Di dunia luar, Gabriel Alexius adalah ketua mafia paling ditakuti—dingin, kejam, dan tanpa ampun. Namun, takdir mempertemukannya dalam pernikahan rahasia dengan Aira, gadis biasa yang awalnya mengira suaminya hanyalah pria kaya yang polos dan sedikit konyol.
Di rumah, Gabriel berubah drastis menjadi suami yang manja dan bucin setengah mati, bahkan rela bertingkah konyol demi membuat istrinya tersenyum.
Semua kebohongan manis itu terbongkar saat Aira tak sengaja memergoki Gabriel dalam "mode monster" saat menghadapi musuhnya. Panik karena takut ditinggal, sang ketua mafia yang garang itu mendadak jadi panutannya yang paling penakut di hadapan sang istri.
“Aira, aku bisa menghancurkan kota ini, tapi jangan minta aku hidup tanpamu!”
Bagaimanakah kisah rumah tangga gadis biasa dengan pria paling berbahaya di dunia bawah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 : Gelato Manis,Colosseum Dan Janji Sang Dark Lord
Matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala kota Roma, membiaskan semburat jingga keemasan yang memantul indah di atas reruntuhan bangunan bersejarah Colosseum. Udara malam musim gugur terasa sejuk, membawa serta kehangatan lampu-lampu jalanan kuno bergaya klasik Eropa yang mulai menyala bergantian.
Di trotoar pejalan kaki yang tidak jauh dari monumen megah tersebut, dua sosok berpenampilan memukau tampak berjalan berdampingan. Gabriel Blackwood mengenakan mantel hitam panjang dengan syal kasmir gelap yang membungkus lehernya, sementara Aira Anindita tampak anggun dalam balutan mantel wol berwarna krem dan sepatu bot setinggi lutut.
Meskipun status mereka baru saja diakui secara mutlak oleh Dewan Tetua Eropa di gedung opera siang tadi, Gabriel tampak jauh lebih tertarik pada gerobak es krim kecil berkanopi merah di sudut jalan daripada urusan dunia bawah tanah.
"Sayang, berhenti sebentar," pinta Gabriel sambil menarik pelan lengan Aira.
Aira menoleh dengan sebelah alis terangkat. "Ada apa lagi, Gabriel? Kita baru saja jalan kaki sepuluh meter."
Gabriel menunjuk gerobak es krim tradisional di depan mereka dengan mata berbinar-binar bagaikan anak kecil yang melihat toko mainan. "Aku mau beli gelato. Kemarin malam di pesawat Felix bilang, kalau ke Roma wajib hukumnya makan gelato asli Italia. Biar lidah kita tidak kaku sama urusan mafia terus."
Aira tidak kuasa menahan tawa renyahnya. Ia menggelengkan kepala pelan. "Ketua sindikat internasional paling ditakuti sedunia sekarang antre es krim pinggir jalan? Kalau anak buahmu melihat bosnya begini, mereka pasti tidak percaya."
"Biarkan saja!" sahut Gabriel tanpa beban. Pria tegap itu langsung melangkah mendekati penjual gelato keliling, berbicara dalam bahasa Italia yang fasih dan penuh percaya diri.
Tidak sampai dua menit kemudian, Gabriel kembali dengan dua cone besar wafel renyah di tangan kanannya. Satu cone berisi dua scoop besar rasa dark chocolate pekat, dan satu lagi rasa vanila stroberi untuk Aira.
Gabriel menyerahkan cone stroberi itu dengan senyuman paling lebar yang pernah ia tunjukkan hari itu. "Nih, buat Permaisuriku tercinta. Rasanya manis, tapi masih kalah manis sama senyumanmu."
Aira menerima gelato itu sambil merona merah di pipinya. "Rayuanmu makin hari makin mahir ya, Tuan Aristha."
Mereka berdua melanjutkan jalan santai menyusuri trotoar batu kuno di dekat reruntuhan Colosseum yang diterangi lampu sorot kuning temaram. Suasana malam itu terasa begitu damai, jauh dari hiruk-pikuk pertumpahan darah, senjata, dan intrik politik mafia yang biasanya mengepung kehidupan mereka.
Aira menjilat gelatonya pelan, menikmati perpaduan rasa manis dan dingin yang menyegarkan. Namun, ia tidak menyadari bahwa ada sedikit noda krim putih lembut yang menempel di ujung bibirnya sebelah kiri.
Gabriel yang berjalan di sampingnya seketika menghentikan langkahnya. Pria itu menatap lurus ke arah wajah istrinya.
Aira ikut berhenti, mengerjap bingung. "Kenapa berhenti? Gelatomu mau meleleh tuh."
Gabriel tidak menjawab. Dengan gerakan sangat perlahan, jemari kokoh pria itu terulur, menyentuh lembut sudut bibir Aira, lalu menjilat jemarinya sendiri sambil menyunggingkan senyuman miring yang menggoda.
"Krimnya belepotan di sini, Sayang," bisik Gabriel dengan suara bariton rendah yang begitu seksi. "Dan rasanya... manis sekali."
Deg!
Jantung Aira berdetak dua kali lebih cepat. Wajahnya yang dingin dan berwibawa di ruang rapat dewan siang tadi kini merona merah padam hingga ke pangkal telinganya. Ia memukul pelan dada bidang suaminya dengan tangan kiri.
"Gabriel! Kamu ini ya... suka bikin orang salah tingkah di tempat umum!" protes Aira salah tingkah, memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rona merah di pipinya.
Gabriel tertawa lepas. Suara tawa renyah itu terdengar begitu hangat dan membahagiakan di telinga Aira. Ia merengkuh pinggang istrinya, menarik tubuh Aira agar semakin rapat merapat ke sisi tubuhnya untuk menghalau angin malam Roma yang mulai menusuk kulit.
"Biarin saja. Biar seluruh dunia tahu kalau wanita tercantik di dunia ini adalah istri sah Gabriel Blackwood," ucap Gabriel tulus, menatap manik mata Aira dengan sorot penuh cinta.
Mereka duduk di atas bangku taman batu yang menghadap langsung ke arah megahnya Colosseum. Di bawah langit malam Eropa yang bertabur bintang tipis, Aira menyandarkan kepalanya di bahu Gabriel, menikmati kehangatan dekapan suaminya.
"Gabriel..." panggil Aira pelan.
"Hm? Ada apa, Sayang?"
"Terima kasih," lanjut Aira tulus. "Selama ini aku mengira hidup di dunia yang kamu jalani penuh dengan ketakutan. Tapi ternyata... memilikimu di sisiku membuatku merasa menjadi wanita paling aman di muka bumi."
Mendengar kata-kata itu, dada Gabriel berdesir hebat. Perasaan hangat membuncah memenuhi rongga dadanya. Ia mengecup puncak kepala Aira dengan penuh kelembutan, lalu melingkarkan lengan kekarnya semakin erat.
"Dunia luar mungkin kejam dan penuh darah, Aira," bisik Gabriel sangat lembut, berjanji dari lubuk hatinya yang paling dalam. "Tapi bagi aku... kamu adalah satu-satunya rumah tempat aku pulang. Selama aku masih bernapas, tidak ada satu inci pun di dunia ini yang boleh menyakitimu."
Mereka berdua terdiam dalam pelukan hangat yang menenangkan, membiarkan malam Roma merangkkai kenangan indah di antara lembaran kisah cinta mereka yang baru saja menginjak babak kemenangan baru.
📌 Pojok Penulis (Rey Nanda):
Aduh, meleleh banget! Dari ruang sidang tegang langsung dibawa romantis-romantisan makan gelato di depan Colosseum! Gabriel bucinnya bener-bener gak ada tandingannya! 🍦✨