yuna adalah perempuan cantik mandiri, dan cantik dipaksa nikah dengan Marco hanya karena kesepakatan bisnis keluarga nya
Marco adalah laki-laki yang dinggin,cuek,dan dikenal sebagai raja mafia yang namanya disegani bahkan ditakuti diseluruh dunia baginya hidup hanyalah tentang kekuatan, kekuasaan,dan kekayaan semua orang memanggil nya "Qing"
Yuna memiliki 2 sahabat terbaik nya bernama Yona dan jisoo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubu1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
( season 3) benci jadi cinta ( bab 2) teror di balik cahaya yayasan!!
Suatu malam sekitar pukul sebelas, saat Yuna sedang duduk di ruang administrasi memeriksa laporan keuangan dan daftar kebutuhan anak‑anak untuk minggu depan, terdengar bunyi keras seperti ada benda berat yang dijatuhkan di halaman belakang. Ia segera mengambil senter kecil yang selalu ia simpan di laci meja, lalu memanggil Arga yang masih berada di ruang tamu untuk memeriksanya bersama‑sama. Saat mereka berdua berlari menuju halaman belakang, mereka melihat bahwa taman bunga mawar putih yang ditanam untuk mengenang Marco telah diacak‑acak; batang‑batang bunga yang masih muda dipatahkan, tanah di sekitarnya digali secara kasar, dan di tengah lubang yang ditinggalkan tergeletak selembar kertas hitam dengan gambar bunga mawar hitam yang digambar dengan tinta merah gelap, seolah‑olah seperti bekas darah.
Arga mengerutkan kening tajam, matanya menyapu seluruh sudut halaman yang gelap dengan waspada tinggi.
"Ini bukan lagi peringatan biasa, Yuna. Mereka ingin membuat kita takut, ingin menunjukkan bahwa mereka bisa masuk ke tempat ini kapan saja tanpa kita sadari," ucapnya dengan suara rendah namun penuh kekhawatiran. "Kelompok mawar hitam ini dulu dikenal tidak segan‑segan melakukan apa pun untuk mencapai tujuan mereka. Mereka tidak akan berhenti hanya dengan merusak taman bunga kita."
Keesokan paginya, suasana di yayasan berubah seketika. Beberapa anak terlihat ketakutan karena mendengar suara gaduh semalam, ada yang menangis karena bunga kesayangannya rusak, dan beberapa pengasuh mulai merasa ragu apakah tempat ini masih aman untuk anak‑anak tinggal. Yuna berusaha menenangkan mereka satu per satu, memeluk anak‑anak yang ketakutan dan meyakinkan bahwa mereka akan menjaga keamanan dengan lebih ketat, namun di dalam hatinya ia sendiri merasa cemas yang semakin membesar. Ia teringat pesan‑pesan peringatan yang dulu datang sebelum Tuan Bayu bertindak, dan ia takut bahwa sejarah buruk itu akan terulang kembali di tempat yang telah ia bangun dengan seluruh cinta dan pengorbanannya.
Beberapa hari kemudian, teror itu semakin menjadi‑jadi. Saat siang hari ketika anak‑anak sedang belajar di ruang kelas, seseorang menyelipkan amplop hitam tanpa nama di bawah pintu ruang kelas — di dalamnya tertulis pesan ancaman yang jelas: "Serahkan semua catatan sisa Marco, atau cahaya yang kalian bangun akan padam selamanya." Selain itu, pagar besi di sisi belakang yayasan ditemukan ada bagian yang dilubangi, seolah‑olah sudah ada yang masuk dan keluar berulang kali tanpa terlihat oleh penjaga. Arga segera memerintahkan penjaga untuk berpatroli dua kali lipat siang dan malam, memasang lampu sorot di sudut‑sudut tersembunyi halaman, serta memeriksa setiap orang yang ingin masuk ke dalam yayasan dengan teliti. Namun meskipun keamanan diperketat, sosok berpakaian gelap itu masih terlihat sesekali mengintai dari balik pepohonan di pinggir lapangan — selalu diam, tidak berteriak, tidak mendekat, hanya memperhatikan setiap gerak‑gerak mereka dari kejauhan.
Yuna mulai terbangun hampir setiap malam karena mimpi buruk: ia bermimpi yayasan itu diselimuti kegelapan total, anak‑anak bersembunyi ketakutan di sudut‑sudut ruangan, dan sosok bayangan itu berjalan perlahan mendekat ke arahnya sambil membawa simbol mawar hitam. Kadang‑kadang ia terbangun dengan keringat dingin di seluruh tubuhnya, lalu mengambil liontin perak pemberian Marco yang selalu ia pakai di leher, berusaha mencari kekuatan dari kenangan suaminya yang dulu juga berani menghadapi bahaya sendirian. Ia tahu bahwa jika ia menyerah pada rasa takutnya sekarang, semua yang telah diperjuangkan Marco dan semua anak‑anak yang ia lindungi akan terancam bahaya besar.
Suatu sore, saat langit mulai berwarna jingga keunguan, ia duduk sendirian di beranda depan sambil memandang ke arah jalan yang sepi. Arga mendekat perlahan lalu duduk di sampingnya.
"Kau tidak perlu menanggung semuanya sendirian," ucap Arga lembut. "Kita sudah berhasil melawan bahaya dulu bersama‑sama. Kali ini pun kita tidak sendirian. Kita punya warga sekitar yang mendukung, kita punya bukti‑bukti tentang kelompok ini yang bisa kita serahkan ke polisi. Tapi kita harus bergerak cepat, sebelum mereka melakukan hal yang lebih buruk."
Yuna mengangguk perlahan, matanya yang semula tampak lelah mulai memancarkan tekad baru. Ia memegang liontin perak di dadanya erat‑erat, lalu berbisik dengan suara yang tegas meskipun masih ada getaran halus karena cemas:
"Kau benar. Aku tidak akan membiarkan mereka menakut‑nakuti kita selamanya. Yayasan ini bukan hanya milikku atau milik Marco. Ini rumah bagi anak‑anak yang tidak punya tempat lain untuk pulang. Aku akan melindunginya dengan segala yang aku punya."
Namun di balik rimbunnya pohon‑pohon di pinggir jalan, sosok berpakaian gelap itu masih berdiri diam, mendengarkan setiap kata yang terucap dari bibir Yuna, lalu berbalik perlahan menghilang ke dalam bayangan senja — membawa pesan bahwa perang dingin ini baru saja dimulai, dan kelompok mawar hitam tidak akan mundur sebelum mereka mendapatkan apa yang mereka cari.
BERSAMBUNG...