Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Dan kini, orang yang mencoba membunuh Kakek Darma juga menggunakan perantara yang memakai fasilitas Keluarga Adibrata.
"Keluarga Adibrata lagi."
Astiana bergumam pelan sambil mengusap layar tablet tersebut.
"Apakah Tuan Kusuma yang kau sebutkan tadi juga bekerja untuk PT Bintang Zamrud ini."
Astiana menunduk menatap Dokter Handoko yang masih meringkuk di atas rumput.
Dokter Handoko menelan ludahnya dengan susah payah sebelum menjawab.
"Saya tidak tahu pasti, Nona."
"Tapi semua uang tunai penyuapan itu selalu dibungkus dengan amplop berlogo huruf BZ."
"Tepat seperti dugaanku."
Astiana menyerahkan kembali tablet itu kepada Raka.
"Orang yang ingin membunuh kakekmu ternyata memiliki bekingan yang sangat kuat, Tuan Muda Raka."
Raka mendengus kesal dan menendang ban mobilnya sendiri dengan keras.
Duk.
"Keluarga Adibrata, ini sangat gila."
Raka mengacak-acak rambutnya merasa sangat frustrasi dengan kenyataan ini.
"Keluarga Darma memang kaya, tapi kami tidak punya kekuatan militer atau politik untuk melawan klan sebesar Adibrata."
"Kalau mereka yang menjadi dalangnya, kakekku tidak akan pernah bisa tidur tenang lagi."
Astiana menghela napas panjang dan menepuk bahu Raka dengan pelan.
Puk.
Itu adalah sentuhan fisik pertama yang Astiana berikan secara sadar pada pemuda itu.
Raka sedikit tersentak namun dia tidak menepis tangan Astiana sama sekali.
"Tenanglah, jangan mengambil kesimpulan terlalu cepat."
Astiana mencoba menenangkan Raka dengan nada suara yang rasional.
"Belum tentu petinggi Keluarga Adibrata yang secara langsung memerintahkan pembunuhan ini."
"Bisa saja ada oknum di PT Bintang Zamrud yang menggunakan fasilitas mereka untuk urusan pribadi."
Penjelasan Astiana sedikit membuat kepanikan di wajah Raka mereda.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Nona Astiana."
Raka tanpa sadar mulai bergantung pada setiap keputusan yang dibuat oleh gadis dari desa ini.
Pikiran Raka sekarang sudah sepenuhnya tunduk pada logika dan ketenangan Astiana.
"Kita harus mencari tahu siapa sebenarnya Tuan Kusuma ini."
Astiana menatap langit sore yang mulai berubah menjadi jingga kemerahan.
"Dia adalah kunci untuk menemukan dalang pembunuhan kakekmu."
"Dan bagiku, dia adalah kunci untuk menelusuri isi dari mobil sedan hitam itu."
Astiana dan Raka kini memiliki satu tujuan yang sama meskipun dengan motif yang berbeda.
"Baik, aku akan mengerahkan informan rahasia untuk melacak pergerakan Tuan Kusuma di kota ini."
Raka kembali bersemangat dan menatap Dokter Handoko dengan pandangan jijik.
"Lalu bagaimana dengan dokter sampah ini."
"Apakah aku boleh menyerahkannya ke polisi dengan tuduhan percobaan pembunuhan berencana."
Dokter Handoko langsung bersujud berkali-kali di depan kaki Raka memohon belas kasihan.
"Jangan, Tuan Muda, jangan bawa saya ke polisi."
"Kalau Tuan Kusuma tahu saya ditangkap, keluarga saya pasti akan dihabisi malam ini juga."
Dokter Handoko menangis histeris membayangkan kekejaman sindikat bawah tanah tersebut.
Astiana berpikir sejenak mempertimbangkan untung rugi dari situasi ini.
"Menyerahkannya ke polisi justru akan membuat pihak musuh tahu bahwa rencana mereka gagal."
Astiana memberikan pandangannya pada Raka yang langsung mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Mereka akan segera menyembunyikan jejak Tuan Kusuma dan mengganti strategi."
"Lalu apa yang harus kita lakukan padanya."
"Kita kurung dia di ruang bawah tanah rumah ini."
Astiana menunjuk ke arah pintu kecil di dekat garasi mobil belakang.
"Biar dia tetap hidup tapi putuskan semua akses komunikasinya dengan dunia luar."
"Dengan begitu, musuh akan mengira dia sedang bersembunyi atau berhasil kabur ke luar negeri."
Raka tersenyum lebar mendengar rencana licik namun sangat masuk akal dari Astiana.
"Otakmu benar-benar mengerikan, Nona Astiana."
Raka memuji dengan nada yang terdengar sangat tulus dan kagum.
"Kau jauh lebih cocok menjadi mafia daripada gadis desa yang lugu."
"Aku anggap itu sebagai pujian, Tuan Muda."
Astiana hanya mengedikkan bahunya acuh tak acuh.
Raka segera menarik kerah baju Dokter Handoko dan menyeretnya menuju garasi.
Sret sret.
"Ayo jalan, kau akan menikmati liburan panjang di ruang bawah tanah kami."
Dokter Handoko tidak berani melawan sama sekali dan hanya pasrah diseret oleh Raka.
Astiana kembali duduk di kursi teras paviliun dan menyesap teh melatinya yang sudah mulai dingin.
Sruput.
Matahari perlahan tenggelam sepenuhnya digantikan oleh gelapnya malam ibu kota.
Lampu-lampu taman menyala satu per satu secara otomatis.
Astiana mengeluarkan liontin kristalnya dan menatap benda bisu itu dengan saksama.
"Keluarga Adibrata, PT Bintang Zamrud, Tuan Kusuma."
Astiana merangkai semua nama itu di dalam kepalanya menjadi sebuah peta pikiran maya.
Konflik di kota besar ini ternyata jauh lebih kotor dan rumit dari yang pernah dia bayangkan.
Tapi dia tidak merasa takut sama sekali.
Darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah pewaris ilmu kuno yang tidak akan tunduk pada siapapun.
Malam ini dia akan beristirahat, karena besok perburuan Tuan Kusuma akan segera dimulai.
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣