Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.
Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.
Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2: Pengkhianat
Gelas itu pecah di tangan Damar sebelum Reza selesai bicara.
Air putih tumpah ke atas meja, membasahi tumpukan berkas, menetes ke karpet. Pecahan kaca menancap di telapak tangan kanannya. Darah mengalir di sela jari dan bercampur dengan air, merah muda, lalu merah.
Reza berhenti di tengah kalimat. Dia menatap tangan Damar, lalu wajahnya, lalu memutuskan untuk melanjutkan.
"Dua hari lalu, jam tujuh lewat dua belas malam. Basement B2." Dia memutar layar tabletnya ke arah Damar. "Ini dia. Masuk ke mobil hitam. Pelat nomornya terdaftar atas nama perusahaan sewa yang biasa dipakai orang-orangnya Gilang."
Rekaman CCTV itu buram, sudutnya dari atas. Tapi Damar tidak perlu melihat wajah untuk mengenali perempuan itu. Cara Anala berjalan. Rambut yang diikat rendah. Blazer abu-abu yang dia pakai hari Kamis.
Seorang laki-laki memegang punggungnya. Anala masuk ke mobil. Pintu tertutup.
"Dan di hari yang sama, stempel direksi hilang dari brankas," kata Reza. "Kalung ibumu juga."
Damar tidak mengatakan apa-apa.
"Mar." Reza menarik napas. "Dua tahun aku bilang ada yang aneh sama perempuan itu. Dia terlalu rapi. Terlalu tahu semuanya. Sekarang buktinya ada di depan kita."
Kalung itu. Teratai merah dengan berlian di tengahnya. Satu-satunya barang peninggalan ibunya yang masih dia simpan. Hanya dua orang yang tahu kode brankas itu. Dia sendiri, dan sekretarisnya.
Damar mengambil sapu tangan dari saku jas dan menekannya ke telapak tangan tanpa mencabut pecahan kacanya.
"Orang yang tidak berguna tidak kusimpan," katanya.
Suaranya datar. Reza tahu nada itu. Nada yang sama yang dia pakai sebelum memecat direktur keuangan di depan seluruh dewan. Nada yang sama yang dia pakai waktu memutus kontrak dengan pemasok yang menipunya, lalu memastikan pemasok itu tidak bisa berbisnis lagi di Jakarta.
"Mau aku lapor polisi?"
"Tidak."
"Terus?"
"Cari dia."
Reza mengangguk dan berdiri. Di ambang pintu, dia menoleh. "Tanganmu, Mar. Jahit dulu."
Damar tidak menjawab. Reza keluar.
***
Pukul dua belas lewat sepuluh, ponselnya bergetar. Nama Tagih muncul di layar.
"Bos." Suara Tagih selalu pendek-pendek, seperti orang yang tidak suka membuang napas. "Ada kabar dari Batam. Tempatnya Gilang ribut tadi malam."
Damar masih duduk di kursi yang sama. Sapu tangan di tangannya sudah merah seluruhnya.
"Ribut apa?"
"Gilang ditusuk. Perut. Sekarang di rumah sakit, katanya nggak sampai mati."
"Siapa yang tusuk?"
Hening sebentar. "Barang lelangnya, Bos. Tadi ada lelang di ruangan belakang. Barangnya kabur."
"Barang apa?"
"Perempuan."
Damar berdiri.
Dia berjalan ke jendela. Di bawah sana Jakarta masih menyala, jalan-jalan di sekitar SCBD masih dipenuhi lampu mobil meskipun sudah lewat tengah malam. Bayangannya sendiri terpantul di kaca: laki-laki berkemeja putih dengan lengan tergulung dan tangan berlumuran darah.
"Cari tahu siapa perempuan itu," katanya.
"Siap, Bos."
Telepon terputus. Damar masih berdiri di depan jendela untuk waktu yang lama.
Lalu dia kembali ke meja dan memutar rekaman itu sekali lagi. Kali ini dia tidak melihat Anala. Dia melihat tangan laki-laki di punggungnya.
Tangan itu tidak menuntun. Tangan itu mendorong.
Dan kepala Anala, di detik sebelum masuk mobil, terkulai sedikit ke depan. Seperti orang yang tidak sepenuhnya sadar.
Damar mematikan tablet itu dan menelungkupkannya ke meja. Untuk pertama kalinya malam itu, dia tidak tahu apa yang lebih ingin dia dengar: bahwa perempuan itu mengkhianatinya, atau bahwa perempuan di lelang itu adalah dia.
***
Jam lima pagi dia pulang ke Pondok Indah. Bukan karena ingin tidur. Dia tidak bisa tidur. Tapi kantor terlalu sunyi, dan dia sudah memutar ulang rekaman CCTV itu sampai dia hafal berapa langkah Anala sebelum masuk mobil.
Tujuh.
Di rumah, Bi Iyah sudah bangun. Perempuan paruh baya itu melihat tangannya dan langsung menutup mulut.
"Ya Allah, Pak. Itu kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Saya ambilkan kotak obat."
"Tidak perlu."
Bi Iyah tidak bergerak. Matanya melirik ke arah halaman belakang, ke paviliun kecil di samping taman. Lampu teras paviliun itu masih mati. Sudah dua malam mati.
"Bu Nala belum pulang juga, Pak?"
Damar tidak menjawab. Dia masuk ke ruang kerjanya dan menutup pintu.
Dia duduk di sana sampai matahari naik. Dia tidak membuka laptop. Dia tidak menelepon siapa pun. Dia hanya duduk, dan sekali-sekali menatap ponselnya, menunggu nama yang tidak juga muncul.
***
Pukul sembilan empat puluh, telepon rumah berbunyi. Pak Ujang, dari pos jaga depan.
"Pak, Pak Damar..." Suara sopirnya terdengar panik. "Bu Nala, Pak. Di depan pagar. Pingsan."
Damar sudah keluar dari ruang kerja sebelum Pak Ujang selesai bicara.
Dia tidak memakai sandal. Dia tidak ingat untuk memakai sandal. Kakinya menginjak lantai marmer, lalu paving basah di carport, lalu kerikil di jalan masuk yang masih menyimpan sisa hujan semalam. Batu-batu kecil itu menekan telapak kakinya dan dia tidak merasakannya.
Pagar besi terbuka separuh. Pak Ujang berlutut di samping sosok yang tergeletak di aspal.
Anala.
Dia memakai jaket laki-laki yang terlalu besar untuknya. Di bawah jaket itu, kain merah tipis. Kakinya telanjang kecuali sandal jepit murahan. Ada bekas merah melingkar di kedua pergelangan tangannya.
Damar berlutut dan mengangkatnya. Tubuh itu lebih ringan dari yang dia kira.
Dan entah kenapa, di jalan kerikil yang basah itu, ingatannya terlempar jauh ke belakang.
***
Dua tahun lalu. Dua puluh satu Juli. Vila Mawar di Anyer.
Malam itu dia membiarkan Kala keluar dari kandang. Macan tutul Jawa itu adalah kesalahan yang dia pelihara dengan sadar, binatang yang dilindungi, binatang yang seharusnya tidak pernah ada di halaman rumah siapa pun. Tapi waktu itu dia tidak peduli pada apa yang seharusnya.
Lalu dia mendengar teriakan.
Di taman mawar, di bawah lampu taman yang kuning, ada seorang perempuan bergaun putih. Kakinya telanjang. Kala melompat ke arahnya.
Perempuan itu tidak lari.
Dia menunggu, dan di detik terakhir dia bergerak ke samping dan menusukkan sebilah pisau kecil ke leher binatang itu. Sekali. Lalu sekali lagi. Kala jatuh, menggeliat, lalu diam.
Gaun putihnya penuh darah. Tangannya gemetar. Tapi matanya tidak.
Damar berjalan ke arahnya tanpa alas kaki, melewati kerikil dan pecahan pot. Dia berdiri di depan perempuan itu dan menatap pisau di tangannya.
"Menarik," katanya waktu itu.
Perempuan itu mendongak. "Aku mau kamu..."
Dia berhenti. Damar menunggu.
"...jadikan aku sekretarismu."
Dua minggu kemudian, Anala Paramitha mulai bekerja di lantai tiga puluh dua. Sebulan kemudian, dia tinggal di paviliun belakang rumah ini, karena Damar tidak suka menunggu sekretarisnya terjebak macet dari Kalibata setiap pagi.
Dua tahun. Dua tahun dia tidak pernah bertanya dari mana perempuan itu datang.
***
"Pak, bawa ke dalam, Pak," kata Bi Iyah yang sudah berlari menyusul. "Saya panggilkan dokter."
Sebuah mobil berhenti di belakang pagar. Reza turun, rupanya menyusul dari kantor begitu mendengar kabar dari Pak Ujang. Dia melihat semuanya: kaki Damar yang telanjang dan kotor oleh lumpur, kemeja yang sama dengan kemarin, mata merah orang yang tidak tidur semalaman.
"Mar," katanya pelan. "Kamu nggak tidur sama sekali, ya?"
Damar tidak bergerak. Dia menunduk menatap wajah di dadanya. Ada memar di tulang pipi kirinya, bekas tamparan. Bibirnya pecah di ujung.
Kelopak mata Anala bergerak.
Dia membuka mata pelan-pelan. Butuh beberapa detik sebelum matanya fokus. Ketika dia mengenali wajah di atasnya, dia tidak tersenyum. Dia tidak menangis.
Tangannya bergerak ke balik jaket, ke pahanya, dan menarik sesuatu dari sana.
Dia meraih tangan kanan Damar, tangan yang lukanya belum dijahit dan masih terbuka. Dan dia menekankan benda itu ke telapak tangannya.
Stempel direksi. Logam dingin itu menempel di luka, bercampur dengan darah yang kembali mengalir.
"Barangmu," bisik Anala. Suaranya hampir tidak terdengar. "Kuambil kembali."
Matanya terpejam lagi. Kepalanya terkulai ke bahu Damar.
Damar berdiri di jalan masuk yang basah, menggendong perempuan yang semalam dia sebut pengkhianat. Stempel itu masih menempel di telapak tangannya, dan darahnya sendiri membuat logam itu hangat.