"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"
Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.
Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.
Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.
PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 SANG PUTRI BERNAMA "ASMARA"
Waktu seolah membeku di sudut Alun-alun Utara itu.
Angin panas Jogja yang sedari tadi menerbangkan debu-debu kering mendadak terasa berhenti berhembus.
Wira masih mematung dengan kepalan tangan kanan yang menggantung di udara. Dadanya yang naik-turun memompa adrenalin perlahan mulai kehilangan ritmenya.
Sorot matanya yang tadinya berkilat penuh amarah, kini terkunci pada sosok gadis berseragam SMA Budi Bangsa yang berdiri hanya dua meter darinya.
Gadis itu tidak berteriak. Ia tidak berkacak pinggang layaknya guru kedisiplinan, apalagi melotot seperti Bude Ning.
Ia hanya berdiri di sana, dengan postur tegak yang memancarkan keanggunan alami, kedua tangannya bertaut rapi di depan pinggang.
Kulit kuning langsatnya berpadu kontras dengan rambut hitam lurus yang sesekali tersapu angin.
"LHO... MBAK ASMARA?" suara gerutuan Mas Tarjo, si tukang becak yang sedari tadi siap menerkam Wira, mendadak berubah seratus delapan puluh derajat.
Nada garangnya menguap, digantikan oleh kelembutan dan rasa segan yang luar biasa. Ia segera menurunkan lengan kemejanya yang tadi digulung, lalu mengangguk hormat.
Mbah Karyo yang memegang sapu lidi pun ikut menunduk, wajah tuanya menyiratkan kelegaan. "Nggih, Mbak Asmara. Niki lho, wonten lare nem-neman... dereng ngertos unggah-ungguh," (Iya, Mbak Asmara. Ini lho, ada anak muda... belum ngerti tata krama).
Gadis bernama Asmara itu tersenyum tipis kepada dua pria lokal tersebut. Senyum yang begitu tulus dan meneduhkan. "Mboten nopo-nopo, Mbah Karyo, Pak Tarjo. Kulo mawon ingkang ngobrol kalih Mas-e niki. Nyuwun pangapunten nggih, menowi lore niki damel ribut wonten mriki," (Tidak apa-apa, Mbah Karyo, Pak Tarjo. Biar saya saja yang bicara dengan Mas-nya ini. Mohon maaf ya, kalau anak ini bikin ribut di sini).
Asmara mewakili Wira meminta maaf. Mendengar itu, ego Wira kembali tersentil.
Otaknya yang sempat korslet melihat pesona gadis itu mendadak menyala lagi.
"Heh?! siapa yang nyuruh lo minta maaf buat gue?!" celetuk Wira dengan nada ketus, berusaha menarik kembali topeng begajulannya.
Ia menurunkan kepalan tangannya dan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana, kembali memasang gestur angkuh. "Gue nggak salah! Mereka aja yang ribet gara-gara masalah sampah sama tempat duduk doang!"
Pak Tarjo baru saja akan kembali meledak mendengar kelancangan Wira, namun Asmara mengangkat sebelah tangannya dengan anggun, memberi isyarat agar pria gempal itu menahan diri.
Asmara lalu memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Wira. Ia maju satu langkah.
Untuk sesaat, Wira bersiap menerima omelan. Di Bogor, jika ia berbuat salah, guru-gurunya akan berteriak. Ayahnya akan menggebrak meja. Bude Ning akan melontarkan kalimat-kalimat pedas yang merendahkan. Wira sudah kebal dengan semua itu. Ia tahu cara menangkis amarah. Ia ahli melawan bentakan dengan bentakan yang lebih keras.
Namun, yang terjadi selanjutnya benar-benar meruntuhkan pertahanan Wira.
Asmara menatap kedua mata Wira. Sorot matanya tajam, namun sama sekali tidak memancarkan kebencian. Mata itu justru menatap Wira seolah sedang menatap seorang anak kecil yang tersesat dan kebingungan.
Lalu, gadis itu tersenyum. Bukan senyum sinis atau meremehkan, melainkan senyum maklum yang sangat tenang.
"Mas..." panggil Asmara. Suaranya halus, nyaris terdengar seperti helaian sutra yang jatuh ke lantai, namun artikulasinya sangat jelas dan tegas. Ia menggunakan bahasa Indonesia yang sangat baku, menyadari lawan bicaranya berasal dari luar daerah.
"Saya tidak tahu dari mana Mas berasal. Tapi, bumi yang Mas injak sekarang ini usianya jauh lebih tua dari kesombongan Mas."
Wira tertegun. Kata-katanya tertahan di tenggorokan.
"Mas merasa hebat karena berani menantang orang-orang tua ini berkelahi?" lanjut Asmara, nadanya tetap datar dan tenang. Matanya melirik sekilas ke arah ornamen batu yang sempat diinjak Wira, lalu ke puntung rokok dan plastik es teh yang berserakan di pasir.
"Di tempat kami, keberanian bukan diukur dari seberapa keras Mas berteriak, atau seberapa kuat kepalan tangan Mas. Keberanian sejati adalah ketika seseorang mampu mengalahkan egonya sendiri untuk menghargai hak orang lain." tambah gadis bernama Asmara itu.
"Gue—gue cuma numpang duduk!" Wira mencoba berdalih, namun anehnya, suaranya tak bisa meninggi. Cengkeraman ketenangan gadis ini mencekiknya lebih kuat daripada cekikan fisik mana pun.
"Duduk adalah hakmu Mas..." Asmara membalas dengan lembut.
"Tapi batu berukir ini adalah warisan. Sejarah. Tempat yang dihormati oleh masyarakat kami. Sama seperti rumah Mas, tentu Mas tidak akan suka jika ada tamu tak diundang datang, menginjak-injak perabotan, lalu membuang sampah sembarangan sambil merasa dirinya paling benar."
Wira menggigit bibir bawahnya. Skakmat. Logikanya buntu.
Asmara tidak menggunakan otot, tidak menggunakan nada tinggi, tapi setiap patah katanya langsung menelanjangi kesalahan Wira hingga ia merasa sangat bodoh.
Di dalam dada Wira, terjadi pergolakan yang hebat. Setengah dari dirinya meronta ingin memaki, ingin pergi begitu saja meninggalkan gadis sok suci ini.
Namun, setengah dirinya yang lain—entah dari mana datangnya—merasa takluk. Ia seperti api liar di padang ilalang yang baru saja disiram oleh hujan pertama di bulan Desember. Padam, menyisakan asap penyesalan yang membingungkan.
Asmara menurunkan pandangannya ke arah pasir. "Saya tidak akan memaksa Mas... Tapi jika Mas merasa masih memiliki sedikit saja rasa hormat di dalam diri Mas sebagai seorang laki-laki..." Asmara kembali menatap mata Wira lekat-lekat. "...tolong ambil sampah Mas, dan minta maaflah kepada Mbah Karyo."
Keheningan yang pekat melingkupi mereka berdua.
Angin berhembus, menerbangkan ujung dasi Wira yang longgar.
Pak Tarjo, Mbah Karyo, dan beberapa orang yang menonton menahan napas, menunggu reaksi pemuda tengil yang dari tadi tampak beringas itu.
Wira menatap mata Asmara, mencari setitik saja kelemahan, keraguan, atau ketakutan dari gadis itu. Nihil.
Yang ia temukan hanyalah keteguhan yang tak tertembus.
Perlahan, otot-otot di rahang Wira yang sejak tadi mengeras, mulai mengendur. Kepalan tangannya di dalam saku celana perlahan terbuka.
Pemuda begajulan dari Bogor itu menghela napas panjang, sebuah helaan napas kekalahan.
Dengan gerakan canggung yang disaksikan oleh semua orang, Wira membungkukkan tubuhnya yang tinggi. Tangannya meraih plastik es teh yang lengket, lalu memungut puntung rokoknya dari atas pasir. Ia meremas sampah itu di telapak tangannya.
Tindakan menunduk itu, bagi Wira, rasanya seperti menjatuhkan mahkota kesombongannya tepat di ujung sepatu Asmara.
Wira kemudian menegakkan tubuhnya, beralih menatap Mbah Karyo yang masih berdiri memegang sapu lidi.
"Mbah..." ucap Wira pelan. Ia berdeham, menelan ludah yang terasa seperti kerikil tajam. Ego dan gengsinya meronta, tapi entah kenapa, dorongan dari tatapan Asmara membuatnya menyelesaikan kalimat itu.
"Maaf, Mbah. Saya yang salah. Saya... nggak ngerti aturan di sini."
Mbah Karyo tersenyum lebar hingga gigi-giginya yang tak lagi utuh terlihat. Beliau mengangguk-angguk cepat. "Nggih, Mas. Mboten nopo-nopo. Sing penting sakniki sampun ngertos. Matur nuwun nggih, Mas," (Iya, Mas. Tidak apa-apa. Yang penting sekarang sudah tahu. Terima kasih ya, Mas).
Mas Tarjo ikut mengangguk pelan, meski wajahnya masih terlihat sedikit kaku. "Yo wis. Nek wis ngakoni salah, yo wis rampung perkorone. Ojo diulangi meneh, Mas," (Ya sudah. Kalau sudah mengakui salah, ya sudah selesai urusannya. Jangan diulangi lagi, Mas).
Ketegangan seketika bubar. Orang-orang yang berkerumun mulai membubarkan diri, kembali ke aktivitas masing-masing, seolah pertunjukan teater gratis baru saja berakhir.
Asmara kembali menatap Wira. Kali ini, senyum di bibir gadis itu terlihat sedikit lebih hangat dari sebelumnya.
"Terima kasih, Mas..." ucapnya lembut.
Asmara kemudian melirik sekilas ke arah lambang OSIS yang terpasang di saku kemeja Wira yang tidak dikancingkan dengan benar, lalu menatap celana abu-abunya.
"Hari pertama tahun ajaran baru, dan Mas memilih menghabiskan pagi di Alun-alun dengan seragam yang berantakan," komentar Asmara, nada suaranya berubah sedikit jenaka, namun tetap santun. Ia menunjuk pelan ke arah seragam Wira.
"Saya harap, seragam SMA Budi Bangsa yang Mas pakai itu kelak bukan sekadar kain pembungkus badan yang tidak ada nilainya."
Wira tersentak. Ia baru sadar bahwa sedari tadi ia berhadapan dengan siswi dari sekolah yang sama dengannya. Sekolah yang baru saja ia tinggalkan gerbangnya satu jam yang lalu.
Tanpa menunggu balasan dari Wira, Asmara menundukkan kepalanya sedikit sebagai salam perpisahan yang elegan, membalikkan badannya, dan berjalan pergi meninggalkan pelataran Alun-alun.
Langkahnya tenang, seirama dengan kota ini.
Wira berdiri mematung.
Angin kembali bertiup, membawa samar-samar wangi melati dan cendana yang entah berasal dari mana, tertinggal di udara tempat Asmara berdiri tadi.
Sampah di tangannya terasa lengket, kemejanya berantakan, dan harga dirinya luluh lantak. Namun anehnya, jantung Wira berdetak dengan ritme yang baru.
Bukan ritme kemarahan, melainkan ritme dari sebuah rasa penasaran yang luar biasa gila.
"Sial!" rutuk Wira pelan, memandangi punggung Asmara yang semakin menjauh dan menghilang di balik kerumunan. Pemuda itu mengusap tengkuknya yang berkeringat. "Cewek macam apa tadi itu?"
Di bawah terik matahari Jogja, Si Matahari liar dari Bogor baru saja menyadari bahwa ia telah berhasil ditundukkan oleh kelembutan cahaya Sang Bulan.