Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Acuhnya Dave
Setibanya di rumah sakit, Nick segera turun dari mobil dan meminta dua brankar pasien kepada petugas. Ia juga didampingi aparat kepolisian agar proses penanganan bisa dilakukan lebih cepat. Dengan sigap, tim medis menyiapkan dua brankar dan memindahkan tubuh Dave serta Elia ke atasnya.
Keduanya segera dibawa ke ruang Instalasi Gawat Darurat untuk menjalani pemeriksaan. Masing-masing dokter mulai memeriksa kondisi mereka, sementara Nick menunggu di luar dengan raut wajah cemas, berharap hasil yang terbaik.
Alat kejut listrik pun disiapkan. Voltase dinaikkan hingga tegangan tinggi. Setelah dokter memberi aba-aba, kedua paddle ditempelkan ke dada Elia. Ya, di antara mereka berdua, kondisi Elia adalah yang paling kritis. Detak jantungnya sempat tidak terdeteksi.
“Syukurlah.” Dokter dan tim medis lainnya menarik napas lega setelah beberapa kali tindakan dilakukan. Layar monitor akhirnya menunjukkan detak jantung Elia kembali normal. Dokter juga menemukan memar cukup luas di bagian punggung Elia, disertai luka bakar pada kakinya. Sementara itu, Dave mengalami luka robek di bagian dahi.
Pintu ruang pemeriksaan terbuka. Nick yang sejak tadi menunggu segera bangkit dan menghampiri dokter yang menangani keduanya.
“Tuan, kondisi kedua pasien cukup parah. Terutama Nyonya Elia, detak jantungnya sempat tidak terdeteksi. Namun syukurnya, sekarang sudah kembali normal,” jelas dokter. Mendengar itu, Nick menarik napas lega.
Dokter kemudian menambahkan bahwa Dave harus segera dibawa ke ruang operasi, sedangkan Elia perlu dipindahkan ke ruang ICU.
“Tolong lakukan yang terbaik, Dok,” pinta Nick dengan suara lirih.
“Tuan, tenang saja. Kami akan melakukan yang terbaik,” jawab dokter sambil menepuk pelan pundak Nick.
Tak lama setelah dokter menyampaikan kabar tersebut, Elia dan Dave keluar dari ruang pemeriksaan secara bersamaan. Namun, sesampainya di persimpangan lorong, keduanya harus berpisah. Dave dibawa ke arah ruang operasi, sementara Elia menuju ICU.
Pemandangan itu begitu menyayat hati. Nick terdiam, dadanya terasa sesak menyaksikan semuanya. Ia benar-benar terharu melihat pengorbanan Elia yang begitu besar. Wanita itu rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan orang yang ia cintai.
Di tempat lain, Bianca berusaha melarikan diri. Alex mengurungnya di dalam kamar yang dilengkapi CCTV.
“Brengsek! Buka pintunya!” Bianca terus menggedor dan menarik gagang pintu sekuat tenaga. Namun sia-sia. Pintu itu tak bergeming, justru tangannya sendiri yang terasa nyeri dan memerah.
Ia bergegas mencari tasnya, tetapi tak menemukannya di mana pun. Ponselnya pun telah disita oleh Alex.
“Sialan! Dia mengambil ponselku!” teriak Bianca sekuat-kuatnya, hingga suaranya terdengar keluar kamar.
Tak ada tanda-tanda pintu akan dibuka. Bianca terus memutar otak untuk mencari cara kabur. Pandangannya tertuju pada sebuah jendela di kamar mandi.
“Sial!” umpatnya kesal saat mendapati jendela itu dilapisi teralis besi yang kokoh.
Yang ditunggu-tunggu akhirnya terjadi. Pintu kamar terdengar terbuka. Bianca segera keluar dan mendapati Alex berdiri di hadapannya dengan tangan berkacak pinggang. Ia melangkah mendekat dan tanpa ragu melayangkan tamparan ke pipi pria itu.
“Kurang ajar kau, Alex! Kenapa kau mengurungku di sini!” pekiknya. Alex tak tinggal diam. Ia membalas tamparan itu dengan keras hingga ujung bibir Bianca mengeluarkan darah. Bianca meringis kesakitan saat Alex menarik tengkuk lehernya dengan kasar.
“Dengar baik-baik, Bianca. Jangan sekali-kali kau mencoba kabur dari sini. Jika sampai itu terjadi, nasibmu akan sama seperti kekasihmu. Terpanggang di dalam gudang tua,” ucap Alex sambil tertawa puas.
Mata Bianca membulat sempurna, tubuhnya meremang. “A-apa? Kau… kau pasti bercanda, kan?” suaranya bergetar.
“Kekasihmu yang tak berdaya itu sudah pergi ke alam baka. Aku membakar tempat itu bersamanya di dalam,” lanjut Alex dingin. Sebelum ia dan anak buahnya pergi, kobaran api telah membesar dan melahap bangunan dengan cepat. Dalam pikirannya, tim penyelamat pasti datang terlambat. Dan peluang Dave untuk selamat nyaris tak ada.
Perlahan air mata Bianca jatuh. Ia tak percaya jika Dave telah tiada. Melihat Bianca menangisi pria lain justru membuat Alex semakin murka. Ia mendorong Bianca ke atas tempat tidur.
“Kelihatannya kau sangat mencintai pria itu. Tapi jangan lupa, sejak awal kau tetap milikku,” ucap Alex dingin. Bianca mundur perlahan di atas ranjang, tubuhnya gemetar ketakutan.
Alex mencengkeram wajah Bianca dengan keras. “Jika kau ingin selamat, kau harus menuruti kemauanku,” ancamnya.
Cuih! Bianca meludahi wajah Alex. “Aku tidak sudi disentuh olehmu, bajingan!”
“Brengsek!” geram Alex. Tamparannya kembali mendarat. Tak berhenti di situ, ia mencekik leher Bianca hingga napasnya tersengal.
“Jika kau patuh, aku akan bersikap lemah lembut padamu. Tapi jika kau terus melawan, bersiaplah, aku akan menyiksamu sepanjang hari.”
“Alex… lepaskan!” ucap Bianca terbata-bata, wajahnya memerah karena kekurangan oksigen.
Alex akhirnya melepaskan cekikannya. Bianca terbatuk-batuk, menghirup napas dalam-dalam dengan susah payah.
“Ayolah, sayang. Jangan membuatku selalu ingin menyiksamu. Aku ini sangat mencintaimu,” ucap Alex sambil membelai wajah Bianca dengan lembut. Perubahan sikapnya yang begitu cepat membuat Bianca semakin ngeri. Baru saja bersikap kasar, kini berpura-pura penuh perhatian, seolah memiliki dua sisi kepribadian.
Tak ada jalan lain baginya selain berpura-pura patuh demi bertahan. Bianca menunduk, air matanya jatuh tanpa suara, berharap semua ini hanyalah mimpi buruk yang segera berakhir.
Beralih ke rumah sakit, Angel dan Billy segera datang setelah mendapat kabar dari Nick. Lisa pun sudah lebih dulu tiba, sesuai perintah Nick untuk menemani dan menjaga Elia. Kini, Dave yang telah selesai menjalani operasi serta Elia yang berhasil melewati masa kritis telah dipindahkan ke ruang rawat masing-masing.
“Dave…” ucap Angel lirih. Ia meraih lengan adiknya yang terbaring lemah di ranjang pasien. Pandangannya tertuju pada beberapa luka lebam di pipi Dave, membuat wajahnya tampak sedikit bengkak. Tanpa terasa, air mata Angel jatuh. Billy mendekat perlahan dan mengusap pundak Angel dengan lembut, mencoba menenangkannya.
Tak lama kemudian, Nick datang. Ia memberi salam dan hormat terlebih dahulu.
“Nick, di mana Elia? Bagaimana kondisinya?” tanya Angel.
“Nyonya Elia sudah siuman dan saat ini sedang diperiksa dokter,” jawab Nick.
“Antarkan aku ke ruangannya.”
“Sayang, kau tunggu di sini dulu, ya,” ujar Angel pada Billy. Billy mengangguk pelan.
Ruangan Elia berada di lantai berbeda, namun masih dalam kelas VVIP. Setibanya di sana, Angel spontan menutup mulutnya. Ia melihat memar yang begitu parah di area punggung Elia. Bahkan Angel ikut merasa ngilu saat dokter menyentuh bagian tersebut.
“Nyonya Elia, dari hasil CT scan, terdapat cedera cukup serius di bagian bahu dan punggung. Setelah pulang dari rumah sakit, Anda tidak diperbolehkan berenang sampai cedera dan trauma di area tersebut benar-benar pulih,” jelas dokter.
“Dan satu hal lagi, Anda tidak boleh terlalu lelah dan stres,” tambahnya.
Setelah menyampaikan arahan, dokter dan perawat pun keluar dari ruangan.
“Kak Angel,” sapa Elia dengan senyum tipis.
Angel mendekat, matanya berkaca-kaca. Ia ingin memeluk Elia, namun menahan diri agar tak melukai tubuhnya.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Elia?” tanya Angel sambil terisak.
“Kak Angel, jangan sedih. Semuanya sudah baik-baik saja,” jawab Elia lembut.
“Oh iya, bagaimana Dave? Aku ingin melihat kondisinya…”
Saat mencoba bangkit dari ranjang, Elia meringis kesakitan.
“Ah!”
“Nyonya, sebaiknya jangan banyak bergerak dulu. Kondisi Anda belum sepenuhnya pulih,” ujar Dave
“Iya, Nyonya,” sahut Lisa mendukung.
“Tapi aku ingin tahu kondisi Dave. Dia baik-baik saja, kan?”
“Tuan Dave baik-baik saja, Nyonya. Beliau sedang beristirahat,” jawab Nick dengan hati-hati, berusaha menenangkan Elia.
Angel melirik ke arah Nick. “Nick, ada yang ingin aku tanyakan padamu.”
“Baik, Nyonya.”
Angel berjalan lebih dulu, diikuti Nick dari belakang. Sesampainya di ruang tunggu, keduanya duduk berhadapan.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Nick?” tanya Angel serius.
Nick lalu menjelaskan semuanya satu per satu. Air mata Angel kembali jatuh saat mendengar bagaimana Elia nekat menerobos kobaran api di gudang tua demi menyelamatkan Dave.
“Elia benar-benar mencintai adikku… Dia bahkan rela mempertaruhkan nyawanya,” ucap Angel lirih.
“Benar, Nyonya,” jawab Nick.
“Namun ada satu hal yang Nyonya Elia sampaikan pada saya.”
“Apa itu?” tanya Angel cepat.
“Beliau meminta agar hal ini dirahasiakan dari Tuan Dave. Jangan mengatakan bahwa Elia yang menyelamatkannya.”
Angel mengernyit, menatap Nick heran. “Kenapa? Dave berhak tahu. Dia suaminya.”
“Saya mengerti, Nyonya. Tapi itu pesan dari Nyonya Elia. Beliau tidak ingin Tuan Dave merasa kasihan padanya.”
Angel semakin bingung. “Maksudmu apa? Astaga… aku jadi semakin tidak mengerti. Tolong jelaskan, Nick.”
Nick bangkit dari duduknya.
“Maaf, Nyonya. Saya tidak tahu alasan Nyonya Elia berkata demikian. Namun saya mohon, jangan sampaikan apa pun kepada Tuan Dave mengenai hal ini. Terima kasih.”
Nick pun pamit dan melangkah pergi menuju ruangan Dave.
Sementara itu, Angel masih terpaku di kursi ruang tunggu, mencerna setiap perkataan Nick barusan. Ia tahu, ia tak bisa memaksa siapa pun untuk bercerita.
“Aku harus mencari tahu semuanya sendiri,” gumamnya pelan.
Setibanya di ruangan Dave, Nick mendapati atasannya sudah terbangun. Billy sedang membantu Dave minum.
“Tuan Dave,” sapa Nick sambil memberi hormat.
“Nick,” jawab Dave dengan suara lemah.
Billy berdiri dan mendekat ke arah Nick. “Di mana Angel?” tanyanya.
“Nyonya Angel masih berada di ruangan Nyonya Elia, Tuan,” jawab Nick.
“Elia?” ulang Dave singkat.
Belum sempat pembicaraan berlanjut, pintu terbuka. Angel masuk dengan mata merah akibat tangisannya tadi.
“Dave,” seru Angel sambil memeluk adiknya erat. Dave melepaskan pelukan itu perlahan. “Tunggu. Tadi Nick bilang kau dari ruangan Elia? Apa maksudnya?”
Angel terdiam sejenak, lalu melirik Nick. “Saat mendengar Anda masuk rumah sakit, Nyonya Elia sempat syok, Tuan. Saya memutuskan untuk membawanya ke sini agar mendapat perawatan,” jelas Nick.
Dave mengangguk tanpa menunjukkan ketertarikan lebih lanjut. “Merepotkan saja,” gumamnya dingin.
Angel menahan amarahnya. Kedua tangannya mengepal kuat mendengar kalimat itu keluar dari mulut adiknya.
“Angel, Billy, bisakah kalian keluar sebentar? Ada yang perlu aku bicarakan dengan Nick,” pinta Dave.
Billy dan Angel mengangguk bersamaan.
“Kalau begitu sekalian saja, aku juga belum makan siang. Ayo, Sayang, kita cari makan di luar,” ujar Angel, berusaha menahan emosinya.
Keduanya pun keluar dari ruangan. Nick duduk di kursi di samping ranjang pasien. “Nick, di mana Bianca? Apa dia baik-baik saja? Aku khawatir padanya,” tanya Dave.
“Saya belum menerima laporan terbaru dari pihak kepolisian, Tuan. Kemungkinan mereka masih menelusuri keberadaannya. Tenang saja, saya yakin Nona Bianca baik-baik saja,” jawab Nick hati-hati.
Dave terkekeh pelan, terdengar getir. “Bagaimana aku bisa tenang? Pria berengsek itu menculik Bianca saat sedang bersamaku.”
Nick terdiam sejenak, lalu bertanya, “Tuan tadi mengatakan Nona Bianca diculik seorang pria. Apakah Tuan mengenali wajah pria itu?”
Dave menggeleng. “Aku tidak tahu namanya. Di gedung tua itu dia bahkan tidak memperkenalkan diri. Tapi aku melihat satu hal yang jelas. Dia memiliki tato di bagian lehernya.”
hadeuh dave.... ank siapa yg brtanggung jawab siapa🤣🤣🤣
eeee mlah lbh milih mnjatuhkn pilihan ke jalang....
istri di cuekin... eeee sm si jalang prhatian bgt...
skrg minta ksempatan.... g tau malu n g tau diri km dave.... elia km kasih barang bekasan jalang...
🙄🙄
udah g usah drama dave... bukankah perempuan pujaanmu adalah bianca...
jdi kmbali lah ke bianca...😅😅
rugi dpt bekasan si bianca jalang...
dave g cocoj dpt perempuan sebaik km elia...
dave cocoknya dpt perempuan jalang..
suami lgi main lndir sm jalang di luar....
ntar jalangnya hamil....
istri sah harud ngalah dan prgi...