Naik jabatan menjadi sekretaris CEO Adrian Dewangga (33) harus dibayar mahal oleh Nayla Safira (27). Ayahnya tewas usai menyelamatkan orang tua Adrian dalam kecelakaan maut. Demi melunasi utang nyawa dan menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Adrian dan Nayla terpaksa menikah secara rahasia.
Awalnya, Adrian menyetujui pernikahan rahasia ini karena baginya pernikahan tersebut murni sebuah bentuk tanggung jawab, bukan karena cinta. Di sisi lain, Nayla yang bertubuh gemuk memilih bersembunyi karena minder dan tak ingin dituduh memanfaatkan keadaan. Namun, setahun hidup berdampingan membuat rasa tanggung jawab Adrian perlahan menjelma menjadi cinta yang dalam. Ia muak terus berpura-pura asing.
Saat mereka akhirnya sepakat untuk membuka hati, status pernikahan itu justru terbongkar ke publik. Kejamnya dunia menghantam Nayla dengan tuduhan paling menyakitkan, ia dianggap tega menukar nyawa ayahnya demi posisi mewah di samping sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06 - Tahun Pertama
Waktu berputar tanpa suara, merajut detik demi detik menjadi hari, dan bulan demi bulan hingga tak terasa satu tahun telah berlalu.
Selama tiga ratus enam puluh lima hari itu, Nayla dan Adrian menjalani kehidupan ganda yang penuh dinamika kaku namun perlahan melunak. Di luar sana, di balik tingginya gedung pencakar langit Dewangga Group, mereka adalah bos dan sekretaris yang bekerja dengan tenggat waktu ketat, profesionalisme kaku, dan jarak yang terjaga. Namun di balik pintu rumah, mereka adalah sepasang suami istri yang secara perlahan saling menyesuaikan diri dengan keberadaan satu sama lain.
Satu tahun ini juga membawa perubahan pada diri Nayla. Penampilannya jauh lebih menarik. Dia tidak pernah lagi terlihat lusuh. Meski bobot tubuhnya masih bertahan di angka 80 kilogram, karena bagi Nayla, berdiet adalah perjuangan terberat yang selalu berujung gagal. Berat badannya sempat turun saat berduka atas wafatnya sang ayah tapi kembali melonjak naik.
Sebagai istri dari Adrian Dewangga, kulit Nayla kini terlihat makin bersih, halus, dan terawat. Di kantor, Nayla memang sengaja tetap mengenakan kemeja dan rok kerja biasanya yang sederhana agar tak memancing kecurigaan staf lain. Namun malam ini, khusus untuk acara penting di rumah mertuanya, penampilan Nayla benar-benar menjelma menjadi sosok wanita anggun.
Nayla berdiri di depan cermin besar, memandangi pantulan dirinya yang terbalut gaun midi berwarna navy elegan berpotongan A-line anggun yang menyamarkan lekuk tubuhnya dengan sempurna. Gaun berbahan sutra eksklusif itu dibelikan langsung oleh Adrian beberapa bulan lalu, sebuah gaun mewah yang harganya jika dikonversikan bahkan sanggup untuk membeli satu unit sepeda motor baru.
Dan di sinilah mereka berada sekarang. Di kediaman utama keluarga Dewangga, duduk mengelilingi meja makan panjang untuk merayakan 1st Anniversary pernikahan mereka.
Suasana ruang makan di kediaman utama terasa begitu hangat dan intim. Meja makan itu dihiasi taplak putih bersih, lilin-lilin aromaterapi yang mengepulkan aroma vanila lembut, serta deretan hidangan lezat yang disiapkan khusus oleh Bu Ratih.
"Jadi... kapan Mama bisa gendong cucu dari kalian?"
Suara Bu Ratih yang tiba-tiba memecah denting sendok dan garpu seketika membuat suasana meja makan membeku.
Nayla, yang sedang memegang gelas minumnya, hampir saja tersedak. Matanya membelalak kaget, kepalanya menunduk makin dalam dengan pipi yang memerah padam. Di sebelahnya, Adrian ikut menghentikan suapannya. Pasangan suami istri itu saling melempar pandangan bingung, sama sekali tak tahu harus merespons apa atas pertanyaan menohok tersebut.
Melihat respons kaku anak dan menantunya, Bu Ratih mendengus pelan lalu menatap Adrian dengan raut wajah gusar.
"Kamu ini ya, Adrian! Dari hari pertama setelah menikah, istrinya diajak kerja terus di kantor! Nggak ada waktu buat liburan, nggak ada waktu buat santai berdua!" tegur Bu Ratih omelnya.
Adrian berdehem pelan, menutupi rasa canggungnya seraya memperbaiki posisi duduk. "Pekerjaan di kantor memang sedang sangat banyak, Ma. Banyak proyek yang harus diselesaikan."
"Alasan terus!" potong Bu Ratih geleng-geleng kepala.
Wanita paruh baya itu kemudian memalingkan pandangannya pada Nayla. Seketika itu pula, raut wajah Bu Ratih yang tadinya galak berubah drastis menjadi sangat lembut dan penuh kasih sayang.
"Nayla sayang... makan yang banyak, ya? Kamu pasti lelah kerja seharian membantu Adrian," tutur Bu Ratih lembut, mengambilkan sepotong daging ke piring Nayla. "Makanlah apa saja yang kamu inginkan, Nak. Jangan sungkan atau memikirkan soal berat badan. Kamu itu menantu Mama yang paling cantik."
Sentuhan kehangatan itu menghantam dada Nayla begitu telak. Tenggorokannya mendadak terasa tersekat. Selama satu tahun menjadi bagian dari keluarga ini, Bu Ratih dan Pak Hilman tak pernah sekalipun memperlakukannya seperti orang asing atau bawahan. Mereka memanjakannya dengan kasih sayang yang tulus.
Namun, di balik rasa haru yang membuncah, ada satu bisikan kegelapan yang selalu mengganjal di sudut hati Nayla, 'Semua kebaikan dan kasih sayang ini... hanya ada karena mereka merasa bersalah dan ingin membalas budi pada almarhum Bapak.'
Pak Hilman, yang duduk di kepala meja, mengamati raut wajah menantunya yang mendadak murung dan cemas. Pria sepuh yang bijaksana itu tersenyum tipis, seolah sanggup membaca gulana di pikiran Nayla.
"Nayla..." panggil Pak Hilman dengan suara beratnya yang menenangkan.
Nayla mendongak ragu. "I-iya, Papa?"
"Papa tahu apa yang sedang kamu pikirkan di dalam hati kecilmu," ujar Pak Hilman jujur. "Kami tulus menyayangi kamu, Nak. Bukan karena kami merasa punya utang nyawa pada almarhum ayahmu. Kamu memang sangat pantas mendapatkan ini semua. Kamu adalah pendamping yang terbaik untuk Adrian. Iya kan, Adrian?"
Adrian yang sedang mengunyah makanan memutar pandangannya menatap sang ayah, lalu beralih menatap Nayla. Pria tampan itu mengangguk pelan, memperlihatkan sebuah senyuman tipis yang sangat langka. "Iya, Pa. Nayla pendamping yang sangat baik."
Melihat senyuman tipis Adrian, dada Nayla justru makin sesak oleh rasa minder yang membendung.
'Mas Adrian cuma terpaksa mengiyakan omongan Papanya...' batin Nayla perih, menundukkan pandangannya pada jemarinya sendiri.'Dengan tubuh besarku ini, wajah biasa, dan status sosial yang jauh di bawahnya... mana mungkin pria sempurna seperti Mas Adrian menyukaiku secara tulus? Dia hanya menjalankan perannya sebagai anak yang berbakti.'
"Sudah, sayang... jangan terlalu memikirkan hal yang tidak-tidak. Ayo makan yang banyak!" seru Bu Ratih memutus lamunan kelam Nayla.
Nayla memaksakan sebuah senyuman, lalu mulai menyendok nasi di piringnya. Di antara deretan hidangan mewah di atas meja, ia memilih sepotong ikan bakar gurame yang mengepulkan aroma gurih.
Saat Nayla baru saja hendak memisahkan bagian daging ikan dengan garpunya, Bu Ratih kembali bersuara seraya melirik putranya.
"Adrian! Lihat itu, istrimu kesulitan memisahkan durinya. Ayo bantu hilangkan duri ikannya biar Nayla bisa makan dengan tenang!" perintah Bu Ratih tegas.
Nayla tersentak panik, lambaian tangannya mengudara. "E-eh, tidak usah, Ma! Nayla bisa sendiri kok, tidak perlu merepotkan Mas Adrian..."
Belum sempat Nayla menyelesaikan kalimatnya, Adrian sudah lebih dulu mengulurkan tangannya. Dengan tenang dan sigap, pria itu menarik piring berisi ikan bakar milik Nayla ke hadapannya.
"Biar suamimu yang melakukannya, Nay," potong Pak Hilman santai seraya terkekeh pelan. "Suami itu memang tugasnya melayani dan melindungi istrinya."
Nayla membisu, menatap jemari panjang dan bersih milik Adrian yang kini sibuk dan telaten menyisihkan duri-duri halus dari daging ikan bakar tersebut. Tidak ada raut wajah jijik atau terpaksa dari sang CEO. Jemari tajamnya bergerak lihai sampai daging ikan itu benar-benar bersih dan rapi.
"Ini. Makanlah," ucap Adrian pendek seraya mengembalikan piring itu ke depan Nayla.
Nayla menatap piringnya, lalu memberanikan diri mendongak menatap netra hitam pekat milik suaminya. "T-terima kasih... Mas..."
Tatapan mata Adrian saat ini terasa amat berbeda. Tak ada lagi pancaran dingin yang membekukan seperti satu tahun lalu saat mereka pertama kali mengikat janji. Kini, ada kehangatan samar yang bersembunyi di balik manik matanya. Namun, Nayla cepat-cepat membuang pandangannya ke samping. Ia terlalu takut untuk percaya diri. Ia takut jika rasa percaya dirinya hanya akan berujung pada rasa sakit hati.
.
.
Sesi makan malam yang penuh dinamika emosi itu akhirnya selesai. Mereka berpindah ke ruang keluarga yang hangat untuk mengobrol.
Bu Ratih kemudian berdiri dan berjalan mendekati Nayla seraya membawa sebuah kotak beludru hitam berukuran panjang yang tampak sangat eksklusif.
"Nayla, ini hadiah anniversary dari Mama dan Papa untuk menantu kesayangan keluarga Dewangga," tutur Bu Ratih seraya menyerahkan kotak tersebut.
Nayla menerima kotak itu dengan kedua tangan yang gemetar pelan. Ketika ia membuka tutupnya, kilauan indah langsung menyapa indra penglihatannya. Di dalam kotak itu terbaring sebuah gelang emas putih bersahaja dengan ukiran berlian kecil yang sangat elegan dan menawan.
"Mama... ini indah sekali," bisik Nayla terpesona, namun rasa sungkan kembali merayap. "Tapi... bulan lalu Mama kan baru saja memberi saya satu set perhiasan..."
Bu Ratih tertawa renyah seraya mengibaskan tangannya santai. "Tidak apa-apa, sayang! Wanita itu butuh koleksi perhiasan yang banyak! Nanti semuanya pasti akan terpakai saat kamu sudah siap membuka status pernikahan kalian ke publik. Saat hari itu tiba, kamu akan mendampingi Adrian ke acara-acara gala besar dan Mama bisa pamerkan menantu cantik Mama ini ke teman-teman arisan!"
Hati Nayla tersentak pelan mendengar kalimat 'saat kamu sudah siap membuka status pernikahan'. Rupanya, mertuanya sangat menghargai keputusan dan rasa nyamannya.
"Adrian, ayo pasangkan gelangnya ke tangan istrimu," titah Bu Ratih.
Adrian berdiri, mengambil gelang indah itu dari kotaknya. Nayla mengulurkan pergelangan tangan kanannya yang halus. Saat jemari hangat Adrian bersentuhan langsung dengan kulit pergelangan tangannya untuk mengunci kait gelang, sensasi sengatan listrik halus kembali merambati dada Nayla. Jantungnya berdegup begitu kencang di balik rongga dadanya.
"Selesai. Gelang ini sangat cocok di tangan kamu," gumam Adrian pelan, menatap gelang dan pergelangan tangan istrinya sejenak sebelum melepaskannya.
"Terima kasih banyak, Ma, Pa... Mas Adrian..." ucap Nayla tulus dengan mata berkaca-kaca.
Malam makin larut, jarum jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Nayla melirik Adrian, memberi kode halus bahwa mereka harus pamit pulang ke rumah mereka.
Namun, tepat saat Adrian hendak membuka suara untuk pamit, Pak Hilman berdiri dari kursinya.
"Sudah malam begini, kalian tidak usah pulang ke rumah kalian," potong Pak Hilman dengan nada suara yang tak menerima bantahan. "Diluar sedang hujan deras dan angin kencang. Tidak baik berkendara dalam cuaca seperti ini. Menginaplah di sini malam ini."
"Tapi, Pa..." Adrian berusaha menyela.
"Tidak ada tapi-tapi, Adrian. Kamar kamu di lantai atas sudah disiapkan dan dibersihkan oleh ART sejak sore tadi," sela Bu Ratih dengan senyuman penuh arti. "Nayla, baju gantimu ada di lemari kamar Adrian, jadi tidak ada alasan. Kalian istirahatlah di atas."
Deg!
Nayla membeku di tempatnya berdiri. Darahnya serasa berhenti mengalir seketika.
Menginap disini? Di kamar Mas Adrian?!
Selama satu tahun usia pernikahan mereka, mereka selalu tidur di kamar terpisah saat berada di rumah pribadi Adrian. Tak pernah sekalipun mereka berbagi ranjang atau tidur di satu ruangan yang sama sepanjang malam.
Kini, permintaan orang tua Adrian memaksa mereka masuk ke dalam satu ruang yang sama, tanpa ada batas kamar terpisah, tanpa ada dinding pelindung.
Nayla meremas ujung gaun mewahnya dengan panik, matanya bergulir menatap Adrian yang juga tampak terdiam kaku di sampingnya. Malam pertama mereka yang sebenarnya seolah baru saja mengetuk pintu tanpa permisi.
best suka ama ceritanya
❤❤
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️