Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Ketika Dua Hati Mengarah pada Perempuan yang Sama
Kapten Reihan memasuki ruang makan dengan beberapa lembar dokumen di tangannya. Seragamnya rapi, wajahnya tenang, dan sorot matanya menunjukkan bahwa ia sedang memikirkan pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu.
"Selamat pagi, Kapten!" sapa mereka hampir bersamaan.
"Pagi."
Reihan mengambil air minum, kemudian melirik keduanya, "Ada yang menarik?"
Yanto segera tersenyum, "Tidak ada, Kapten. Kami sedang membahas peningkatan kualitas sumber daya manusia."
Reihan menatapnya datar, "Dengan kopi dan roti?"
"Metode diskusi yang efektif, Kapten," Yanto berkata seraya menyeruput kopi hitamnya yang tersisa.
Budi menahan senyum.
Reihan menggeleng pelan, lalu hendak meninggalkan ruang makan. Namun, ketika ia melewati meja mereka, Budi memberanikan diri untuk bertanya.
"Kapten, apakah sore nanti ada tugas ekstra?"
Reihan berhenti, "Kenapa?"
"Saya ingin memastikan jadwal saya. Kalau tidak ada patroli, saya berencana membantu kegiatan lomba."
"Koordinasikan dengan bagian yang bertanggung jawab. Jangan mengambil keputusan sendiri."
"Siap, Kapten."
Reihan kemudian pergi.
Yanto mengikuti langkah sang kapten dengan pandangan sampai sosoknya menghilang di balik pintu.
Budi tidak menyadari apa yang sedang dipikirkan rekannya. Ia justru kembali mengambil kopinya, “Yan, terima kasih sudah mendengarkan."
Yanto menoleh, "Sama-sama."
"Aku benar-benar ingin memperjuangkan bu Mita."
Yanto terdiam sejenak sebelum menjawab, "Kalau begitu, perjuangkan dengan cara yang ksatria."
Budi mengangguk mantap. Ia tidak tahu bahwa percakapan pagi itu telah menempatkannya di tengah sebuah persoalan yang jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan. Sebab laki-laki yang baru saja meninggalkan ruang makan itu bukan sekadar komandannya.
Kapten Reihan adalah atasan mereka, seorang perwira dengan masa depan yang menjanjikan, dan mungkin saja laki-laki yang juga tengah menguatkan perasaannya kepada Mita.
Yanto memandang Budi yang kini terlihat lebih bersemangat. Dalam hati ia bergumam sambil menghela napas, “Waduh, Budi. Kau belum tahu saja siapa sainganmu.”
Untuk pertama kalinya, Yanto merasa bahwa kemampuan bercandanya tidak akan cukup untuk menyelesaikan persoalan yang satu ini.
Sejak percakapan mereka di ruang makan, Yanto terus memikirkan pengakuan Budi.
Pada awalnya, ia menganggap kejadian itu hanya kebetulan yang lucu. Dua orang dengan latar belakang dan kedudukan berbeda ternyata memiliki ketertarikan kepada perempuan yang sama.
Namun, semakin lama ia memikirkannya, semakin ia menyadari bahwa situasi tersebut bisa berkembang menjadi persoalan yang tidak sederhana. Di satu sisi, ada Budi, rekannya sesama prajurit yang mulai berani mengakui perasaan dan berniat memperjuangkan Mita.
Di sisi lain, ada Kapten Reihan, sahabat bahkan atasan mereka yang selama ini dikenal mampu mengendalikan diri dalam hampir semua keadaan, tetapi belakangan menunjukkan perhatian yang berbeda kepada perempuan itu.
Yanto mengenal Reihan cukup baik untuk memahami bahwa sahabatnya bukan tipe laki-laki yang mudah menyerah ketika menginginkan sesuatu. Namun, ia juga tahu Reihan bukan orang yang akan menggunakan pangkat atau kedudukannya untuk memaksakan kehendak kepada siapa pun.
Masalahnya, Budi tidak mengetahui apa-apa. Dan Yanto mulai merasa perlu memperingatkannya sebelum keadaan menjadi semakin rumit.
Siang itu, setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan, Yanto menemukan Budi sedang berdiri di dekat kendaraan operasional. Kelihatan rekannya tersebut tengah memeriksa kelaikan kendaraan patrol mereka, tetapi sesekali terlihat melamun.
Yanto menghampirinya dengan membawa dua botol air mineral, "Nih."
Budi menerima salah satunya, "Terima kasih."
Yanto duduk di sampingnya, kemudian memandang halaman pos yang mulai sepi, "Jadi, bagaimana rencanamu?"
Budi menoleh, "Rencana apa?"
Yanto mengangkat alis, "Jangan pura-pura lupa. Rencana mendapatkan hati bu Mita."
Budi langsung tersenyum, "Aku sedang memikirkannya."
"Sudah sampai mana?"
"Belum ke mana-mana."
Yanto menggelengkan kepala atas jawaban spontannya itu, seolah sedang menahan kesabaran, "Astaga, Budi. Kau baru ingin memulai perjuangan, tetapi sudah melamun seperti orang yang ditinggalkan kekasih."
Budi tertawa kecil, "Aku hanya tidak ingin gegabah. Aku perlu menemukan cara yang tepat untuk mendekatinya."
"Itu lebih baik daripada datang membawa bunga dan menyatakan cinta di tengah lapangan."
Budi terkekeh, "Memangnya aku sebodoh itu?"
"Entahlah. Aku belum pernah menguji kemampuan romantismu."
Keduanya tertawa, tetapi Yanto segera mengubah ekspresinya menjadi lebih serius, “Bud, ada sesuatu yang perlu kubicarakan."
Budi menoleh karena nada bicara Yanto terdengar serius, “Apa?"
Yanto memutar botol air mineral di tangannya, "Kau ingat perkataanku tadi pagi? Tentang kemungkinan ada orang lain yang juga menyukai bu Mita?"
Budi mengangguk, "Ya. Aku masih penasaran. Sebenarnya siapa orang itu?"
Yanto menarik napas. Ia tahu percakapan ini tidak akan mudah. Namun, semakin lama ia menunda, semakin besar kemungkinan Budi akan terkejut ketika mengetahui kenyataan tersebut dengan caranya sendiri.
"Orang yang kumaksud adalah Kapten Reihan."
Budi terdiam. Untuk beberapa saat, ia hanya memandang Yanto seolah berusaha memastikan bahwa dirinya tidak salah mendengar.
"Kapten?"
Yanto mengangguk, "Ya."
"Kau serius?"
"Sangat serius."
Budi tertawa pendek, tetapi tawanya terdengar canggung, "Jangan bercanda, Yan."
"Aku tidak sedang bercanda."
Senyum Budi perlahan menghilang. Ia menatap wajah Yanto, mencari tanda-tanda bahwa temannya itu sedang mempermainkannya. Namun, tidak ada sedikit pun ekspresi bercanda di sana.
"Sejak kapan Kapten menyukai bu Mita?"
Yanto mengangkat bahu, “Aku tidak tahu persis. Tapi aku menyadari dari cara Kapten memperhatikan bu Mita. Kemarin bahkan aku sudah mengonfirmasinya."
Budi terkejut, “Kau bertanya langsung kepada Kapten?"
"Tentu saja. Kau kan paham aku dan kapten. Ada beberapa hal yang bisa kutanyakan kepadanya tanpa harus membuatnya merasa sedang diinterogasi."
Budi terdiam cukup lama.
Ia tahu kedekatan Yanto dan Reihan bukan rahasia bagi anggota satuan mereka. Keduanya pernah melewati masa pendidikan yang sama, memahami tekanan yang sama, dan tumbuh dalam lingkungan yang membentuk karakter mereka sebagai prajurit.
Yanto memang berada di bawah komando Reihan saat ini, tetapi hubungan keduanya memiliki akar yang jauh lebih panjang daripada hubungan antara atasan dan bawahan biasa.
Namun, Budi tidak pernah membayangkan bahwa kedekatan itu juga membuat Yanto mengetahui sesuatu yang begitu pribadi tentang sang kapten.
"Jadi, Kapten benar-benar menyukai bu Mita?" tanyanya pelan.
Yanto mengangguk, "Setidaknya, dari apa yang kulihat dan dari caranya menjawab pertanyaanku, aku yakin ada perasaan yang sedang berusaha dia kuatkan."
Budi menunduk. Ada sesuatu yang mendadak terasa berat di dadanya.
Selama ini, ia menganggap dirinya hanya perlu menemukan cara untuk mendekati Mita. Ia membayangkan persaingan yang mungkin muncul dari laki-laki lain, tetapi tidak pernah terpikir bahwa orang yang dimaksud adalah komandannya sendiri.
Kapten Reihan bukan laki-laki biasa di matanya. Selain memiliki kedudukan sebagai seorang perwira, Reihan juga dikenal cerdas, tegas, dan memiliki kemampuan memimpin yang membuat banyak orang menghormatinya.
Latar belakang keluarganya pun bukan rahasia umum. Kakeknya merupakan pensiunan jenderal bintang empat, sosok yang memiliki pengaruh besar dalam kesatuan bahkan perjalanan hidup dan pendidikan Reihan.
Meski demikian, Budi tidak pernah melihat Reihan menggunakan latar belakang keluarganya untuk merendahkan orang lain. Sebaliknya, sang kapten dikenal mampu menempatkan diri, bersikap hangat ketika diperlukan, dan tetap menjaga ketegasan dalam menjalankan tugas.
Justru karena itulah Budi merasa semakin sulit menghadapi kenyataan tersebut.
"Apa aku masih punya kesempatan?" tanyanya akhirnya.
Yanto menoleh, "Kenapa kau bertanya begitu?"
"Karena dia Kapten kita, Yan."
Yanto terdiam.
Budi melanjutkan dengan suara rendah, “Aku tahu bagaimana orang-orang memandangnya. Dia punya kemampuan, kedudukan, dan masa depan yang baik. Sementara aku..."
Ia menghentikan kalimatnya, lalu mengembuskan napas. "Aku hanya ingin mengenal Mita lebih dekat."
Yanto segera menepuk bahunya, "Jangan merendahkan dirimu sendiri."
Budi menatapnya,
"Kapten memang memiliki banyak kelebihan. Aku tidak akan menyangkal itu. Tetapi perasaan bu Mita bukan sesuatu yang bisa ditentukan oleh pangkat, nama keluarga, atau kedudukan seseorang." Yanto berbicara dengan sungguh-sungguh.
Ia mengetahui betul perjalanan Reihan sejak mereka masih menjadi taruna. Pengaruh kakeknya yang merupakan pensiunan jenderal bintang empat memang membuka sejumlah kesempatan dan membuat jalan Reihan terasa lebih lapang dan mulus dibandingkan sebagian orang lain.
Namun, Yanto juga menyaksikan bagaimana Reihan berusaha memenuhi tuntutan pendidikan dan membuktikan kemampuannya sendiri. Keduanya tumbuh dengan pengalaman yang berbeda, tetapi Reihan tidak pernah menjadikan perbedaan itu sebagai alasan untuk menjaga jarak dari Yanto.
Bahkan hingga sekarang, ketika satu orang telah menjadi perwira dan yang lain bertugas di bawah komandonya, kehangatan persahabatan mereka tidak pernah hilang.
Yanto menghargai Reihan, tetapi ia juga tidak ingin Budi kehilangan keberanian hanya karena membandingkan dirinya dengan sang kapten.
"Yang harus kau ingat, Bud," lanjut Yanto, "Kau tidak sedang mengikuti seleksi kenaikan pangkat. Kau sedang berusaha memperjuangkan seseorang. Jangan mengukur dirimu hanya dari apa yang dimiliki orang lain."
Budi menarik napas Panjang, "Tapi bagaimana kalau bu Mita lebih memilih Kapten?"
Yanto terdiam sesaat, "Kalau itu yang terjadi, kau harus menghormati pilihannya."
Jawaban tersebut membuat Budi menunduk Kembali, "Tentu saja aku akan menghormatinya. Aku tidak ingin memaksakan perasaan kepada siapa pun."
"Bagus. Itu baru Budi yang kukenal."
Yanto kemudian menyandarkan punggungnya ke kendaraan operasional.
"Tapi sebelum sampai ke sana, jangan kalah sebelum bertanding. Kau bahkan belum tahu apa yang sebenarnya dirasakan Mita."
Budi mengangkat wajah, "Jadi, menurutmu aku tetap harus berjuang?"
"Aku tidak akan mengintervensi keputusanmu. Namun, kalau niatmu tulus, tidak ada salahnya mencoba mengenalnya dengan cara yang baik. Selama kau tidak melanggar batas, tidak mengganggu tugas, dan tidak membuat siapa pun merasa tertekan atas usahamu."
Budi mengangguk perlahan.
Ia mulai memahami bahwa persoalannya bukan sekadar bagaimana memenangkan hati Mita. Ia juga harus belajar menerima kemungkinan bahwa perasaan perempuan itu tidak sesuai dengan harapannya.
"Terima kasih, Yan."
Yanto tersenyum, "Sama-sama. Tapi ada satu hal lagi."
"Apa?"
"Jangan sampai kau berubah menjadi orang yang aneh hanya karena jatuh cinta."
Budi mengernyitkan jidat, "Maksudmu?"
"Biasanya orang yang sedang jatuh cinta mulai memperhatikan penampilan secara berlebihan, rajin bercermin, dan mendadak suka tersenyum sendiri. Aku tidak mau melihatmu melakukan semua itu di depan anggota lain."
Budi tertawa lepas, “Kau memang tidak bisa serius lama-lama."
"Kalau aku terlalu serius, siapa yang akan menjaga kewarasanmu?"
Suasana kembali terasa ringan. Namun, di dalam hati Budi, pengakuan Yanto tadi masih meninggalkan banyak pertanyaan.