Valeska Aurelia punya tiga prinsip hidup: habiskan uang, tabrak aturan, dan jangan pernah dengarkan orang lain.
Sebagai putri tunggal konglomerat ternama, Valeska terbiasa hidup bak ratu yang tak tersentuh hukum. Pesta malam, mobil sport, dan deretan kartu kredit tanpa limit adalah makanan sehari-harinya.
Sampai dalam semalam, sebuah skandal besar menghancurkan bisnis keluarganya. Ayahnya dipenjara, aset disita, dan semua kartu kreditnya diblokir. Valeska yang kemarin dipuja-puja kini terdepak dari istananya dan terpaksa angkat kaki hanya dengan membawa satu koper berisi barang-barang tak berguna.
Dari kamar seluas lapangan basket ke kontrakan sempit yang airnya sering mati, Valeska dipaksa menghadapi kenyataan pahit: dia tidak tahu cara menyapu, kaget melihat harga mi instan, dan harus mencari uang sendiri.
Mampukah si Nona Muda yang ugal-ugalan ini bertahan hidup tanpa uang sepeser pun, atau gengsi setinggi langitnya justru bikin hidupnya makin berantakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02. Valeska vs Jena
Valeska melangkah masuk ke dalam kelas 11 IPA 1 dengan muka terlipat. Mood-nya sudah hancur lebur gara-gara Elang tadi di kantin. Baru saja dia mau menarik kursi di barisannya, sebuah suara penuh nada ejekan menyapa dari meja sebelah.
"Aduh, ada yang baru selesai dihukum nih," ujar Jena, cewek dengan riasan tebal yang dari dulu selalu bersaing sama Valeska di sekolah. Jena mengipas-ngipas hidungnya menggunakan tangan sambil tersenyum remeh. "Aromanya beda ya... Bau matahari campur Keringat Kebanggaan."
Satu kelas yang mendengar celetukan Jena langsung menahan tawa. Valeska menghentikan langkahnya, menoleh lambat-lambat dengan tatapan yang sanggup membunuh orang di tempat.
"Lo ngomong sama gue?" tanya Valeska dingin.
"Yaiyalah, siapa lagi yang habis dijemur di tengah lapangan kayak patung?" Jena terkekeh sinis, menyilangkan kaki dengan gaya sok anggun. "Lagian aneh banget. Ngakunya anak konglomerat, barang-barang branded, tapi kelakuan enggak ada bedanya sama preman pasar. Punya uang banyak tapi enggak punya otak! Masuk sekolah cuma buat bikin malu."
"Jena, mending lo tutup mulut lo sebelum gue yang tutup pakai sepatu gue," ancam Valeska, tangannya sudah mengepal erat di samping badan.
"Kenapa? Tersinggung? Faktanya emang gitu, kan?!" Jena makin melunjak, berdiri melipat tangan di depan dada. "Lo tuh cuma cewek manja yang enggak ada harganya kalau enggak bawa nama Papa lo!"
Brak!
Tanpa basa-basi lagi, Valeska menendang meja Jena sampai bergeser keras. Kebetulan gelas minuman boba milik Jena yang masih setengah terombang-ambing dan tumpah, membasahi seragam rapi milik Jena.
"Bangsat ya lo, Valeska!" pekik Jena histeris melihat bajunya basah kuyup.
"Punya mulut dijaga, Anjing!" bentak Valeska murka.
Jena yang sudah kehilangan kesabaran langsung maju dan memajukan tangannya, menjambak rambut panjang Valeska dengan sekuat tenaga. Valeska meringis kesakitan, tapi dia bukan tipe cewek yang cuma bisa pasrah. Dengan cepat, Valeska membalas menjambak rambut Jena tak kalah keras, lalu menariknya ke bawah.
"Lepasin enggak?!" jerit Jena sambil mencoba mencakar lengan Valeska.
"Lo duluan yang lepasin, Babi!" seru Valeska, makin mengencangkan cengkeramannya di rambut Jena sampai cewek itu terdorong ke belakang.
Suasana kelas langsung pecah. Anak-anak cewek berteriak histeris, sementara anak-anak cowok buru-buru maju buat melerai. Kursi-kursi terdorong berantakan, buku-buku berserakan di lantai, dan adu jambak antara dua cewek paling dominan di kelas itu makin tak terkendali.
"Valeska! Jena! Lepasin nggak?!"
Beberapa siswa cowok akhirnya berhasil menarik tubuh mereka berdua ke arah berlawanan. Rambut Valeska yang tadinya tertata rapi kini acak-acakan, sementara kancing atas seragam Jena sudah terlepas satu. Keduanya masih saling menatap tajam dengan napas terengah-engah, siap saling serang lagi kalau tidak dipegangi.
•••
Lima belas menit kemudian, suasana mendadak hening di dalam ruangan ber-AC yang dingin. Valeska dan Jena duduk berdampingan di sofa kulit cokelat ruang Bimbingan Konseling (BK), dipisahkan jarak satu meter dengan muka sama-sama ditekuk.
Di depan mereka, Bu Retno—guru BK paling senior—mengetuk-ngetuk pulpennya ke atas meja kayu dengan raut wajah serba salah. Di sampingnya, berkas kedisiplinan Valeska sudah setebal kamus.
"Kalian ini sudah kelas sebelas! Berkelahi, jambak-jambakan di dalam kelas sampai meja dan kursi berantakan, mau jadi apa?!" tegur Bu Retno tegas, matanya menatap bergantian ke arah Valeska dan Jena. "Jena, bajumu kenapa basah begitu? Dan Valeska, catatannya pagi ini kamu baru saja dihukum Pak Bambang, sekarang bikin ulah lagi!"
"Dia yang mulai duluan, Bu! Baju saya disiram boba sampai basah kuyup begini!" protes Jena histeris, menunjuk-nunjuk Valeska.
"Mulut lo tuh yang bau, makanya gue bersihin pakai boba!" tembak Valeska tak mau kalah, menyilangkan dada dengan angkuh.
"Valeska, jaga bahasamu!" potong Bu Retno sambil memijat pelipisnya yang mulai pusing. "Pelanggaran kalian berdua sudah berat. Khusus kamu, Valeska, Poin kedisiplinanmu sudah hampir menyentuh batas maksimal. Harusnya hari ini Ibu kirim surat panggilan orang tua ke Papa kamu."
Mendengar kata surat panggilan orang tua, Valeska mendesis pelan. Bukan karena takut dimarahi Papanya—Papanya pasti bakal membela Valeska mati-matian—tapi dia cuma malas mendengar ceramah panjang soal reputasi keluarga jika Papanya sampai harus turun tangan ke sekolah cuma gara-gara masalah sepele seperti Jena.
"Aduh Bu Retno yang cantik..." Valeska mendadak mengubah nada suaranya, memasang raut muka memelas yang dibuat-buat walau tatapannya tetap penuh gengsi. "Jangan Papa saya dong. Papa saya kan sibuk banget urus bisnis. Nanti kalau beliau ke sini, kasihan Bu Retno pusing melayani jajaran pengawal dan pengacara Papa."
Bu Retno menghela napas panjang. Beliau tahu betul siapa Papa Valeska dan seberapa besar pengaruh keluarga Aurelia di sekolah ini. Memanggil Papa Valeska cuma akan memicu urusan panjang yang makin rumit.
"Ibu tidak memanggil orang tua kalian kali ini," kata Bu Retno akhirnya, membuat Valeska bernapas lega dalam hati. "Tapi ada syaratnya! Poin kalian tetap Ibu potong. Dan sebagai hukumannya, kalian berdua wajib membersihkan perpustakaan sekolah sampai rapi setelah jam pulang sekolah nanti. Tidak ada protes!"
Jena cemberut berat, sementara Valeska cuma memutar bola matanya malas. Bagi Valeska, setidaknya dia tidak perlu berurusan dengan Papanya hari ini—walaupun bayangan harus membersihkan perpustakaan bersama Jena sukses bikin kepalanya makin pusing.
***
Pintu perpustakaan yang berat terdorong pelan. Bau kertas tua dan aroma pendingin ruangan langsung menyambut Valeska dan Jena. Kondisi perpustakaan sedang sepi, hanya ada beberapa deretan rak tinggi yang berdebu di bagian belakang.
"Gara-gara mulut sampah lo, gue jadi harus terdampar di tempat kumuh gini!" sungut Valeska begitu pintu tertutup, melemparkan kemoceng ke atas meja dengan kasar.
Jena menyilangkan dada, menatap Valeska dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan. "Mulut gue? Lo yang emosian kayak kesetanan! Punya otak tuh dipakai, bukannya cuma dipajang doang!"
"Lo ngomong sekali lagi, gue jejat kemoceng ini ke muka lo ya, Jen!" bentak Valeska sambil memajukan tubuhnya, matanya melotot tajam.
"Coba aja kalau berani! Gue aduin ke Bu Retno biar lo langsung D.O!" balas Jena tak mau kalah, melangkah maju hingga jarak wajah mereka tinggal sejengkal.
Klek.
Suara gagang pintu perpustakaan berputar pelan. Langkah kaki Bu Retno terdengar memasuki ruangan untuk mengecek hukuman mereka.
Dalam hitungan milidetik, kilatan permusuhan di wajah Valeska dan Jena langsung lenyap tanpa bekas. Valeska refleks merangkul bahu Jena dengan sangat erat—hampir memiting leher cewek itu—sementara Jena memaksakan senyum paling manis yang pernah ada di mukanya.
"Eh, Bu Retno!" panggil Valeska dengan nada suara super lembut dan ramah, tangannya meremas bahu Jena sampai cewek di sampingnya itu menahan ringisan sakit. "Iya nih, Bu, kita lagi saling bantu. Soalnya Jena kan agak telat mikirnya, jadi saya bantu jelasin cara menyapu yang benar."
Jena mengepalkan tangannya kuat-kuat di samping badan, matanya menatap Valeska dengan senyum manis yang dipaksakan.
"Iya betul banget, Bu Retno," timpal Jena dengan nada suara yang mendayu-dayu, sambil menepuk-nepuk pipi Valeska dengan agak kencang. "Valeska baik banget mau ngajarin. Padahal kasihan, mukanya udah kelihatan kusam banget gara-gara kepanasan dijemur tadi pagi. Nanti aku beliin krim pemutih ya, Val, biar enggak kelihatan kusam-kusam amat."
Bu Retno berdiri di dekat pintu, menatap kedua muridnya dengan sebelah alis terangkat, agak heran melihat perubahan drastis dalam sekejap.
"Bagus kalau kalian sudah sadar dan mau akur," kata Bu Retno penuh selidik. "Ibu cuma mau pastikan tidak ada adu fisik lagi. Selesaikan tugas kalian dengan baik, setengah jam lagi Ibu kembali."
"Baik, Bu Retno sayang!" sahut Valeska dan Jena bersamaan dengan nada kelewat manis.
Begitu pintu perpustakaan kembali tertutup rapat dan langkah Bu Retno menjauh, Valeska langsung mendorong tubuh Jena sampai cewek itu terhuyung ke belakang.
"Najis banget dirangkul sama lo," ketus Valeska sambil mengibas-ibaskan tangannya, seolah baru saja menyentuh kotoran.
"Lo pikir gue sudi dirangkul sama cewek bau matahari kayak lo?!" semprot Jena sambil mengusap-usap bahunya yang ngilu.
Walau masih saling lempar tatapan membunuh dan saling sindir dengan suara berbisik, keduanya akhirnya memilih sibuk sendiri-sendiri daripada berisik dan bikin Bu Retno balik lagi.