NovelToon NovelToon
Gulungan Dewa Naga 2

Gulungan Dewa Naga 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Season kedua ini akan berfokus pada persiapan Yang Zhen dalam menghadapi ancaman invasi skala penuh dari Sekte Pedang Langit ibu kota yang berniat merebut energi Jiwa Iblis Darah Kuno.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Wush.

Angin malam yang dingin telah berlalu, digantikan oleh semburat cahaya fajar yang menyingsing di ufuk timur.

Di kedalaman ruang bawah tanah Istana Kota Awan Merah, suhu udara justru terasa semakin membakar layaknya berada di dalam perut gunung berapi.

Yang Zhen duduk bersila di tengah ruangan bundar itu, tepat beberapa langkah dari tepi kolam darah yang masih mendidih.

Bloop bloop.

Asap tipis mengepul dari seluruh permukaan kulit pemuda itu, menandakan suhu tubuhnya yang sangat tidak wajar.

Di dalam Dantiannya, energi murni yang berhasil diekstraksi dari darah iblis itu terus bergejolak dan mencoba memberontak.

Ngiing.

Suara resonansi energi terdengar memekakkan telinga setiap kali Yang Zhen memampatkan fluktuasi liar tersebut menggunakan elemen tanah.

"Hawa panas ini benar-benar menjengkelkan," gumam Yang Zhen dengan mata terpejam dan alis berkerut.

"Energi iblis ini memiliki memori kebencian yang mencoba meracuni akal sehatku."

Di sudut ruangan, golem baja Leluhur Ye berdiri mematung sambil terus memantau stabilitas sirkuit penyaring di langit-langit.

Kriet.

"Tentu saja energi itu memberontak, Tuan," ucap Leluhur Ye dengan nada yang dipenuhi oleh kehati-hatian.

"Anda tidak memurnikan auranya melalui meditasi bertahun-tahun seperti kultivator normal."

Sisa jiwa kuno itu menggelengkan kepala logamnya.

"Anda memaksanya tunduk dengan menekan dan memenjarakannya di dalam ruang hampa."

Yang Zhen membuka matanya yang kini berwarna merah keemasan dan mendengus pelan.

"Meditasi selama puluhan tahun adalah kegiatan bodoh bagi orang tua yang tidak memiliki ambisi," balas Yang Zhen dengan sangat arogan.

Pemuda itu mengangkat tangan kanannya ke depan dada dan membuka telapak tangannya perlahan.

Syuut.

Sebuah bola gravitasi transparan terbentuk di atas telapak tangannya.

Namun, bola gravitasi kali ini tidak hanya menyedot udara, tetapi juga memancarkan kilatan petir berwarna merah darah di sekelilingnya.

Krak krak.

Setiap kali petir merah itu menyambar, batu giok di lantai ruangan tersebut langsung retak dan meleleh menjadi cairan.

Ini adalah manifestasi dari penggabungan kekuatan Sub Bending Gravitasi miliknya dengan energi absolut dari iblis prasejarah.

Leluhur Ye mundur selangkah melihat fenomena yang sangat merusak tersebut.

"I-ini gila. Tuan telah berhasil memadukan hukum gravitasi dengan elemen perusak dari iblis itu," gumam sang golem dengan suara logam yang bergetar kagum.

Yang Zhen mengepalkan tangannya dan bola mematikan itu langsung lenyap ke dalam ketiadaan.

Wush.

"Kekuatan ini sudah cukup untuk menyambut tamu kita pagi ini," ucap Yang Zhen berdiri dari posisi silanya.

Pemuda itu merenggangkan otot-ototnya hingga terdengar suara tulang yang berderak keras.

Krak krak krak.

"Pelayan Ye, matikan sirkuit penyaringnya. Proses ekstraksi tahap pertama sudah selesai," perintah Yang Zhen mengambil jubah putihnya yang dilipat di atas batu.

Leluhur Ye segera memukul dinding batu dengan tangan bajanya untuk memutus aliran energi.

Trak.

Tiga lapis formasi berwarna biru di langit-langit langsung padam seketika.

Yang Zhen mengenakan jubah putihnya dan berjalan santai menuju tangga untuk kembali ke permukaan.

"Jangan lupa untuk mengunci pintu perunggu raksasa itu rapat-rapat, Pelayan Ye," pesan Yang Zhen tanpa menoleh ke belakang.

"Aku tidak ingin monster di bawah sana bangun sebelum jadwal sarapanku berikutnya."

Di pelataran depan istana, fajar telah sepenuhnya menyinari Kota Awan Merah.

Su Lin, Mulan, dan Wang Hao telah berdiri bersiap di balik gerbang utama yang tertutup rapat.

Puluhan penjaga Asosiasi Alkemis juga disiagakan di atas tembok istana dengan anak panah baja yang telah ditarik penuh.

Suasana pagi itu sangat tegang, seolah udara sendiri enggan untuk berhembus.

Tap tap tap.

Yang Zhen berjalan keluar dari aula utama dan bergabung dengan kelompoknya di pelataran.

"Selamat pagi, Yang Zhen," sapa Su Lin menyadari ada perubahan drastis pada aura suaminya.

Gadis berambut biru itu bisa merasakan suhu udara di sekitar Yang Zhen terasa jauh lebih panas dari biasanya, bertolak belakang dengan elemen es miliknya.

"Kau berhasil menstabilkan energi liarnya?" tanya Su Lin dengan nada lega.

Yang Zhen menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis.

"Sepenuhnya terkendali, Istriku. Sekarang aku hanya butuh tempat untuk melepaskan sisa hawa panasnya," jawab Yang Zhen meretakkan buku-buku jarinya.

Wang Hao menyeringai lebar dan menunjuk ke arah jalanan di luar gerbang istana.

"Tamu yang tepat untuk membantumu melepaskan hawa panas itu sudah tiba di depan pintu, Bos," lapor pemuda botak itu.

Tepat setelah Wang Hao mengucapkan hal tersebut, suara benturan yang sangat memekakkan telinga meledak dari arah luar.

Bum.

Pintu gerbang besi raksasa Istana Penguasa Kota itu langsung hancur terpental ke dalam pelataran.

Serpihan besi berhamburan ke udara layaknya peluru nyasar, memaksa para penjaga di atas tembok untuk berlindung.

Srak srak.

Dari balik debu reruntuhan gerbang, seorang pria bertubuh sangat kekar melangkah masuk dengan sangat arogan.

Pria itu mengenakan zirah besi berwarna merah menyala dan membawa sebuah tombak raksasa di punggungnya.

"Aku adalah Zhao Lei, Jenderal Pelopor dari Sekte Pedang Langit yang agung!" teriak pria itu dengan suara yang menggetarkan kaca-kaca jendela.

Aura dari petarung Tahap Langit tingkat puncak langsung menyapu seluruh pelataran istana bagaikan badai yang tidak terlihat.

Banyak penjaga Asosiasi Alkemis yang langsung jatuh terduduk memuntahkan darah akibat tidak kuat menahan tekanan absolut tersebut.

Uhuk uhuk.

"Tikus mana yang bernama Yang Zhen?! Keluar dan sujudlah di depan kakiku sekarang juga!" tantang Jenderal Zhao dengan sombongnya.

Namun, Yang Zhen dan kelompok kecilnya tetap berdiri tegak tanpa terpengaruh sedikit pun oleh tekanan spiritual itu.

Yang Zhen berjalan maju dua langkah dengan kedua tangan terselip santai di dalam saku jubahnya.

"Kau menghancurkan gerbang rumahku yang baru saja dicat ulang minggu lalu," sapa Yang Zhen dengan nada sangat dingin.

Pemuda itu memiringkan kepalanya dan menatap sang jenderal layaknya melihat tumpukan sampah yang bisa berbicara.

"Apakah anjing penjaga dari ibu kota memang tidak diajari cara mengetuk pintu dengan sopan?"

Hinaan telak itu langsung membuat wajah Jenderal Zhao memerah padam menahan amarah yang meledak-ledak.

"Bocah sombong! Beraninya kau memanggil jenderal ibu kota dengan sebutan anjing penjaga!" raung sang jenderal.

Jenderal Zhao langsung meraih tombak raksasanya dan mengarahkannya lurus ke dada Yang Zhen.

Sring.

"Master Sekte memberiku perintah untuk tidak membunuhmu, tapi dia tidak bilang aku tidak boleh mematahkan kedua kakimu!" ancam pria kekar tersebut.

Jenderal Zhao menatap sekilas ke sekeliling pelataran istana yang sepi.

"Di mana formasi rongsokan yang menembakkan besi tua itu?" ejek sang jenderal tertawa meremehkan.

"Aktifkan sekarang agar aku bisa menghancurkannya di depan matamu!"

Yang Zhen tidak repot-repot memanggil Leluhur Ye untuk mengaktifkan formasi di pelataran.

Pemuda itu hanya tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya.

Hahaha.

"Formasi besi tua itu hanya kuperuntukkan bagi kecoa-kecoa rendahan dari sekte kalian," jawab Yang Zhen dengan sombongnya.

"Untuk seekor anjing pelopor sepertimu, aku sendiri yang akan memberikan hukuman disiplin."

Mendengar tantangan langsung dari pemuda yang hanya berada di Tahap Inti Emas tersebut, Jenderal Zhao tertawa terbahak-bahak.

"Kau? Melawanku sendirian tanpa bantuan formasi atau pun artefak?" remeh sang jenderal tidak percaya.

"Ini adalah lelucon paling lucu yang pernah kudengar sepanjang hidupku!"

Jenderal Zhao langsung melesat maju dengan kecepatan kilat, meninggalkan jejak tanah yang terbakar di setiap pijakannya.

Wush.

Tombak raksasanya diayunkan dengan kekuatan membelah gunung, mengarah tepat ke bahu kanan Yang Zhen untuk melumpuhkannya.

Namun, Yang Zhen bahkan tidak berkedip atau pun mencoba menghindar dari ayunan mematikan tersebut.

Pemuda itu hanya mengeluarkan tangan kanannya dari saku dan menjentikkan jarinya dengan sangat ringan.

Trak.

Syuut.

Tekanan gravitasi absolut meledak dari bawah tanah, tepat menargetkan tubuh raksasa sang jenderal.

Gaya tarik bumi di titik itu langsung dilipatgandakan menjadi seribu kali lebih berat dari batas normal.

"Matilah kau, Bocah!" teriak Jenderal Zhao masih sangat yakin dengan kemenangannya.

Pria itu merogoh sesuatu di balik zirahnya dengan tangan kirinya dan menyentuh batu keemasan yang diberikan oleh Master Sektenya.

Sring.

Artefak Penolak Massa itu langsung memancarkan cahaya terang, menetralkan seluruh tekanan gravitasi buatan Yang Zhen di sekitar tubuh sang jenderal.

"Hahaha! Gravitasi sihirmu tidak akan berguna melawanku!" ejek Jenderal Zhao saat merasakan tubuhnya kembali ringan.

Ayunan tombaknya terus melaju tanpa hambatan sedikit pun, tinggal beberapa inci lagi dari bahu Yang Zhen.

Namun, senyum iblis di wajah pemuda berpakaian putih itu justru semakin melebar.

"Kau pikir aku menggunakan gravitasi untuk menekan tubuh bodohmu itu?" bisik Yang Zhen dengan suara yang sangat rendah.

Tiba-tiba, arah gravitasi yang dinetralkan oleh artefak itu berbalik memusat ke satu titik di ujung tombak sang jenderal.

Krak.

Bukan tubuhnya yang ditarik, melainkan ruang kosong di sekitar ujung tombak itu yang dimampatkan hingga membentuk sebuah titik singularitas berwarna merah darah.

Ujung tombak baja yang sangat keras itu langsung tersedot masuk ke dalam ruang hampa dan hancur lebur menjadi debu halus dalam sekejap mata.

Prang.

Jenderal Zhao ternganga lebar saat melihat senjata pusaka kebanggaannya lenyap tertelan ketiadaan absolut.

Ini bukanlah formasi atau pun ilmu gravitasi biasa, ini adalah wujud nyata dari penghancuran hukum alam yang sesungguhnya.

1
mbono keling
💪👍💪👍💪👍💪💪
Predi Siswanto
agak membosan kan sampai sekarang cuman berkutat disatu kota
DD
kok diulang Thor 😅
iwakali
RoboCop
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Clink 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Waooow jlebz 🔥🌽
Yan Panungkek
lanjutkan karyanya author kami tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!