah mengumpulkan keberaniannya, Randu mulai mengetuk pintu Rumah. Tadi dia kabur melalui jendela kamarnya, ibu dan sang kakak pasti mengira saat ini ia sedang berada di kamar.
Randu benar-benar takut akan kemarahan sang ibu dan sang kakak. Sebenarnya bisa saja Randu masuk melalui jendela kamarnya, tapi kini ia membawa seseorang. Tidak mungkin Randu menyelundupkan orang asing ke dalam rumah ini.
Tak lama setelah Randu mengetuk pintu dan mengucapkan salam, pintu itu terbuka.
Deg! Randu benar-benar cemas.
"Randu?" ucap Rina, ya, yang membuka pintu adalah sang ibu.
Randu terdiam, terpaku, tak punya nyali untuk menjawab, ia hanya menunduk saja.
"Kamu darimana? bukankah kamu tidur dikamar?" tanya Rina lagi dengan suara yang meninggi.
"Kamu menyelinap keluar lagi? ya Allah Randu Randu. Kamu kan besok operasi Nak, harusnya kamu beristirahat dan bukannya kabur-kaburan begini. Kalau kamu malah sakit gimana? bisa-bisa operasinya ditunda lagi," ucap Rina beruntun, ia cemas, takut dan marah. Semua rasa itu datang bersamaan menyelimuti hatinya.
Ini bukanlah kali pertama Randu kabur saat akan menjelang perawatan untuk sakitnya.
Rina takut, sangat cemas akan kesehatan sang anak. Ia ingin malam ini Randu beristirahat agar besok operasinya berjalan lancar.
Tapi, tapi Randu malah keluar rumah tanpa seizinya. Hingga larut malam begini pula.
"Kamu buat ibumu ini tambah cemas Randu." Mata Rina mulai berembun, nyaris menangis.
"Ehem!" Asraf berdehem, ia benar-benar merasa terabaikan.
Air mata Rina kembali masuk, tidak jadi keluar ketika melihat ada sesosok pria dewasa dibelakang Randu. Siapa itu? tanyanya dalam hati.
Belum sempat Rina menjawab, Ruhi datang dari dalam rumah.
"Ada apa sih Bu ribut-ribut? bukannya warung sudah tutup?" tanyanya sambil mengucek mata, ia terbangun gara-gara suara gaduh diluar.
Rina tidak menjawab, hanya sedikit menyingkir agar Ruhi melihat ada siapa didepan rumah.
"Randu?" tanya Ruhi, dan Randu makin menunduk. Hatinya benar-benar takut tidak karuan. Ruhi lebih menyeramkan di banding sang ibu, pikirnya.
"Kamu ngapain diluar?" tanya Ruhi, masih belum memahami situasi.
"Kamu menyelinap keluar lagi?" tebak Ruhi, dilihatnya Randu yang tetap terdiam sambil terus menunduk. Dari gelagatnya ini saja Ruhi sudah yakin, jika Randu benar-benar dari luar. Di jam segini?
"Wah! benar-benar anak nakal kamu ya? hem! berapa kali mbak bilang, jangan keluar-keluar tanpa seizin mbak dan ibu. Apalagi malam-malam begini, kalau kamu kenapa-kenapa di jalanan bagaimana? kalau kamu pingsan di jalanan siapa yang akan nolong!" Ruhi benar-benar marah, Randu selalu saja menggampangkan semuanya, tidak tahukah Randu jika ia dan ibu sangat mencemaskan dirinya.
Asraf yang melihat kedatangan Ruhi benar-benar terkejut, ia tidak menyangka jika Randu adalah adik Ruhi, lebih-lebih tidak menyangka jika malam ini ia berniat bermalam disini.
Sebelum Ruhi melihat keberadaannya, Asraf berniat kabur. Tapi mendengar Randu yang dimarahi habis-habisan membuatnya tidak tega.
Ruhi dan ibunya tidak tahu, alasan apa yang membuat Randu hingga harus keluar rumah.
"Ehem!" Asraf lagi-lagi berdehem, mulai menunjukkan dirinya.
Ruhi langsung menatap ke arah sumber suara, "ASTAGFIRULAHALAZIM!!" Ruhi terkejut, sangat terkejut, kenapa pria tua bangka ini ada di depan rumahnya?
Mendengar Ruhi yang beristigfar, Asraf kesal sendiri. Memangnya apa yang dilihat gadis buduk ini? setan?
"Ngapain Om kesini?" tanya Ruhi, Randu langsung mengangkat wajahnya merasa heran.
"Mbak kenal sama Om Asraf?" tanya Randu hati-hati, takut kemarahan sang kakak kembali tertuju padanya.
"Enggak, heran aja kenapa om om tua begini tegak di depan rumah kita. Warungnya sudah tutup Om," ketus Ruhi, ia menarik Randu untuk masuk dan berniat menutup pintu rumahnya. Ruhi benar-benar tidak ingin berurusan dengan Asraf.
Namun secepat kilat Randu dan Asraf menahan pintu itu, seolah Randu dan Asraf memiliki ikatan batin yang kuat.
"Jangan Mbak." Cegah Randu, ia melepas daun pintu dan mulai menatap kakaknya.
"Om Asraf yang sudah menolongku di jalanan tadi, beliau juga yang mengantar aku pulang." Jelas Randu apa adanya.
"Kamu kenapa-kenapa dijalan tadi?" tanya Ruhi dan Rina cepat. Mereka sama-sama cemas.
"Enggak enggak, enggak Bu, enggak Mbak. Maksudku, iya aku tadi sedikit pusing, untung ada om Asraf," jawab Randu gugup.
Asraf tersenyum, alhamdulilah, sepertinya malam ini ia masih mendapat tempat untuk bermalam.
"Jadi dia yang menolong mu?" tanya Ruhi dan Randu mengangguk.
"Ya sudah, ayo kita semua masuk, tidak baik mengobrol disini," ajak Rina, ia ingin menyambut pria dewasa ini dengan lebih layak, bagaimanapun beliaulah yang sudah menolong anaknya
"Nggak usah Bu, aku yakin juga Om Om ini bakal langsung pulang. Terima kasih ya Om atas bantuannya, selamat malam," ucap Ruhi lembut, tangannya bergerak perlahan ingin kembali menutup pintu rumahnya.
Asraf terperangah, benar-benar tidak menyangka bahwa Ruhi akan memperlakukannya sehina ini. Padahal Ruhi lah yang paling tahu diantara semua orang jika malam ini ia tidak punya tempat tinggal.
Merasa diacuhkan, Asraf akhirnya mengambil tindakan.
"Tunggu!" ucap Asraf sambil menahan pintu, ia kemudian mendorong pintu itu kuat-kuat hingga terbuka lebar.
Asraf masuk dan langsung menghadap Rina.
"Perkenalkan Bu, nama saya Asraf. Saya adalah cucu kakek Bizar, juga calon suami Ruhi." jelasnya tanpa ragu dan membuat semua orang terperangah.
Ha!
Krik.. kriik.. 🤣🤣😅😅