Aneska Maheswari ratu bisnis kelas kakap yang di bunuh oleh rekan bisnisnya tapi dengan anehnya jiwanya masuk pada gadis desa yang di buang oleh keluarganya kemudian di paksa menikahi seorang pria lumpuh menggantikan adik tirinya .
Mampukah aneska membalaskan semua dendam dan menjalani kehidupan gadis buangan tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6.Ulang Tahun Perusahaan
Hari ini seluruh keluarga Pranoto tengah sibuk bersiap. Malam nanti akan diadakan acara ulang tahun perusahaan Pranoto yang akan dihadiri berbagai kalangan rekan bisnis penting. Namun tahun ini, Raka sama sekali tidak ingin ikut dalam acara tersebut. Mama Ratna akhirnya meminta Raline untuk membujuk Raka agar hadir.
“Tolong ikutlah kali ini. Apa kamu tega menyakiti perasaan mamamu?” ucap Raline lembut, mencoba membujuk Raka di kamarnya.
“Itu perasaan mamaku, tidak ada hubungannya denganmu. Kenapa kamu repot-repot memikirkannya?” jawab Raka dingin, masih bersikeras tidak ingin ikut.
Raline menghela napas kasar. Ia lalu duduk bersedekap di depan kursi roda Raka.
“Kenapa laki-laki ini begitu keras kepala…” batinnya, ingin rasanya berteriak. Kesabarannya benar-benar diuji habis-habisan kali ini.
Ia kemudian mendongak menatap Raka. Suaranya sengaja dibuat bergetar.
“Apa kamu tidak kasihan kepadaku? Aku hanya anak buangan… aku lemah, selalu ditindas, bahkan dihina semua orang. Menetap di keluarga Pranoto adalah satu-satunya harapanku,” ucap Raline, berpura-pura memelas.
Raka mendecih pelan.
“Cih… lemah? Bahkan Kania dan Farel yang baru sekali mengejekmu langsung kehilangan aset serta ATM mereka dibekukan selama sebulan. Bahkan kamu juga membuat Kania putus dengan pacarnya. Itu yang kamu sebut lemah?” ucap Raka dingin.
Raline sontak terdiam. Matanya menatap Raka lekat-lekat, jantungnya berdegup tak nyaman.
Raka menatapnya tajam.
“Siapa kamu sebenarnya?” tanyanya, suaranya rendah namun menusuk.
Raline terbelalak.
“Tidak mungkin… dia tahu aku Anes? Tidak, itu tidak mungkin…lagi pula Aku juga tidak begitu mengenalnya selain rival bisnis ” batinnya mulai panik. Perasaannya terintimidasi oleh tatapan Raka.
“Apa kamu tidak lihat? Aku Raline, anak buangan keluarga Kusumawardani. Aku bahkan dibuang tepat sehari setelah pemakaman ibuku… hiks… hiks…” tangisnya pecah, mencoba meyakinkan Raka.
“Jika kali ini aku dibuang kembali oleh keluarga Pranoto karena gagal membujukmu… ke mana aku harus pergi?” ucap Raline lagi, lalu menutup wajahnya, berpura-pura menangis tersedu.
“Hiks… hiks… hiks…”
Raka mendengus pelan, namun matanya sedikit melembut.
“Baiklah. Aku akan pergi,” ucapnya akhirnya, “tapi aku tidak akan muncul di tengah ruangan itu. Aku hanya akan berdiam di ruangan dekat acara.”
Jawaban itu sontak membuat Raline berseri-seri. Air matanya lenyap seketika, seperti tak pernah ada.
“Baiklah, terima kasih, suamiku,” ucapnya ceria.
Raka mengabaikannya dan berbalik keluar kamar. Namun sebelum benar-benar melangkah pergi, ia sempat melirik Raline dari ekor matanya.
“Dia bahkan masih bisa bercanda dan ceria setelah mengigau ketakutan tadi malam…” batinnya, ingatannya kembali pada kejadian semalam.
Flashback
“Kenzo… selamatkan aku… hiks… hiks…”
Air mata Raline menetes deras. Tangannya gemetar ketakutan, menghentak-hentak kasur dengan mata masih terpejam.
Raka spontan duduk, panik, mencoba membangunkannya.
"Kenapa dia menyebut nama Kenzo? Apa Kenzo yang dimaksud sama dengan orang yang aku kenal?" batin Raka bergemuruh.
“Raline, ada apa denganmu?” tanyanya, namun perempuan itu terus mengigau penuh ketakutan.
“Kalian biadab! Aku akan membalas semua perbuatan kalian!” teriaknya dengan wajah penuh amarah. Tubuhnya tetap gemetar, seolah mencari pegangan.
“Raline, bangunlah!” ucap Raka cemas, mencoba menyadarkannya.
“Hiks… aku tidak akan mati semudah ini…” ucapnya lirih, masih meronta dalam mimpi buruknya.
Refleks, tangan Raka terulur. Ia mengusap air mata Raline yang terus mengalir. Seketika itu juga, Raline menggenggam tangan Raka erat, seperti mencari perlindungan.
“Aku akan kembali… aku pasti akan kembali untuk membalaskan dendamku…” ucapnya mantap. Genggamannya pada tangan Raka makin kuat.
Raka terkejut. Namun ia tidak melepaskan genggaman itu. Ia hanya menatap wajah Raline lama-lama—wajah yang tampak rapuh dan terluka di balik topeng liciknya.
“Apa yang sebenarnya terjadi denganmu?” gumam Raka pelan, mencoba menelaah misteri yang perlahan terbuka.
Raka kemudian benar -benar melajukan kursi rodanya meninggalkan gadis itu yang sangat ceria setelah ia menyetujui permintaannya.
_____
Di tengah-tengah lobi perusahaan, Mama Ratna membungkuk sedikit dan berbisik ke arah Kania di deretan kursi keluarga mereka.
“Kania, cepat lihat kakak dan kakak iparmu di ruangan sana. Semua orang sudah ramai, acara juga akan mulai, tapi satu pun dari mereka belum muncul.”
Nada cemasnya jelas terdengar.
“Mama takut kalau mereka berdua tidak datang. Kalau kakakmu yang tidak hadir, mama masih bisa maklum, keluar rumah saja dia tidak mau,” ucap Mama Ratna gelisah.
“Sudahlah ma biarkan saja. Justru bagus kalau dia itu tidak hadir. Keluarga kita tidak perlu malu dengan keberadaannya,” jawab Kania santai, namun penuh sinis.
“Kania, jaga ucapanmu,” tegur Mama Ratna cepat. “Cepat lihat Raline. Mama takut kalau nanti dia sudah datang dan nyasar di sini.”
Kania mendengus kesal, namun akhirnya berdiri, terpaksa mencari keberadaan Raline.
Di ruangan yang tadi ditunjuk Mama Ratna, Raline berdiri mematung di depan cermin besar. Ia tampak sangat cantik dengan penampilan glamornya. Riasan wajahnya halus, gaunnya jatuh anggun membingkai tubuhnya. Sekilas, ia tampak bak putri kerajaan bercahaya, percaya diri, dan sama sekali tidak menyisakan jejak “gadis kampung” seperti yang orang bicarakan.
Raka berada tak jauh darinya.
“Raka, benarkah kamu tidak ingin masuk ke dalam?” tanya Raline pelan.
“Aku sudah menuruti permintaanmu untuk ikut ke sini. Jangan membuatku kesal kalau kamu tidak ingin aku pergi dari sini,” ucap Raka dingin, membuat Raline terdiam seketika.
Raline menghela napas panjang, kemudian menatap Raka dengan sorot mata sendu.
“Baiklah… terima kasih. Setidaknya kamu sudah mau ikut denganku, meskipun kamu tidak ingin keluar. Aku akan sampaikan pada Mama Ratna nanti kalau kamu berada di sini.”
“Terserahmu,” jawab Raka singkat, lalu menggerakkan kursi rodanya menjauh ke sisi lain ruangan.
Raline hanya bisa menatap punggung pria itu yang perlahan menjauh. Ada perih yang menggantung di dadanya.
“Jika sikapnya terus begini, bagaimana aku bisa segera masuk ke dalam perusahaan Pranoto…” batinnya lirih. Tangannya menggenggam gagang pintu. Ia hendak keluar menuju lobi tempat acara berlangsung.
Namun, tepat ketika hendak membuka pintu, terdengar suara yang sangat familiar dari luar.
“Arumi, mana kakakmu yang dari kampung itu? Aku tidak sabar mengolok-olok wajah kampungannya itu,” ucap seorang gadis, suaranya jelas dipenuhi ejekan.
Raline spontan menghentikan gerakannya. Ia membuka sedikit pintu, mengintip siapa yang berbicara di baliknya.
Raka memperhatikan gerak-geriknya. Ia perlahan mendekat, ingin tahu apa yang sedang dilakukan gadis itu karna sama sekali belum bergerak keluar.
Dari balik pintu, suara Arumi kembali terdengar jelas.
“Kalian tidak tahu, pewaris perusahaan Pranoto yang dinikahi kakak tiriku itu sebenarnya bukan hanya lumpuh. Kabarnya alat vitalnya juga tidak berfungsi lagi karena kecelakaan besar yang dia alami,” ucap Arumi enteng.
“Berarti dia tidak berguna. Sama saja kakak tirimu menikahi pria hanya sebagai pajangan. Kasihan sekali nasibnya, ya,” saut temannya sambil terkekeh pelan.
“Iya, makanya aku menolak dinikahkan dengannya. Wanita sepertiku harusnya bisa mendapat lebih dari dia. Untuk apa aku menikahi pria lumpuh, mandul, dan bahkan kabarnya dia juga takut keluar rumah karena kondisinya?” lanjut Arumi tanpa rasa bersalah.
"Tapi wanita kampungan tidak berguna memang sangat cocok dengan pria lumpuh tidak berguna bukan. "sambung arumi lagi tertawa keras.
Ceklek.
Dengan kasar, Raline membuka pintu lebar-lebar. Wajahnya dingin—tidak lagi memelas, tidak lagi tersenyum.
Tanpa berkata apa-apa, ia merenggut gelas wine dari tangan teman Arumi, lalu menyiramkan isinya tepat ke wajah Arumi. Cairan merah itu membasahi wajah dan gaunnya dalam sekejap.
“Aaaaakh!” teriak Arumi histeris, menjerit memecah suasana.
Sontak seluruh orang di lobi menoleh. Sorot mata para tamu bergerak ke arah sumber keributan ke arah Raline yang berdiri tegak, dingin, dan tak bergeming.
.
.
.
💐💐💐 Bersambung 💐💐💐
Lanjut Next Bab ya guys😊
Lope lope jangan lupa ya❤❤
Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semuanya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat aku nantikan 🥰❤