Dua puluh kavaleri elit musuh terus bergerak mendekati lokasi persembunyian Aslan tanpa menyadari maut yang menanti. Pangeran itu telah menyiapkan jebakan mematikan melalui perhitungan sistem yang menjamin kemenangan mutlak bagi dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HUUAALAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Tembakan energi dari puncak benteng menyisakan kawah berasap di tengah barisan infanteri musuh. Debu salju dan serpihan zirah beterbangan menutupi pandangan Jenderal Malphas yang terjatuh dari kudanya.
"Elara, lepaskan kavaleri sekarang," perintah Aslan melalui alat komunikasi sihir.
[Sistem: Jalur serangan terbuka. Koordinat musuh tidak stabil. Efektivitas serangan balik: 95%.]
Pintu rahasia di sisi tebing terbuka dengan suara gemuruh yang teredam salju. Elara memimpin ratusan penunggang kuda Serigala Perak yang meluncur turun seperti longsoran perak. Mereka menghantam sisi kanan pasukan Malphas yang masih buta karena kilatan energi tadi.
"Jangan beri mereka ruang untuk bernapas! Habisi siapa pun yang memegang senjata!" teriak Elara sambil menebas perwira musuh yang mencoba berdiri.
Aslan berdiri di balkon komando dengan mata yang terus memindai seluruh area pertempuran. Garis-garis biru di penglihatannya menunjukkan titik-titik lemah yang harus segera dihantam.
"Si Tangan Besi, arahkan meriam nomor tiga ke bukit kecil di belakang Malphas. Mereka mencoba mengumpulkan pemanah cadangan di sana," ucap Aslan.
"Siap, Pangeran! Meriam uap dalam posisi bidik!" sahut Si Tangan Besi.
Dentuman keras kembali terdengar dari dinding benteng. Proyektil logam menghancurkan lereng bukit tersebut dan mengubur para pemanah musuh di bawah timbunan salju.
[Sistem: Target utama terdeteksi. Jenderal Malphas mencoba mundur ke arah hutan bawah.]
"Jax, cegat dia di persimpangan jalan setapak. Gunakan panah penjerat," perintah Aslan.
Jax yang sudah bersiaga di dahan pohon raksasa segera melepaskan anak panahnya. Tali kawat tipis yang terikat pada anak panah itu melilit kaki kuda Malphas hingga hewan itu jatuh tersungkur.
Aslan melompat turun dari balkon menggunakan kabel peluncur mekanis yang dibuat Si Tangan Besi. Ia mendarat dengan mulus di tengah kekacauan medan perang. Prajurit Harimau Putih yang mencoba menghalangi jalannya langsung tersungkur dengan luka di celah leher mereka.
"Kau tidak akan lari ke mana-mana, Malphas," kata Aslan sambil berjalan mendekati sang jenderal yang sedang merangkak.
Malphas menoleh dengan wajah yang penuh luka bakar dan amarah. "Kau monster macam apa? Bagaimana kau bisa mengendalikan benteng kuno ini?"
"Aku adalah pewaris sah dari setiap batu dan besi di tempat ini," jawab Aslan dingin.
[Sistem: Target mencoba menarik belati rahasia di balik sepatu bot. Jarak: 3 meter.]
Aslan menginjak tangan Malphas sebelum pria itu sempat meraih senjatanya. Suara tulang yang retak terdengar nyaring di tengah suara pertempuran yang mulai mereda.
"Katakan pada Kael, benteng ini sekarang adalah gerbang menuju kematiannya," bisik Aslan.
Elara memacu kudanya mendekat ke posisi Aslan. Ia turun dan melihat Malphas yang sudah tidak berdaya. "Pasukan mereka menyerah, Tuan. Hanya beberapa orang yang berhasil lari ke dalam badai salju."
"Biarkan mereka lari. Mereka butuh orang untuk menceritakan ketakutan ini kepada Kael," ujar Aslan sambil menyarungkan pedangnya.
[Sistem: Pertempuran selesai. Kemenangan mutlak bagi Liberator. Pengalaman taktis meningkat.]
Si Tangan Besi berjalan mendekat sambil memanggul palu godamnya yang masih berasap. "Pangeran, kita mendapatkan banyak jarahan zirah berat dan kuda dari mereka. Tapi pasokan batu inti kita berkurang cukup banyak setelah tembakan besar tadi."
"Gunakan batu inti cadangan yang kita ambil dari Aethelgard. Dan pastikan semua tawanan diikat di ruang bawah tanah sektor dua," perintah Aslan.
Lord Hektor dan para loyalis lainnya keluar dari gerbang benteng dengan wajah yang penuh rasa bangga. Mereka melihat sisa-asisa pasukan Malphas yang kini berlutut di bawah todongan pedang Serigala Perak.
"Kemenangan ini akan terdengar sampai ke pelosok Valerion, Pangeran," ucap Lord Hektor dengan suara yang bergetar.
"Ini baru satu jenderal, Lord Hektor. Masih ada empat jenderal besar lainnya di sisi Kael," balas Aslan tanpa menunjukkan kegembiraan yang berlebihan.
Elara mendekati Aslan dan menyeka noda darah di pipi pemuda itu. "Kau bekerja terlalu keras malam ini. Biarkan para kapten yang mengurus sisanya."
"Aku harus memastikan keamanan benteng ini sebelum badai berikutnya datang, Elara," jawab Aslan sambil menatap mata sang jenderal.
"Badai dari Kael tidak akan datang secepat itu setelah kehilangan Malphas. Masuklah, suhu udara mulai turun lagi," ajak Elara dengan nada yang lebih lembut.
Aslan mengangguk dan mengikuti langkah Elara masuk ke dalam aula benteng yang hangat. Di dalam ruang strategi, Bayangan Merah sudah menunggu dengan laporan baru dari ibu kota.
"Pangeran, Kael sangat murka setelah mendengar ledakan di pelabuhan. Ia mulai mencurigai adanya pengkhianat di dalam dewan penasihatnya sendiri," lapor Bayangan Merah.
"Bagus. Biarkan mereka saling curiga. Itu akan mempermudah langkah kita selanjutnya," sahut Aslan.
[Sistem: Memulai analisis rencana serangan ke sektor Barat. Target: Tambang Kristal Valerion.]
"Besok kita akan membahas cara merebut tambang kristal di Barat. Tanpa tambang itu, Kael tidak akan bisa mengisi ulang senjata sihirnya," ucap Aslan kepada semua orang di ruangan tersebut.
Si Tangan Besi langsung bersemangat. "Jika kita mendapatkan tambang itu, saya bisa membuat artileri uap yang jauh lebih besar dari yang sekarang!"
"Jax, istirahatlah. Besok kau harus berangkat lebih dulu untuk memetakan jalur tambang itu," perintah Aslan.
"Siap, Pangeran. Saya akan berangkat sebelum fajar," jawab Jax singkat.
Malam itu, Benteng Inti Valerion kembali menjadi tempat yang tenang di tengah badai salju. Aslan duduk di kursinya, membiarkan sistem sarafnya memulihkan diri dari beban penggunaan energi benteng.
"Kau masih memikirkan taktik?" tanya Elara yang membawakannya secangkir teh panas.
"Selalu. Satu kesalahan kecil bisa menghancurkan semua yang sudah kita bangun," jawab Aslan.
Elara duduk di lengan kursi Aslan dan meletakkan tangannya di bahu pangeran itu. "Kau tidak sendirian sekarang. Kami semua adalah pedang dan perisaimu."
Aslan menatap Elara dan merasakan beban di pundaknya sedikit berkurang. Aliansi ini bukan lagi sekadar soal taktik dan strategi, tapi soal kepercayaan yang telah tumbuh di tengah kerasnya peperangan.
[Sistem: Hubungan dengan subjek Elara stabil pada tingkat maksimal. Sinkronisasi emosional memberikan efek positif pada fokus mental.]
"Terima kasih sudah bertahan di sisiku, Elara," bisik Aslan pelan.
"Aku akan selalu ada di sini sampai kau duduk di takhta itu kembali," janji Elara dengan penuh keyakinan.