NovelToon NovelToon
Dipaksa Menerima Wanita Itu

Dipaksa Menerima Wanita Itu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:140.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Empat tahun lamanya mengarungi bahtera rumah tangga, dan tepat di ulang tahun pernikahan yang seharusnya disambut bahagia, Arjanti harus menelan kecewa, dipaksa memberi izin suaminya menikah lagi.

Mertuanya terus menekan, melimpahkan kekurangan ada pada dirinya yang tak kunjung hamil, sementara mereka ingin segera menggendong cucu.

Sang suami yang awalnya menentang keras saat dipaksa menikah lagi, lama kelamaan setuju dengan alasan ingin menimang anak.

Pada akhirnya, Arjanti harus berbagi suami. Tinggal satu atap dengan wanita bermuka dua, berambisi menjadi istri tunggal.

Lantas, bagaimana kehidupan Arjanti pasca pria yang dicintai segenap jiwa itu menghadirkan wanita lain selain dirinya?
Apa benar kalau dia memang mandul?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DMWI : 01

“Bu Arjanti, selaku istri pertama — apakah Anda benar-benar ikhlas memberikan restu kepada bapak Herlan Doko — pada hari ini, detik ini juga akan mengikrarkan kabul kepada Saila, calon istri keduanya?” pak penghulu memandang tepat sepasang manik tegar seorang wanita yang duduk berjarak setengah meter dari meja ijab kabul.

Wanita itu memakai abaya hitam, berselendang senada, kontras dengan lainnya yang mengenakan busana putih. Dia duduk di lantai beralaskan karpet tebal sebuah hunian besar berlantai dua. Ring putih melingkar di jari manis diputar-putar seolah menimbang benar atau tidaknya keputusan nanti.

Sebelum menjawab pertanyaan pak penghulu, disapunya pandangan ke sosok gagah berpeci hitam, kemeja putih disetrika licin. Wajah suaminya, tatapan dalam itu berbicara tanpa bersuara — berharap sebuah izin yang jauh-jauh hari sudah dipinta.

Kemudian Arjanti menelisik dari atas kepala tertutup selendang bordiran putih, lalu turun pada leher jenjang terpasang seuntai kalung berlian, pemberian pria berstatus suaminya ketika melamar Saila untuk dijadikan istri kedua.

Tarikan napasnya diatur sepelan mungkin tanpa tertangkap oleh mata orang lain kalau hatinya tengah sekarat.

Bibir yang senantiasa terkatup rapat, mengeluarkan satu kalimat menjadi babak baru kehidupan rumah tangganya sendiri yang sudah dibangun selama 4 tahun lamanya.

“Saya setuju!” jawabnya dengan wajah tenang, namun terdengar getar pada suara mengalun lembut itu.

‘Aku memang memberi izin, tapi gak ikhlas! Semoga kamu menepati janji Mas, tetap menjaga cinta kita meskipun telah beristri dua,’ batinnya menyatakan ketidaksetujuan, namun dia kalah oleh tuntutan orang tua Herlan yang menginginkan cucu.

Sang pria memandang bola mata mempesona yang membuatnya jatuh hati ke wanita berkepribadian penyabar, lucu apabila dilanda panik suka gugup. ‘Mas janji sayang, akan berusaha adil. Cintaku kepadamu takkan berkurang, malah akan bertambah karena rasa hormat akan keikhlasanmu belajar menerima Saila.’

Setelah mendengar langsung izin dari istri pertama, pak penghulu pun lebih yakin lagi menikahkan sepasang insan duduk di depan meja persegi tertutup kain lembut dan dihias rangkaian bunga segar.

Jabat tangan dieratkan, kalimat sakral digemakan. Dalam satu tarikan napas, kabul terucap sempurna.

“Sah!”

“Sah!”

“Sah!”

Kata sah itu lolos dari bibir para saksi nikah, dan disambut gembira oleh mereka yang melambungkan harapan pernikahan kedua ini akan membawa bahagia, serta melahirkan penerus.

Arjanti menggigit pipi bagian dalam. Ia tatap nanar pria yang dulu menjabat tangan bapaknya, kini sedang memasangkan cincin kawin ke jari manis wanita lain.

Saila tersenyum manis sekali, wajahnya berbinar cerah. Ia pandangi sedikit lama lingkaran putih pada jari manis Herlan yang sebelumnya tersemat cincin kawin bersama Arjanti.

Demi menyempurnakan pernikahan ini, Pria itu meminta izin untuk melepaskan bukti ikatan sucinya bersama wanita yang dinikahi berlandaskan cinta bukan paksaan maupun perjodohan, namun pilihan hatinya sendiri.

Bibir tipis bagian atas, naik sedikit menciptakan garis sinis mengejek. Cincin emas polos pun terpasang di sana menutupi lingkaran pucat. Saila cium punggung tangan pria yang telah resmi menjadi suaminya.

Herlan membalas mengecup ubun-ubun istri kedua, lalu wajahnya turun tepat di telinga sang wanita. Berbisik. “Kamu cantik sekali istriku.”

Jemari lentik berkuku berkutek merah mencubit pinggang pria yang masih mengatakan hal-hal dewasa, sengaja menggodanya.

Pada saat ia masih tersenyum lebar, tatapannya bertemu dengan wanita terlihat sekali berusaha tegar, namun dirinya dapat merasakan gejolak hati pada sepasang mata memerah menahan tangis.

‘Aku tidak peduli meski harus mematahkan hatimu Janti. Yang terpenting mas Herlan sudah sah menjadi suamiku. Bila kamu masih ingin dipertahankan, maka berbaik hatilah kepada madumu ini,’ sengaja dia berlama-lama menikmati usapan di punggung tanpa mau memutuskan pandangan dengan istri pertama suaminya.

“Kenapa, kamu gak nyaman sama bajunya atau apa?” bisik pria bersuara rendah tepat di pusara telinga. Dalam dekapannya, istri muda bergerak gelisah.

“Kulitku gatal, Mas. Siapa yang pilihkan baju akad ini? Sepertinya ini dari kain berharga murah, makanya alergiku kambuh saat memakainya,” adunya dengan suara tak lebih keras dari bisikan mendesah. Pipi mereka saling menempel.

Herlan menarik diri, memperhatikan kebaya modern berpotongan rendah bagian depan. Nyaris saja menelan air ludah melihat daging berkulit mulus, putih, menyembul dari tepian kain.

“Arjanti yang memilihkan lewat penjahit langganan. Sudah Mas wanti-wanti cari bakal baju dengan kualitas terbaik mengingat kamu memiliki kulit rentan alergi,” katanya seraya mengatur napas. Jangan sampai ada yang memergoki kalau sedang menahan nafsu.

Namun sayangnya, mata jeli istri muda telah menangkap basah jakun turun naik, suara bergetar, dan sorot mata berkabut. ‘Teruslah terpesona dan harus sampai kecanduan dengan rasa tubuhku Mas, biar aku yang jadi pertama, dan dia perlahan terlupakan.’

Ehem!

Deheman pak penghulu menghentikan aksi romantis didukung keluarga kedua mempelai, kecuali wanita yang mati-matian menahan jatuhnya air mata.

“Bisa kita lanjutkan acaranya, agar sempurna pernikahan ini?” ucap pria paruh baya memakai baju koko putih, dan celana bahan.

Penuh semangat, pengantin baru itu serempak mengangguk.

Acara akad sederhana yang dilangsungkan di kediaman keluarga Doko, berjalan lancar. Dari ijab kabul, dilanjut ceramah tentang nasihat pernikahan.

Kemudian pak penghulu dan salah seorang petugas kantor urusan agama, pamit pulang. Mereka menolak halus ketika ditawari makan.

Tinggal lah keluarga inti kedua mempelai yang merayakan pernikahan ini dengan makan bersama.

Menu terhidang di atas meja prasmanan tampak menggugah selera, beraroma pekat bumbu rempah.

“Baru juga beberapa jam jadi istri pertama, sudah sok menunjukkan posisi siapa sang nyonya. Sana layani para tamu. Jangan buat malu! Malah bengong,” ketus suara bervolume cukup tinggi, memancing perhatian beberapa orang yang langsung menatap wanita berselendang hitam.

“Iya, Bu.” Janti beranjak, masih menjawab sopan kalimat ibu mertua yang merendahkan dan mempermalukannya itu.

Ditelannya air ludah, lalu dia mendongak sebentar menghalau air mata, barulah berdiri dibalik meja persegi panjang yang mana menu olahan tangannya tengah dicicipi para tamu tidak lebih dari sepuluh orang.

“Ini siapa yang masak? Rasanya lezat, dan kaya bumbu pas di lidah?” tanya wanita bersanggul kecil, memakai kacamata lensa tebal. Dia ibunya Saila.

“Si Arjanti, Jeng. Dia memang pintar masak,” sahut Darti, ibunya Herlan.

Ekspresi Tanira pun lebih ramah lagi, membalas ucapan sang besan. “Kalau seperti ini, aku tenang ninggalin Saila disini. Sudah ada Janti yang bisa diandalkan di dapur, jadi putriku bakalan lebih fokus menjaga kesehatan biar tetap subur dan cepat hamil.”

“Ya jelas lah, Jeng,” balas wanita paruh baya yang duduk di kursi roda. “Saila itu tugasnya seneng-seneng supaya pikiran tenang, kalau lainnya biar diurus menantuku yang sudah 4 tahun perutnya tetep kempes, padahal kami gak kurang-kurang beli vitamin dari harga ratusan ribu sampai jutaan untuk dia.”

“Ma, dijaga lisannya, kasihan Janti!”

.

.

Bersambung.

1
Fitriyazahra
4 bab untuk hari ini...yeayy mksh kaka
Sri Rahayu
maju trus jnti gx usah tanya2 biar tak bantu dari sini..🤣🤣 emosi Uda diubun2.. hbis ne Thor buatt Janti ketemu orka dan jdi juragan kaya dikampung..law author na yg tak datangi 🤭🤭🤭
Andriani
👍👍👍👍
Lilik Lailiyah
mantep janti
🍤⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
bagus janti, pilihan yang tepat, klo herlan g mau, kamu yg dluan maju ke PA. sdh cukup kamu bersabar dan jadi wanita bodoh yang cuma di manfaatin.
mamaqe
cakeeppp...tokoh utama pilihan otor sll luar biasaaahhh karakternya
Sri Wahyuni
hajar 🫵👊👊👊
Eli Rahma
alhamdulillah akhirnya janti sadar
Eli Rahma
jijik bgt denger ngomong sayang,tapi gda buktinya
Rahmawati
bagus janti bulatkan Tekadmu, jgn mau lagi diam drmh itu begelar istri tl tdk dihormati
yuyun Rahayu
ditunggu updatenya ny lagi kak cublik buat si Parlan itu mendem kecubung , kehilangan si njati,dn setelah itu hdp Parlan di peloroti sma jablay nya itu biar nyaho
Arin
Dirimu pun berhak bahagia Janti..... Tunjukkan pada Herlan nanti bahwa dirimu bukan lah mandul. Dirimu bisa mendapatkan keturunan. Tapi pasangan mu bukan Herlan. Biar mantan suamimu nanti berfikir jadi..... siapa yang sebenarnya mandul???? 😁😁😁
Engkar Sukarsih
dasar bahlul kamu herlan 🤬🤬🤬dulu kamu dah di buang seperti sampah sama tu kunti.eh...do...do..e malah di pungut lagi sampahnya😤😤😤
Nabila Nabil
aku... aku tak maju neng pengadilan... kesuwen... aku tak seng dadi Hakime... tak ketok palu gadangku neng sirahe herlan.... 😤😤😤😤
Engkar Sukarsih
bagus Janti lepaskan lelaki brengsekmu itu 😤😤😤😤
Nabila Nabil
janti.... langsung sat set tendang manukke..... 😤😤😤😤
Arin
Akhirnya Janti mengambil keputusan yang tepat. Biar pun itu berat. Tapi itu adalah keputusan yang baik. Daripada terus makan hati.....
Nabila Nabil
Herlan mandul.... 🤣🤣🤣
Nabila Nabil
alhamdulillah ya allah... pulang janti... pulang wae ketimbang mangan ati... mending mangan tahu tempe tapi kumpul....
Nabila Nabil
ibumu aja melarang mereka duduk disofa kampret😤😤😤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!