"Aku yang menciptakan penderitaanmu... maka aku juga yang akan jadi takdir bahagiamu."
Lili tidak pernah menyangka akan bertransmigrasi ke dalam novel buatannya sendiri—menjadi Lilian, seorang pelayan biasa. Mengerikannya, ia datang saat Damian, sang tokoh utama pria, berada di titik terendah.
Dibuang keluarga, posisinya dijarah, dan tunangannya direbut anak angkat yang licik.
Tahu betul penderitaan ciptaannya, Lilian pasang badan. Berbekal 'pengetahuan masa depan', ia membongkar kejahatan anak angkat itu dan menuntun Damian merebut kembali segalanya.
Namun, saat dendam terbalaskan dan Lilian berniat pergi, Damian justru menguncinya erat.
"Kamu yang mengajarkanku cara bangkit, Lilian. Jangan harap bisa pergi setelah merebut hatiku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.6 -Misi membangun Ikatan Ibu&Anak
Suasana meja restoran bintang empat itu mendadak hening. Damian masih berusaha memalingkan wajahnya yang memerah akibat tatapan intens Lilian, sementara Lilian hanya terkekeh pelan menikmati kepolosan Male Lead-nya itu.
Namun, ketenangan mereka terganggu saat Gavin dan Clara—yang ternyata memilih makan di restoran yang sama—langsung melangkah lebar menghampiri meja mereka.
Gavin mengebrak pelan pinggiran meja Lilian. Mukanya sudah merah padam sejak melihat penampilan Damian di lorong tadi. Damian begitu berbeda, jika di lihat sangat mirip dengan Arthur Ayah mereka saat muda. Semua menjelaskan jika, Damian memang anak kandung mereka sedangkan dirinya hanya anak angkat.
"Damian! Lilian!" bentak Gavin dengan suara ditekan agar tidak memancing keributan. "Uang dari mana kalian bisa makan di tempat elit begini dan beli baju-baju mahal itu?! Lilian, kamu pasti mencuri barang berharga di mansion kan?!"
"Atau, kamu curi uang dari berangkas keluarga?" tanya Gavin.
Lilian tidak terkejut sama sekali. Ia menyandarkan punggung ke kursi lalu mengaduk minumannya santai. "Gavin, kamu ini kurang kerjaan atau gimana sih? Di lorong tadi udah kaget, masa sekarang masih mau bikin drama di sini? Malu tuh dilihatin pengunjung lain."
"Kamu—!" Gavin mengepalkan tangan, merasa harga dirinya makin terinjak.
Clara yang berdiri di samping Gavin ikut bersuara, tapi matanya sesekali melirik ke arah Damian. "Lilian, Gavin cuma cemas. Kamu itu cuma pelayan, gak masuk akal punya uang sebanyak ini. Dan Damian... kamu kenapa cuma diam aja dibeliin barang-barang begini sama pelayan? Kamu gak punya harga diri?"
Damian menghentikan gerakannya. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Clara dengan mata cokelat tuanya yang dingin.
"Harga diri?" Damian terkekeh sinis, suara beratnya terdengar sangat berwibawa dengan balutan jaket kulit barunya. "Bukannya kamu yang gak punya harga diri, Clara? Dulu kamu yang membuang status tunangan kita karena aku gak punya apa-apa, dan sekarang kamu datang ke mejaku cuma buat mengatur hidupku?"
"Dan, Lilian tidak mencuri dia tidak tau dimana harta keluarga di simpan." Tegas Damian.
Clara tersentak. Ia membeku, bibirnya terkatup rapat tak sanggup membalas. Tatapan tajam Damian kali ini benar-benar membuatnya merinding sekaligus terpesona.
Tepat saat itu, dua pelayan datang membawakan nampan berisi steak wagyu dan hidangan mewah lainnya, meletakkannya dengan sopan di meja Lilian.
"Silakan dinikmati, Miss, Sir," ucap pelayan tersebut sebelum membungkuk hormat.
Lilian tersenyum puas. Ia menyenggol pelan kaki Damian di bawah meja. "Ayo makan, Tuan Muda. Makanan mahal begini harus dimakan pas panas. Biarkan orang-orang yang gak diundang ini cari meja lain."
Gavin menarik tangan Clara dengan kasar karena merasa sangat dipermalukan. "Ayo pergi, Clara! Gak usah melayani orang-orang gila ini!"
Clara hanya pasrah ditarik pergi, meski kepalanya sempat menoleh ke belakang sekali lagi, menatap Damian yang kini tampak sangat jauh dari jangkauannya.
TRING!
Layar transparan Sistem 303 mendadak muncul di samping kepala Lilian:
`[Misi Tamparan Realita Berhasil! Gavin & Clara merasa terintimidasi. Bonus Balance: Rp 30.000.000]`
Lilian tersenyum puas, dia mengeluarkan uang tapi sistem memberikannya.
Ketika Lilian pamit sebentar ke toilet untuk mencuci tangan, sesosok peri mini bersayap tipis berkilau mendadak melayang keluar dari balik layar sistem. Peri kecil seukuran genggaman tangan itu melipat tangannya di udara sambil menunjuk-nunjuk hidung Lilian.
"Host! Kamu benar-benar provokator kelas berat ya! Lihat tuh muka Gavin sampai merah kayak kepiting rebus!" celoteh si Peri Mini dengan suara cemprengnya.
Lilian tertawa pelan sambil mematut diri di depan cermin toilet. "Biarin aja. Ini baru pemanasan, Sistem. Besok di kampus, aku bakal bikin mereka berlutut di depan Damian."
"Bagus, Host. Semoga sukses," balas peri mini itu lalu menghilang.
Saat akan keluar dari kamar mandi, langkah Lilian mendadak dicegat oleh Clara.
"Memang kenapa kalau Damian jadi tampan dan keren? Toh, enggak akan mengubah fakta kalau semua harta kekayaan keluarga Laurent bakal jatuh ke tangan Gavin. Ingat ini, Lilian... Damian itu pembunuh adiknya sendiri," bisik Clara dengan nada penuh penekanan, membuat Lilian memutar bola matanya malas.
"Damian bukan pembunuh, Clara. Asal kamu tahu ya, nanti kalau Kara bangun, dia pasti bakal membongkar semuanya!"
"Mimpi," balas Clara dingin, lalu melangkah pergi meninggalkan area kamar mandi.
Lilian menghela napas panjang, otaknya mulai berputar. 'Gimana cara membangunkan Kara, ya?'
"Astaga..." desah Lilian pelan.
Saat kembali ke meja makan, Lilian melihat hidangan di atas meja yang sudah hampir habis. Ia tersenyum tipis.
"Maaf, aku lapar banget," ucap Damian lirih sambil menunduk canggung.
"Gak apa-apa kok, kan memang buat kamu. Aku makan satu aja cukup," balas Lilian ramah seraya duduk dan menyantap makanannya. Sejujurnya ia rindu masakan Indonesia, tapi mau bagaimana lagi, dunia novel ini kan berlatar luar negeri.
Beberapa menit kemudian, Lilian selesai membayar semua pesanan. Merasa tidak enak hati, Damian berjanji akan mengganti semua uang itu begitu ia mendapatkan pekerjaan nanti.
"Santai aja sih," balas Lilian santai. "Ayo naik, kita pulang. Udah capek, mau rebahan."
Tak lupa, Lilian membeli makanan pesanan Maya. Saat berhenti di lampu merah, Damian menatap punggung Lilian dari belakang. Ia tersenyum tipis meresapi perhatian pelayan muda ini. Dulu, setiap kali berpapasan dengannya, para pelayan mansion pasti terburu-buru menghindar.
Berpuluh-puluh menit kemudian, mereka akhirnya sampai di mansion Laurent.
"Oke, udah sampai. Ini bawa buat makan malam kamu, takutnya nanti malam bukan aku yang antar makanan," kata Lilian.
Damian pun mengangguk mengerti.
"Terima kasih, Lilian," ucap Damian, yang hanya dibalas anggukan oleh Lilian.
Damian lalu berbalik menuju gudang. Lilian yang melihat hal itu merasa miris. 'Gimana caranya ya, supaya Damian bisa dapat kamar di dalam?' Nanti akan dia pikirkan lagi.
"Bisa-bisanya dulu aku bikin Damian hilang pas bayi terus diganti sama si Gavin. Aduh, bikin pusing sendiri kan jadinya!" gumam Lilian pelan. Ia berjalan menuju kamarnya. Suasana mansion siang itu terasa cukup sepi.
Begitu sampai di kamar, Lilian langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk.
"Hah... capek banget!" keluh Lilian.
Tiba-tiba, cahaya keemasan muncul di udara.
"Siapa suruh buat cerita novel yang agak-agak, so pake alur hilang saat bayi segala? Host, salah sendiri kan, sekarang malah ikutan susah!" omel si peri kecil.
"Ya mau gimana lagi? Dulu aku kira alur begitu bakal ramai pembaca, eh... sama aja sepi. Asem bener," keluh Lilian.
"Sudahlah, Host. Sekarang mending pikirkan gimana caranya buat Nyonya Eleanor menerima Damian. Mereka itu ibu dan anak! Katanya anak laki-laki paling dekat sama ibunya, masa enggak ada ikatan batin sama sekali? Ah, aku ada ide! Misi kamu selanjutnya adalah membangkitkan ikatan ibu dan anak!"
"Heh! Enggak mau, ah! Pasti susah!"
"Belum juga dicoba udah bilang susah. Hadeh, Host ini memang pemalas!" gerutu si peri kecil yang langsung menghilang begitu saja.
"Ehh! Sistem enggak ada akhlak!" seru Lilian kesal.
Bersambung ...
jadi tantrum aja sm dia
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Lili sudah pindah alam
Dami : A A P P A A !!!
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
bangun cafe sendiri lh dan banyak saldo
🤑🤑🤑🤑🤑🤑🤑🤣
rubah takdir Dami menjadi Suami Kamu
yang penting barang branded dan uang'y nyata Li
sini bagi🤣🤣
tapi menurut Aku pribadi cerita'y menarik dan seru
semangat Kak Ariiiii💞❤
Aku deg²n wweeii
rubah alur cerita
jodohkan Dami sm Aku🤣🤣
gak rela banget Aku jodoh Dami wanita ular macam Klara
kadang pasangan itu bukan tidak mau jujur tapi dia menjaga perasaan pasangan'y ASAL dia menjaga hati dan diri'y buat pasangan
ya Kamu ajak lh ke dunia nyata
mesti mandi 7 sumur Kamu
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤑🤑
dan ketemu Dami versi dunia nyata