NovelToon NovelToon
LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

Status: tamat
Genre:Spiritual / Mata Batin / Roh Supernatural / Fantasi / Tamat
Popularitas:30
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Poseidon merasa terhina karena ada satu lautan di dunia fana yang tidak mau tunduk pada perintahnya: Pantai Selatan Jawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Racun yang Disembuhkan dengan Racun

Gusti Pembayun tidak lagi terlihat seperti manusia. Separuh tubuh bawahnya telah berubah menjadi perut laba-laba raksasa yang transparan, berisi ribuan telur kecil berwarna hitam. Delapan kaki panjang yang terbuat dari air yang dipadatkan menancap di anak tangga Sitihinggil, membuat struktur bangunan keramat itu retak.

"Lihat aku, Suryo!" teriak makhluk itu, suaranya bergema ganda. "Ini adalah bentuk evolusi! Kenapa kita harus terikat pada tanah yang rapuh jika kita bisa menguasai lautan yang abadi?"

Pangeran Suryo tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menjawab dengan tombak.

Pangeran melompat tinggi, Baru Klinting menyala merah di tangannya. Ia membidik kepala manusia Pembayun yang masih tersisa di bagian atas tubuh monsternya.

SRAK!

Salah satu kaki laba-laba air itu menangkis serangan Pangeran dengan mudah. Kaki itu keras seperti berlian. Benturannya melemparkan Pangeran Suryo kembali ke bawah tangga.

"Lemah!" ejek Pembayun. Ia menyemprotkan jaring lengket dari mulutnya.

Pangeran berguling menghindar. Jaring itu mengenai lantai marmer, mendesis dan melelehkan batu itu seketika. Itu bukan jaring biasa, itu asam pekat.

Sementara itu, Sekar berlari mengendap-endap di sisi lain tangga, mencoba mencapai singgasana tanpa terlihat.

"Bambang!" panggil Sekar setengah berbisik ke arah masinis yang masih sembunyi di balik roda kereta. "Pecahkan konsentrasinya! Lempar apa saja!"

Bambang mengangguk panik. Ia memungut beberapa batu karang tajam, lalu melemparkannya ke arah Pembayun sambil berteriak, "Woy! Nenek lampir!"

Lemparan itu mengenai perut laba-laba Pembayun. Tidak sakit, tapi cukup menjengkelkan. Pembayun menoleh, matanya menyala marah.

"Serangga kecil..."

Saat perhatian monster itu teralihkan, Sekar melesat naik ke panggung Sitihinggil.

Ia sampai di depan singgasana. Sri Sultan masih terkurung dalam kepompong kristal yang kini sudah 80% menghitam. Wajah Raja terlihat kesakitan, urat-urat lehernya menonjol. Energi di sekitarnya bergetar liar, seperti reaktor nuklir yang mau meledak.

"Gusti..." Sekar menyentuh permukaan kepompong itu. Panas. Sangat panas.

"Jangan sentuh!" peringatan Pangeran Suryo dari bawah, sambil menahan serangan kaki laba-laba dengan tombaknya. "Racun itu korosif!"

Tangan Sekar melepuh sedikit, tapi ia tidak peduli. Ia harus mengeluarkan racun itu.

Tapi bagaimana?

Kyai Pamukdi pinggangnya bergetar.

Sekar teringat sesuatu. Di Dapur Mustika, Empu Dharma bilang: Baru Klinting adalah naga air yang dimasak oleh api. Dia tahu rasa sakitnya dibakar.

Dan racun ini... racun ini berasal dari Ratu Laut Utara. Musuh bebuyutan Ratu Kidul.

Sekar meraba lehernya. Jantung Samudra. Liontin pemberian Ratu Kidul.

Benda itu bersinar. Tapi sinarnya bukan untuk menyerang. Sinar itu berdenyut seirama dengan detak jantung Sri Sultan yang sekarat.

"Racun dilawan racun," gumam Sekar.

Ia melepaskan kalung itu.

"Maafkan saya, Gusti Ratu. Saya harus pinjam kekuatan Gusti sedikit lagi."

Sekar melilitkan kalung Jantung Samudra itu ke gagang cambuk Kyai Pamuk.

Lalu, ia melakukan hal gila.

Ia mencambuk kepompong Sri Sultan.

CETAR!

Bukan untuk menghancurkan kristalnya. Tapi untuk menyuntikkan energi Ratu Kidul ke dalam racun Ratu Laut Utara.

Saat ujung cambuk yang terlilit kalung itu menyentuh lendir hitam, terjadi reaksi kimia magis yang dahsyat.

Lendir hitam itu mendesis, berbusa, dan berubah warna menjadi hijau terang.

Energi Ratu Kidul yang murni "memakan" racun jahat itu. Menetralkannya.

"TIDAK!" jerit Pembayun, merasakan sihirnya diganggu. Ia berbalik, mengabaikan Pangeran Suryo, dan melompat ke arah Sekar. Kaki laba-labanya yang tajam terarah lurus ke jantung Sekar.

Sekar tidak sempat menghindar.

"MATI KAU!"

JLEB!

Suara tusukan terdengar.

Tapi Sekar tidak merasakan sakit. Ia membuka matanya yang tadi terpejam.

Di depannya, berdiri Pangeran Suryo.

Pangeran telah melompat di detik terakhir, menjadikan tubuhnya tameng bagi Sekar. Kaki laba-laba air itu menembus dada kiri Pangeran Suryo. Tembus sampai ke punggung.

Darah segar menyembur, membasahi wajah Sekar.

"Gusti!" jerit Sekar histeris.

Pangeran Suryo terbatuk darah. Tapi ia tersenyum. Tangan kanannya mencengkeram kaki laba-laba yang menembus dadanya itu, menahannya agar tidak ditarik keluar.

"Sekarang... kau tidak bisa lari, Bude," bisik Pangeran.

Pangeran Suryo mengangkat tombak Baru Klinting dengan tangan kirinya. Tombak itu menyala putih menyilaukan—menyerap sisa nyawa Pangeran sebagai bahan bakar terakhir.

"BAKAR!"

Pangeran menghujamkan tombak itu ke kaki laba-laba Pembayun yang menembus dirinya.

Energi panas naga mengalir lewat kaki air itu, langsung menuju tubuh utama Pembayun.

Pembayun menjerit. Jeritan yang bukan dari dunia ini.

Tubuh laba-labanya mendidih dari dalam. Air keras itu menguap seketika. Tubuh manusianya terbakar menjadi abu.

BLAAAARRRR!

Ledakan uap panas melemparkan Sekar jauh ke belakang, menabrak tiang pendopo.

Saat asap menipis, Pembayun sudah hilang. Hanya tersisa genangan air kotor di lantai.

Dan Pangeran Suryo...

Ia jatuh berlutut. Lubang menganga di dadanya. Tombak Baru Klinting tergeletak di sampingnya, cahayanya padam, kembali menjadi besi hitam dingin.

Sekar merangkak mendekat, air matanya tak terbendung. "Gusti... Gusti bertahanlah..."

Pangeran Suryo menatap Sekar dengan pandangan kabur. Ia mengangkat tangannya yang gemetar, menyentuh pipi Sekar.

"Jangan menangis, Nduk. Air matamu... asin... nanti aku jadi ikan asin..."

Tangan itu terkulai jatuh.

Mata Pangeran Suryo tertutup. Napasnya berhenti.

"GUSTI!"

Sekar memeluk tubuh kaku itu, meraung memanggil nama junjungannya.

Di belakang mereka, kepompong kristal Sri Sultan pecah berkeping-keping.

Raja Yogyakarta itu jatuh terduduk, terbatuk-batuk menghirup udara. Racun di tubuhnya sudah hilang. Ia selamat.

Sri Sultan menatap pemandangan di depannya dengan tatapan hancur. Ia melihat putranya tewas di pangkuan abdi dalem kecil.

"Suryo..." bisik sang Raja, suaranya pecah.

Namun, belum sempat mereka berduka, tanah berguncang hebat.

Kubah air di atas mereka retak.

Poseidon telah bosan menunggu.

Dinding air itu runtuh. Dan dari langit yang terbuka, turunlah sang Dewa Laut dalam wujud aslinya—raksasa setinggi gunung yang terbuat dari air pasang dan amarah.

"Habis sudah main-mainnya," suara Poseidon menggema, membuat bangunan Keraton yang tersisa rubuh. "Sekarang, kalian semua mati."

Sekar menatap mayat Pangeran di pelukannya. Lalu ia menatap Poseidon.

Rasa takut di hatinya hilang. Digantikan oleh kekosongan yang dingin.

Ia mengambil tombak Baru Klinting. Tombak itu berat, terlalu berat untuk tangannya yang kecil.

Tapi saat ia memegangnya, tombak itu berdenyut pelan. Tombak itu mengenali kesedihan yang sama seperti saat lidahnya dipotong.

Sekar berdiri. Ia menghapus air matanya.

Ia bukan lagi penari. Ia bukan lagi tukang kebun.

Ia adalah pendendam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!