NovelToon NovelToon
Ketika Istri Pendiamku Berubah Bar-Bar

Ketika Istri Pendiamku Berubah Bar-Bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:122.2k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

"Baguslah kamu ada di sini. Tolong urus makan malam mas Ardy juga ibu mertuaku! Aku mau belanja dan bersenang-senang pakai kartu kreditnya."

Selama tiga tahun pernikahan, Kirana dikenal sebagai istri yang penurut, pendiam dan selalu mengalah.

Bahkan ketika tahu suaminya, Ardy, memelihara wanita lain. Kirana hanya bisa menangis di pojok kamar, menerima semua makian dari mertua dan manipulasi dari keluarga suaminya sendiri.

​Sampai sebuah kecelakaan tragis mengubah segalanya.

​Saat Kirana membuka mata, ketakutan di jiwanya lenyap tanpa bekas.

​Ardy mengira dia masih memegang kendali atas hidup Kirana, sampai akhirnya pria itu sadar, Kirana yang sekarang bukanlah Kirana yang dulu.

Dan saat Ardy mulai berlutut memohon cintanya kembali, Kirana sudah menutup pintu hatinya untuk pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 29 Masih Istri Sahku

Mentari pagi baru saja menyelinap masuk melalui celah gorden ruang makan. Aroma kopi hitam pekat memenuhi ruangan. Ardy duduk diam. Di tangannya terdapat map berisi dokumen perusahaan.

Namun, sejak lima belas menit lalu, tak satu pun deretan huruf di kertas itu benar-benar masuk ke kepalanya. Fikiran nya terbelah. Bayangannya masih dipenuhi interaksi dengan Kirana semalam.

Tidak ada tangisan. Tidak ada permohonan. Bahkan, wanita itu menerima draf perceraian dengan begitu tenang, seolah membuang barang bekas yang tak lagi berguna.

“Selamat pagi, Mas Ardy.”

Suara lembut itu membuyarkan lamunan Ardy. Siska datang dengan senyum manis yang dipoles sempurna. Ia langsung menarik kursi dan duduk tepat di samping Ardy.

“Pagi,” sahut Ardy dingin.

Siska mengabaikan nada dingin itu. Ia melingkarkan tangannya ke lengan Ardy, menggenggamnya dengan bermanja.

“Jadi, gimana pembicaraan kamu sama mbak Kirana semalam, Mas? Semuanya lancar, kan?”

Sebelum Ardy sempat menjawab, suara langkah kaki terdengar menuruni tangga. Sarah berjalan mendekat dan langsung duduk di hadapan mereka dengan wajah penuh harap.

“Iya, Ardy. Mama juga sangat penasaran, gimana reaksi perempuan itu?” desak Sarah sambil menuangkan teh ke cangkirnya.

Ardy mengembuskan napas pelan, lalu meletakkan dokumennya di atas meja.

“Aku sudah bicara dengannya.”

“Terus?” Mata Siska langsung berbinar antusias. “Dia marah-marah? Menangis?”

“Nggak. Dia setuju bercerai.”

Seketika, wajah Siska berubah sumringah. “Benarkah, Mas? Tanpa perlawanan sama sekali?”

“Iya. Tanpa perlawanan.”

Siska langsung memeluk lengan Ardy semakin erat, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.

“Tuh, kan. Aku tahu kok, Mas. Pada akhirnya dia pasti sadar diri kalau selama ini dia cuma mengganggu hubungan kita.”

Sarah ikut tersenyum puas, lalu menyesap tehnya. “Syukurlah kalau begitu. Akhirnya benalu itu punya sedikit rasa malu dan tahu di mana posisinya.”

Namun, senyum kemenangan di wajah kedua wanita itu perlahan memudar ketika Ardy kembali membuka suara dengan nada berat.

“Tapi dia minta waktu satu bulan sebelum perceraian itu terjadi.”

Senyum di bibir Siska langsung lenyap tanpa sisa mendengar itu. “Satu bulan? Maksud kamu apa, Mas?”

“Iya. Dia minta penundaan perceraian. Dan aku menyetujuinya.”

Brak!

Siska tanpa sadar membanting cangkir teh di depannya hingga airnya tumpah membasahi taplak meja.

“Kenapa harus satu bulan, Mas?!” jerit Siska dengan nada meninggi, tak bisa menyembunyikan kekesalannya.

“Dia ingin mencari kerja. Dia bilang ingin menyiapkan hidupnya setelah resmi bercerai dari kita,” ucap Ardy mengusap pelipisnya pelan, kepalanya mulai berdenyut.

Siska terkekeh sinis lalu menyilangkan tangan di depan dada. “Cari kerja? Alasan murahan Itu cuma akal-akalannya saja, Mas! Kamu dibodohi!”

Sarah mengangguk cepat, menyetujui ucapan Siska. “Benar. Mama juga yakin seratus persen begitu. Perempuan itu sangat licik, Ardy.”

Ardy mengangkat wajahnya, menatap ibunya dengan dahi berkerut. “Licik? Atas dasar apa Mama bilang begitu?”

“Iya, licik!” sahut Sarah. “Jangan-jangan dia sedang menyusun rencana untuk mengambil hartamu. Atau mungkin, diam-diam dia sedang menghubungi pengacara supaya bisa merampas harta gono-gini sebanyak-banyaknya!”

Siska ikut menimpali dengan nada memprovokasi. “Bisa juga dia sengaja mengulur waktu supaya kamu berubah pikiran, kan? Mas, jangan mudah dibodohi deh sama wajah polosnya.”

“Kalian terlalu berlebihan, Kirana bukan perempuan seperti itu.”

“Kamu membelanya? Kamu membela perempuan yang sudah berani kurang ajar pada Ibumu ini?” timpal Sarah.

“Aku cuma bicara sesuai kenyataan yang ada, Ma.” Ardy menyandarkan punggungnya ke kursi. “Coba Mama ingat-ingat lagi. Selama tiga tahun menikah denganku, Kirana bahkan nggak pernah meminta apa pun dariku. Dia nggak pernah minta dibelikan mobil. Nggak pernah minta tas mahal. Nggak pernah minta perhiasan. Dia bahkan rela memasak sendiri setiap hari untuk kita. Kirana itu nggak neko-neko.”

Ucapan pembelaan Ardy itu membuat Sarah terdiam sesaat. Wajahnya memerah karena di sekak oleh putranya sendiri.

“Itu karena dia pintar berpura-pura!” sergah Sarah, tak mau kalah. “Orang yang diam seperti itu justru paling berbahaya, Ardy! Diam-diam menghanyutkan.”

Siska kembali memegang tangan Ardy, mengusapnya lembut dengan tatapan memelas.

“Mas, kamu masih ingat, kan? Belakangan ini mbak Kirana benar-benar berubah drastis. Dia berani melawan Tante Sarah. Berani memukul Yati. Bahkan, dia berani menghabiskan uang miliaran rupiah di kartumu. Menurutmu, itu masih sosok perempuan polos yang sama?”

Ardy ikut terdiam. Rahangnya mengatup rapat. Memang benar, Kirana sudah berubah. Sangat jauh berbeda. Namun entah kenapa, di lubuk hatinya yang terdalam, Ardy justru merasa perubahan itu terjadi bukan karena Kirana sedang merencanakan sesuatu yang jahat. Melainkan, karena selama ini mereka telah mendorong wanita itu sampai ke batas akhir kesabarannya.

“Aku tetap percaya sama Kirana,” ucap Ardy akhirnya. “Dia memang berubah. Tapi dia bukan penipu.”

Siska menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Dalam hati ia mengumpat kasar, “Kenapa, Mas? Kenapa sekarang kamu selalu membelanya?!”

Sarah yang melihat putranya mulai goyah, kembali mencoba memengaruhi.

“Ardy, dengarkan Mama. Perempuan itu sekarang sering keluyuran keluar rumah. Belanja sesuka hati. Berdandan berlebihan. Apa semua itu belum cukup membuatmu curiga? Jangan-jangan dia memang berselingkuh di belakangmu!”

Selingkuh?

Satu kata itu sukses membuat rahang Ardy mengeras seketika. Bayangan log panggilan semalam dari pria bernama Tristan kembali meledak di kepalanya. Dadanya mendadak terasa sangat panas terbakar.

“Aku akan mencari tahu sendiri soal itu. Aku nggak mau menuduhnya tanpa bukti yang jelas.”

Siska mulai kehilangan kesabarannya. “Mas, kalau nanti dia tiba-tiba kabur membawa hartamu gimana? Atau kalau ternyata dia memang benar-benar selingkuh?”

Ardy berdiri dari kursinya secara mendadak. “Aku bilang cukup!” Suara tegas dan nyaringnya membuat ruang makan yang tadinya bising mendadak sunyi senyap.

Siska tersentak kaget hingga memundurkan wajahnya. Sarah pun ikut terdiam.

Ardy menarik napas panjang, berusaha menstabilkan emosinya sebelum berkata dengan nada pelan namun tajam.

“Selama belum ada bukti, jangan pernah menuduh Kirana macam-macam di depanku. Lagipula, dia masih istri sah ku.”

Kalimat terakhir itu bagaikan tamparan keras yang menghantam wajah Siska hingga memucat. Ia memaksakan senyum tipis, tetapi jemarinya mengepal sangat kuat di balik meja hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri.

“Tidak. Aku tidak boleh membiarkan mas Ardy terus membela perempuan itu. Kalau dibiarkan, cepat atau lambat hati mas Ardy akan benar-benar berpaling,” batin Siska.

Siska menundukkan kepalanya. Sebelum masa tenggang itu berakhir, Siska bersumpah akan memastikan Kirana keluar dari rumah itu, apa pun caranya.

“Wah wah... ada apa ini? Pagi-pagi sudah berkumpul dengan wajah tegang begitu. Apa ada berita bahagia yang belum sempat kuberi ucapan selamat?” sapa Kirana santai begitu memasuki ruang makan.

Sontak mereka bertiga pun menoleh ke arah Kirana.

1
Shee_👚
itu hanya mimpi, kirana gak bakalan melakukan itu. justru kamu yang bakalan memohon sama kirana😏
Shee_👚
nah pasti bukan anak ardy ku yakin
Shee_👚
silahkan ambil, bentar lagi juga jatoh kirsmin
Shee_👚
merawat sama-sama ogah amat, situ yang punya bayi ngapain repot²🙄
Shee_👚
apa bener itu anak ardy? ko aku gk yakin ya🤔
Shee_👚
kamu nanya?? yakin nanya🙄
Shee_👚
gak sadar diri, dia yang punya simpanan bahkan sampai di bawa kerumah🙄
Shee_👚
wow bener ternyata kalau kirana wanita berduwit, ternyata bisnis women
Shee_👚
menang banyak tristan🤣🤣🤣
Shee_👚
gass tristan jangan biarkan suami bego itu hidup tenang😂
Shee_👚
wah ternyata kirana lebih pintar dan punya penjaga, aku yakin kirana wanita berduwit tanpa sepengetahuan ardy
Shee_👚
wah bener dukaanku kalau siska yang nabrak atau dia bayar orang buat nabrak Kirana😤
Shee_👚
bagus begitu harusnya tegas. babu di kasih hati malah minta jantung😤😤
Shee_👚
sadar mu telat ardy🙄
Shee_👚
catet siska, kirana bakalan menjadi istri ardy dan gak bakalan jadi mantan😏
Shee_👚
bukan kawatir orangnya, tapi kawatir duwitnya abis🤣🤣🤣
Shee_👚
tar lah abis aja belum itu duwit😂
Shee_👚
bagus habiskan uang suamimu, dari pada wanita lain yang ngabisin rugi
Shee_👚
astaghfirullah babu ini minta di apain ya, yang punya rumah ko ya di kasih makan basi😤
Shee_👚
nah begitu, pembantu belagu amat😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!