Davina pikir dia akan menjadi pengantin paling bahagia hari ini. Pernikahannya berjalan dengan baik bahkan sampai dia mengucapkan janji setianya pada lelaki impiannya.
Namun, tiba-tiba seseorang bangkit dari tempat duduknya untuk merusak segalanya.
"Calon pengantin perempuan itu milik saya, Pak Pendeta! Dia tidak boleh jadi milik orang lain!" kata Raka, tegas.
Seluruh jemaat yang hadir langsung gaduh.
Apakah Davina jadi menikah hari ini? Atau dia harus mengenyahkan terlebih dahulu si iblis yang selalu mengganggu hidupnya selama ini?
Covers obtained from pexels, free to use.
IG Author : @ingrid.nadya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingrid nadya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dicoret Dari Kartu Keluarga
Karena ucapan Davina, akhirnya Raka —dengan berat hati— kembali ke apartemennya tiga hari kemudian. Sebenarnya dia sudah mencoba tidak kepikiran, tapi akhirnya menyerah pada rasa bersalah. Ternyata manusia bersifat setan seperti dia tetap punya hati untuk keluarganya.
Tapi Raka sengaja memilih hari dimana Mamanya punya kelas mengajar sampai sore dan Papanya tentu baru akan mendatangi apartemennya setelah jam kantor selesai. Tentu saja untuk mempersiapkan batin terlebih dahulu sebelum kena omelan semalam suntuk.
Raka memang sudah hidup sendiri selama tiga tahun, tapi orangtuanya tetap memiliki akses ke apartemen Raka. Mereka bilang ini hanya untuk jaga-jaga kalau Raka tiba-tiba sakit atau apalah, karena memang benar, mereka selalu menghormati privasi Raka selama ini. Siapa sangka mereka harus melanggar semua itu karena anaknya jadi biang kerok penyebab pernikahan anak kenalan mereka gagal menikah.
Sudah jam dua sore. Setidaknya, dia masih punya waktu tiga jam lagi sebelum kedua orangtuanya muncul di apartemennya. Dia menghempaskan diri ke ranjangnya yang nyaman. Seenak-enaknya tinggal di hotel, memang lebih enak rumah sendiri.
Matanya hampir terpejam, ketika dia mendengar bunyi pintu dibuka.
Dia langsung menoleh. Rara, kakaknya, muncul dengan wajah merah padam.
Raka langsung bangkit dari tempat tidur sebelum kakaknya tiba di hadapannya.
"RAKAAAA BEGOOOOOOOO!!!!" Rara tidak lagi dapat menahan amarahnya.
"Kaaaak, gue bisa jelasinnnn!" Raka berusaha lari dari kakaknya itu.
"Gak perlu! Lo tuh yaaaaaa kadang-kadang mikir dulu dong sebelum berbuat sesuatu." Rara mengambil bantal lalu mencoba menggebuk Raka. Dia menyudutkan Raka ke tepi tempat tidur yang berbatasan dengan dinding.
"Justru ini semua terjadi karena gue mikir, Kak!" Raka akhirnya membiarkan Rara memukuli dirinya.
Kakaknya perlu melampiaskan kemarahan, begitu pikir Raka.
"Aw, sakit!" keluh Raka, saat kakaknya menyerang kepalanya.
"Gue gak peduli!" Rara tetap memukuli Raka, berkali-kali.
Raka hanya bisa pasrah. Pintu kamarnya terbuka lagi. Suami Rara muncul.
'Yes, penyelamat gue akhirnya datang juga! Daritadi dong!' pikir Raka.
"Babe, jangan marah-marah. Ini Keysha jadi bangun," bujuk laki-laki itu sambil menggoyang-goyangkan satu sosok balita di dalam dekapannya.
Raka mempergunakan kesempatan itu untuk menjauh dari Rara.
"Hai, Keykey!" Raka langsung merebut keponakan perempuannya itu dari tangan abang iparnya. Tentu saja agar Keysha jadi perisai antara dia dan Rara. Tidak mungkin Rara berani memukulinya lagi kalau ada Kesyha di pelukannya.
"Jangan manggil anak gue seenaknya!" Rara protes.
Tapi saudara dekat setan seperti Raka ini tentu saja sudah mengabaikan kakaknya begitu saja.
"Keykey, do you miss me?" Raka menggosok-gosokkan hidungnya dengan gemas ke pipi Keysha.
(Keykey, kangen sama Om gak?)
Keysha sendiri hanya bisa tertawa sambil memeluk leher Raka kuat-kuat, seperti ingin mengatakan dia memang rindu dengan om-nya. Rara dan keluarganya memang baru tiba di Jakarta tepat di hari pernikahan Davina —ralat, hari dimana seharusnya Davina menikah. Jadi, Raka tentu belum sempat menguyel-nguyel keponakannya itu, karena pikirannya terlalu sibuk teralih pada si 'mantan' calon pengantin.
"I want to eat ice cream, Om!" Keysha memekik.
(Aku mau es krim, Om.)
Rara dan suaminya tinggal di Australia sejak awal menikah, Keysha memang tetap diajarkan menggunakan Bahasa Indonesia oleh Mamanya. Tapi tetap saja, dia lebih nyaman menggunakan Bahasa Inggris.
"Sure. I think I have some..." Rara sempat melirik ke Rara sebentar, lalu buru-buru meninggalkan kamarnya, menuju dapur.
(Boleh dong. Kayaknya Om punya deh...)
Dia pun membuka kulkas dan — untungnya — menemukan es krim disana. Kalau tidak, Keysha bisa mengamuk.
"Do you like Strawberry or Vanilla?"
(Kamu suka rasa strawberry atau vanilla?)
"Strawberry, Om! I like strawberry the most!"
(Strawberry, Om! Aku paling suka rasa strawberry!)
"And I like you the most!" ucap Raka sambil menguyel pipi keponakannya lagi sampai Keysha tertawa.
(Dan Om paling sukanya sama Keysha!)
Raka pun menyendokkan es krim tersebut ke dalam gelas, lalu mulai menyuapi Keysha. Saat itulah, Rara masuk ke dalam ruangan. Rara mengamati Raka yang sedang menyuapi anaknya dengan telaten.
"Lo tuh cuma jadi malaikat sama Keysha aja ya," keluh Rara, menyerah.
Raka mengabaikannya.
"Kemana aja lo selama beberapa hari?" tanya Rara lagi.
"Hotel."
"Terus kenapa sekarang ingat pulang?"
"Davina yang nyuruh gue pulang waktu ketemu."
"APA?"
"Emang dia gak bilang apa-apa ke Kakak?"
"Bilang sih, katanya lo baik-baik aja, jangan khawatir. Tapi gak bilang kalau lo berdua ketemuan."
"Well, gue sih yang nemuin dia—"
Belum sempat Raka menyelesaikan kalimatnya, Rara sudah memukul bahunya dengan kencang. Keysha sampai terpelongo.
"Aw, sakit, Kak!" keluh Raka.
"Why mommy?" tanya Keysha.
(Kenapa mama?)
"Ada serangga di bahunya Om Raka. Ya kan, Om?" Rara membelalakkan mata pada Raka.
"Yes! Thank you, Mommy!" Raka mencibir sambil memegangi bahunya yang masih sakit.
(Iya! Makasih ya, Mama!)
Raka pun kembali lanjut menyuapi Keysha.
"Lo tuh harusnya pakai Bahasa Indonesia sama Keysha, Ka. Ini kesempatan bagus buat Keysha dikelilingi orang yang lebih sering pakai Bahasa. Jadi, selagi gue dan Keysha disini, Bahasa Inggris dilarang!"
"Iya, iya!"
"Balik ke topik awal. Kenapa lo masih berani nemuin Davina?" Rara kembali mencecarnya.
"Gue sayang sama dia, Kak."
"Lo udah bilang hal yang sama dua tahun lalu. Tapi, lo tetep aja nyakitin dia."
"Tapi sekarang, gue udah sadar."
"Sadar gimana? Lo baru nyakitin dia lagi! Lo gagalin pernikahan dia!"
"Davina cintanya sama gue, makanya gue gagalin."
Rara terpelongo. Dia heran kenapa adiknya bisa mengucapkan sesuatu dengan kelewat percaya diri seperti ini? Seingatnya, Papa, Mama dan dirinya sendiri tidak ada satu pun yang punya tingkat percaya diri berlebihan seperti Raka ini. Mungkin ini yang dinamakan produk salah asuh. Raka terlalu dimanjakan selama ini!
"Lo tuh sadar gak sih lo tuh kelewat pede?"
"Dih, daripada minder! Lagian, gue cuma ngomongin fakta kok."
Rara rasanya ingin mengantukkan kepala ke dinding mendengar ucapan adiknya itu.
Pintu dapur mendadak terbuka.
Nayla dan Azel muncul. Raka langsung bersigap memeluk Keysha. Lagi-lagi berusaha menjadikan keponakannya sebagai tameng.
"RAKAAAAAA!!!!" Nayla sudah menjerit, lalu mengejar Raka.
"AMPUN, MA! AMPUUUUUN!" Raka mencoba berlari sejauh mungkin. Keysha sendiri tertawa-tawa dalam pelukan Raka mengira bahwa nenek dan om-nya sedang bercanda.
"KAMU MAU BIKIN MAMA SAKIT JANTUNG, HAH??? HILANG GITU AJA, GAK NGASIH KABAR SAMA SEKALI!!!"
"Nay, udah, Nay." Azel berusaha mengejar anak dan istrinya.
"Udah, udah! Anak kamu tuh ajarin yang bener!" Kini Nayla sudah memaki Azel.
Azel langsung terdiam, dia memang kewalahan menangani istrinya jika sedang mengamuk begini. Rara hanya bisa menepuk-nepuk punggung Papanya.
"RAKA!!! KAMU BERHENTI LARI ATAU MAMA CORET KAMU DARI KARTU KELUARGA!!!" Nayla masih terus berusaha mengejar Raka.
"Coret aja, Ma, paling nanti dimasukin lagi sama Papa!" kata Raka, tengil, tetap berusaha lari.
Azel menghela nafas.
"Anak Papa kenapa jadi macam setan begini sih, Ra?" tanyanya pada Rara.
Mau tidak mau, Rara jadi tertawa.
"Papa sih, makanya jangan dimanjain!"
***
Duh, Ka, papamu udah tua loh, masa disuruh lari-larian lagi sih? 🤣
Jangan lupa like dan comment-nya, men-temen!
IG Author : @ingrid.nadya
aku tantang author nya jika kau diposisi raka apakah kau akan Terima saja diperlakukan kayak gitu
jadi wanita punya hati sedikit dalam berkarya lihat juga perasaan pemeran utama pria jangan egois hanya semua tentang pemeran utama wanita (posisi diri kalian)
kalian bangga lihat novel yang merendahkan lelaki, di novel kelihatan sekali kalian tidak peduli perasaan pemeran utama pria kalian buat pemeran utama pria kayak orang bodoh yang Terima saja diperlakukan dan dipermain
ini contoh kalian merendahkan karakter raka (pria)
*dibuat kayak pengemis yang terus mengemis cinta
*dibuat kayak lelaki bodoh diperlakukan seperti apapun dia Terima begitu saja
*dibuat hanya sebagai pelarian dia Terima begitu saja
*raka yang ditolak dan campakkna tapi dia juga yang terus mengejar devina
*dipermalukan didepan banyak orang kayak pengemis
*digantung dan dibuat kayak boneka yang bisa dipermainkan begitu saja
*saat diperlukan dia harus ada tapi saat tidak dibutuhkan dia di campakan kayak sampah
author punya hati, coba kau diposisi raka apakah kau Terima begitu saja,
novel memang bagus tapi keegoisan mu sebagia wanuta sangat jelas disini
raka jelas hanya dibuat pelarian oleh davina tapi author seakan karakter raka jadi lelaki bodoh yang harus Terima saja dipermainkan devina, dipermalukan devina, dibuat pelarian devina
aku tantang author jika author diposisi raka, apakah author mau diperlakukan kayak gini
jadi novelis juga harus punya hati dalam membuat novel, jadi novel bisa adil
lihat saat raka melakukan kesalahan pada devina kalian buat devina tegas dan tidak mudah memaafkan raka
tapi saat devina yang mempermainkan raka kalian buat raga menerima begitu saja kayak lelaki bodoh
pakai hati sedikit saja thor dalam berkarya biar kelihatan betapa egois dirimu sebagai wanita dalam membuat novel
dan mirisnya jadi pemeran utama pria ketika dia salah dia akan dibuat dapat balasan dan kayak pengemis, tapi ketika dia disakiti dia dibuat harus menerima begitu saja dan kayak lelaki bodoh yang selalu siap untuk pemeran utama wanita
*aku tantang kalian (author) jika kalian diposisi raka apakah kalian akan Terima begitu saja diperlakukan kayak gitu
pakai hati sedikit dalam membuat novel jadi kalian juga memikir pemeran utama pria jangan hanya melihat dari sudut pandang pemeran utama wanita
sekian