Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_
Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18.Angin Malam
Malam harinya, sekitar pukul sembilan lewat lima belas menit, suasana di sekitar area pemukiman gang kontrakan Tera sudah mulai tampak sepi dan sunyi.
Hanya ada beberapa bapak-bapak warga sekitar yang sedang duduk meronda di pos ronda depan gang sambil menyeduh kopi hitam.
Di dalam rumah kontrakan kecil mereka, Bu Sulis yang sedang merapikan pakaian hasil laundry milik tetangga mendadak mengeluarkan suara helaan napas panik dari arah dapur kecil setelah memeriksa isi lemari plastik.
"Aduh, Nduk_,Tera, ini stok deterjen bubuk untuk laundry besok pagi ternyata sudah habis, dan beberapa bahan bumbu dapur pribadi seperti kecap manis dan telur juga sudah kosong di kulkas kecil," ucap Bu Sulis dengan wajah cemas, melongok kan kepalanya dari balik sekat tripleks.
"Biar Tera saja yang pergi keluar untuk membelinya ke minimarket depan gang raya, Bu. Kebetulan Tera juga sedang mau mencari angin malam sebentar di luar, kepala Tera terasa agak penat dan pusing setelah dua jam penuh membaca jurnal medis," jawab Tera sambil menyampirkan jaket rajut ungunya yang sudah agak berbulu dan pudar warnanya di atas kaos oblong santainya.
"Hati-hati di jalan ya, Nduk. Jangan lama-lama di luaran, jalanan utama depan gang kalau sudah jam sembilan malam ke atas agak remang-remang lampu jalannya," pesan Bu Sulis dengan nada penuh kekhawatiran seorang ibu kandung dari dalam dapur.
"Iya, Ibu. Tera cuma ke minimarket depan kok, tidak sampai lima belas menit juga sudah balik lagi," sahut Tera sambil melangkah keluar, menutup pintu kayu kontrakannya dengan pelan.
Tera berjalan dengan langkah santai membelah kegelapan gang sempit yang hanya diterangi oleh beberapa lampu teras rumah tetangga.
Udara malam hari di pinggiran kota itu terasa cukup dingin namun sangat menyegarkan paru-parunya. Sesampainya di area pinggir jalan raya utama tempat sebuah minimarket waralaba berlampu neon terang benderang berdiri kokoh di dekat lampu merah, Tera segera mendorong pintu kaca minimarket tersebut.
Dia mengambil sebuah keranjang plastik hitam, lalu berjalan menyusuri lorong barang untuk memasukkan dua kantong besar deterjen bubuk khusus laundry, sebotol kecap manis berukuran sedang, dan setengah lusin butir telur ayam ke dalam keranjang belanjaannya dengan sangat cermat agar tidak melebihi anggaran uang receh di sakunya.
Setelah mengantre sejenak dan membayar seluruh belanjaannya di meja kasir menggunakan beberapa lembar uang kertas pecahan sepuluh ribuan yang agak lecek, Tera melangkah keluar dari pintu kaca minimarket sambil menjinjing kantong plastik putih besar di tangan kanannya.
Namun, baru dua langkah dia menginjakkan kakinya di atas lantai teras minimarket, langkah kaki Tera langsung terhenti secara mendadak.
Matanya membelalak sempurna melihat pemandangan aneh di depannya.
Tepat di samping tempat parkir motor umum yang dipenuhi oleh debu dan beberapa motor bebek usang milik pengunjung lain, berdiri sebuah motor sport hitam berukuran sangat besar bermesin ribuan cc yang tampak sangat mahal, eksklusif, dan berdesain futuristik.
Dan di atas jok motor sport mewah yang harganya setara dengan sebuah rumah itu, bersandar dengan sangat santai seorang pria jangkung yang mengenakan jaket kulit hitam premium berlogo khusus dan sebuah helm full-face mahal yang bagian kaca pelindung depannya sengaja dibuka penuh ke atas.
Sean Eagle Nugraha kembali menampakkan dirinya secara ajaib di bawah sorotan lampu neon putih minimarket pinggiran kota yang terang benderang.
Tera sampai harus berulang kali menggosok kedua kelopak matanya menggunakan telapak tangan kirinya yang bebas dari belanjaan, mengira penglihatan visual matanya mulai mengalami gangguan halusinasi akibat kelelahan membaca buku kedokteran dari sore.
"Demi apa, Tuan Sean?!, kenapa bisa ada di depan teras minimarket pinggiran gang jam sembilan malam begini pakai motor sport besar seperti ini?!"
Sean menegakkan posisi tubuh jangkungnya dari sandaran motor, menurunkan kedua kakinya yang panjang ke atas permukaan aspal tempat parkir, lalu menatap wajah Tera dengan ekspresi wajahnya yang se datar dan setenang biasanya, tanpa menunjukkan riak emosi canggung sedikit pun.
"Saya sedang mencari angin malam fase kedua, Dokter Tera. Dokter spesialis saraf pribadi saya yang baru bilang, berkendara motor sport dengan kecepatan sedang di bawah hembusan angin malam hari bisa sangat membantu menstimulasi sistem fokus penglihatan dan meredakan ketegangan otot leher pasca-trauma."
"Bohong! Itu bohong besar dan sangat tidak masuk akal!" Tera langsung meledak dengan suara setengah berbisik yang tertahan agar tidak memancing perhatian kasir minimarket di dalam, dia melangkah mendekati posisi motor sport Sean dengan wajah penuh kekesalan yang konyol.
"Dokter spesialis bedah saraf mana di dunia ini yang berani merekomendasikan jenis terapi sekonyol dan senekat itu untuk pasien pasca-kecelakaan, Tuan Nugraha?! Katakan padaku sekarang juga siapa nama lengkap dokter itu, biar besok pagi-pagi sekali aku sendiri yang mendatangi IDI untuk mencabut izin praktiknya karena sudah memberikan saran medis sesat yang membahayakan nyawa pasiennya!"
Sean sama sekali tidak menanggapi protes panjang seputar dunia medis dari Tera.
Pandangan matanya justru beralih menatap ke arah kantong plastik putih besar berisi deterjen dan telur yang dijinjing oleh Tera.
"Kamu keluar belanja sendirian di jam malam seperti ini. Kondisi lingkungan di sekitar jalan raya luar ini sangat sepi dan berbahaya untuk keselamatan seorang wanita."
"Yang jauh lebih berbahaya dan mengundang kejahatan itu adalah melihat seorang miliarder penguasa bisnis sepertimu berkeliaran sendirian di depan minimarket kelas bawah gang sempit jam sembilan malam pakai barang-barang mewah!"
balas Tera ceplas-ceplos tanpa filter sedikit pun, jari telunjuk kirinya menunjuk ke arah jaket kulit hitam dan motor sport besar milik Sean.
"Kamu tahu tidak, Tuan Sean? Motor sport besar dan jaket kulit yang melekat di tubuhmu ini harganya mungkin bisa dipakai untuk membeli seluruh hak tanah kontrakan dan rumah di sepanjang gang pemukiman ini! Kalau ada komplotan begal atau preman jalanan yang lewat, kamu itu adalah target sasaran empuk yang sangat sempurna untuk dirampok, Tuan Keras Kepala!"
Sean menarik sudut bibirnya sedikit ke atas, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat langka dan penuh dengan pesona dingin yang tertutup.
"Saya memegang sabuk hitam tingkat tinggi untuk beladiri taekwondo dan memiliki sistem pelacak keamanan internal aktif di pakaian saya, Dokter Tera. Para preman atau begal di area pinggiran ini tidak akan pernah memiliki keberanian untuk mendekati posisi saya dalam radius seratus meter jika mereka masih sayang dengan nyawa mereka."
"Terserah! Terserah apa katamu, dasar manusia super percaya diri yang menyebalkan!" Tera mengibaskan tangan kirinya ke udara dengan ekspresi frustrasi, bersiap melangkah pergi meninggalkan teras minimarket untuk kembali masuk ke dalam gang.
"Aku mau segera pulang ke rumah. Deterjen laundry ibuku sudah sangat ditunggu untuk mencuci tumpukan baju tetangga besok pagi-pagi sekali."
"Tunggu sebentar!," panggil Sean pendek dengan suara rendahnya. Dia meraih sebuah kantong kertas cokelat berukuran kecil yang digantungkan dengan rapi di bagian stang motor sport besarnya, lalu mengulurkan kantong kertas tersebut tepat ke hadapan wajah Tera.
"Ini untukmu."
Tera menghentikan langkah kakinya yang baru berjalan satu tapak, menatap kantong kertas cokelat itu dengan pandangan mata penuh curiga dan selidik.
"Apa lagi ini? Isinya bom rahasia? Atau dokumen kontrak pemecatan sepihak dari manajemen rumah sakit?"
"Susu cokelat hangat dalam termos kecil dan dua porsi roti bakar keju," jawab Sean dengan nada suara yang sangat tenang.
"Saya melihat toko tadi saat kebetulan lewat di jalur jalan tol atas. Dan saya ingat kamu sempat bilang di rumah sakit kalau kamu belum sempat makan malam dengan layak hari ini karena sibuk menyelesaikan laporan jaga shift malam."
Tera tertegun seketika di tempatnya berdiri. Dia menatap kantong kertas cokelat itu selama beberapa detik, lalu perlahan mengalihkan pandangan matanya menatap langsung ke arah sepasang mata gelap milik Sean yang tampak sangat tulus dan dalam di balik pelindung kaca helmnya yang terbuka.
Sebuah rasa hangat yang aneh, lembut, dan menenangkan kembali merayap perlahan di dalam rongga dada Tera—kali ini dia tahu pasti sensasi hangat itu bukan karena adanya sentuhan fisik antara kulit mereka, melainkan karena sebuah perhatian kecil dan tersembunyi yang diberikan oleh pria yang selama ini dia labeli sebagai patung es yang angkuh dan kaku.
Tera menerima kantong kertas cokelat itu dari tangan Sean dengan gerakan tangan yang sangat pelan dan canggung, wajah manisnya sedikit tertunduk ke bawah untuk menyembunyikan rona merah yang kembali muncul di kedua pipinya.
"Terima kasih banyak Tuan Keras Kepala. Kebetulan sekali perutku memang sudah agak terasa lapar dan melilit dari semenjak membaca buku tadi di kamar."
"Sama-sama. Cepatlah segera kembali ke rumahmu sebelum hembusan angin malam ini membuat pelipismu ikut merasa berdenyut-denyut seperti keluhan saya tadi siang," ucap Sean dengan nada datar yang khas, lalu menurunkan kaca pelindung depan helm full-face-nya ke bawah hingga menutup wajah tampannya sepenuhnya.
Dengan sekali menekan tombol starter, mesin motor sport hitam berukuran besar itu menderu dengan suara yang sangat halus, rendah, namun memancarkan tenaga mesin yang luar biasa besar.
Sean memutar arah stang motornya dengan sangat lihai, lalu menarik tuas gas melesat cepat membelah kegelapan jalan raya utama malam itu, meninggalkan Lentera yang hanya bisa berdiri terpaku sendirian di teras minimarket sambil memeluk kantong plastik deterjen dan kantong kertas cokelat berisi susu hangat dengan perasaan batin yang mulai terasa campur aduk tidak menentu.
Komen dong!