Bercerita tentang mahasiswa yang melakukan KKN disebuah desa dengan banyak keanehan. Banyak hal yang terjadi sampai membuat kami mendapatkan banyak masalah yang tidak masuk akal. Namun perlahan kami beradaptasi dan nantinya membongkar misteri dari desa tersebut. Kira-kira misteri apa saja itu. Ini adalah cerita fantasy persahabatan yang menakjukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazennn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pil Pelupa
Pagi itu dimulai dengan kami membonkgar tenda bersama aparat desa lalu setelah itu membersihkan sampah-sampahnya. Sementara itu beberapa teman-teman ku yang lain sedang berada di posiandu balita.
“Ayo istirahat dulu” panggil kepala desa
“Sarapan sama ngopi dulu” ucapnya lalu kami pun duduk dibawah pohon kecil sampai balai desa sambil makan roti dan tentu saja minum kopi. Kami juga melakukan obrolan kecil dengan kepala desa dan aparatnya mengenai hal-hal yang terjadi selama berada didesa.
“Pak desa, apa aku boleh bertanya” ujar ku
“Apa itu nak? Tanyakan saja” balas pak desa
“Desa apa ini sebenarnya? Kenapa banyak hal aneh yang terjadi?” tanya ku
“Hal aneh, maksudnya?”
“Aku juga gak tau bagaimana menjelaskanya tapi sejak datang kesini banyak sekali kejadian aneh yang aku alami—tapi cuman aku yang menyadarinya, setiap kali menanyakannya kepada teman-teman—mereka seperti lupa dan tak paham”
“Kamu bicara apa sih Enal—” celetuk Anwar namun, aku langsung memotongnya, aku melanjutkan ucapanku
“Apa yang terjadi pada KKN sebelum kami, kenapa aku sama sekali tidak menemukan informasi apapun tentang mereka dan desa ini”
“Apa yang sebenarnya disembunyikan oleh desa ini?” tutur ku lalu kepala desa hanya terdiam
“K-kami tidak mengerti maksud mu” bicara Rio
“Aku gak sengaja melihat dokumen yang berisikan istilah-istilah aneh yang pernah terjadi disini sebelumnya tapi kak Rio langsung mengambilnya saat itu.” ungkap ku lagi
Suasana pun jadi hening sejenak, aku menatap kepala desa serius lalu beliau tersenyum. “Ahahah” Anwar malah tertawa receh tapi tak lama lalu tiba-tiba ponsel ku berbunyi dan aku pun berpindah tempat untuk mengangkatnya. Itu adalah telepon dari Nadin yang menanyakan keberadaan Ikon dan menyuruhnya pulang untuk pergi ke sekolah.
“Iyah nanti aku beritahu” balas ku
“Oke, makasih Nal” balas Nadin lalu mematikan teleponnya. Aku pun kembali melihat kepada desa dan yang lainnya, aku mau menghampiri mereka lagi tapi Anwar menari ku pergi.
“Ayo kita kesana” ucapnya
“Tunggu, aku—harus” balas ku menoleh kebelakang bertatapan dengan kepala desa tapi Anwar terus menari ku dan membawaku ke gedung posyandu.
“Kalian kenapa hei” ujar Zee
“Ini Enal pertanyaanya aneh-aneh sama kepala desa” jawab Anwar
“Emangnya dia tanya apa?” tanya Zee lagi
“Katanya banyak hal-hal aneh yang terjadi didesa ini tapi cuman dia yang mengingatnya” jelas Anwar
“Hal aneh?” gumam perempuan itu lalu terdiam. Sepertinya dia tau sesuatu. Setelah itu Zee masuk kedalam ruangan pemeriksaan posyandu untuk menemui teman-temannya.
“Udah lepasin aku” kata ku melepaskan tangan Anwar lalu pergi. Aku pun duduk sendirian sambil merenung.
“Ngapain kamu disitu” tanya Putra yang melihat ku
“Duduk saja” jawab ku
“Sendirian? Nggak takut kamu”
“Takut apa?” balas ku lagi
“Takut hal-hal aneh” lalu dia menghampiri ku dan bertanya mengenai hal-hal aneh seperti apa yang aku alami.
“Cuman perasaan mu aja itu lah, desa ini aman-aman aja kok. Aku tau banyak hal tentang tempat ini dan gak ada itu hal-hal aneh” tuturnya
“Sudah jangan terlalu dipikirkan, ayo pergi” lanjutnya mengajak ku pergi
“Kemana?” tanya ku
“Ke posyandu” jawabnya
“Ngapain?”
“Pergi aja, liat-liat sama bantu-bantu yang lain kalau mereka butuh bantuan sama aku mau periksa kesehatan ku” balasnya lalu aku pun mau mengikutinya.
Saat itu diposyandu aku melihat teman-teman ku yang perempuan sedang melakukan pemeriksaan kesehatan kepada anak-anak TK.
“Kalian mau periksa juga” tanya seorang perempuan yang menjadi ketua posyandu.
“Emang boleh mama Hesty” tanya Anwar
“Boleh, semua orang boleh” jawabnya
“Tapi bayar” celetuk Putra sambil tertawa
“Nggak lah, gratis” kata perempuan yang dipanggil Mama Hesti itu. Lalu Anwar pun hendak melakukan pemeriksaan tapi Putra mendahuluinya
“Apa kamu, aku duluan” ucapnya
“Jangan begitu lah Putra, kasian teman mu” bicara Mama Hesti lalu Ruka menambahkan, “Iyah ni si Putra, dia kordesmu loh” tambahnya
“Biarin” balas Putra lagi lalu teman-temanya hanya menggelengkan kepala.
“Kamu juga Enal” tanya Zee padaku
“Nggak deh” balas ku menolak namun Putra memaksaku untuk melakukan pemeriksaan juga
“Jangan nolak, bagus ini siapa tau kamu ada penyakit aneh atau apa” katanya
“Jangan begitu tawa” ucap Mama Hesti
“Ayo nak sini” lanjutnya memanggil ku dengan lembut lalu Putra mendorong ku.
“Kamu takut yah jangan-jangan” sangka Zee
“Nggak, mana ada” balas ku cepat
“Jujur aja kalau takut” celetuk Anwar lalu tertawa
“Jangan begitu hee, kalian ini yah suka banget buli teman kalian” bicara Sri
“Iyah nih kordes dan wakordes” Fatin menambahkan
“Nggak usah takut, ini cuman pemeriksaan kesehatan doang” kata Mama Hesti lalu memegang tangan ku.
“Eh Enal gemetaran” celetuk Anwar lalu tertawa lagi
“Haha, jangan begitu ekpresimu” kata Putra
“Eh?” aku terdiam, saat tangan ku gemetar aku gak menyadarinya. Namun ada yang lebih terkejut yaitu Mama Hesti, aku tidak tau apa yang dia lihat dari ku setelah memeriksaku. Namun aku melihat ekpresinya seperti shock.
“B-bagaimana?” tanya ku namun Mama Hesti hanya diam saja lalu Zee lah yang menjawab
“Tinggi banget ini darahmu, habis ngapain tadi kamu” ucapnya
“Haa mati kamu Nal” bicara Putra menakut-nakuti.
“Jangan gitu lah, aku jadi takut benaran ini” balas ku lalu teman-teman ku pun tertawa.
“K-kamu b-baik- kok” Mama Hesti gagap
“C-coba kalian periksa ulang” lanjutnya menyuruh teman-teman ku untuk memeriksaku ulang
“Kenapa Mama Hesti?” tanya Ruka
“A-anu alat ini rusak, jadi gak akurat” jawab beliau lalu teman-teman ku pun kembali memasangkan alat pemeriksa kesehatan yang lain kepadaku dan hasilnya normal.
“Aaoo” desih ku merasakan sakit seperti ditusuk
“Satu kali lagi coba, aku ingin mengambil stempel darah mu” bicara lagi Mama Hesti
“Hehh lagi?” balasnya, aku hendak mau menolaknya tapi Zee memaksaku untuk bersedia dan akhirnya aku pun tetap melakukanya.
“Aaao sakit cok, hhehe” desih ku lalu cengir saat kena suntuk pada jari ku.
“Halah alay mu” kata Putra menepuk bahu ku
“Sudah” lanjut Mama Hesti yang sudah selesai mengambil darah ku lalu setelah itu aku pun berdiri.
“Ini untuk mu” ujar Ruka memberikan sebuah pil
“Apa ini?” tanya ku
“Itu vitamin, bagus untuk kesehatan” lalu tanpa pikir panjang aku pun langsung memakanya. Kemudian setelah itu kami pun pulang untuk bersiap-siap karena mau pergi makan-makan dirumah mama Hesti
“Kenapa tiba-tiba?” tanya Anwar
“Nggak tau juga, tadi aku diberitahu barusan sama Mama Hesti” jawab Putra lalu kami pun pergi bersama-sama kerumah mama Hesti sehingga siang itu kami pun tidak makan diposko. Kami pun sangat senang, selain untuk perbaikan gizi, makanannya juga sangat enak dan gratis.
Untuk hari itu tidak ada keanehan apapun yang terjadi. Setelah selesai makan, kami langsung pulang untuk istirahat. Aku ketiduran dan bangun pada sore harinya dengan perasaan yang lebih baik. Entah kenapa aku merasa seperti telah melalui hari-hari yang berat namun tak terlalu mengingatnya. Aku merasa melupakan sesuatu tapi tak tau apa.
“Enal” sapa Sri datang menghampiri ku bersama Ruka
“Bagaimana keadaanmu?” tanya mereka
“Hum? Maksudnya, a-aku yah baik-baik saja” jawab ku lalu bertanya balik kenapa menanyakan hal tersebut.
“Nggak kok” balas Ruka lalu setelah itu aku diajak oleh Ikon untuk pergi.
“Bagaimana” tanya Fatin menghampiri Ruka
“Kayaknya berhasil, Enal benaran lupa” jawab Sri
“Belum tentu sih, soalnya tadi jawabanya ambigu juga” kata Ruka
“Gitu yah, nanti lah kita lihat apakah pil pelupanya benar-benar bekerja padanya” ucap Zee yang baru datang. Mereka memperhatikan ku dari jauh—mereka benar-benar menyembunyikan sesuatu kepada yang lainnya. Pil yang mereka berikan sebelumnya bukanlah vitamin biasa melainkan pil yang bisa menghapus ingatan orang atau membuatnya lupa pada hal aneh yang sudah terjadi padanya, khususnya itu ketika berada disini. Namun sesuatu yang mereka belum sadari dari teman-temannya bahwa mereka bukanlah orang sembarangan. Jadi pil tersebut hanya akan menghapus sementara ingatan kami saja,--ingatan itu akan segera kembali atau mungkin ada yang sama sekali tidak terpengaruh.