Alessia Francesca Zorzi,Sang ratu jalanan yang liar dan kerasa kepala tiba-tiba saja harus menikah dengan CEO perusahaan besar yang tegas dan berwibawa,Vellano Federico Luca.
Bahkan sebelum menikah,Vellano mempunyai kekasih cantik yang ia sembunyikan selama 3 tahun.Yaitu seorang bintang musisi yang bernama Ansley Flavia.
Tentu saja pernikahan mereka hanya di atas kertas dan sebatas saling menguntungkan.Namun batasan itu hancur ketika salah satu diantara mereka dengan suka rela menghapus garis pembatas.
Akankah Vellano berhasil menaklukkan Alessia?atau justru malah keliaran Alessia yang membuatnya menyerah?
Yuk,mari kita baca sama-sama dan terus nantikan update episode terbarunya!
Author up lebih dari 1 part/hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fio Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 16. CEMBURU Tapi GENGSI!
Alessia baru saja menggigit croissant kesukaannya ketika seseorang berhenti tepat di depan mejanya.
“Sendirian?”
Alessia membeku.
Suara itu.
Ia perlahan mengangkat kepala dan langsung kehilangan selera makan.
William Brom
Pria yang paling tidak ingin ia temui, bahkan lebih tidak ingin ia temui daripada Axel saat sedang membawa gosip keluarga.
Alessia menatapnya datar.
“Sayangnya.”
William menarik kursi tanpa diminta dan duduk di depannya.
Alessia langsung menggeser piring croissant menjauh.
William meliriknya. “Tenang. Aku tidak akan mengambil makananmu.”
“Bagus. Karena aku lebih rela membaginya dengan Vellano.”
William terdiam sesaat.
Alessia sendiri baru menyadari apa yang baru saja ia katakan.
Kenapa malah menyebut nama Vellano?
Wajahnya sedikit memanas.
William menyandarkan tubuhnya. “Jadi sekarang kau selalu membawa-bawa nama suamimu?”
Alessia mengangkat dagu. “Setidaknya suamiku punya alasan untuk berada di hidupku.”
William tersenyum tipis, tetapi senyum itu justru membuat Alessia semakin tidak nyaman.
“Aku hanya ingin bicara.”
“Aku tidak ingin.”
“Alessia.”
“William.”
Keduanya saling menatap.
Seorang pelayan datang membawa pesanan William dan meletakkannya di meja.
William mengambil garpu.
Namun sebelum sempat makan, Alessia berkata datar, “Kalau kau datang hanya untuk menggangguku, setidaknya bayar croissant-ku.”
William menatapnya heran. “Kenapa?”
“Karena suasana hatiku rusak setelah melihatmu.”
Pelayan yang berdiri di dekat mereka buru-buru menahan tawa.
William menghela napas.
“Kau masih sama.”
“Dan kau masih menyebalkan.”
Alessia kembali mengambil croissant-nya, berusaha mengabaikan pria di depannya.
Namun di dalam pikirannya, kejadian balkon bersama Vellano kembali terlintas.
Aneh.
Biasanya kehadiran William selalu membuatnya marah.
Tetapi kali ini, ia justru berharap Vellano ada di sana.
Dan kesadaran itu membuat Alessia semakin bingung.
Di luar cafe.Dari dalam mobil, Vellano sebenarnya hanya berniat menjemput Alessia sendiri.Ia bahkan sudah membayangkan istrinya akan terkejut melihatnya datang.
Namun langkahnya terhenti ketika pandangannya tertuju pada kaca kafe yang bening.
Alessia sedang duduk berhadapan dengan seorang pria.
Vellano langsung mengenalinya.
William Brow.
Rahangnya mengeras.
Ingatan tentang kejadian di pelabuhan kembali muncul begitu saja—ancaman William, tatapan mengintimidasi pria itu, dan bagaimana Alessia nyaris terseret ke dalam masalah.
Berani sekali dia menemui Alessia.
Tanpa banyak berpikir, Vellano membuka pintu mobil dan masuk ke kafe.
Langkahnya tenang, tetapi sorot matanya cukup membuat suasana di sekitar meja mereka berubah.
Alessia menoleh.
“Vellano?”
William ikut menatapnya.
Vellano berdiri di samping Alessia.
“Kita pulang.”
Alessia mengerjap. “Sekarang?”
“Sekarang.”
William tersenyum tipis. “Kita sedang berbicara.”
Vellano menatapnya dingin.
“Pembicaraan kalian sudah selesai.”
Suasana mendadak tegang.
Alessia bahkan sempat menatap keduanya bergantian, seperti penonton pertandingan tenis.
Vellano sebenarnya ingin sekali menghantam wajah William. Tangannya bahkan sempat mengepal.
Namun ia menahannya.
Ia adalah CEO Vellano Group—Luxury Conglomerate. Setiap gerak-geriknya bisa menjadi bahan berita. Ia tidak mungkin membuat keributan hanya karena seorang pria menyebalkan.
Akhirnya Vellano mengambil tas Alessia.
“Ayo.”
Alessia berdiri.
Sebelum pergi, ia melirik William. “Croissant-ku belum habis.”
Vellano menatap piring itu.
“Kita beli lagi.”
Alessia berkedip.
William hampir tertawa.
Setelah masuk mobil, suasana langsung berubah.
Vellano duduk diam dengan wajah dingin.
Alessia meliriknya beberapa kali.
“Kau marah?”
“Tidak.”
“Wajahmu bilang iya.”
“Aku hanya tidak suka kau bertemu dengannya.”
Alessia menahan senyum.
Dia cemburu.
Namun Vellano buru-buru melanjutkan, “Pertemuan dengan William bisa menimbulkan masalah. Kalau media tahu, mereka akan membuat berita macam-macam.”
“Begitu?”
“Ya.”
Alessia mengangguk polos.
“Jadi bukan karena cemburu?”
Vellano langsung menoleh.
“Siapa bilang aku cemburu?”
Alessia menatap ke luar jendela sambil menyembunyikan senyum.
“Tidak ada.”
Vellano kembali menatap jalan.
Hening beberapa detik.
Lalu Alessia bergumam, “Tapi telingamu merah.”
Vellano langsung menyentuh telinganya.
Alessia tertawa.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, kemarahan Vellano sedikit mencair—meski ia tetap terlalu gengsi untuk mengakui bahwa yang mengganggunya sejak tadi bukan media, melainkan rasa cemburu.
......................
Begitu sampai di rumah, suasana yang tadinya tenang berubah menjadi sedikit tegang.
Vellano menutup pintu dengan wajah masih dingin.
“Aku tidak mau kau bertemu lelaki lain tanpa izinku.”
Alessia langsung menoleh tajam.
“Excuse me?”
“Aku serius.”
“Aku juga serius. Aku tidak berniat bertemu William! Dia yang tiba-tiba datang menghampiriku.”
Vellano terdiam.
Alessia melipat tangan di dada.
“Aku bahkan sedang menikmati croissant dengan tenang sebelum dia datang mengganggu.”
“Dan kau tetap duduk bersamanya.”
“Karena kalau aku langsung berdiri dan pergi, itu malah akan terlihat aneh!”
Vellano menghela napas panjang. “Tetap saja.”
Alessia menyipitkan mata.
“Kau sebenarnya marah karena William?”
“Tidak.”
“Cemburu?”
“Tidak.”
“Yakin?”
“Alessia.”
Alessia hampir tersenyum.
Wajah Vellano sudah cukup menjadi jawaban.
“Baiklah,” katanya santai. “Kalau bukan cemburu, berarti wajahmu memang selalu seperti orang yang ingin meninju seseorang.”
Vellano menatapnya tajam.
“Aku pergi ke kantor.”
“Sekarang?”
“Masih ada pekerjaan.”
Alessia melirik jam.
“Bukankah biasanya kau pulang sore?”
Vellano mengambil jasnya.
“Aku CEO. Aku bisa mengatur waktuku.”
Alessia mengangguk serius. “Oh, tentu. Kabur dari percakapan juga termasuk mengatur waktu.”
Vellano berhenti sejenak di depan pintu.
Ia menoleh.
“Jangan bertemu William lagi.”
Setelah mengatakan itu, ia langsung pergi sebelum Alessia sempat menjawab.
Pintu tertutup.
Alessia berdiri diam beberapa detik.
Lalu ia bergumam sambil menahan tawa,
“Cemburu sekali sampai kabur ke kantor.”
Sementara di dalam mobil, Vellano menghela napas.
Ia tahu satu hal.
Alessia benar-benar mulai membuat hidupnya jauh lebih rumit daripada laporan keuangan perusahaan.
......................
Sesampainya di kantor, Vellano langsung masuk ke ruang kerjanya. Pintu tertutup, menyisakan dirinya seorang diri bersama pikirannya yang sejak tadi tidak mau diam.
Ia duduk di kursi, menyandarkan tubuh, lalu mengembuskan napas panjang.
Pikirannya kembali pada Alessia.
Kejadian di balkon.
Ciuman singkat yang seharusnya tidak berarti apa-apa.
Perhatian kecil yang belakangan mulai mereka berikan satu sama lain.
Dan terutama, perasaan aneh yang muncul ketika melihat Alessia duduk bersama William.
Vellano mengusap wajahnya.
“Kenapa aku sampai seperti ini?”
Ia sendiri tidak tahu jawabannya.
Tatapannya kemudian tanpa sengaja jatuh ke sudut kiri meja kerja.
Sebuah foto lama berdiri di sana.
Foto dirinya bersama Ansley.
Mereka tersenyum bahagia dalam foto itu. Dulu, Vellano sering memandanginya. Foto itu pernah menjadi pengingat tentang hubungan yang ia yakini akan bertahan lama.
Namun sekarang?
Entah sejak kapan, foto tersebut semakin jarang ia lihat.
Bahkan hari ini, untuk pertama kalinya Vellano menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa berat.
Perasaannya kepada Ansley tidak lagi sama.
Bukan karena ia membenci Ansley.
Bukan pula karena semua kenangan mereka tiba-tiba hilang.
Perasaan itu hanya perlahan memudar, sedikit demi sedikit, tanpa ia sadari.
Sebaliknya, setiap kali mengingat Alessia, ada gejolak asing yang justru semakin kuat.
Vellano menatap foto itu cukup lama.
“Ini tidak seharusnya terjadi.”
Ia tahu dirinya sedang berada di persimpangan yang berbahaya.
Di satu sisi ada masa lalu yang selama ini ia pertahankan.
Di sisi lain ada Alessia—istrinya sendiri—yang perlahan berhasil masuk ke pikirannya tanpa pernah meminta izin.
Vellano menghela napas.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar takut dengan jawabannya sendiri.
Mungkin masalah sebenarnya bukan William.
Mungkin masalahnya adalah hatinya sendiri.
......................
Malam telah tiba ketika Vellano akhirnya pulang dari kantor. Setelah seharian dipenuhi pikiran yang membuat kepalanya pusing, ia hanya ingin suasana tenang.
Biasanya, Alessia sudah berada di kamar.
Namun malam itu, kamar kosong.
Vellano mengerutkan kening.
“Alessia?”
Tidak ada jawaban.
Ia mencari ke ruang keluarga, perpustakaan, bahkan balkon.
Tidak ada.
Hingga akhirnya langkahnya membawanya ke ruang makan.
Vellano berhenti......
...****************...
Hemmmm,si Alessia kenapa ya?kok langkah Vellano sampe terhenti?
Ikuti terus kelanjutannya, terimakasih yang sudah mampir.Jangan lupa untuk tinggalkan jejak .
Semoga kalian sehat selalu.🥰