Dean Justin Lee, seorang sutradara muda terkenal yang digilai oleh fans dan para aktris itu membuat skandal yang paling gila. Ia menikahi seorang petugas laundry bernama Jessy Julian yang memiliki paras cantik dengan mata berwarna hazel dan rambut pirang paling indah.
Jessy Julian merupakan seorang wanita mandiri yang sejak kecil ditemukan oleh seorang wanita pemilik yayasan. Ia pindah ke New York untuk mengadu nasib sebagai petugas laundry.
Pertemuan pertama Jessy dan Dean justru membuat mereka harus mengarah pada suatu proses pernikahan. Namun, Apakah perbedaan status keduanya dapat membuat pernikahan mereka berlangsung lama? Lalu bagaimanakah Jessy menjaga hatinya karena pesona Dean yang membuat wanita lain terpesona?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nipi Nupu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Pria ini gila, pikir Jessy. "Aku sedang bekerja. Dan maaf sepertinya aku harus menolaknya." ucapnya sambil menutup telepon.
"Kenapa?" tanya Mrs. Patty
"Jika pria itu menghubungi ke sini hanya untuk mengatakan omong kosong, lebih baik kau katakan kalau aku banyak pekerjaan, Patty..."
Setelah telepon ditutup, Dean langsung menyambar jaket dan topi miliknya. Ia keluar dari apartemen dengan menutup wajahnya menggunakan masker serta kacamata hitam. Dari kejauhan terlihat paparazi tengah menantinya diruang lobi. Mereka berkerumun. Sudah bisa dipastikan olehnya. Para petugas keamanan terlihat sibuk.
Dean mengendap-endap untuk bisa pergi keluar dari sana secepatnya. Ketika mereka lengah, Dean keluar dari pintu samping. Ia berjalan cepat untuk segera sampai ke tempat laundry. Hanya butuh waktu 7 menit untuk sampai kesana. Dean membuka pintu dan seorang wanita sedikit gemuk sedang melihat arsip-arsipnya. Ia tahu dan yakin kalau wanita dihadapannya adalah Mrs. Patty. "Mrs. Patty?" ucapnya.
Wanita itu menatap Dean dari atas kebawah. Dean membuka masker dan topinya.
"Aku pelangganmu yang tadi, Dean. Aku ingin bertemu dengan karyawan mu, Jessy"
Mrs. Patty tidak beranjak sedikitpun dari sana. Ia hanya terpesona pada sosok Dean yang tampan. Dean menghampirinya dan berbisik. "Aku ingin bertemu dengan karyawan mu, cantik! Bisa kau panggilkan?"
"Jessy!!!" Panggil Mrs. Patty sambil berteriak.
Jessy berdecak kesal ketika Mrs. Patty memanggilnya. Ia sedang memasuk-masukan pakaian pria tadi kedalam mesin cuci. Pintu mesin cuci ditutup kemudian tombol start ditekan setelah memasukkan deterjen kedalam mesin itu. Ia melangkah keluar dan sedikit terkejut ketika melihat Mrs. Patty sedang menatap seseorang dengan tatapan terpesona. Ia bahkan tidak berkedip.
Setaunya suaminya tidak memiliki tubuh seatletis itu. Dari belakang, pria itu malah mirip dengan seseorang yang tadi ditemuinya. Tunggu,, pria tadi? Betulkah pria tadi?
Ketika pria itu membalikkan badannya, Jessy menggelengkan kepalanya. Ia tidak menyangka lelaki tampan itu menyusulnya hanya karena bisnis.
"Mrs. Patty, aku akan meminjam Jessy selama setengah jam. Aku harus berbicara dengannya." Ucap Dean sambil menarik lengannya.
"Aku sedang memasukkan pakaianmu kedalam mesin. Patty, tolong.. kau sebagai pemilik laundry ini. Kau harus menolaknya." Sahut Jessy mencoba melepaskan genggaman tangannya. Tapi tangan pria itu semakin mempererat pegangannya.
"Aku tidak peduli pada pakaianku. Aku bisa membelinya lagi." ucap Dean.
"Patty.. please..." rengek Jessy dengan wajah memelas.
"Aku akan melihatnya." Ucap Mrs Patty cepat. Ia berlari kedalam.
...***...
Kini mereka berdua berada disalah satu cafe yang berada didepan laundry. Dean masih menggunakan topinya tanpa melupakan masker.
"Apakah kau benar-benar memaksaku untuk berbisnis denganmu?" Jessy tampak kesal.
"Panggil aku Dean. Dan ya. Aku terpaksa melakukan ini!"sahut Dean tegas. Ia mengeluarkan buku dan menulis sesuatu. Kemudian ia memberikan kertas yang disobeknya itu pada Jessy. "Ini, cek seratus ribu dollar hanya untuk malam ini. Aku pikir sudah cukup banyak. Lagipula aku membutuhkanmu hanya beberapa jam saja."
"Kau membeli ku?" Tanya Jessy marah. Ia hampir saja menyiram wajah lelaki itu dengan air putih yang berada didepannya.
"Sabar, Jessy. Aku bukan membeli mu. Aku membutuhkan bantuanmu untuk hadir bersamaku dalam suatu acara. Aku membutuhkan seorang pasangan. Tolonglah, aku benar-benar membutuhkan bantuanmu."
"Siapa kau?" tanya Jessy dengan mengerutkan keningnya.
Dean tersenyum dibalik maskernya. Jessy dapat melihat itu. "Nanti kau akan mengetahuinya saat ikut denganku ke acara itu."
"Acara apa? Aku tidak memiliki gaun.." suara Jessy terdengar khawatir.
"Aku akan siapkan. Kau tidak perlu khawatir tentang itu."
Jessy menyerahkan cek itu kembali. "Maafkan aku. Sepertinya aku tidak bisa membantumu. Patty akan marah besar padaku."
Tanpa banyak bicara, Dean pergi sambil menarik lengan Jessy untuk kembali ke tempat kerjanya. Mrs. Patty hanya menatap keduanya dengan tatapan bingung. Terlebih ketika Dean mengeluarkan uang dollar dari dompetnya.
"Maafkan aku Mrs. Patty yang baik hati dan cantik. Aku harus membawa pegawaimu pergi dari sini hanya untuk hari ini. Kejadiannya sangat mendesak dan aku tidak bisa menghindarinya. Aku pikir ini cukup untuk melemburkan pegawaimu." Dean menyerahkan 500 dollar hanya untuk meminta ijin.
Mrs. Patty tersenyum tanpa mengucapkan larangan. Ia menerima uang itu dengan mata berbinar.
Jessy menggelengkan kepalanya. Ia tidak menyangka atasannya akan mengijinkannya demi uang. Iapun diam saja saat Dean menarik lengannya. Uang seratus ribu dollar dalam sekejap mata didapatkannya.
"Kemana kau akan membawaku?" tanya Jessy bingung.
Dean membalikkan tubuhnya kembali dan menatapnya. "Panggil aku Dean."
Jessy hanya menatapnya dan masih tetap bingung. Dean menggelengkan kepalanya dan menatapnya "Kau masih tidak mengenalku?" Jessy menggeleng. "Good. Ayo ikut aku. Aku akan menyiapkanmu."
mudah dimengerti...
enak dibaca