Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."
Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.
Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.
sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Rantang Makan Siang dan Gengsi Tuan Muda
Matahari tepat berada di atas kepala saat jam menunjukkan pukul dua belas siang. Udara di Ladang Timur kini terasa bagai panggangan raksasa yang membakar kulit. Arkan berdiri bertumpu pada gagang cangkulnya dengan napas yang memburu dan terengah-engah. Kaus oblong putih pinjamannya sudah berubah warna menjadi cokelat penuh noda lumpur basah dan keringat yang mengucur deras.
Telapak tangan Arkan yang biasanya halus kini terasa perih luar biasa. Ketika ia membuka genggamannya, tampak beberapa bagian kulit di dekat jari-jarinya sudah memerah dan mulai melepuh akibat gesekan kasar dengan gagang kayu cangkul sepanjang pagi. Pinggang dan punggung pria itu rasanya mau patah. Sepanjang hidupnya, Arkan tidak pernah membayangkan bahwa mencari sesuap nasi bisa sesakit dan sekotor ini.
"Sudah siang. Kita istirahat dulu di gubuk," suara Pak Barkah memecah keheningan. Pria paruh baya itu tampak jauh lebih segar, seolah kerja fisik di bawah terik matahari ekstrem ini hanyalah latihan ringan baginya. Pak Barkah melangkah naik ke pematang sawah, membersihkan kakinya sekilas di aliran air parit yang jernih, lalu berjalan menuju sebuah gubuk bambu kecil di tepi ladang.
Arkan menarik napas panjang yang terasa berat di dadanya. Dengan bersusah payah, ia menyeret kakinya keluar dari isapan lumpur sawah yang tebal. Setiap langkah terasa seperti mengangkat beban puluhan kilogram. Setelah berhasil naik ke pematang yang kering, Arkan langsung menjatuhkan dirinya duduk di lantai bambu gubuk dengan posisi menyandar kasar. Kepala pria kota itu terasa pening dan tenggorokannya kering kerontang.
"Ini, bersihkan dulu mukamu," Pak Barkah melempar sebuah sarung tua yang bersih ke pangkuan Arkan untuk menyeka sisa lumpur di wajah tampannya yang mulai mengering.
Belum sempat Arkan menyeka wajahnya secara menyeluruh, dari arah jalan setapak yang teduh di bawah pohon-pohon mangga, sesosok gadis muda tampak berjalan mendekat. Gadis itu menjinjing sebuah rantang seng tingkat tiga di tangan kanannya. Itu Nayla. Langkah kakinya tampak ringan dan santai, bertolak belakang dengan kondisi fisik Arkan yang sudah seperti seonggok baju kotor terbuang.
Nayla menghentikan langkahnya tepat di depan gubuk bambu. Sepasang matanya langsung tertuju pada Arkan. Sudut bibir gadis itu seketika berkedut, menahan tawa yang hampir meledak melihat penampilan sang Tuan Muda Jakarta yang kini sudah tidak ada keren-kerennya sama sekali. Wajah Arkan cemong oleh sisa lumpur, rambut klimisnya acak-acakan penuh debu, dan kaus putihnya sudah hancur dipenuhi noda cokelat.
"Wah, Pak Barkah ternyata hebat juga asisten baru-Nya hari ini? Saya kira tadi ada maskot lumpur desa yang sedang tersesat di gubuk," sindir Nayla dengan nada suara jernihnya yang sengaja dibuat polos namun sangat menusuk telinga.
Arkan yang sedang memejamkan mata langsung membuka kelopak matanya dengan sentakan tajam. Rahangnya mengeras melihat kedatangan cewek desa menyebalkan itu. "Kamu kalau datang ke sini cuma untuk memancing emosi saya, lebih baik pergi saja. Saya sedang tidak punya tenaga untuk meladeni ocehan tidak bermutumu," balas Arkan dengan suara berat yang serak menahan amarah dan rasa lelah.
Nayla mendengus pelan, menaruh rantang seng di atas lantai bambu dengan pelan. Ia duduk di sudut gubuk, membuka pengait rantang tersebut hingga aroma harum semur ayam kampung dan sayur asem segar langsung menyeruak keluar, mengusik cacing-cacing di dalam perut Arkan yang mulai berdemo kelaparan.
"Siapa juga yang mau memancing emosimu. Saya ke sini karena disuruh Pak Barkah mengantarkan makan siang untuk orang yang... katanya terpaksa bekerja keras hari ini," jawab Nayla acuh tak acuh, memberikan satu piring nasi dengan lauk lengkap kepada Pak Barkah.
Pak Barkah menerimanya dengan senang hati. "Terima kasih, Nayla. Kebetulan petak timur sudah hampir selesai diratakan. Arkan ternyata tenaganya lumayan juga, meskipun teknik mencangkulnya masih berantakan seperti orang mau mengajak perang," ujar Pak Barkah diiringi tawa renyah.
Nayla kemudian mengambil piring kedua, mengisinya dengan nasi hangat dan semur ayam, lalu menyodorkannya ke arah Arkan. "Ini bagianmu, Pria Kota. Makanlah. Jangan sampai nanti sore kamu pingsan di jalan lalu menyusahkan Pak Barkah untuk menggendongmu pulang."
Arkan menatap piring yang disodorkan Nayla dengan tatapan penuh gengsi. Di Jakarta, ia biasa makan di restoran mewah dengan pelayanan kelas satu, bukan makan di atas gubuk bambu terbuka dengan piring seng sederhana berlatar pemandangan sawah berlumpur. Ego dan keangkuhannya berteriak menolak untuk menerima kebaikan dari gadis yang telah mengejeknya berulang kali.
"Saya tidak lapar," bohong Arkan ketus, memalingkan wajahnya ke arah lain dengan gaya angkuh yang dipaksakan.
Kruuukkk...
Sialan. Perut Arkan mendadak berkhianat di waktu yang paling tidak tepat. Suara keroncongan yang cukup nyaring itu terdengar dengan sangat jelas di dalam gubuk bambu yang sunyi, mematahkan kebohongannya dalam sekejap mata.
Nayla menaikkan satu alisnya, menatap perut Arkan lalu menatap wajah tampan pria itu yang kini mendadak berubah menjadi merah padam karena malu yang luar biasa untuk kesekian kalinya hari itu. Nayla meletakkan piring nasi itu tepat di depan lutut Arkan dengan suara ketukan pelan.
"Gengsimu itu tidak akan bisa membuat perutmu kenyang, Arkananta," ucap Nayla dengan nada suara yang melembut namun tetap tegas. Gadis itu menatap telapak tangan Arkan yang sengaja disembunyikan di balik paha, namun ia sempat melihat warna merah melepuh di kulit halus pria kota itu. "Dan kalau tanganmu sudah perih begitu, jangan sok kuat menolak makanan. Di desa ini, kami menghargai makanan karena tahu bagaimana susahnya memeras keringat di ladang. Kalau kamu membuangnya, kamu sama saja menghina kerja keras Pak Barkah."
Arkan tertegun mendengar kalimat itu. Kata-kata Nayla tidak lagi terdengar seperti sindiran tajam, melainkan sebuah teguran nyata yang langsung menampar logika berpikirnya. Pria itu menatap piring nasi di depannya perlahan. Rasa lapar yang teramat sangat akhirnya mengalahkan ego setinggi langitnya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar karena ototnya yang lelah dan perih, Arkan meraih piring seng tersebut. Ia menyendok nasi dan lauk itu ke dalam mulutnya. Begitu kunyahan pertama masuk ke tenggorokan, mata Arkan sedikit melebar. Masakan pedesaan yang sederhana ini rasanya benar-benar luar biasa lezat, atau mungkin karena tubuhnya yang benar-benar kelelahan membuat segalanya terasa dua kali lipat lebih nikmat. Arkan makan dengan lahap dalam diam, mengabaikan tatapan mata Nayla yang terus memperhatikannya dari sudut gubuk.
Nayla yang melihat Tuan Muda sombong itu akhirnya mau makan dengan lahap diam-diam menyembunyikan senyuman tipis di wajahnya. Ada rasa kepuasan tersendiri melihat dinding keangkuhan pria metropolitan itu perlahan mulai retak oleh realitas kehidupan desa yang bersahaja.
"Habiskan makanmu," ucap Nayla sambil berdiri dari duduknya dan merapikan tas anyamannya. Ia menatap Pak Barkah. "Pak Barkah, Nayla tunggu di persimpangan jalan dekat pohon beringin ya. Nanti siang setelah selesai, biar Arkan berjalan pulang bareng Nayla sesuai rencana."
"Iya, Nayla. Sebentar lagi kami selesai. Hati-hati di jalan," balas Pak Barkah sambil mengangguk.
Arkan tetap diam mengunyah makanannya, menolak menatap kepergian Nayla. Namun di dalam hatinya, getaran kejengkelan yang aneh mulai bercampur dengan rasa penasaran yang tidak ia pahami terhadap sosok gadis desa lulusan sarjana yang bernama Nayla Rahmadania itu.