NovelToon NovelToon
Di Balik Harga Kebanggaan

Di Balik Harga Kebanggaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:189
Nilai: 5
Nama Author: edwin setiawan

Arini meninggalkan suaminya yang tulus, Dimas, karena terbuai janji kemewahan dari Rian. Namun Rian ternyata hanya menipunya lalu pergi begitu saja, membuat Arini jatuh miskin sendirian. Saat ia menyadari kesalahannya dan berharap kembali pada Dimas, ia terlambat — Dimas sudah bahagia dengan wanita lain. Arini akhirnya belajar: ketulusan jauh lebih berharga daripada kemewahan semu, dan penyesalan selalu datang di akhir cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepulan Asap Dapur dan Impian yang Mati Perlahan

Udara pagi di kawasan pinggiran kota industri selalu membawa aroma yang khas—campuran antara debu jalanan yang terbang disapu angin, sisa-sisa asap pabrik tekstil di ujung cakrawala, dan bau lembab dari saluran air yang tidak mengalir lancar. Di dalam sebuah rumah petak kontrakan berukuran empat kali enam meter, aroma itu menyusup melalui celah-celah ventilasi kayu yang sudah keropos, bercampur dengan bau masakan yang murahan.

Di sudut dapur yang sempit, sebuah rice cooker plastik berukuran kecil mendesis pelan. Tutupnya yang sudah gompal di bagian pinggir bergetar setiap kali uap panas mendesak keluar dari sela-selanya, menghasilkan kepulan putih tipis yang membumbung tinggi sebelum akhirnya membentur dinding cat yang mengelupas dan berubah warna menjadi kekuningan.

Bagi sebagian orang, kepulan uap nasi di pagi hari adalah lambang dari sebuah keluarga yang hangat, rumah yang aman, dan awal hari yang penuh harapan. Namun bagi Arini, kepulan itu tidak lebih dari asap penjara yang mencekik lehernya perlahan-lahan. Setiap butir nasi yang matang di dalam panci itu terasa seperti pengingat harian yang kejam: bahwa hidupnya terkurung dalam lingkaran kemelaratan yang tidak berujung.

Arini berdiri terpaku di depan sebuah cermin rias berukuran sedang yang digantung di dinding kamar tidur. Bingkai plastik cermin itu sudah retak di sudut kanan bawah, meninggalkan garis putih menyerupai jaring laba-laba yang memotong separuh bayangannya. Di hadapan cermin itu, Arini meneliti wajahnya sendiri dengan saksama.

Garis wajahnya masih sempurna. Kulit putih bersih tanpa cela, tulang pipi yang tinggi dan tegas, serta sepasang mata bulat berbinar alami yang menyimpan sisa-sisa kemilau masa muda. Semasa kuliah dulu, wajah inilah yang sering menghiasi panggung-panggung kecil kampus, dipuja oleh para lelaki yang rela mengantre hanya untuk membawakan tas kuliahnya atau sekadar membelikannya segelas es teh di kantin. Wajah seorang wanita yang diyakini banyak orang ditakdirkan untuk mengenakan gaun sutra mahal dan tinggal di perumahan mewah.

Namun, kenyataan menamparnya setiap kali ia menatap sekeliling ruangan. Gaun sutra itu tidak ada. Yang ada hanyalah daster katun berbulu yang sudah dicuci berkali-kali hingga warnanya memudar, tergantung lemas di balik pintu lemari tripleks yang engselnya berdecit.

"Rin... kopi hitamnya sudah matang?"

Suara berat itu memecah keheningan kamar. Suara yang sudah ia dengar ribuan kali selama tiga tahun terakhir.

Dimas muncul di ambang pintu dapur yang tidak berdaun pintu. Pria itu mengenakan kemeja putih kantoran yang kerahnya sudah mulai menguning dan berbulu halus akibat terlalu sering terkena gesekan setrika. Di bagian bahu kanannya, kain kemeja itu tampak sedikit kusut, sementara lengan bajunya dilipat rapi hingga ke siku, memperlihatkan otot lengan yang kencang namun kurus—hasil dari kerja fisik yang menahun.

Dimas tersenyum. Sebuah senyuman tulus, tanpa beban, dan penuh kasih sayang yang tidak pernah surut sedikit pun sejak hari pertama mereka mengucap janji pernikahan. Senyuman yang bagi Arini justru terasa seperti sebuah ejekan yang menyakitkan.

Arini tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Ia melirik sekilas ke arah pantulan suaminya di cermin yang retak.

"Letakkan saja di meja," jawab Arini dingin, suaranya datar tanpa emosi, sengaja diciptakan untuk menciptakan jarak yang tak terlihat.

Dimas tidak langsung berbalik. Pria itu melangkah mendekat dengan hati-hati, seolah takut menginjak pecahan kaca yang tak kasat mata di lantai semen yang belum diplester keramik itu. Ia membawa sebuah cangkir seng tua bergambar bunga mawar yang catnya sudah terkelupas di beberapa bagian. Dengan gerakan pelan, ia meletakkan cangkir itu di atas meja makan kayu yang permukaannya sudah penuh dengan goresan pisau.

"Hari ini Mas ada lembur tambahan di bengkel sparepart seberang kantor administrasi," ucap Dimas dengan nada lembut, berusaha mencairkan kebekuan udara di antara mereka. Ia membetulkan letak tas ransel kerjanya yang sudah robek di bagian jahitan bawah. "Pulangnya mungkin agak malam, sekitar jam sembilan. Nanti, kalau ada rezeki lebih dari upah lembur sore ini, Mas belikan martabak manis kesukaanmu, ya? Yang bumbu cokelat kacang tebal seperti yang biasa kita beli dulu."

Mendengar kata "martabak manis", rahang Arini mengeras. Darahnya mendadak berdesir panas, mengalirkan gelombang amarah yang selama berhari-hari ia pendam di dalam dadanya.

Arini berbalik perlahan dari cermin. Tatapannya menajam, menghujam tepat ke mata Dimas yang masih memandangnya dengan sorot penuh harap.

"Martabak lagi, Mas?" suara Arini keluar dengan nada sinis yang tajam, setiap kata diucapkannya dengan penekanan penuh kebencian. "Kamu benar-benar mengira hidupku bisa diselesaikan dengan sepotong martabak pinggir jalan seharga dua puluh ribu perak?!"

Dimas menghentikan gerakan tangannya yang hendak merapikan kerah kemejanya. Senyuman di wajahnya memudar perlahan, menyisakan garis-garis kelelahan di sekitar mata dan sudut bibirnya.

"Bukannya begitu, Rin..." jawab Dimas pelan, mencoba menahan rasa nyeri yang tiba-tiba mencengkeram dadanya. "Mas hanya ingin melihatmu tersenyum. Mas tahu kamu suka makanan itu. Kalau uangnya belum cukup untuk beli yang lain—"

"Masih tidak sadar juga?!" potong Arini dengan suara meninggi. Ia melangkah maju dua langkah, menatap suaminya dengan pandangan merendahkan dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Tadi pagi, sebelum kamu bangun, aku membuka Instagram. Siska—temen sekelasku waktu SMA yang nilainya selalu di bawahku—diantar suaminya turun dari mobil Honda HRV putih keluaran terbaru. Dia pakai tas tangan Chanel asli, bukan tas imitasi murah yang dibeli di pasar malam! Mereka sarapan pagi di kafe rooftop mewah kawasan Senopati!"

Arini menunjuk ke arah jendela kecil yang memperlihatkan deretan genting rumah tetangga yang berhimpitan.

"Dan lihat di mana kita sekarang?!" lanjutnya, suaranya bergetar karena emosi yang meluap-luap. "Tiga tahun kita menikah, Mas! Tiga tahun aku hidup dalam sangkar sempit ini! Rumah masih ngontrak, perabot rumah tangga dari plastik murah, mau beli kosmetik harus menunggu uang belanja sisa minggu lalu, dan setiap kali ada arisan keluarga, aku harus pura-pura sakit kepala supaya tidak perlu datang karena aku malu! Malu, Mas! Karena suamiku hanya seorang staf administrasi rendahan yang merangkap jadi kuli di bengkel!"

Setiap kalimat yang meluncur dari bibir Arini terasa seperti tikaman belati yang menghujam jantung Dimas bertubi-tubi. Pria itu berdiri kaku di tempatnya. Napasnya memburu pelan. Jemarinya mengepal erat di sisi celana bahan hitamnya yang sudah mulai mengkilap di bagian lutut karena terlalu sering dipakai duduk di kursi kantor.

Dimas ingin membela diri. Ia ingin berteriak bahwa ia sudah mengorbankan waktu istirahatnya, merelakan akhir pekannya, dan menguras sisa-sisa tenaganya setiap hari demi menafkahi wanita ini secara halal. Ia tidak pernah berjudi, tidak pernah melirik wanita lain, dan setiap rupiah yang ia dapatkan selalu ia serahkan utuh ke tangan istrinya tanpa pernah menyisakan untuk kesenangannya sendiri.

Namun, ketika melihat kilatan mata Arini yang menatapnya bukan lagi sebagai seorang suami, melainkan sebagai sumber kegagalan hidup wanita itu, seluruh kata-kata di dalam tenggorokan Dimas mendadak membeku. Lidahnya terasa kelu.

"Mas tahu, Rin..." suara Dimas akhirnya keluar, parau dan sangat pelan, nyaris tenggelam oleh suara bising kendaraan di jalan raya dari kejauhan. "Mas belum bisa kasih hidup seperti itu sekarang. Gaji di kantor pas-pasan, makanya Mas ambil kerja sampingan di bengkel. Sedikit demi sedikit, kalau kita sabar—"

"Sabar?!" Arini memotong dengan tawa hambar yang penuh sarkasme. "Kata 'sabar' itu sudah basi, Mas! Sudah basi selama tiga tahun ini! Kamu tidak punya ambisi! Kamu adalah pria mandul mimpi yang puas hidup dalam kubangan kemelaratan!"

Jantung Dimas seperti dihantam palu godam mendengar kata-kata mandul mimpi itu keluar dari mulut wanita yang paling ia cintai di dunia ini. Dunia seakan berputar di sekelilingnya. Selama ini, harga dirinya sebagai seorang suami ia pertaruhkan di jalanan, berpanas-panas di bawah terik matahari, mengangkat besi-besi berat di bengkel demi satu tujuan: membuat istrinya merasa aman. Namun di mata Arini, seluruh pengorbanan itu tidak bernilai apa-apa, bahkan dianggap sebagai tanda kelemahan.

Dimas menarik napas panjang, mencoba menelan ludah yang terasa begitu pahit, sepahit empedu. Pria itu menundukkan kepalanya sejenak, membiarkan keheningan yang menyesakkan mengisi ruangan kecil tersebut.

"Maafkan Mas, Arini..." bisik Dimas lirih, sebuah kalimat penyerahan diri yang diucapkan dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya.

Tanpa menunggu jawaban atau melihat wajah suaminya lagi, Arini berbalik dengan gerakan kasar. Ia melangkah menuju kamar tidur, lalu membanting pintu kayu tripleks itu dengan tenaga penuh hingga debu-debu halus berjatuhan dari kusen atas, menutupi lantai di sekitarnya.

BAM!

Suara banting pintu itu menggema di dalam rumah petak yang sepi.

Di luar kamar, di dapur yang berbau apek, Dimas berdiri sendirian dalam keheningan yang mutlak. Ia menatap cangkir kopi hitam yang kini sudah mendingin, permukaannya tenang tanpa riak, persis seperti kehidupannya yang perlahan-lahan mati di dalam rumah itu. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia meraih tas kerjanya, melangkah keluar pintu rumah, dan menarik napas dalam-dalam untuk menahan air mata laki-laki yang mendesak hendak tumpah di sudut matanya.

Pagi itu, Dimas melangkah pergi ke tempat kerjanya dengan dada yang hancur berkeping-keping, membawa serta luka batin yang kelak akan mengubah arah hidup mereka selamanya.

1
Shankara Senja
yah..itumah bukan istiqomah....tp lari dari kenyataan,arini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!