Hampir tiga tahun menikah, Laras dan Robby belum juga memiliki anak. Hingga suatu hari, terjadi kesalahpahaman. Robby dan Soraya, ibu Laras mengira jika Laras mengalami masalah kesuburan.
Robby memanfaatkan kekurangan Laras untuk berpura-pura menjadi suami setia yang mau menerima Laras apa adanya. Ia bahkan mengajak Laras untuk mengadopsi anak.
Hal itu membuat Robby mendapat nilai plus dari Soraya. Ia bahkan menjanjikan jabatan tinggi untuk Robby di perusahaan.
Tentu, Robby sangat senang. Ia lalu mengajak keluarga dan selingkuhannya untuk bekerjasama merebut harta dan perusahaan milik keluarga Laras.
Tapi sayangnya, Laras mengetahui semuanya. Dan kali ini, Laras tidak akan menjadi korban. Justru, Laras yang akan memastikan keluarga parasit itu kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengumpulkan Bukti
Robby dan keluarganya akhirnya sampai di rumah dengan raut wajah yang masih menyimpan rasa kesal.
Bagaimana tidak? Mereka sudah begitu bersemangat membayangkan bisa membawa pulang berbagai barang mewah yang selama ini mereka impikan. Namun, semua gagal karena kartu milik Laras tidak lagi bisa digunakan.
Untuk itu, sebelum masuk ke rumah, Robby menghentikan langkahnya dan menatap kedua orang tuanya serta Maya secara bergantian.
"Ingat pesanku! Jangan menunjukkan wajah kesal di depan Laras," pesannya dengan suara rendah. "Mungkin, dia memang tidak tahu kalau batas transaksi kartunya sudah tercapai."
Diah mendengus kesal. "Cih! Ibu rasa dia sengaja melakukan itu untuk mempermalukan kita."
"Aku juga berpikir begitu," timpal Maya. Wajahnya masih terlihat masam karena gagal mendapatkan jam tangan yang ia inginkan. "Dia pasti sudah merencanakan semuanya."
Robby terdiam sejenak sebelum menghembuskan napas panjang.
"Itu tidak mungkin. Buktinya, kita masih bisa berbelanja dan mendapatkan beberapa barang yang kita inginkan, bukan?" ujarnya.
Diah dan Maya terdiam meski belum sepenuhnya menerima penjelasan Robby.
"Yang terpenting, kita harus tetap bersikap baik padanya," lanjut Robby. "Kalau kita terus membuatnya merasa nyaman dan percaya kepada kita, kita bisa mendapatkan lebih banyak keuntungan. Jadi, jangan sampai kalian merusak semuanya."
Diah dan Maya mengangguk dengan gerakan terpaksa, meskipun kekesalan di wajah mereka belum sepenuhnya hilang.
"Sudah, sudah. Jangan berdiri di sini terus," sela Bima yang sejak tadi lebih banyak diam. "Lebih baik kita masuk sekarang sebelum Laras melihat kita di sini."
Robby mengangguk setuju.
Ia membuka pintu rumah, lalu masuk sambil mendorong stroller bayi. Sementara, Diah, Bima, dan Maya mengikuti dari belakang dengan membawa tas belanjaan masing-masing.
Mereka berusaha menata ekspresi sebelum masuk ke ruang keluarga, menyembunyikan rasa kecewa di balik wajah yang dibuat sewajar mungkin.
Namun, mereka tidak menyadari kalau sejak tadi Laras sudah mengetahui apa yang mereka bicarakan.
Di ruang keluarga, Laras duduk santai di sofa sambil memperhatikan layar ponselnya. Sudut bibirnya terangkat tipis saat mendengar pembicaraan Robby dan keluarganya melalui CCTV yang terhubung ke perangkat tersebut.
Laras menggeleng pelan, hampir tertawa. Ia segera mematikan layar ponselnya saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Lalu, ia mengangkat kepala, berpura-pura terkejut melihat Robby dan yang lainnya.
"Kalian sudah pulang?"
Robby mengangguk sambil mendorong stroller mendekati sofa.
"Iya, Sayang."
Tanpa banyak bicara, Diah dan Bima menjatuhkan tubuh mereka ke sofa. Keduanya menghembuskan napas panjang, tampak kelelahan setelah berkeliling pusat perbelanjaan. Sedangkan, Maya meletakkan beberapa tas belanjaan di dekat sofa, kemudian berdiri di samping stroller.
"Akhirnya, sampai rumah juga," gumam Diah.
Laras bangkit dan berpindah duduk di sebelah Diah. Ia memasang wajah penuh penyesalan, seolah-olah merasa sangat bersalah karena kejadian di pusat perbelanjaan tadi.
"Bu, maafkan aku, ya. Aku benar-benar tidak tahu kalau batas transaksi kartuku sudah tercapai."
Diah melirik Laras dengan tatapan sinis. Ada keinginan untuk meluapkan kekesalannya, tetapi sebelum sempat membuka mulut, ia menangkap isyarat dari Robby.
Putranya itu menatapnya tajam, mengingatkan agar ia tidak merusak rencana mereka.
Diah terpaksa menelan kekesalannya. Ia menarik napas, lalu mengubah ekspresinya menjadi lebih ramah.
"Tidak apa-apa, Laras. Lain kali saja kita berbelanja lagi."
Laras mengangguk kecil. "Terima kasih sudah mengerti, Bu."
"Ngomong-ngomong, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Diah, berusaha menunjukkan perhatian.
"Oh, aku sudah merasa lebih baik, Bu."
"Syukurlah kalau begitu." Diah bangkit dari sofa, diikuti Bima. "Kalau begitu, Ibu dan Bapak ke kamar dulu, ya. Kami mau beristirahat."
"Baik, Bu."
Laras memperhatikan Diah dan Bima berjalan menuju kamar mereka. Setelah keduanya menghilang dari pandangan, Maya segera mengambil tas belanjaannya.
"Kalau begitu, saya juga permisi dulu, Nyonya. Saya mau menidurkan Den Bara."
Laras mengangguk. "Tolong jaga Bara baik-baik, ya. Aku belum bisa terlalu dekat dengannya karena masih merasa kurang sehat. Aku tidak mau sampai Bara tertular."
"Tidak apa-apa, Nyonya. Saya akan menjaganya."
Maya hendak mendorong stroller, tetapi Robby segera menyela.
"Biar aku bantu."
"Tidak usah, Tuan. Saya bisa sendiri," jawab Maya cepat.
Laras yang melihat keduanya saling berbicara langsung menyela dengan senyum tipis.
"Biarkan Mas Robby membantumu, May. Kamu juga sudah seharian berkeliling. Pasti lelah, bukan?"
Maya terdiam sesaat. Ia melirik Robby, kemudian kembali menatap Laras. Ada sedikit rasa khawatir jika Laras mulai memperhatikan kedekatan mereka. Namun, ia segera menepis pikiran itu.
Laras tidak mungkin mengetahui hubungan mereka.
"Baik, Nyonya," jawab Maya akhirnya.
Ia melepaskan pegangannya dari stroller, lalu membiarkan Robby mengambil alih. Setelah itu, Maya berjalan mengikuti pria itu menuju kamar Bara sambil membawa tas belanjaannya.
Laras memperhatikan kepergian mereka sampai keduanya menghilang di balik pintu.
Begitu tidak ada seorang pun di ruang keluarga, senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan lenyap dan tatapannya berubah dingin.
Ia kembali meraih ponselnya, membuka aplikasi CCTV, lalu memilih kamera yang terpasang di kamar Bara.
Laras ingin memastikan sesuatu.
Dan benar saja, beberapa detik kemudian, apa yang terlihat di layar membuat tangannya seketika mengepal.
Di dalam kamar Bara, Maya meletakkan tas belanjaannya sementara Robby berbalik dan langsung menarik Maya mendekat.
Robby menghimpitnya ke dinding dan mencium bibir Maya dengan penuh gairah.
Maya sempat terkejut, tetapi ekspresi itu segera berubah menjadi senyum puas. Ia membalas ciuman Robby sambil melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu.
Maya bahkan mengerang saat Robby mulai menyentuh bagian tubuhnya yang sensitif. Namun, beberapa saat kemudian, ia mendorong bahu pria itu dengan napas terengah-engah.
"Mas!" bisiknya sambil menatap Robby. "Ada istrimu di luar. Kamu tidak takut ketahuan?"
Robby justru menyunggingkan senyum nakal. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Maya, lalu berbisik dengan nada menggoda.
"Tapi, bukankah ini sangat menyenangkan?" ucapnya. "Rasanya jauh lebih nikmat dan menantang."
Maya menggigit bibir bawahnya, menahan senyum. "Kamu nakal, Mas."
Robby terkekeh pelan. Tapi, pada akhirnya, ia memilih menjauh. Ia merapikan pakaiannya lalu, menatap Maya.
"Kamu pasti lelah setelah seharian berbelanja."
Maya mengangguk manja. "Lumayan, Mas."
"Kalau begitu, kamu istirahat saja Biar aku yang mengurus wanita itu."
Senyum Maya perlahan memudar. Ia menatap Robby dengan wajah cemburu, yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Jangan sampai kamu tergoda olehnya, ya."
Robby tertawa kecil, lalu mengusap pipi Maya. "Mana mungkin? Kamu jauh lebih baik dari dia. Kamu tahu sendiri, aku mempertahankan pernikahan itu karena hartanya."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada merendahkan.
"Lagi pula, untuk apa aku menginginkan wanita mandul seperti dia?"
Maya langsung tertawa pelan mendengar perkataan itu. Lalu, ia berjinjit, mengecup singkat bibir Robby.
"Kalau begitu, kita lanjutkan nanti malam, ya, Mas. Aku menunggumu."
Robby mengangguk sambil tersenyum. Setelahnya, ia merapikan kembali pakaiannya dan meninggalkan kamar.
Sementara itu, di ruang keluarga, Laras menatap layar ponselnya tanpa berkedip.
Setiap ucapan Robby terdengar jelas. Setiap gerakan mereka terekam tanpa terlewatkan.
Perlahan, jemari Laras mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dadanya terasa sesak, sementara rasa sakit yang selama ini berusaha ia tekan kembali menyeruak, bercampur dengan amarah yang semakin sulit dibendung.
Menyaksikan pengkhianatan itu secara langsung membuat hatinya kembali terluka.
Laras menunduk, memejamkan mata sejenak, berusaha mengendalikan emosinya.
Ia ingin berteriak. Ia ingin mendatangi kamar itu dan menampar wajah Robby, lalu mengusir Maya dari rumahnya saat itu juga.
Namun, ia tahu tindakan gegabah hanya akan memberi mereka kesempatan untuk memutarbalikkan keadaan.
Tidak.
Ia tidak akan membiarkan amarahnya menghancurkan rencana yang sudah ia susun.
Laras membuka mata kembali. Ia mengusap sudut matanya, menahan air mata yang nyaris jatuh. Ia tidak akan menangis demi pria yang bahkan tidak menghargainya.
Mulai sekarang, setiap kebohongan Robby akan menjadi bukti. Setiap Pengkhianatan pria itu akan memperkuat keputusannya.
"Silahkan bersenang-senang selagi kalian masih bisa," gumamnya lirih.
"Karena setelah ini, aku akan memastikan kalian membayar setiap kebohongan dan pengkhianatan yang sudah kalian lakukan."
Laras kembali menatap layar ponselnya, memastikan rekaman itu tersimpan dengan baik.
Bukti demi bukti mulai terkumpul.
Dan, saat waktunya tiba, ia akan membuka semuanya tanpa memberi mereka kesempatan untuk melarikan diri.
😒😒
itulah klo othor tdk tidur, pasti akan terbongkar wlo blm semua terbukti