Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg
Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.
Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15
...****************...
Siput yg kebingungan seketika menaikan nada tingginya pada theo
"Lo kenapa sih ngamuk-ngamuk nggak jelas gini?"
"Yang nyuruh lo jemput gue siapa?"
"Lagian apa hak lo ngelarang gue dekat sama alex?Lo bukan siapa-siapa gue kan? Lo bukan saudara,bukan orangtua gue,bukan juga pasangan gue kenapa lo larang?"
"Kembalikan tas gue, itu pemberian alex dan itu masih baru, gue udh nggak punya tas lagi..SINIIN!"
Penegasan tajam soal status mereka menghantam telak dinding pertahanan theo. Kata-kata yang menyangkal eksistensinya itu membakar habis sisa kesabaran yang ia tahan sejak siang tadi.
Kenyataan bahwa benda merah muda di tangannya adalah pemberian dari lelaki lain membuat cengkeramannya kian mengerat hingga buku-buku jarinya memutih pasi.
theo memajukan langkah, menatap perempuan di hadapannya dengan kilat mata yang menggelap berbahaya. Alih-alih mengembalikan tas itu, ia justru menyembunyikannya ke balik punggung tegapnya, menolak tunduk pada tuntutan bernada tinggi tersebut.
"Bukan siapa-siapa?"
desis theo rendah, suaranya sarat intimidasi yang menggetarkan udara petang di pelataran rumah sakit. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman getir yang dingin.
"Terus cowok tadi siapa lo sampai lo biarin dia megang-megang lo sembarangan? Lo gampang banget nerima barang dari orang lain sementara lo selalu jual mahal di depan gue."
Napasnya memburu tertahan. Rasa panas yang membuncah di dadanya kian tak terkendali saat tatapan mereka bertumbukan. theo menarik satu sudut jaketnya, menegaskan jarak di antara mereka.
"Gue nggak peduli tas ini dari siapa,"
sambung theo ketus, melempar tatapan menusuk ke arah rekan kerja yang masih berdiri di dekat mereka.
"Tapi selama lo masih berurusan sama gue, lo pulang bareng gue. Sekarang naik ke motor, atau barang ini gue buang ke tempat sampah."
Dengan perasaan yang masih kesal eca mencoba mengambil tas yang masih di pegang oleh theo.
"Gue dari awal datang ke tempat ini sudah mengenal alex, dan lo sama gue baru kemarin kenal jelas berbeda "
"Gue mau pergi sama alex, gue mau cari apartemen sama dia hari ini kita sudah janjian, dan lo nggak perlu antar jemput gue"
"Gue rasa hubungan kita hanya sebatas balas budi bukan layaknya pasangan yang harus ngelarang apa yang mau gue lakukan" ketus eca membalas theo
Ucapan yang membandingkannya secara terang-terangan dengan rekan kerjanya meremukkan sisa kesabaran Theo. Hatinya berdenyut panas, membakar harga diri yang terbiasa memegang kendali penuh atas segalanya.
Penolakan mentah-mentah itu bukan hanya menyinggung egonya, melainkan menyalakan letupan kecemburuan pekat yang menolak disingkirkan.
Theo melangkah maju setengah tapak, memanfaatkan postur tubuhnya yang menjulang untuk mengurung pergerakan sang perawat. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang penuh ejekan dingin, menutupi gejolak kekecewaan yang bersembunyi di balik dadanya.
"Batas balas budi?"
ulang Theo dengan suara rendah yang bergetar menahan amarah. Ia sengaja mengalihkan pandangan menusuk ke arah lelaki di belakang mereka sebelum kembali menatap mata lawan bicaranya tanpa gentar.
"Jangan bertingkah seolah lo paham aturan mainnya. Selama urusan lo sama gue belum selesai, gue yang nentuin kapan batas itu berhenti."
Tangan Theo yang bebas menyambar pergelangan tangan perempuan itu, mencengkeramnya hati-hati namun tak memberi ruang untuk melepaskan diri.
"Nggak ada apartemen, nggak ada keluyuran bareng dia. Kalau lo berani melangkah pergi sama cowok ini, gue pastiin tempat tinggal baru lo bakal jadi urusan yang jauh lebih rumit dari ini."
hadir kak, mampir juga ya😊