NovelToon NovelToon
Takut Nikah

Takut Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cintamanis / Romansa
Popularitas:382.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

"Kapan nikah?"

"Udah mau 30 loh."

"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."

Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.

3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.

Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?

Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

"Aku sudah sampai di depan minimarket." Jena menelepon Budi.

"Sebentar, aku masih di dalam, beli air mineral."

Telepon di tutup, Jena menyandarkan punggung di kursi, menatap ke arah pintu minimarket, menunggu Budi muncul dari sana.

Beberapa saat kemudian, pintu minimarket di buka dari dalam, seseorang muncul dari sana dan membuat mata Jena langsung melebar. Benarkah itu Budi?

Budi berjalan ke arahnya dengan penampilan yang benar-benar berbeda. Setelan jas yang pas di tubuhnya, kemeja rapi, sepatu kulit mengilap, rambut ditata sempurna. Semua itu, membuat auranya berubah drastis.

Tidak ada lagi Budi si penjual roti bakar yang kemarin ditemuinya. Yang berdiri di hadapannya sekarang, benar-benar terlihat seperti seorang CEO.

“Jen, Jena." Budi mengetuk kaca mobil Jena.

Jena terperangah, lalu menurunkan kaca jendela. Ia masih menatap Budi dari ujung kepala sampai kaki. “Ini beneran kamu, Bud?"

Budi terkekeh kecil. “Kalau bukan aku, lalu siapa?”

Jena menggeleng pelan. “Gila. Kamu benar-benar kelihatan seperti CEO.”

Budi tersenyum tipis. "Berarti aku sukses dong."

Jena mengangguk pelan, tak bisa menyangkal.

"Mau berangkat sekarang atau nanti?" tanya Budi.

"Ya udah, buruan masuk."

"Aku aja yang nyetir."

"Hah!"

"Kamu pindah, aku aja yang nyetir."

“Enggak!"

Budi terdiam. “Kenapa?”

“Aku nggak yakin kamu bisa nyetir.”

Budi memicingkan mata. “Aku bisa.”

“Bisa nyalain mobil?”

“Bisa.”

“Bisa jalan lurus?”

“Jena…” Budi berdecak pelan.

“Bisa ngerem?”

Budi menghela napas panjang.

Jena semakin erat mencengkeram setir. “Nyawa aku cuma satu, Bud. Bukan buat dijadikan taruhan.”

Budi menatapnya tak percaya. “Kamu pikir aku bakal bawa mobil masuk jurang?”

“Entahlah.”

“Kamu percaya aku bisa pura-pura jadi CEO, tapi nggak percaya aku bisa nyetir?”

Jena terdiam.

"Buruan turun, biar aku aja yang nyetir. Gak lucukan, kalau nanti ada yang lihat, masa CEO disetirin pacarnya."

"Pacar?"

Budi menahan tawa. "Ya kan kamu pacar aku sekarang. Kamu minta aku hafal 3 halaman yang kamu print kemarin, tapi kamunya yang malah gak inget apa-apa. Ayo, buruan keluar!"

Jena menatap Budi lama, masih belum percaya. “Kalau kamu ngebut, aku turun.”

“Belum jalan sudah mengancam turun.” Budi terkekeh.

“Aku serius!"

Budi akhirnya tersenyum geli. “Baiklah. Aku janji pelan.”

Jena masih ragu. “Pelan banget?”

“Seperti membawa barang berharga. Puas?"

Jena mendengus. “Aku bukan barang.”

"Tapi kamu berharga."

Jena terdiam, speechless di gombalin Budi.

"Hahaha...aku cuma gombal Jen, jangan baper. Pura-pura, inget gak?"

"Siapa juga yang baper!" Jena mendengus. Ia melepas sabuk pengaman, lalu membuka pintu dan keluar.

Budi tertawa kecil menatap Jena yang sewot, lalu masuk ke kursi pengemudi.

Sepanjang perjalanan, Jena tak bisa berhenti mengawasi Budi. Sesekali ia melirik laki-laki itu dari samping, lalu memberi pertanyaan, memastikan tidak ada satu pun bagian dari skrip yang kemarin diberikannya terlupakan.

“Kalau ada orang yang bertanya, perusahaanmu bergerak di bidang apa?”

“Distribusi dan investasi.” Jawab Budi cepat.

“Nama perusahaan?”

Budi menjawab tanpa berpikir panjang. “Aruna Group.”

Jena mengangguk puas. “Kalau ditanya kenapa kamu datang ke acara itu?”

“Menemani kamulah, pacar aku yang paling cantik." Budi menoleh, mengedipkan sebelah mata pada Jena.

Jena mendengus. “Jangan improvisasi. Fokus.”

Budi terkekeh.

Jena kembali mengujinya. Tentang jabatan, perusahaan, keluarga, bahkan kebiasaan seorang CEO yang sudah ditulisnya dalam skrip.

Dan setiap kali ditanya, Budi selalu menjawab dengan tenang. Tidak terbata-bata, tidak terlihat gugup. Bahkan cara bicaranya berubah, lebih tegas, singkat, dan berwibawa. Sampai akhirnya, Jena tersenyum puas.

“Hebat juga kamu.”

Budi meliriknya. “Cuma begitu?”

“Untuk ukuran orang yang kemarin masih jualan roti bakar, lumayan.”

Budi terkekeh. “Berarti aku lulus?”

“Delapan puluh lima.”

“Kenapa nggak seratus?”

“Masih ada yang harus diperbaiki.”

“Apa?”

Jena menatapnya serius. “Jangan terlalu banyak senyum.”

Budi mengernyit.

“CEO itu harus kelihatan berwibawa. Kamu tadi terlalu ramah. Harus lebih cool, biar auranya dapat."

“Baik, Bu Guru.”

“Dan jangan panggil aku Bu Guru.” Jena mendengus.

“Baik, Mbak."

"Mbak?" Jena mendelik. "Emang aku keliatan tua banget, kamu panggil mbak? Atau penampilanku kayak mbak-mbak ART?"

Budi membuang nafas kasar. "Tadi, kamu bilang aku terlalu ramah, banyak senyum. Sekarang boleh gak, gantian aku menilai kamu?"

Jena mengerutkan kening.

"Kamu terlalu galak." Budi gak mau basa-basi. "Hidup gak harus selalu dijalani dengan serius, sesekali butuh candaan, jangan dikit-dikit marah, baper. Pantas saja pacar kamu gak ada yang kuat, dan pada selingkuh." Namun kalimat terakhir itu, hanya diucap Budi dalam hati.

"Gak usah ngurusin aku!"

"Jen, kamu punya cermin kan?"

"Kenapa?"

"Coba deh, kamu bercermin, lalu tersenyum. Sumpah, kamu cantik banget kalau lagi senyum. Saranku, banyak-banyakin senyum."

"Yang ada aku dikira orang gila."

Budi terkekeh pelan. "Ya kali ada orang gila secantik kamu, Jen."

"Gak usah gombal."

"Simulasi, biar nanti terbiasa pas memasuki peran." Budi tersenyum.

Melihat jalanan di depan mereka mulai sepi, Budi melirik spion. Lalu kakinya sedikit menekan pedal gas. Mobil melaju lebih cepat.

Jena yang sedang sibuk melihat catatan di ponselnya langsung mendongak. “Eh?”

Kecepatan bertambah.

“Budi…” Jena mulai panik.

Budi tetap memasang wajah tenang. “Kenapa?”

“Kok cepat?”

“Biasa.”

Jena makin panik, kecepatan bertambah. “Biasa apanya, ini kenceng banget. Pelan!”

Budi malah tersenyum. Mobil melaju makin cepat.

“BUUUDII!” Jena mencengkeram sabuk pengaman, wajahnya pias. “Turunin kecepatannya!”

Budi tertawa kecil. “Tenang.”

“Tenang dari mana? Kamu mau bikin aku mati hah! BUDI PELANIN!" teriaknya.

Budi akhirnya menurunkan kecepatan sedikit demi sedikit.

Jena mengembuskan napas panjang, wajahnya memerah antara marah dan takut. Ia menoleh, dan langsung memukul lengan Budi. “Iseng banget sih kamu!”

Budi tertawa. “Cuma ngetes.”

“Ngetes apaan!”

“Katanya kamu nggak percaya aku bisa nyetir.”

Jena menatapnya tajam. “Dan sekarang aku makin nggak percaya!”

Budi kembali tertawa.

Jena menggerutu sambil merapikan rambutnya yang berantakan. “Kalau nanti sampai tujuan aku masih hidup, itu mukjizat.”

Budi meliriknya sambil tersenyum. “Tenang. Aku nggak akan bikin sesuatu terjadi sama kamu.”

1
Runi Isniawati
harus hamil anak laki laki lho Jen 🤣😄
L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦
Budi udah lama jatuh cinta sama kamu Jen....Budi kamu pasti bisa membuat Jenna jatuh cinta sama kamu.
Nanti kalian saling jatuh cinta 🌹🌹🌹
L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦
Alhamdulillah akhirnya Sah, SAMAWA ya Jenna & Budi saling menjaga 🌹🌹🌹
Eli Rahma
yes..sah...
Hani Ekawati
Thor, aku baru inget. Karya kamu yang berjudul setelah 8 tahun ( Kisah Nisa yang ditinggal menikah sama Sandi dan berakhir menikahi si Naina karena udah hamil duluan ) ternyata ada loh dalam real life nya, si cowok itu malau menikahi kakak si cewek karena ternyata udah hamil. Sekarang lagi viral banget tuh. Kasihan cewek yang ditinggal nikah nya meninggal, keluarga si ceweknya malah mendukung cewek yg dihamilin, miris bgt.
Hani Ekawati
Ya kalau memang sampai 6 bulan Jena tidak kunjung jatuh cinta, kalian biasa ajukan gugatan pembatalan pernikahan. Karena selama 6 bulan itu kalian belum melakukan hubungan suami istri, agar status kalian jelas masih bujang dan perawan. Kalau mengajukan gugatan cerai nanti status kalian Janda dan duda, sayang banget kalian belum melakukan hubungan suami istri tapi status udah janda dan duda. Tapi semoga sebelum 6 bulan Jena sudah bisa mencintai Budi supaya tidak sampai kejadian pembatalan pernikahan.
Hani Ekawati
Budi udah jatuh cinta sama kamu, makanya dia membuat pertanyaan itu sama kamu.
Hani Ekawati
Aduh Budi, kata kata mu begitu dalam sekali bikin hati terpotek potek
Hani Ekawati
Ini pasti keluarga mama kamu yg kata kamu keluarga mama itu orangnya kaya gitu 🙄
Hani Ekawati
Ini ngomong aw bagi orang di luar kamar terdengar ambigu sekali 🤭
Hani Ekawati
Cunduk mentul tuh apa Thor?☺️
Diana Fitri.N
semangat kak semangat up nya 🥰
Ira arif
alhamdulillah dah dah... kirain bakal direcokin naura
Septi
Alhamdulillah akhirnya
Septi
semoga lancar
Linda Gunawan
Budi tidak akan menyesal, tapi mgkn Jena. karena Jena buat janji sama papanya utk segera hamil supaya dapat semua harta pak Andika
Ass Yfa
Jen...jangan lepasin Budi yg ada iker pake tali rapia biar nggk lari kemana2😄
Ass Yfa
langsung diunboxing Buf..biar Jena jinak😁
Turwaty suketi
Dari deg2an ke melow
ryuka
akkhhh budiiiii.. kamu so sweettttt 🤭🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!