Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 - HUMOR DI SELA BAHAYA
Matahari sore perlahan bergeser ke ufuk barat, membiaskan pendaran cahaya oranye keemasan yang hangat di atas pelataran semen Bengkel Maju Jaya Motor. Angin sepoi-sepoi yang berembus dari perbukitan Distrik Barat membawa hawa dingin yang menyejukkan, mengusir rasa gerah pasca sesi latihan singkat Endru dan Steve. Bau minyak mesin tua dan sisa-sisa aroma kopi hitam masih tertinggal lembut di dalam ruang kantor bengkel.
Di pelataran tengah, kelima penyintas berkumpul melingkar di atas beberapa peti kayu bekas sparepart mobil yang disusun mengelilingi meja kerja. Nancy meletakkan tablet digitalnya di tengah meja, menampilkan rekaman singkat berdurasi beberapa detik yang berhasil diunduh dari sisa daya kamera CCTV toko elektronik dan jalan raya utama.
"Karena kita sudah membagi peran dan mulai bersiap untuk pergerakan logistik berikutnya, kita harus memahami variasi infeksi jamur Cordyceps yang bakal kita hadapi di jalanan," kata Nancy seraya membetulkan posisi kacamata tebalnya.
Layar tablet digital itu memutarkan rekaman sesosok manusia yang terinfeksi tahap awal. Makhluk itu berlari kencang secara acak, dengan bintik-bintik tonjolan jamur kecil berwarna cokelat muda yang baru tumbuh memecahi kulit di sekitar pelipis dan dahi.
"Secara teori medis, ini adalah terinfeksi stadium satu," jelas Nancy dengan nada vokal jernih khas peneliti.
"Sistem saraf mereka baru saja diambil alih sepenuhnya oleh jaringan miselium. Mereka sangat agresif, bergerak cepat, dan peka terhadap gerakan visual," paparnya menerangkan detail ilmiahnya.
"Ah, itu mah si 'Toge Mentah'!" seru Onad mendadak seraya mengibaskan kain lap kotornya ke udara dengan gaya gemulai yang sangat kocak.
Steve yang baru saja hendak menyesap sisa air minumnya hampir saja tersedak, menatap Onad dengan sebelah alis terangkat heran. "Toge Mentah?"
Onad memanyunkan bibirnya tipis, memiringkan lehernya dengan raut wajah sok tahu yang dibuat-buat. "Iya dong, Abang Kekar! Coba Abang lihat itu jidatnya! Bintik-bintik jamurnya baru tumbuh kecil-kecil begitu kayak toge yang baru direndam air semalam! Lari-lari tidak jelas kayak orang kebelet, tapi dipukul pakai besi hollow dikit langsung robek!"
Nancy tertegun sejenak, lalu tak tahan untuk tidak melepaskan tawa kecil dari balik jarinya. Endru yang duduk di sebelah Nancy ikut tertawa halus, merasa julukan Onad sangat kocak namun ajaibnya sangat akurat menggambarkan penampilan zombie tersebut.
"Onad, kita sedang membahas taktik keselamatan, bukan nama menu makanan," tegur Luna dengan vokal datar, meski sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang geli.
"Aduh, Mbak Komandan Cantik, dengarkan Eke dulu!" balas Onad seraya membusungkan dadanya penuh rasa percaya diri.
"Istilah ilmiah Mbak Nancy itu kepanjangan! Nanti kalau kita di lapangan terus ada zombie lari kencang dari gang, masa Mbak Nancy mau teriak 'Awas ada terinfeksi stadium satu di arah jam sembilan!'? Keburu digigit kita, Jeng! Tapi kalau Eke teriak 'Awas Toge Mentah!', kan lebih cepat dan gampang diingat!" argumen Onad seraya mengedipkan sebelah matanya centil.
Steve terbahak-bahak mendengar alasan Onad, menepuk meja kayu dengan telapak tangannya kencang. "Logika yang gila, tapi Onad ada benarnya juga! Nama konyol begitu bikin kita tidak panik waktu mendengarnya!"
Nancy tersenyum lebar, menggeser usapan layarnya ke gambar berikutnya. Tampilan di tablet kini menunjukkan sosok zombie yang bertubuh membengkak lebar, dilapisi kerak jamur tebal berwarna kelabu yang menyerupai kelopak jamur kayu besar di dada dan lengannya.
"Kalau yang ini," tutur Nancy berusaha menahan tawanya.
"Infecksi stadium dua yang bertubuh lambat namun memiliki ketahanan fisik tinggi. Kerak jamurnya tebal dan bisa menyemburkan uap spora pekat saat tubuhnya terbentur keras," jelas Nancy menerangkan.
Onad membelalakkan matanya dramatis, menutup mulutnya dengan telapak tangan seolah-olah terkejut setengah mati.
"Ya ampun! Itu si 'Jamur Barat Tahu Isi'!" jerit Onad seraya menggeleng-gelengkan kepalanya heboh.
"Tahu isi?!" tanya Endru polos seraya membetulkan kacamatanya yang agak miring.
"Iya, Brondong Medis!" sahut Onad seraya menunjuk layar tablet.
"Badannya membengkak bantat begitu kayak tahu goreng kebanyakan tepung kanji! Sudah gitu di dalamnya penuh uap spora racun yang siap meletup kalau ditekan! Kalau ketemu yang begitu, jangan didatangi buat dipukul rapat, mending kita lempar batu dari jauh!" lanjut Onad membeberkan analisanya dengan istilah kuliner konyolnya.
Luna menggeleng-gelengkan kepala, namun matanya memancarkan rasa kagum yang samar. Pria eksentrik ini mungkin menyampaikan idenya dengan gaya bahasa yang tidak serius dan penuh canda, tetapi esensi taktis dari pengamatannya sangat tajam dan tepat sasaran.
"Satu lagi, Onad," pancing Steve seraya menyandarkan punggung tegapnya di peti kayu, sangat menikmati hiburan sore tersebut.
"Bagaimana dengan jenis yang suka sembunyi di lorong gelap dan merayap tanpa suara itu?" tanya Steve merujuk pada jenis zombie pemburu senyap yang pernah dijumpai di area perkotaan.
Nancy menggeser gambar terakhir di tabletnya. Tampilan itu menunjukkan sesosok zombie bertubuh sangat kurus, kulitnya pucat pasi meliuk-liuk dengan corong jamur memanjang di bagian telinga dan tengkoraknya. Makhluk itu merayap di dinding tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun.
Onad menyilangkan kedua tangannya di dada, bergidik ngeri seraya merapatkan bahunya.
"Ih, kalau yang itu mah si 'Kunti Enoki'!" seru Onad seraya memanyunkan bibirnya panjang.
"Kunti Enoki?" ulang Nancy dan Endru secara bersamaan seraya tertawa riang.
"Iya! Badannya kurus panjang kayak jamur enoki di sup restoran Jepang, tapi tingkahnya demen ngintip dari balik tiang kegelapan kayak kuntilanak nagih utang!" jelas Onad dengan nada vokal yang sangat gemulai dan penuh penghayatan.
"Sumpah, Eke paling benci sama si Kunti Enoki ini! Suaranya tidak ada, tahu-tahu sudah mau jewer telinga kita dari belakang!" lanjut Onad seraya mengibaskan tangannya ketakutan.
Gelak tawa riang seketika pecah memenuhi ruang pelataran bengkel tua tersebut. Rian dan Endru tertawa sampai memegangi perut mereka yang mulas, Steve terkekeh kencang hingga matanya berair, sementara Nancy menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan karena tidak sanggup menahan rasa geli yang membuncah.
Bahkan Luna tak mampu lagi mempertahankan wajah kaku tarunanya. Kekeh tawa renyah lolos dari tenggorokannya saat ia menatap Onad yang sibuk memperagakan gerakan merayap Kunti Enoki dengan gaya meliuk-liuk yang absurd.
Di tengah kiamat yang meluluhlantakkan peradaban, di mana kematian dan ketakutan mengintai di setiap sudut jalan, humor sederhana yang dibawa oleh Onad menjadi penawar racun emosional yang amat mujarab. Julukan-julukan aneh itu tidak hanya mencairkan ketegangan saraf mereka yang lelah, tetapi juga mengubah wujud monster-monster Cordyceps yang mengerikan menjadi sesuatu yang terasa lebih mudah dihadapi dan dikalahkan.
"Baiklah," kata Luna seraya menyapu sisa tawa di bibirnya dan menegakkan posisi berdirinya.
"Mulai sekarang, dalam komunikasi radio dan sandi taktis tim, kita pakai istilah Onad," putus Luna tegas seraya menatap seluruh anggotanya.
"Toge Mentah untuk terinfeksi cepat stadium satu, Jamur Barat Tahu Isi untuk yang bertubuh besar dan berspora, dan Kunti Enoki untuk pemburu senyap di tempat gelap," lanjut Luna meresmikan sistem nama tersebut.
Onad seketika berdiri dari peti kayunya, membungkukkan badannya anggun dengan gaya ala bintang panggung yang menerima penghargaan.
"Terima kasih! Terima kasih semuanya! Eke merasa sangat terhormat karya seni Eke diakui oleh Ibu Komandan!" seru Onad riang seraya mengedipkan sebelah matanya centil.
"Nama-nama itu benar-benar bikin aku tidak terlalu takut lagi kalau harus berhadapan dengan mereka nanti, Onad," puji Endru jujur seraya tersenyum hangat dari balik kacamatanya.
"Nah, itu dia poin utamanya, Brondong Medis!" balas Onad seraya menepuk bahu Endru lembut.
"Kalau kita terlalu takut sama rupa jelek mereka, pikiran kita bakal membeku. Tapi kalau kita anggap mereka cuma tumisan jamur yang salah resep, mental kita bakal tetap tenang!" ujar Onad memberikan filosofi hidupnya yang membumi.
Nancy mengangguk setuju seraya mematikan layar tablet digitalnya. Chemistry dan rasa kekeluargaan di antara kelima orang ini telah mengikat mereka menjadi sebuah unit yang tidak hanya tangguh secara fisik dan taktis, tetapi juga memiliki ketahanan mental yang sangat kuat.
Sinar matahari sore perlahan menghilang di balik cakrawala, menggantikan langit oranye dengan nuansa keunguan yang teduh. Luna menatap ke arah truk pick-up berlapis baja yang terparkir di pelataran, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Onad.
"Onad, bagaimana kondisi persediaan bahan bakar truk kita?" tanya Luna memastikan kesiapan armada mereka.
Onad menghentikan gerakan gaya panggungnya, beralih memasang raut wajah prihatin seraya menunjuk jarum indikator tangki di dashboard truk melalui jendela kabin.
"Nah, itu dia masalah utamanya, Jeng Luna..." bisik Onad dengan suara yang melandai cemas.
"Bensin di tangki truk ganteng kita tinggal sisa seperempat lagi. Kalau kita mau pakai jalan jauh buat cari minimarket atau logistik besar besok, kita bakal kehabisan BBM di tengah jalan utama," tuntas Onad membeberkan kendala baru yang menanti mereka.
Suasana di pelataran bengkel perlahan kembali fokus dan penuh kesiapan. Dengan nama-nama taktis konyol yang kini tertanam di benak mereka dan rasa kebersamaan yang makin solid, kelima penyintas ini siap menghadapi tantangan logistik berikutnya di Kota Mati Cordyceps.