Judul: White Dream With You
Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Di Balik Teduh Taman Mini
Matahari Surabaya seolah sedang pamer kekuatan. Setelah sesi materi MPLS yang melelahkan di aula, para siswa baru akhirnya dibubarkan untuk istirahat. Sarendra berjalan dengan langkah yang masih agak bungkuk, menuju ke arah taman mini yang terletak di antara gedung Akuntansi dan TKJ. Taman itu tidak luas, hanya ada beberapa bangku semen dan pohon peneduh, tapi cukup untuk melarikan diri dari teriknya lapangan.
Di tangannya, ia memegang kotak bekal plastik berwarna biru yang dibawakan ibunya tadi pagi.
"Rendra! Sini, gabung!" Bagas melambai dari salah satu bangku semen di pojok taman. Di sana sudah ada beberapa anak cowok jurusan Akuntansi lainnya yang sedang asyik membuka botol minum.
Rendra duduk di ujung bangku, lalu membuka kotak bekalnya. Aroma nasi goreng telur yang masih hangat menguar. Meski sederhana, masakan ibunya selalu terasa seperti kemewahan bagi Rendra, apalagi di tengah kondisi ekonomi keluarganya yang sedang harus ikat pinggang.
"Duh, enak banget baunya. Gue cuma bawa roti nih," keluh Bagas sambil melirik bekal Rendra.
Rendra tersenyum lembut, tangannya yang terbiasa rapi menyodorkan kotak itu. "Ambil aja, Gas. Ibuku tadi bawain agak banyak kok."
Sifat perhatian Rendra langsung muncul. Ia berbagi dengan teman-temannya tanpa ragu. Namun, saat ia sedang asyik mengobrol, matanya tidak sengaja menangkap sosok yang duduk di bangku taman paling ujung, di bawah pohon beringin kecil yang rimbun.
Di sana, Vema duduk menyendiri. Rambut pendeknya sedikit berantakan tertiup angin. Ia tidak sedang memegang makanan, melainkan sebuah buku sketsa yang terbuka lebar di pangkuannya. Tangannya bergerak sangat cepat, seolah sedang mengejar sesuatu yang hanya ada di dalam kepalanya.
"Lagi lihatin siapa, Ren? Oh... Vema TKJ ya?" Bagas menyikut lengan Rendra sampai sesendok nasi hampir jatuh ke celana abu-abunya.
"Eh, enggak... itu, dia nggak makan?" tanya Rendra pelan, nada suaranya terdengar cemas.
"Katanya sih tadi udah habis bantuin anak-anak lain gambar atribut sama ngerjain tugas perkenalan Bahasa Inggris, jadi nggak sempat ke kantin. Emang baik banget sih dia, tapi kayaknya tipe yang nggak bisa nolak kalau disuruh," sahut Bagas.
Rendra terdiam. Ia teringat bagaimana Vema membantunya menali rafia tadi pagi. Ada rasa tidak nyaman di hatinya melihat Vema hanya diam dengan tatapan yang—jika diperhatikan lebih dekat—tampak sangat lelah. Rendra merapikan rambut belah tengahnya, mencoba mengusir rasa gugup, lalu berdiri sambil membawa sebagian porsi nasinya yang belum tersentuh.
"Gas, aku ke sana bentar ya."
"Oke" jawab Bagas.
Rendra berjalan mendekati bangku Vema di pojok taman. Semakin dekat, ia bisa melihat apa yang sedang digambar Vema. Bukan pemandangan taman yang indah, melainkan sosok-sosok hitam dengan garis-garis tegas yang terlihat mencekam. Dark art. Sangat kontras dengan wajah Vema yang terlihat lembut.
"Vema?" panggil Rendra lirih.
Vema tersentak, refleks menutup buku sketsanya dengan gerakan cepat. "Eh, Sarendra?"
"Maaf mengganggu... ini, ibuku bawain nasi goreng kebanyakan. Kamu belum makan, kan?" Rendra menyodorkan wadah bekalnya dengan tangan yang sedikit gemetar karena tidak pede.
Vema menatap nasi goreng itu, lalu menatap Rendra. Ada keraguan yang dalam di matanya. "Eh, nggak usah. Aku nggak lapar kok, makasih ya."
"Jangan bohong. Tadi aku lihat kamu bantu banyak orang sampai nggak sempat istirahat," ucap Rendra dengan nada tenang namun perhatian. "Makan sedikit ya? Ibuku pasti senang kalau masakannya habis."
Vema tertegun. Jarang ada orang yang memperhatikan kebutuhannya lebih dulu daripada meminta bantuannya. Aroma sabun bayi dari tubuh Vema kembali tercium saat ia meraih kotak itu.
"Makasih ya, Rendra. You're very kind," ucap Vema pelan. Kali ini dalam bahasa Inggris, seolah ia lebih nyaman mengungkapkan syukur lewat bahasa itu.
Rendra tersenyum tipis, merasa sangat lega. Namun, kehangatan di taman mini itu mendadak sirna saat ponsel Vema yang tergeletak di bangku bergetar hebat. Ada nama "Ibu" di layar. Seketika itu juga, ekspresi Vema berubah drastis. Wajahnya memucat, dan ia tampak ketakutan seolah ada ancaman besar di balik panggilan itu.
Rendra menyadari ada yang tidak beres. Kegelapan yang ia lihat di sketsa Vema tadi seolah mulai merayap ke dunia nyata melalui ponsel itu.
Tangan Vema yang tadi memegang kotak nasi pemberian Rendra kini beralih ke ponselnya dengan gerakan kaku. Ia menekan tombol hijau dengan ragu. Rendra, yang berdiri di sampingnya, melihat raut wajah Vema yang tadinya mulai santai, mendadak berubah tegang—seperti prajurit yang sedang dipanggil komandannya.
"I-iya, Bu?" suara Vema mencicit pelan.
Dari sela-sela telepon, Rendra mendengar suara seorang wanita yang terdengar sangat tenang, bahkan terdengar sangat sopan, tapi punya penekanan yang dingin. Tidak ada teriakan, hanya perintah yang mutlak.
"Iya, Bu... Vema tahu. Habis ini Vema langsung pulang," jawab Vema lagi. Matanya melirik ke arah Rendra sebentar, lalu ia sedikit menjauh.
"Iya, nanti Vema bantu 'bersih-bersih' di ruang belakang. Vema nggak lupa kok."
Setelah telepon tertutup, Vema menghela napas panjang yang terdengar sangat berat. Ia menutup buku sketsanya rapat-rapat.
"Ibumu ya?" tanya Rendra hati-hati. Ia merasa suasana tiba-tiba jadi canggung.
Vema mengangguk kecil sembari merapikan rambut pendeknya. "Iya. Disuruh pulang cepat. Katanya ada tamu di rumah yang harus 'disambut' secara khusus."
Rendra mengernyitkan dahi. "Tamu khusus? Kayaknya sibuk banget ya keluargamu, Vem."
Vema hanya tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. "Kelihatannya memang biasa saja, Dra. Kalau kamu lewat depan rumahku, mungkin kamu cuma lihat rumah keluarga normal yang tenang. Tapi di dalam... ada banyak hal yang nggak seharusnya ada di sana."
Vema menatap kotak nasi pemberian Rendra yang tinggal separuh. "Duniaku agak sedikit gelap kalau kamu masuk terlalu jauh. Makasih ya nasinya, rasanya... normal. Aku suka."
Vema berdiri, kembali memasang wajah "baik-baik saja" yang menjadi andalannya. Ia berjalan menuju barisan TKJ, meninggalkan Rendra yang masih mencoba mencerna kata-kata Vema. Rendra yang berasal dari keluarga harmonis—yang kalau ada masalah ekonomi ya dibahas jujur di meja makan—merasa ada misteri besar yang menyelimuti gadis beraroma sabun bayi itu.
ada apa dgn vema
lanjuuut...