Intan, memiliki sifat pemalu, inscure, dan selalu menghindar dari keramaian. Penampilannya selalu menggunakan kacamata, rambut yang selalu diikat satu, membuat penampilannya terkesan culun. Intan dinikahkan oleh Mama dan Papanya dengan laki-laki narsis, hanya dikarenakan hutang keluarganya. Namun siapa sangka, ternyata hutang adalah sebuah kebohongan agar Intan mau menikah.
Begitu pula dengan sebaliknya, Rifal, pria narsis yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi karena ketampanannya yang membuat kaum hawa ingin menjadi istrinya.
Akankah pernikahan Intan dan Rifal menjadi sebuah keluarga yang harmonis? Setelah semuanya terbongkar, akankah Intan dan Rifal memilih untuk berpisah?
Update tidak menentu, tapi saya akan usahakan untuk update setiap hari😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maililiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Calon Mertua
Keesokan paginya, Intan duduk di balkon kamarnya. Melihat matahari terbit dengan mengenakan celana diatas lutut dan kaos oblongnya. Jika di dalam kamar, Intan selalu mengenakan pakaian sesukanya, tapi jika di luar, ia juga tidak menyukai memakai pakaian seperti ini. Paha mulusnya yang berwarna putih membuat mata laki-laki tidak ada yang menolak dengan pemandangan itu.
Mengingat permintaan papanya kemarin untuk menerima perjodohan, mau tidak mau ia harus menurutinya. Mendengar papanya agak baikan, Intan mengurungkan niatnya untuk bekerja hari ini dan beberapa hari kedepannya. Perjodohan selalu ia hindari, tapi apalah dayanya, jika tidak menurutinya maka ia harus menerima kabar buruk tentang kesehatan papanya.
"Mungkin ini yang terbaik," gumam Intan pelan, matanya masih terus menatap pemandangan dari balkon kamarnya.
Sudah tiga hari ia tidak bekerja, berkali-kali pula teman-teman kerjanya menghubungi Intan. Akan tetapi, ponselnya disita oleh papanya, sebagai jaminan bahwa ia mau dijodohkan. Papanya masih di rumah sakit, ditemani oleh Nie, istrinya. Intan tidak pernah membayangkan kalau ia harus menerima perjodohan ini demi melunasi hutang papa dan membangkitkan perusahaan.
Cukup membosankan berada di balkon, matahari semakin lama semakin meninggi. Cahayanya menusuk kulit tipis Intan. Gadis itu pun masuk ke dalam kamarnya, menutup jendela yang menghubungkan kamar dengan balkon. Rumah berlantai tiga, dengan desain ala-ala rumah tradisional. Membuat yang tinggal di rumah tersebut menikmati sensasi Jawa. Ya, rumah itu bernuansa Jawa karena mereka memang dari orang Jawa. Meskipun tidak bisa berbahasa Jawa.
Ketukan kayu yang diadu, membuat Intan segera turun dan melihat siapa yang bertamu. Sebelum membuka pintu, gadis itu melihat siapa yang mengunjungi rumahnya melalui sebuah lubang kecil yang dikhusukan untuk melihat sebelum membukakan pintu. Sepasang kekasih dengan penampilan ala-ala seorang pengusaha, tak henti-hentinya membenturkan kayu yang memang dikhusukan jika ada tamu harus membenturkan kayu tersebut sebelum tuan rumah keluar.
Intan merapikan rambutnya yang tidak berantaran dan memasang kacamata kesayangannya. Tak lama, ia pun membukakan pintu untuk mereka. Sepasang suami istri itu tersenyum melihat Intan dengan penampilan culunnya. Kemudian Intan mempersilahkan mereka masuk dan duduk di ruang tamu.
Intan tak langsung duduk bersama mereka, tapi ia berpamitan untuk membuatkan minuman. Satu cangkir teh dan satu cangkir susu beserta kue red valvet yang sengaja Intan bikin untuk menghilangkan rasa jenuhnya. Sebelum mulai berbicara, mereka meminum minuman masing-masing.
"Maaf, Tan, Om. Tapi mama sama papa tidak ada di rumah." Intan membuka keheningan itu. Sepasang suami istri itu sudah tau tentang sandiwara yang dilakukan oleh Nie dan Ferdian.
"Jangan panggil kami tante dan om, sekarang panggil kami bunda dan ayah," kata Nahla sambil mendekat kearah Intan. Gadis itu semakin pusing memikirkan perjodohan, ditambah tamunya kali ini menyuruh Intan memanggilnya dengan Bunda dan Ayah.
Intan hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Wanita paruh baya itu duduk di samping Intan, kemudian memeluknya lalu mengelus rambutnya. Intan bertanya-tanya dengan perlakuan mereka hari ini. Ia mencoba bertanya, namun bibirnya berat untuk mengatakannya.
"Ka-kalian si-siapa?" tanya Intan gugup setelah berdebat dengan pikirannya.
"Kami adalah calon mertuamu, karena papamu punya hutang, maka kamu akan dinikahkan oleh anak kami," jawab laki-laki paruh baya itu.
Ya, mereka adalah Rubin dan Nahla. Pasangan yang selalu berdua kemanapun mereka pergi. Pernyataan itu membuat Intan terkejut, mulutnya yang menganga langsung ditutupi oleh kedua tangannya. Melihat Intan seperti itu, Nahla dan Rubin menggelengkan kepala karena gemas dengan calon menantunya.
"Kalian sedang tidak bercanda, kan?" tanya Intan memastikan bahwa ini adalah sebuah kebohongan. Namun tidak sesuai dengan harapan, mereka adalah benar-benar calon mertuanya.
Untuk mencairkan rasa cannggunnya, Intan mempersilahkan mereka minum dan memakan kue yang ia bikin sendiri. Alangkah enaknya kue buatan Intan, Nahla dan Rubin tidak akan merubah keputusannya untuk menikahkan anaknya dengan anak sahabatnya. Sepasang suami istri itu saling menatap dan mengagumkan kepalanya, mulutnya masih terus mengucah kue red valvet.
"Ini sangat lezat, apa kamu yang membuatnya?" tanya Nahla setelah kue itu tak tersisa di mulutnya. Intan mengangguk pelan, ia malu. Intan berpikir kue buatannya tidak enak.
"Apa kuenya tidak enak?" tanya Intan ragu.
"Tidak, Sayang. Kuenya enak sekali, sudah tiga hari bunda ingin sekali dibelikan kue ke anak bunda. Tapi katanya sudah tiga hari pula toko kue itu tidak menyediakan kue, katanya pegawainya sedang libur," kata Nahla yang tak lepas dari senyumannya. Alangkah terkejutnya Intan mendengar perkataan calon mertuanya, karena sudah tiga hari pula ia tidak kerja.
Intan hanya tersenyum kaku, tak lama datanglah mama dan papa Intan. Kini mereka berlima kumpul di ruang tamu. Intan pamit untuk membuatkan minuman lagi, namun dicegah oleh mamanya. Intan pun kembali duduk. Ferdian yang terlihat sehat sedang berbincang dengan calon besannya, Intan juga diajak ngobrol dengan Nahla.
"Intan, apa kamu sudah mengenali mereka?" tanya Ferdian kepada anaknya. Intan menggeleng pelan sambil tersenyum kaku.
"Aku tidak mengenali mereka. Kata mereka, aku harus memanggil mereka Ayah dan Bunda dan kata mereka pula, mereka adalah calon mertuaku," jawab Intan jujur, karena ia tidak tahu nama asli mereka.
"Anak yang jujur. Jadi gini, Nak. Mereka datang untuk melihatmu, pastikan kamu tidak berbuat yang tidak sopan kepada mereka," ucap Ferdian.
"Intan anak baik, sangat sopan. Kelihatannya ia hanya kaget kedatangan tamu tak diundang seperti kami," bukan Intan yang berkata, tapi Nahla yang membalas perkataan Ferdian. "Kami sangat menyukai Intan, apalagi kue buatannya. Sangat enak," sambung Nahla yang diangguki oleh Rubin.
"Terimakasih atas pujiannya, Bun," ucap Intan.
Hari pun mulai siang, Rubin harus menghadiri rapat penting di kantornya. Sebelum benar-benar pergi, Intan menyalami punggung tangan Bunda dan Ayahnya. Ferdian dan Nie tersenyum kemenangan, mereka berhasil membujuk Intan untuk segera menikah, meskipun caranya cukup menyusahkan.
"Papa enggak istirahat di kamar?" tanya Intan kepada Papanya yang sedang duduk menonton acara berita di televisi.
"Papa bosen, baring-baring mulu. Nih ponsel kamu." Ferdian mengeluarkan ponsel milik Intan dan mengembalikan ke pemiliknya. "Sim card-nya papa cabut," ucapnya lagi yang membuat ia melongo.
"Sini-sini duduk di samping mama, jangan sedih dong." Nie menepuk sofa kosong di sampingnya. Intan mendekati Mamanya, dan memeluknya dengan manja. Bagaimana ia mendapatkan informasi tentang pekerjaannya. Besok Intan ia harus berangkat kerja, tekatnya.
"Mama, Papa jahat. Pokoknya besok aku mau kerja," ujar Intan manja kepada Nie, mamanya.
"Kamu tidak boleh kerja!" Ferdian bangkit dari duduknya, meninggalkan Intan dan Nie yang sedang berpelukan.
Bersambung ....
merasa paling laki aja klo bgn..😅😅😅
red velvet bukan red valvet
berjibaku bukan bercibaku.
semngat trus nulis ny ya thor