NovelToon NovelToon
OFF SCRIPT LOVE

OFF SCRIPT LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:36.5k
Nilai: 5
Nama Author: Net Profit

Tama datang dengan satu tujuan: menjaga Lengkara.
Bukan untuk dimiliki, apalagi diperebutkan—cukup memastikan gadis itu baik-baik saja.

Namun mendekati Lengkara tak sesederhana rencananya.
Saat Tama sibuk mencari cara supaya selalu ada di dekat Lengkara, justru Sasa muncul tanpa aba-aba. Terlalu berisik, terlalu berani, dan terlalu sering menyebut namanya seolah mereka sudah sedekat itu.

Ironisnya, Sasa adalah adik dari laki-laki yang terang-terangan disukai Lengkara.

“Bang, 831 gimana? Yes or no?” Sasa menatapnya penuh harap.

Tama mendengus, menahan senyum yang tak seharusnya ada. “Apaan sih, nggak jelas banget!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengen nikah

"Sa!" satu potong wortel mentah masuk ke dalam mulutnya yang bengong.

"Mom!" Sasa cemberut, langsung membuang sembarangan potongan wortel dari mulutnya.

"Abisnya ditanya dari tadi malah bengong. Kenapa lagi kakak kamu? dari tadi pagi kalian bareng-bareng kan? kenapa sorenya jadi pada ribut gini?"

"Itu mom, kak Dirga terciduk meluk cewek lain, di kamar pula." Sasa menceritakan vidio yang berasal dari flashdisk hadiah ulang tahun Kara.

"Ternyata kak Dirga buaya juga." lanjutnya.

Miya menabok pipi putrinya dengan bawang daun yang sedang ia pegang, "jangan ngomong sembarangan. Kakak pasti punya alasan tersendiri."

"Tau deh mom, Sasa pusing liat kak Dirga sama Kaleng, nggak bisa adem dikit langsung perang dunia. Cape banget liatnya. Mommy juga pasti cape kan?"

Miya hanya tersenyum mendengar ocehan putrinya yang merasa paling cape, padahal dirinya lebih-lebih cape karena harus mengurus Sasa juga yang tak kalah absurd.

Makan malam kali ini Miya mengundang calon besannya. Mereka akan membahas perkara vidio yang diceritakan oleh Sasa tadi.

“Pi, Dirga mau ngomong penting.” belum sempat memulai, Dirga sudah datang bersama Kara dengan pakaian yang basah kuyup.

“Mau ngomong apa? pada mandi dulu terus ganti baju gih kalian basah gitu nanti sakit.” Ucap Miya, “Sasa bawa Kara ke kamar kamu, pinjemin baju kamu dulu.” Lanjutnya pada Sasa.

“Nanti dulu, Mom. Aku cuma bentar kok.” sela Dirga.

“Ganti baju dulu deh, Ga. Tangan lo dingin banget, gemetaran juga.” Ucap Kara.

“Nggak sekarang aja. Gue udah mikirin ini dari semenjak lo marah-marah tadi sore, Ra. Kita nggak bisa berjauhan, deket aja ribut terus apalagi jauh.” jawab Dirga.

“Papi, Mami, Daddy, mommy...” Dirga manatap satu persatu dari mereka secara bergantian. “Aku nggak mau pindah. Ijinin aku nikahin Kara, Pi.”

“Ga...” ucap Kara lirih.

“Gue serius, Ra. Lo mau kan nikah sama gue?”

“Iya ma..ma... mau banget, Ga.” jawab Kara gugup.

“Good. Kita belajar buat jadi dewasa bareng-bareng, Ra.” Ditariknya Kara dan memeluknya erat, tak peduli ada orang tua di sekitar mereka.

“Ga!!” teriak Kara saat Dirga ambruk begitu saja padahal dia belum melepaskan pelukan.

“Ga! lo kenapa? Dirga!!!” panik Kara.

“Mi, Dirga kenapa? Dirga bangun!” Kara menepuk pipi Dirga yang begitu dingin. “Ga, jangan mati dulu. Kita belum nikah! Dirga!!”

“Kalian jangan ikut panik. Dirga nggak apa-apa.” ucap Miya saat Rama dan Jesi ikut menghampiri Dirga yang ambruk dan Kara yang nangis kejer di sampingnya. “Sayang, bawa anak kita ke kamarnya. Sasa ajak Kara ke kemar kamu, ganti bajunya” Lanjutnya pada Ardi dan putrinya.

“Nggak mau Mom. Kara mau sama Dirga.” tolak Kara. “Nanti kalo Dirga kenapa-kenapa gimana?”

“Ayo Kaleng! Ganti baju dulu. Kak Dirga nggak apa-apa kok, ntar juga hidup lagi.” Ucap Sasa.

“Sekata-kata lo, Cin! Calon laki gue belum mati kali.” Sewot Kara.

“Iya maksud Sasa ntar Kak Dirga juga sadar. Udah yuk ganti baju dulu, nanti boleh nyamperin Kak Dirga lagi."

Kara berdiri di belakang Sasa yang sedang memilah baju untuknya.

“Baju tidur yang ini aja nggak apa-apa, Kaleng?” Sasa memberikan setelan piama tidur berwana kuning dengan gambar chimy chimy yang lucu.

“Asal nggak telanjang aja lah, no problem.” Kara segera mengenakan baju yang diberikan Sasa tanpa banyak komentar. Pikirannya saat ini hanya ingin cepat-cepat menemui Dirga.

“Nggak usah buru-buru juga pakenya, Kaleng. Percaya deh sama Sasa, Kak Dirga nggak apa-apa.”

“Nggak apa-apa gimana? Lo nggak tau aja tadi tuh wajahnya dingin banget. Tangannya juga gemeteran.” Kara membuang handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut secara asal.

“Kaleng mau kemana? Sini dulu Sasa keringin rambutnya, nanti Kaleng malah ikutan sakit.” Sasa menarik Kara yang hendak keluar dan memaksanya supaya duduk di depan meja rias. Tangan terampilnya mengambil hair dryer dan mengerikan rambut Kara.

“Kata Mommy kalo abis ujan-ujanan tuh harus mandi dulu biar nggak sakit. Kaleng malah ganti baju doang.”

“Gue nggak apa-apa, Cin. Awas lah biarin gue ketemu Kakak lo!”

“Diem dulu. Kak Dirga nggak apa-apa, Kaleng. Mungkin sekarang juga udah sadar. Kak Dirga emang gitu, nggak kuat kena dingin kelamaan. Dulu juga pernah kejadian kayak gini, makanya mommy tetep tenang soalnya udah pengalaman. Ditambah lagi Kakak belum makan sejak nganterin kita jalan-jalan siang tadi. Sorenya juga nggak makan malah ngurung diri di kamar sejak Kaleng marah-marah.”

“Semua gara-gara gue yah, Cin. Kakak lo jadi sakit.” Ucap Kara lirih. Dirinya kian merasa bersalah karena bahagia saat Dirga membawanya hujan-hujanan padahal lelaki itu tau betul dirinya tak bisa kedinginan. “Gue mau ketemu Dirga sekarang!”

“Tapi Kaleng rambutnya belum kering itu.” pasrah akhirnya Sasa mengikuti Kara ke kamar kakaknya yang bersebelahan dengan kamarnya.

Semua orang ada di kamar Dirga. Lelaki itu terbaring lemah dengan selimut tebal yang menutup tubuhnya. Di tepi ranjang ada sang mommy yang mengopresnya dengan air hangat.

“Dirga...” panggil Kara lirih seraya mendekat ke ranjang, melihat itu Miya segera berdiri dan membiarkan calon mantunya duduk di samping Dirga.

“Hei... Jangan nangis gitu. Gue nggak apa-apa.” ucap Dirga, ingin sekali tangannya menyeka air mata di wajah Kara tapi tubuhnya terasa lemas tak berdaya.

“Tapi gara-gara gue, lo jadi kayak gini.”

“Bukan salah lo, Ra. Udah jangan nangis terus, gue nggak apa-apa.”

“Nggak apa gimana? Lo jadi kayak gini semua gara-gara gue. Kenapa nggak bilang sih kalo lo nggak bisa kedinginan? Mana pake baju basah lama banget, ujan-ujanan pula! Kenapa nggak bilang coba? Kan kita bisa nunggu hujannya reda tadi.”

“Karena lo suka hujan-hujanan, Ra. Gue cuma nurutin apa yang lo pengen, hujan-hujanan bareng gue kan?”

“Ya tapi nggak gini juga. Kalo lo mati gimana? Gue jadi janda dong, mana belum nikah.” Ucap Kara.

“Pokoknya jangan kayak gini lagi, mulai sekarang gue nggak suka hujan. Dia bikin lo jadi sakit.” Lanjutnya seraya memeluk Dirga.

Dirga terkekeh mendengarnya, “kenapa jadi nyalahin hujan sih... dasar!”

“Mana ada janda sebelum menikah, Ra. Lo tuh suka ngarang!”

“Pokoknya jangan sakit lagi, Ga.” ucap Kara seraya menatap wajah Dirga. tangannya masih setia mendekap tubuh lelaki yang terbaring lemah itu, tak peduli papinya sudah berdehem berulang kali sejak tadi.

Sama hal nya dengan Dirga, dia juga menikmati pelukan Kara. Apalagi bisa melihat wajah menggemaskan itu tepat di depan wajahnya, benar-benar membuatnya lupa jika di sekitar mereka masih ada orang lain. “Iya. Maaf lo malah liat gue yang lemah kayak gini.”

“Nggak apa-apa. Ntar gue kasih vitamin biar cepet sembuh. Kata Selvia vitamin ini manjur banget buat nyembuhin pasangan yang lagi sakit.” Kara sudah ancang-ancang untuk mencium bibir Dirga.

“Kara!” sentak Rama saat anak gadisnya mendekatkan bibirnya pada Dirga. Tangan pria itu langsung menjewer telinga putrinya hingga berdiri.

“Ya ampun lupa ada papi.” Ucap Kara lirih.

“Ini pi..pi.. aku nggak aneh-aneh yah Pi. Aku cuma diem, Kara yang mulai.” Ucap Dirga gugup “Papi lihat sendiri kan aku lagi nggak berdaya Pi.” Lanjutnya menyelamatkan diri.

“Iya kamu lagi nggak berdaya, kalo lagi sehat pasti langsung ikut berpartisipasi aktif!” kesal Rama.

“Papi nggak asik banget dah. Kayak nggak pernah muda.” Keluh Kara.

“Iya nih papi Rama nggak asik. Vidio Sasa jadi gagal deh, padahal tangan Sasa udah pegel nih dari tadi pegang HP. Kirain bakal sampe kiss kiss gitu mau Sasa abadiin, soalnya yang tadi pagi di rumah Kaleng ketinggalan Sasa nya, pas datang mereka udah selesai.” Celoteh Sasa.

“Sasa!!” Dirga meninggikan suaranya yang masih lemah.

“Keceplosan Sasa. Maaf...”

“Dah lah papi nyerah.” Rama memijit keningnya yang mendadak pusing. Punya anak perempuan kelakuannya bikin istighfar terus. “Kalian berdua pilih nikah kan? Ya udah besok pagi langsung nikah aja. Pusing, lama-lama papi bisa darah tinggi mikirin kalian berdua.”

“Seriusan besok pagi kita di nikahin, Pi?” tanya Kara.

“Iya. Dari pada kalian berdua nambah dosa terus.” Jawab Rama.

“Asik. Yes, besok nikah!” sorak Kara.

“Kamu nggak keberatan kalo anak kita nikah besok kan, Di?” tanya Rama pada Ardi.

“Nggak masalah, Bang. Asal sesuai sama yang pernah kita bahas sebelumnya, mengingat mereka masih sekolah.” Jawab Ardi.

“Iya, aku juga setuju sama hal itu.” balas Rama.

“Kalian berdua dengerin papi, terutama Kara. Nikah itu bukan main-main, rumah tangga adalah proses belajar seumur hidup yang nggak ada tamatnya. Papi harap pilihan menikahkan kalian berdua adalah yang terbaik.”

“Dirga, kamu tau betul Kara sangat kekanakan. Papi harap meskipun kamu masih muda tapi bisa membimbing Kara jadi lebih baik. Setidaknya kamu bisa lebih mengalah dan bersabar menghadapi dia. Belajarlah untuk jadi lebih dewasa bersama-sama.”

“Iya, Pi.” Jawab Dirga.

“Papi tanya sekali lagi. Kamu yakin akan menikahi Kara? Diusia kalian yang masih sangat muda bahkan belum lulus sekolah. Mungkin Kara akan banyak merepotkan kamu di masa depan, dia manja, egois dan tak mau kalah. Kamu bisa mundur sekarang jika tak yakin.”

“Ih Papi jangan jelek jelekin Kara dong!” Protes Kara dengan bibir manyunnya.

“Sayang, kamu diem dulu.” Sela Jesi.

“Tapi Mi...” Kara terpaksa bungkam saat Jesi meletakan jari telunjuknya di bibir. “Iya iya Kara diem.”

“Dirga, kamu belum jawab!” ucap Rama.

“Aku yakin, Pi.” Jawab Dirga.

Rama menghampiri calon menantunya dan menepuk pundak berselimut tebal itu. “Titip anak papi, jaga dia baik-baik. Cepet sembuh biar besok ijab kabulnya lancar.”

“Tenang aja, Pi. Besok ijab kabulnya pasti lancar. Di sekolah udah belajar soal ijab kabul kok. ya kan, Ga?” ucap Kara. “Nanti Kara ajarin Dirga buat ijab kabul deh. Sa, lo googling gih teks ijab kabulnya.” Lanjutnya pada Sasa.

Rama hanya memutar bola matanya jengah dan pergi meninggalkan kamar.

“Pi, Dirga tadi di tanya yang serius-serius kok papi nggak nanya sama Kara?” teriaknya.

Rama menoleh menatap putrinya, “buat apa papi nanya kamu, orang jawaban kamu udah ketebak. Ngebet banget pengen nikah! Awas aja kalo udah dinikahin dikit-dikit minta cerai!”

“Nggak bakal, Pi. Kara sama Dirga udah lope lope forever banget.” Jawab Kara.

“Terserah kamu lah. Papi sama mami tunggu di bawah, jangan lama-lama disini udah malem.” Ucap Rama.

“Siap, Pi. Kara cuma mau nyuapin Dirga aja. Kasihan ayang nya Kara belum makan dari siang.” Jawab Kara.

“Ya udah kalo Kara yang mau nyuapin, mommy sama daddy juga ke bawah aja. Sasa juga ayo! Jangan ganggu mereka.” Ajak Miya.

“Iya sana keluar. Ganggu aja!” usir Kara.

“Dasar! mentang-mentang udah mau nikah aja berani ngusir Sasa.” Balas Sasa. “Daddy tungguin!” teriak Sasa seraya menyusul Ardi yang keluar paling akhir.

“Daddy, Kak Dirga sama Kaleng beneran nikah besok?”

“Iya, sayang. Kenapa emang?” Ardi mengusak gemas rambut putri bungsunya.

“Enak yah mereka nikah padahal belum lulus sekolah. Kalo Sasa punya pacar terus sampe kiss kiss bakal dinikahin juga nggak, Dad?” tanya Sasa.

“Kalo Sasa berani kiss kiss, daddy bakal hapus Sasa dari kartu kelurga. Biar Sasa jadi gembel!” ancam Ardi.

“Ih daddy kok gitu? Nggak adil banget! Masa Sasa di suruh jadi gembel. Sasa juga pingin nikah Dad.” Rengeknya.

Ardi mencubit gemas kedua pipi putrinya. “kamu ini dasar bocah! Liat yang mau nikah pengen nikah. Liat orang pacaran pengen pacaran. Liat orang ganteng langsung bilang cinta. Heran deh daddy punya anak cewek gini amat. Perasaan dulu pas mommy kamu ngidam semua yang di minta udah di turutin, kenapa anaknya malah jadi gampang pengen ini itu.”

“Nih daddy kasih uang buat jajan besok. Nggak usah ikut-ikutan pengen nikah segala!” Ardi memberikan uang pecahan seratus ribu pada Sasa kemudian buru-buru pergi sebelum putrinya nyerocos makin jauh. Kadang Ardi berfikir kenapa putrinya bisa secerewet itu padahal dia dan Miya bukan tipe orang yang suka nyerocos tak jelas.

Sasa menatap lembaran uang di tangannya lama, bibirnya manyun tapi matanya justru berbinar. Seratus ribu sih seratus ribu, tapi tetap aja rasanya kalah romantis dibanding besok pagi yang penuh ijab kabul. Ia menghela napas pendek, lalu menyeringai kecil.

Enak ya nikah…

Dalam hati, Sasa berjanji, suatu hari nanti—kalau bukan karena kiss kiss—ia bakal nikah karena cinta. Biar daddy nggak perlu nyiapin ancaman, dan Sasa nggak perlu jadi gembel dulu buat sah.

.

.

.

Maaf up telat

aku meriang guys dari pulang sekolah kemaren

Ini baru enakan

1
💥💚 Sany ❤💕
Ternyata efek jatuh cinta tu gawat juga ya Cin, bisa bikin kamu kayak kerasukan jin depan gang komplek 🤣🤣🤣🤣.
Amanda Safira
Gemesss bngttt
Jumi🍉
Udah Sa,,,/Scream/malu sama salting ini udah sampai nembus layar.../Facepalm/🤣
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
Semuanya pasti ikut senyum2 juga. 😊😊😊😊😊😍😍😍😍😍
Ummah Intan
kara hamilkah?
Ummah Intan
jangan
tiara
ikut seneng Sasa, ga sua-sia usahamu selama ini untuk mendapatkan bang Tama
aisyah
yg baca juga salting🤭🤭
Shee_👚
bukan g mau komen panjang kak net, tapi aku takut ikutan gila kaya micin

yang senyam senyum

ke tawa ngakak

geleng-geleng kepala

senyum lagi

ngakak lagi

ampe aku baca pagi-pagi depan paksu, malah di curigai 🤣🤣🤣🤣

ini semua karena micin, yang gurih, gemes dan genes🤣
Shee_👚
sasa dah senyam senyum kaya orang gila, yang bikin sasa oleng nya santai aja di rumah.

awas aja kalau bang tam tam hanya becandain anak orang🙄
Shee_👚
lagi baca proklamasi donk ya🤣🤣
sabar ya sa
Shee_👚
udah buntu ya sa🤭
RiriChiew🌺
akibat gombalan maut bang Tama, micinn jadi anehh 🤣🤣
Septi
bukan cuma Sasa yg senyum senyum sendiri.. aku juga ikutan senyum sendiri 😂😂🤭
Septi
effort banget 🤣🤣
Septi
pinter 🤣🤣🤣
Septi
wkwkwkwkwk ternyata ternyata 🤣🤣
Septi
episode isi chat Tama dan Sasa 🤭
Linda Ayu Tong-Tong
ciiin lo cuma digombalin tama 1 kalimat aja dah kayak org gila🤣🤣🤣🤣
Septi
😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!