NovelToon NovelToon
THE CAPTAIN'S UNEXPCTED WIFE

THE CAPTAIN'S UNEXPCTED WIFE

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan Kilat
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Guncangan air laut yang sangat dingin menghantam sistem saraf Gladis, memicu insting bertahan hidup yang luar biasa.

Efek obat bius itu memang kuat, namun sensasi tenggelam dan dingin yang menusuk tulang memaksa matanya terbuka di tengah buih ombak yang ganas.

"Uhukk! Uhukkk!" Gladis terbatuk hebat, memuntahkan air garam yang sempat tertelan.

Dunia terasa berputar. Di atas sana, ia melihat bayangan raksasa Ocean Empress yang terus melaju menjauh darinya.

Kapal itu terlihat semakin mengecil di cakrawala, meninggalkan dirinya sendirian di tengah samudera yang tak berujung.

"T-tolong! Arkan! Tolong!" teriak Gladis sekuat tenaga.

Namun, suaranya yang parau seketika hilang ditelan oleh deru angin dan raungan ombak yang saling berkejaran.

Tidak ada yang mendengar. Ia hanyalah titik kecil yang tak terlihat di tengah luasnya Mediterania.

Tiba-tiba, tangannya menyentuh sesuatu yang keras.

Sebuah puing kayu kecil—mungkin bekas palet kargo yang terjatuh dari kapal lain—mengapung di dekatnya.

Dengan sisa tenaga yang ada, Gladis mencengkeram puing itu erat-erat.

"Nak, bertahanlah. Mama tidak akan membiarkanmu pergi," bisik Gladis sambil melingkarkan satu tangannya yang lain untuk mendekap perutnya sendiri.

Ia meringkuk di atas puing kayu tersebut, berusaha menjaga kepalanya tetap di atas permukaan air.

Dingin mulai menyerang otot-ototnya. Hipotermia adalah musuh terbesarnya saat ini.

Gladis menggigit bibirnya hingga berdarah agar tetap terjaga. Ia tahu, jika ia memejamkan mata sekali saja, ia tidak akan pernah bangun lagi.

Di atas kapal, Arkan sudah seperti orang kesurupan.

Ia berdiri di tepi pagar buritan, matanya menyapu permukaan laut dengan bantuan binokular jarak jauh, sementara kapal pesiar raksasa itu mulai melakukan manuver putar balik yang sangat lambat karena ukurannya yang masif.

"DI MANA DIA?! GERALD, GUNAKAN LAMPU SOROT TERKUAT SEKARANG!" raung Arkan. Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung.

"Kapten, arus di sini sangat kuat, kita sudah berjarak hampir dua mil dari titik jatuh awal," Miller mencoba menjelaskan dengan suara bergetar.

"AKU TIDAK PEDULI! JIKA AKU TIDAK MENEMUKANNYA, AKU AKAN MENENGGELAMKAN KAPAL INI!"

Tiba-tiba, Gerald berlari menghampiri Arkan sambil membawa tablet.

"Kapten! Tim keamanan baru saja meringkus seorang wanita bernama Vera di dek tengah. Dia mencoba masuk ke ruang mesin untuk bersembunyi. Di tangannya ada botol obat bius!"

Rahang Arkan mengeras. Aura mematikan terpancar dari wajahnya.

"Kurung dia di sel paling bawah. Jika Gladis tidak kembali, aku sendiri yang akan mengantarnya ke dasar laut."

Arkan kembali menatap laut yang gelap. Tiba-tiba, ia melihat sesuatu yang putih berkilau terkena pantulan cahaya bulan di kejauhan. Itu bukan sekadar buih ombak.

"DI SANA! PUTAR HALUAN KE ARAH JAM DUA!" teriak Arkan. Tanpa menunggu kapal mendekat, Arkan mulai melepas sepatu dan jas kaptennya.

"Kapten, jangan! Itu terlalu berbahaya!" Gerald mencoba menahan lengan Arkan.

"Lepaskan aku, Gerald! Istri dan anakku ada di sana!"

Arkan melompat dari ketinggian dek, terjun bebas menuju air yang mematikan demi menjemput nyawa belahan jiwanya.

Arkan berenang sekuat tenaga, membelah ombak yang seolah ingin menghalangi langkahnya. Jantungnya berdegup kencang, setiap tarikan napasnya adalah doa. Di depannya, ia melihat Gladis yang semakin melemah, jemarinya yang pucat mulai kehilangan cengkeraman pada puing kayu yang mulai hancur berkeping-keping.

"GLADIS! BERTAHANLAH!" raung Arkan.

Tepat saat puing itu terlepas dan tubuh Gladis mulai terseret arus ke dalam kegelapan laut, tangan kekar Arkan berhasil meraih pergelangan tangannya. Dengan satu sentakan kuat, Arkan menarik Gladis ke dalam dekapannya.

Gladis membuka matanya sedikit, bibirnya sudah membiru karena kedinginan yang amat sangat.

Ia menatap wajah suaminya yang basah kuyup oleh air laut dan air mata.

Dengan sisa kesadaran yang hampir habis, Gladis menyentuh dada Arkan, tangannya yang gemetar merambat turun menuju perutnya sendiri.

"S-selamatkan anak kita... Arkan..." bisik Gladis sangat parau, hampir tak terdengar di antara deru ombak.

Setelah mengucapkan kalimat itu, seluruh pertahanan Gladis runtuh.

Kepalanya terkulai di bahu Arkan, ia pingsan sepenuhnya di tengah amukan samudera.

"Gladis! Sayang! Bangun!" Arkan mendekap tubuh istrinya erat-erat, satu tangannya digunakan untuk memeluk Gladis dan tangan lainnya berusaha menjaga agar kepala mereka tetap berada di atas permukaan air.

Arkan berteriak dalam kegelapan, "DI SINI! KAMI DI SINI!"

Kapal pesiar Ocean Empress tampak seperti gunung raksasa yang bercahaya di kejauhan, mencoba mendekat dengan sangat hati-hati agar baling-balingnya tidak melukai mereka.

Arkan bisa melihat sekoci penyelamat mulai diturunkan dan lampu sorot besar kapal menyapu permukaan air, mencari keberadaan mereka.

"Bertahanlah, Sayang. Ayah di sini, kita semua akan selamat," bisik Arkan tepat di telinga Gladis, mencoba menyalurkan kehangatan tubuhnya yang juga mulai mendingin.

Arkan terus menendang kakinya sekuat tenaga agar mereka tidak tenggelam.

Setiap detik terasa seperti satu jam. Di tengah hantaman ombak besar, Arkan hanya fokus pada satu hal: denyut nadi Gladis yang masih terasa lemah di pelukannya.

Ia bersumpah, jika mereka selamat, ia tidak akan pernah membiarkan Gladis lepas dari jangkauan matanya meski hanya sedetik.

Di kejauhan, suara mesin sekoci mulai terdengar mendekat.

"KAPTEEEEN! KAMI MELIHAT ANDA!" suara Gerald menggelegar melalui pengeras suara.

Begitu tubuh Gladis ditarik ke atas sekoci oleh Gerald dan tim penyelamat, Arkan segera merebahkan istrinya di lantai sekoci yang basah. Wajah Gladis putih pucat, bibirnya membiru, dan yang paling mengerikan—dadanya tidak lagi bergerak.

"Gladis? Tidak... tidak! Gladis, bangun!" suara Arkan pecah menjadi tangisan histeris yang memilukan.

Ia menempelkan telinganya ke dada Gladis, namun ia tidak mendengar detak jantung.

Tanpa membuang waktu, Arkan meletakkan kedua tangannya di atas dada Gladis dan mulai melakukan CPR dengan penuh keputusasaan.

"Satu, dua, tiga... Ayo, Sayang! Jangan tinggalkan aku!" Arkan menekan dada Gladis dengan ritme yang kuat, air matanya jatuh membasahi wajah istrinya.

"Kamu janji akan menjaga nakhoda kecil kita! Bangun, Gladis! Aku mohon!"

Gerald dan kru lainnya hanya bisa terpaku melihat sang Kapten yang selama ini dikenal sebagai pria baja, kini hancur dan menangis sejadi-jadinya sambil terus memberikan bantuan napas buatan.

"Bangun! JANGAN MATI!" raung Arkan lagi, memberikan tekanan terakhir dengan seluruh tenaganya.

Tiba-tiba...

"Uhuk! Uhukkk! Uhukk!"

Tubuh Gladis tersentak. Ia memuntahkan air laut dalam jumlah banyak ke samping, tubuhnya menggigil hebat saat paru-parunya kembali menghirup oksigen secara paksa.

Gladis terbatuk-batuk dengan suara parau yang menyakitkan, namun bagi Arkan, itu adalah suara terindah yang pernah ia dengar.

"Ya Tuhan. Terima kasih!" Arkan langsung merengkuh tubuh Gladis, memeluknya dengan sangat hati-hati namun erat.

Gladis membuka matanya yang sayu, menatap Arkan dengan pandangan kabur.

"A-Arkan... dingin..."

"Aku di sini, Sayang. Kamu aman. Kita semua aman," bisik Arkan sambil menangis haru.

Ia segera menyambar selimut darurat yang disodorkan Gerald dan membungkus tubuh Gladis hingga rapat.

"Cepat! Bawa kembali ke kapal! Siapkan ruang medis dan Dokter Sarah!" perintah Arkan dengan suara yang kembali tegas meski masih bergetar.

Di atas sekoci yang membelah ombak menuju kapal induk, Arkan tidak melepaskan dekapannya.

Ia terus membisikkan kata-kata cinta, sementara tangannya tidak berhenti mengusap perut Gladis, berdoa agar nyawa kecil di dalam sana juga sekuat ibunya.

1
Linda Liddia
Ayooo syila kamu pasti bisa 💪💪💪
Linda Liddia
Makasih udh up lg kk othor..
my name is pho: sama-sama kak🥰
total 1 replies
Ariany Sudjana
Vita Vita ambisi kamu untuk menjadi istrinya Gerald sudah menyebabkan kamu jadi gila, dan sekarang terima konsekuensinya kamu berurusan dengan aparat hukum
Linda Liddia
Akhirnya kebenaran terungkap..Emang keren bgt Kapten Arkan langsung sigap..
Makasih kk othor udh up 2 bab nti up lg yg banyak geh 🤣
my name is pho: ditunggu ya kak🥰
total 1 replies
Linda Liddia
Wiiihhh paraaahhh bgt si vita emangnya gegara cinta ditolak org bisa jadi gila bisa berbuat apa saja
Ariany Sudjana
aduh kok jadi begini ceritanya? kemarin psikopat Delon, sekarang Vita juga jadi psikopat
Linda Liddia
Sakiiiiitttt bgt tuh si vita..
Sabaarr ya namanya blm jodoh..
Linda Liddia
Kok kemaren & hari ini cuma up 1 bab thor..
my name is pho: sabar kak ya
kemarin hujan deras banjir kak 🤭
total 1 replies
Ariany Sudjana
kenapa dulu Arkan tidak langsung membunuh Elisa? malah ditahan polisi
Linda Liddia
Terima kasih udh up 3 bab..
Semangat selalu..
Ditunggu up2 selanjutnya..
Ariany Sudjana
kalau saya sih lebih suka diselesaikan dengan cara mafia yah, dibawa ke gudang bawah tanah. sayangnya bukan cerita mafia ini
Ariany Sudjana
jadi Delon itu anaknya si pelacur pirang? orang yang sudah buat Gladys bunuh diri
my name is pho: iya kak
total 1 replies
Ariany Sudjana
aduh kok ceritanya jadi begini sih? ga tega bacanya
Ariany Sudjana
sudah dinasehati papa kamu dan kamu tidak percaya arsyila, kamu ini bodoh , bodoh sekali
my name is pho: sabar kak. sabar
total 1 replies
Linda Liddia
Satu kata utk arsyila TOLOL udh di ingetin sama papa tercinta tapi masih ngeyel
my name is pho: bucin kak
total 1 replies
Linda Liddia
wah siapa kah Delon ini apakah dia punya niat yg tdk baik sama arsyila..??? Pacaran kok mesti diem2 anehkan
Linda Liddia
Wah selamat ya Gladys gak nyangka si baby twins mau punya adek..
Kk othor aku penasaran lho brp usianya si arkan ini udh tua bgt kali ya secara pernah menikah dgn ibunya Gladys & jadi ayah sambungnya gladys
my name is pho: sekitar 50 an kak
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, sehat selalu Gladys dan bayi dalam kandungan, juga si kembar dan tentu saja sang kapten
Linda Liddia
Wow selamat ya Gladys udh jadi sarjana 💃💃💃
Linda Liddia
🤣🤣🤣 cilok ya Gladys
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!