Guno adalah seorang pria yang hidupnya berubah drastis dalam semalam. Istri tercintanya meninggal dunia akibat ledakan gas tragis di rumah mereka. Kejadian itu mengubah status Guno dari seorang suami menjadi duda dalam sekejap.
Sebagai seorang guru yang dikenal berdedikasi tinggi, Guno dikelilingi oleh siswa-siswi berprestasi yang baik dan simpatik. Saat kabar duka itu tersebar, seluruh penghuni sekolah memberikan simpati dan empati yang mendalam. Namun, di tengah masa berkabung itulah, muncul sebuah perasaan yang tidak biasa. Rasa peduli Guno yang semula hanya sebatas guru kepada murid, perlahan berubah menjadi obsesi terhadap seorang siswi bernama Tamara.
Awalnya, Tamara menganggap perhatian Guno hanyalah bentuk kasih sayang seorang guru kepada anak didiknya yang ingin menghibur. Namun, lama-kelamaan, sikap Guno mulai membuatnya risih. Teman-teman Tamara pun mulai menyadari gelagat aneh sang guru yang terus berusaha mendekati gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
saya sakit hati!
Melihat Tama bergegas pergi meninggalkan dirinya yang sedang memakan bakso, pun Guno langsung ikut berdiri kemudian menyusul Tama. Untungnya langkah Tama sedikit lamban hingga Guno berhasil meraih tangannya.
" Kamu mau ke mana kita masih makan loh?! Waktu juga masih banyak, kamu nggak sayang ya uangnya dipakai cuma - cuma? "
" Bapak tahu nggak sih, tiba-tiba hati saya sakit ketika bapak bandingkan saya sama mba Hana? "
Guno terdiam kemudian dia mengatur nafasnya sempat dia mengulum lidahnya sendiri mungkin dirinya sedang berpikir kalau wanitanya ini mulai cemburu.
" Kamu... Gak suka kalau saya bahas Hana? "
" Sebenarnya saya nggakpapa kok pak, bahas Hana dari ujung kaki sampai ujung kepala tapi please, jangan bandingkan saya dengan beliau! Umur kita beda jauh, trend, gaya hidup, bahkan keperluan di saat remaja pun beda jauh! "
Guno merasakan kalau Tama sekarang kini tengah memarahinya, pun hati Guno berbicara setelah mendengar perkataan Tama " Ternyata cemburu juga ini anak, berarti udah mulai suka dong sama gue? " Guno mengangguk-anggukan kepalanya seolah paham dengan apa yang Tama katakan. Tentu dia berusaha menenangkannya, kedua tangan Guno tersimpan di bahu Tama dan tatapannya menusuk ke mata Tama.
" Saya minta maaf sama kamu, iya saya salah! Jangan marah lagi ya "
" Bapak harus janji sama saya, jangan mengulanginya lagi! "
Lucunya Tama mengacungkan jari kelingking seperti sebuah perjanjian di antara kedua bocah yang sedang bermain, kemudian bertengkar lalu berakhir damai demi berlangsungnya hubungan mereka.
Guno menghembuskan nafas beratnya, sedikit terpaksa dia melingkarkan jari kelingkingnya ke kelingking Tama.
" Ya saya janji! "
Wajah Tama yang tadinya cemberut berubah tersenyum kembali.
" Sekarang kita masuk lagi yuk, makan lagi! "
" Oke! "
Tama mudah dirayu, dia kembali masuk ke dalam kamar lalu melanjutkan makannya bersama Guno. Setelah mereka makan bersama, mereka berbincang sejenak diatas kasur dengan kepala menyandar keranjang, Tama bercerita tentang kegiatan sehari-hari, tentang permasalahan yang sepertinya kurang nyaman bersama teman-temannya, lalu mata pelajaran yang Tama tidak suka, semua diceritakan kepada Guno.
" Saya nggak suka kalau Bu Etik tuh ngajar suka sambil matanya melotot, maksudnya biasa aja kan kita muridnya suka takut, kadang juga nggak fokus, pokoknya Bu Etik nyeremin deh! "
" Tapi kalau di kantor beliau baik kok sama kita semua, suka nyapa, ngajak ngobrol, nggak se-seram yang kamu ceritain Tam "
" Kan bapak rekan kerjanya, pasti beda lah nggak mungkin sama! "
" Terus.. kalau soal nilai beliau susah nggak ngasih nilai gede ke kamu? "
" Ya... susah tapi kalau misalkan hatinya lagi baik, moodnya lagi bagus kadang mudah banget dapat nilai "
" Jadi begitu ya isi hati kamu selama ini sama Bu Etik? Saya nggak nyangka loh! "
" Gak cuma saya, semua siswa kayaknya begitu deh sama Bu Etik "
" Iya kah? "
" Ya! Bahkan kami punya grup khusus untuk bahas Bu Etik "
" Sampai segitunya? "
" Ya! "
" Mana buktinya? "
Tama dengan semangat mengambil handphone dari dalam tas miliknya, kemudian jari jemarinya menari di atas layar dan ketika ia berhasil menemukan grup tersebut langsung diperlihatkan kepada Guno.
" Ini hanya kita yang tahu, kalau sampai bocor berarti siapa yang ngasih tahu? "
" Maksudnya kamu memperingatkan saya? "
" Karena selama 1 tahun belakangan ini grup kami aman-aman saja! "
" Siapa tahu kan salah satu anggota yang di dalamnya ngebocorin? "
" Gak mungkin! "
" Mungkin saja kalau salah satu dari kalian sudah terlanjur kesel sama anggota grup, terus ingin menjebak kalian... kan? "
" Kalau kayak gitu ceritanya saya nggak tahu sih "
Lalu Tama memperlihatkan detail grup itu yang berisikan lima puluh orang dari mulai kelas satu sampai kelas tiga, termasuk dirinya dan benar saja isi grup itu kebanyakan tentang membahas pakaian bu Etik, cara mengajar Bu Etik, pun mencela Bu Etik.
" Parah banget kalian "
" Soalnya Bu Etik tuh kalau sama murid ganteng suka beda sikapnya kan kita yang jelek juga butuh perhatian "
" Ganteng juga mungkin pintar terus nurut "
" Kita juga nurut kok! "
Guno mengelus bahu Tama,
" Sudah, apa-apa jangan dimasukkan ke dalam hati! Kamu bukannya fokus sekolah malah fokus mencela orang lain, nggak baik tahu! "
" Kan aku sama mereka manusia "
" Tapi Bu Etik juga manusia, kalau dia tahu grup ini pasti marah besar beliau "
" Ya.. siapa yang nggak marah di cela, tapikan Bu Etik juga suka gak adil sama kita. Fifty - fiftylah! "
Guno memonyongkan bibirnya kemudian dia menatap wajah Tama, Tama masih mengoceh tapi Guno malah fokus melihat bibirnya. Perlahan ibu jari Guno menyentuh bibir gadis itu " Bibir mu kenyal yah " Sanjung Guno pelan.
Tama yang di puji-pun hatinya meronta - ronta ingin berteriak dan berkata terimakasih namun, yang terjadi didepan Guno Tama hanya diam saja.
" Saya cium bibir mu gakpapa? "
Guno meminta izin pada Tama, pikir Guno itu akan di tolak. Tapi ternyata Tama mengizinkan dengan menganggukkan kepalanya. Guno tersenyum perlahan wajahnya mendekat dan berhasil melumat bibir gadis itu.
Sejenak mereka berhenti, satu sama lain saling menatap " Saya mencintai kamu Tama " dan Tama hanya bisa mengangguk lalu melanjutkan kembali ciuman manis itu selama satu jam lamanya.
Tama seperti memberi celah pada Guno untuk merajai dirinya, sembari berciuman dia membawa Guno untuk berbaring dengan benar di atas kasur. Kejadian tadi di awal yang membuat suasana canggung kini terulang dan mereka berdua menikmatinya.
Guno tahu ini sudah diluar batas dan dia paham betul kalau Tama harus dijaga bukan dirusak. Tapi yang namanya nafsu sudah di ujung tanduk membuat dirinya hilang kendali, Guno membuka resleting celananya dan itu terdengar oleh Tama dengan sigap tangan Tama langsung menutup kembali resleting itu.
" Jangan pak, saya tidak mau! "
Tatapan Guno kepada Tama, sayu. Dia pasrah dengan larangan Tama yang akhirnya niat dia ingin mendapatkan tubuh Tama musnah!.
" Lalu saya harus bagaimana? Saya tidak bisa menahan diri "
Kini Tama yang mengatur posisi yang tadinya Guno berada di atas Tama, sekarang sebaliknya.
" Serahkan semuanya pada saya! "
Mata Guno membulat dan.. Benar! Tama yang menguasai tubuh Guno sampai dia tidak berdaya. Apapun yang merangsangnya dia hanya bisa diam, menikmati semua sentuhan Tama.