"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."
Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).
Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.
Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Inspeksi Mendadak Dan Sandiwara Satu Kamar
Hari Minggu adalah satu-satunya hari di mana waktu seolah berjalan lebih lambat di kediaman Muhammad Akbar. Tidak ada dering alarm subuh yang memburu, tidak ada kemacetan proyek yang menyesakkan, dan tidak ada tugas kuliah yang mengejar-ngejar Hannah.
Pagi itu, suasana rumah terasa hangat. Aroma kuah soto ayam kuning yang gurih menguar dari dapur, memenuhi setiap sudut ruangan. Hannah sedang bersenandung pelan sambil mengaduk panci besar, sementara Akbar duduk santai di meja makan sambil memotong-motong daun bawang tugas ringan yang diberikan Hannah agar suaminya tidak mati gaya karena "gabut".
"Mas, tolong ambilkan kerupuk di toples rak atas dong, Hannah jinjit juga nggak nyampai," pinta Hannah sambil menunjuk lemari gantung.
Akbar berdiri, dengan mudah menjangkau toples di rak paling atas tanpa perlu berjinjit. "Dasar pendek," ledeknya pelan sambil terkekeh, tapi tangannya terulur mengusap kepala Hannah dengan gemas sebelum memberikan toples itu.
Hannah memberengut manja. Suasana domestik ini sudah mulai terasa alami bagi mereka. Kecanggungaan awal pernikahan perlahan terkikis oleh rutinitas harian yang sederhana namun manis.
Drrt... Drrt...
Ponsel Hannah di meja makan bergetar panjang. Nama "Umi Sayang" terpampang jelas di layar.
"Assalamualaikum, Umi!" sapa Hannah riang, menekan tombol loudspeaker agar Akbar bisa ikut mendengar dan menyapa mertuanya.
"Wa’alaikumsalam, Nduk. Lagi apa?" suara lembut Umi terdengar jernih, membawa kerinduan seorang ibu.
"Lagi masak soto, Mi. Sama Mas Akbar juga, nih Mas Akbar lagi motongin daun bawang," jawab Hannah bangga.
"Wah, alhamdulillah kalau rukun. Kebetulan sekali kalau lagi masak besar. Tambahkan porsinya ya. Lima menit lagi Umi sama Abah sampai depan pagar rumahmu."
Dunia seakan berhenti berputar. Sendok sayur di tangan Hannah nyaris terjatuh ke dalam panci panas. Akbar yang sedang minum air tersedak pelan, matanya membelalak.
"Hah? Umi... Umi di mana?" tanya Hannah panik.
"Di depan komplek, Sayang. Tadi Abah habis ngisi pengajian subuh di masjid kota, jadi sekalian mampir. Kangen banget sama anak semata wayang Umi. Dadah, assalamualaikum."
Klik. Sambungan terputus.
Hannah dan Akbar saling tatap selama tiga detik dengan mata melotot. Wajah mereka pucat pasi.
"Lima menit, Mas! Cuma lima menit!" pekik Hannah histeris. Ia mematikan kompor dengan tangan gemetar. "Rumah sih bersih, tapi... tapi..."
"Kamar!" seru Akbar dan Hannah bersamaan.
Bencana. Orang tua Hannah tidak tahu kalau mereka tidur di kamar terpisah. Di mata Abah dan Umi, mereka adalah pasangan suami istri normal yang berbagi satu ranjang. Apalagi Hannah adalah anak tunggal, perhatian orang tuanya pasti sangat detail. Jika Umi melihat kamar Akbar di seberang lorong lengkap dengan baju-baju, laptop, dan bantal gulingnya, habislah riwayat mereka. Pertanyaan-pertanyaan canggung dan kekecewaan pasti akan membanjir.
"Operasi penyelamatan!" komando Akbar tegas, membuang mode santainya seketika. "Dek, kamu beresin ruang tamu, sembunyikan buku-buku kuliahmu yang berantakan di sofa. Mas bakal pindahin barang-barang Mas ke kamarmu."
"Hah? Pindahin sekarang?"
"Iya! Baju tidur, bantal, sikat gigi, laptop! Cepat, Dek! Jangan bengong!"
Kepanikan melanda rumah minimalis itu. Akbar berlari kencang ke kamarnya seperti atlet lari gawang. Ia menyambar dua bantal tidur, selimut tebalnya, dan setumpuk baju kerjanya secara acak dari lemari. Ia berlari menyeberangi lorong menuju kamar Hannah, melempar barang-barang itu ke atas kasur dusty pink milik Hannah.
"Rapikan bantalnya, Mas! Jangan cuma dilempar! Harus kelihatan kayak habis dipakai tidur berdua!" teriak Hannah dari ruang tamu sambil menyapu debu imajiner di meja kopi dan merapikan toples kue.
Akbar menata bantal-bantal itu bersandingan di kepala ranjang dua bantal sejajar, seolah-olah memang ada dua kepala yang beristirahat di sana semalam. Ia membuka lemari pakaian Hannah, menyelipkan beberapa kemeja, sarung, dan kaosnya di antara gamis-gamis Hannah yang tergantung rapi.
Belum cukup, Akbar berlari ke kamar mandi dalam. Ia memindahkan sikat gigi, alat cukur, dan sabun wajah pria miliknya ke wadah yang sama dengan milik Hannah.
Jantung mereka berpacu lebih cepat daripada saat akad nikah. Keringat dingin mulai bercucuran.
Dalam waktu empat menit tiga puluh detik, kamar pribadi Hannah telah berubah wujud menjadi "Kamar Utama Pasutri". Aroma parfum maskulin musk milik Akbar kini bercampur dengan wangi vanilla kamar Hannah, menciptakan aroma baru yang... intim.
Ting tong!
Bel rumah berbunyi.
Hannah dan Akbar berdiri berdampingan di ruang tengah, napas mereka memburu. Mereka saling pandang, lalu tertawa kecil melihat kekacauan satu sama lain. Jilbab instan Hannah sedikit miring, dan rambut Akbar berantakan karena berlarian.
"Rapiin rambutnya, Mas," bisik Hannah sambil menjinjit, merapikan rambut suaminya dengan gerakan kilat.
Akbar tersenyum, mengatur napasnya, lalu menggenggam tangan Hannah erat. "Siap sandiwara?"
"Bismillah."
Akbar membuka pintu utama.
"Assalamualaikum!" seru Abah dan Umi berbarengan di teras.
"Wa’alaikumsalam, Bah, Mi!" sambut Akbar, langsung menyalami dan mencium tangan kedua mertuanya dengan takzim. Hannah menyusul di belakangnya, langsung menghambur memeluk Umi erat.
"Duh, kangennya sama putri tunggal Umi," Umi membalas pelukan Hannah tak kalah erat, mencium pipi kiri dan kanan putrinya. "Sejak kamu pindah, rumah rasanya sunyi sekali, Nduk. Nggak ada yang ribut nyari kaos kaki."
Hannah merasakan matanya memanas. Sebagai anak satu-satunya, ia tahu betapa sepinya rumah orang tuanya sekarang. "Hannah juga kangen Umi sama Abah."
"Ayo masuk, Bah, Mi. Maaf kalau agak berantakan, tadi lagi heboh masak," ajak Akbar mempersilakan mereka masuk.
Kunjungan itu berjalan hangat. Abah yang berwibawa tampak senang melihat rumah menantunya yang rapi dan terawat. Mereka mengobrol ringan di ruang tamu tentang proyek jembatan Akbar dan adaptasi kuliah Hannah.
Namun, ujian sesungguhnya datang saat Umi berdiri.
"Umi mau lihat-lihat rumahnya dong. Penasaran sama dapurnya Hannah, sama kamarnya juga. Boleh kan?" pinta Umi. Tentu saja, sebagai ibu yang melepaskan anak semata wayangnya, ia ingin memastikan putrinya hidup layak.
Hannah menelan ludah, lehernya terasa kering. "Bo... boleh, Mi. Ayo."
Umi memeriksa dapur, memuji kebersihan kompor (poin plus untuk Akbar yang rajin bersih-bersih), lalu langkah kaki Umi mengarah ke lorong kamar.
"Ini kamar utamanya?" tanya Umi menunjuk pintu kamar Hannah yang tertutup rapat.
"I... iya, Mi," jawab Hannah gugup. Tangannya berkeringat dingin.
Akbar dengan sigap mendahului, membukakan pintu kamar itu lebar-lebar dengan percaya diri. "Silakan, Mi."
Hannah menahan napas. Ya Allah, semoga Mas Akbar nggak lupa mindahin handuknya.
Umi melangkah masuk. Matanya menyapu sekeliling ruangan dengan teliti. Kasur yang rapi dengan dua bantal berdampingan. Lemari pakaian yang sedikit terbuka memperlihatkan kemeja pria dan gamis wanita bersisian. Dan di meja rias, ada parfum Akbar bersanding dengan bedak Hannah.
Suasana kamar itu terasa hidup. Terasa ditinggali oleh sepasang suami istri.
"Alhamdulillah," gumam Umi pelan, senyum lega terbit di wajah tuanya. Ia mengusap seprai kasur itu pelan. "Kamarnya nyaman. Wangi. Pinter kamu ngatur kamar, Hannah. Umi tenang kalau lihat kamu nyaman begini sama suamimu."
Hannah menghembuskan napas lega yang sedari tadi tertahan di dada. "Iya dong, Mi. Mas Akbar juga rapi orangnya."
"Terus kamar depan itu buat apa?" tanya Abah tiba-tiba, menunjuk kamar Akbar yang asli (yang sekarang sudah kosong melompong karena barang utamanya dipindah paksa).
Akbar menjawab dengan tenang tanpa kedipan ragu, "Itu buat ruang kerja atau mushola, Bah. Kadang kalau saya lembur bawa gambar proyek yang lebar-lebar, saya gelar di sana biar nggak ganggu Hannah tidur. Kasihan Hannah kalau keganggu suara laptop saya."
"Bagus, bagus. Suami istri itu harus saling pengertian. Jangan egois," puji Abah manggut-manggut setuju.
Sesi inspeksi lolos dengan nilai sempurna.
Siang itu, mereka makan soto ayam bersama. Suasana begitu cair dan penuh tawa. Melihat Abah dan Umi makan dengan lahap masakan buatannya, hati Hannah membuncah bahagia. Tapi yang lebih membuat hatinya hangat adalah sikap Akbar.
Di depan orang tuanya, Akbar tidak segan menunjukkan kasih sayang. Ia mengambilkan nasi untuk Hannah, menuangkan minum, bahkan sesekali mengusap bahu Hannah saat istrinya tertawa mendengar lelucon Abah.
Awalnya Hannah pikir itu hanya akting demi citra "menantu idaman", tapi sentuhan Akbar terasa begitu tulus dan natural, seolah-olah ia memang terbiasa melakukannya. Tidak ada kaku atau ragu.
Menjelang sore, orang tua Hannah pamit pulang.
"Akbar, titip Hannah ya. Dia anak kami satu-satunya, permata kami," pesan Abah, suaranya sedikit bergetar menahan haru saat berpamitan di teras. "Kalau dia salah, bimbing dia. Jangan dibentak."
"Siap, Bah. Insya Allah saya jaga Hannah dengan nyawa saya," jawab Akbar mantap, membuat jantung Hannah berdesir mendengar ikrar itu.
"Hannah, jadi istri yang sholehah. Jangan manja terus, ingat kamu sudah jadi istri orang," pesan Umi sambil memeluk putrinya lama sekali.
Mobil orang tua Hannah pun perlahan meninggalkan pekarangan rumah, hilang di tikungan jalan.
Hannah dan Akbar berdiri bersisian di teras, melambaikan tangan sampai mobil tak terlihat lagi. Keheningan kembali menyelimuti mereka, tapi kali ini rasanya berbeda. Tidak ada canggung, yang ada hanya rasa lega dan... kedekatan.
Hannah menoleh menatap Akbar, lalu mereka berdua meledak dalam tawa. Tertawa lepas menertawakan kepanikan mereka tadi pagi.
"Gila, jantung Hannah mau copot waktu Umi masuk kamar," aku Hannah sambil memegangi dadanya. "Hannah takut banget Umi nanya kenapa bantal Mas bau lemari."
"Sama. Mas juga takut Umi buka laci nakas yang kosong melompong," canda Akbar, membuat Hannah memukul lengan suaminya pelan.
"Tapi... makasih ya, Mas. Mas hebat banget nyusun skenarionya. Hannah senang liat Umi tenang," ucap Hannah tulus, matanya menatap lembut ke arah suaminya.
Akbar tersenyum, membalas tatapan itu. "Apapun demi bikin Umi dan Abah tenang, Dek. Itu kewajiban kita."
Mereka masuk kembali ke dalam rumah. Saat melewati lorong kamar, langkah mereka terhenti di depan pintu kamar Hannah yang masih terbuka kamar yang sekarang berisi barang-barang mereka berdua.
Hannah menatap tumpukan baju Akbar yang menyatu dengan bajunya di lemari.
"Mmm... Mas mau pindahin barang-barang balik ke kamar sebelah sekarang?" tanya Hannah pelan. Ada nada ragu dalam suaranya. Sejujurnya, melihat barang-barang Akbar ada di kamarnya memberikan rasa aman yang aneh. Rasa tidak sendirian.
Akbar menatap tumpukan bantalnya di kasur Hannah. Ia diam sejenak, berpikir. Ia melihat keraguan di mata Hannah, dan ia sendiri merasakan keengganan untuk kembali ke kamar sepinya.
"Nanti malam saja deh, atau besok. Mas capek banget habis lari-larian tadi mindahin barang. Biarin di situ dulu ya?" jawab Akbar beralasan, padahal hatinya pun merasa nyaman dengan 'kedekatan' ini.
"Oke," jawab Hannah cepat, menyembunyikan senyum kecilnya yang terbit.