Bima Arka Pradipta , anak dari keluarga sederhana di pinggiran Manado. Keras kepala, tidak banyak bicara di luar lapangan tapi meledak-ledak di dalam lapangan. Hamstring putus , pensiun umur 34 tahun. Dikenal karena tendangan bebas melengkungnya dan loyalitasnya sama tim. Dari anak kampung yang main bola pakai kaki ayam -> ditolak akademi karena dianggap terlalu emosional -> bangkit setelah cedera parah di musim hujan -> jadi kapten yang mengangkat tim degradasi jadi juara.
"Bukan tentang seberapa keras kau terjatuh, tapi seberapa lama kau tetap berdiri di tengah hujan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SelToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 Bola Oranye Di Lumpur
Bima Arka Pradipta berumur 8 tahun , dan dia sudah tahu cara menghitung untung dan rugi.
"Kalau ikan cakalang laku 30 ribu , potong bensin perahu 5 ribu , sisa 25 ribu. 25 ribu bagi 2 hari , jadi..."
Dia berhenti. Matematikanya mentok. Kepalanya pusing.
Di rumah panggung yang berderak setiap kali ombak memukul tiangnya , matematika bukan pelajaran sekolah. Matematika adalah cara untuk tahu apakah malam ini mereka akan makan pakai telur atau cuma garam.
Hari itu adalah hari Selasa. Langit Tuminting sedang berwarna abu - abu.
Bima duduk di lantai , menjaga Mira adiknya yang tidur sambil batuk pelan. Batuknya yang khas , batuk asma yang bikin dada Bima ikut sesak. Ibu belum pulang dari pasar. Bapak masih ada di laut.
Tugas Bima adalah menunggu. Sebenarnya dia paling benci untuk menunggu.
Dari celah papan rumahnya , dia bisa melihat lapangan. Lapangan itu bukan lapangan. Hanya tanah kosong yang kalau hujan jadi kolam lumpur , kalau kemarau jadi debu. Gawangnya 2 sandal jepit swallow yang sudah putus sebelah.
Tapi di mata anak - anak kampung , itu adalah Old Trafford.
Bima tidak pernah diajak main. Bukan karena dia tidak mau. Karena bajunya cuma 2. Kalau kotor , Ibunya akan marah. Kalau robek , Bapak akan diam. Diamnya Bapak lebih menakutkan daripada marahnya Ibu.
"Sekali aja , Bim. Sekali" kata Dodi , teman sebangkunya saat seminggu yang lalu. "Kita kurang 1 orang."
Bima menggeleng. "Mama nanti marah."
Sejak itu Dodi tidak ajak lagi.
Sore itu , jam setengah 5 , hujan turun dengan deras. Anak - anak bubar. Lapangan kosong. Bima melihat dari jauh , mereka meninggalkan sesuatu.
Sebuah bola plastik. Warna oranye. Sudah kempes sedikit. Terjebak di tengah kubangan lumpur, seperti telur yang ditinggalkan induknya.
Bima menatapnya lama. Mira masih tidur. Ibu masih belum pulang. Dan hujan turun semakin deras , menutupi suara.
Entah dapat dorongan dari mana , Bima turun. Kakinya yang telanjang tidak pakai sandal ( sandal jepitnya sudah putus minggu lalu dan belum sempat dijahit Bapak pakai kawat )
Langkah pertama di lumpur itu dingin. Dingin sampai ke tulang.
Langkah kedua , kakinya terperosok.
Dia sampai di tengah lapangan. Hujan menampar wajahnya. Bajunya yang tipis langsung basah kuyup. Dia pasti akan dimarahi habis - habisan nanti.
Di depannya , ada bola oranye itu.
Bima tidak tahu tekniknya. Tidak tahu cara menendang yang benar.
Dia hanya memejamkan mata , menarik napas seperti yang biasa dia lihat di tv tetangga , dan menendang.
PLOK!
Tidak keras. Bola itu hanya bergerak setengah meter , memuncratkan lumpur ke kakinya.
Tapi suaranya.
Suara plok itu mengalahkan semua suara di kepalanya. Mengalahkan suara hitungan rugi laba ikan , mengalahkan suara batuk Mira , dan mengalahkan suara ombak yang menakutkan.
Bima tertawa. Pertama kalinya pada hari itu dia tertawa dengan keras.
Dia tendang lagi. Lebih keras.
PLOK!
Lagi.
PLOK! PLOK! PLOK!
Dia berlari kecil , terpeleset , jatuh , mukanya penuh lumpur , tapi dia bangkit lagi. Dia menendang bola itu ke arah sandal jepit yang menjadi gawang. Melenceng jauh.
Tapi dia tidak peduli.
Selama sepuluh menit , di tengah hujan yang turun dengan deras , anak 8 tahun yang tadi jago menghitung untung dan rugi itu lupa cara menghitung. Dia lupa waktu , dan dia lupa takut.
Sampai sebuah suara membelah hujan.
"BIM!"
Bapaknya sudah pulang. Berdiri di ujung lapangan dengan karung ikan di bahu. Wajahnya tidak marah. Wajahnya bingung melihat anaknya yang biasanya pendiam itu gila - gilaan menari dengan lumpur.
Bima membeku. Bola oranye berhenti di kakinya.
Itu adalah tendangan pertamanya.
Dan tendangan pertama itu , 8 tahun kemudian, akan membawanya ke stadion yang lampunya jauh lebih terang daripada lampu petromaks di rumah panggungnya.
Tapi sore itu, dia hanya anak 8 tahun yang ketahuan main hujan - hujanan.
#####################################
Cukup sampai di sini dulu ya. Mohon dukungannya , supaya novel ini dapat berkembang dengan baik kedepannya. Jangan lupa like , dan berikan saran serta hadiahnya jika suka.
Happy reading