Setelah 8 tahun, Dara bertemu lagi dengan Luth, mantan pacarnya saat SMA yang dulu koma karenanya. Bukan hanya fisik sang mantan yang berubah jadi tampan, tapi ternyata, Luth juga tak mengenalinya.
"Kamu benar-benar tidak mengenaliku?" Dara menatap tak percaya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Luth terlihat bingung.
Dara semakin merasa bersalah, karena kemungkinan Luth hilang ingatan karena benturan keras yang sampai membuat dia koma 8 tahun lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Dara tampak ragu. Tiba-tiba ia teringat ucapan Elang agar tak berurusan lagi dengan Luth. Tapi...sudut hatinya merasa tak rela jika Luth diselingkuhi seperti ini. Luth pantas mendapatkan perempuan yang baik, perempuan yang mencintainya seperti ia mencintai wanita itu.
Luth rela mengeluarkan uang ratusan juga untuk membelikan hadiah ulang tahun Valerie. Sementara Valerie malah selingkuh, sesuatu yang sangat bertolak belakang. Ia akan merasa bersalah jika tak mengatakan ini pada Luth.
"Apa yang ingin kamu tunjukkan?" Luth menatap Dara yang melamun.
"E...lebih baik di ruangan Bapak saja."
"Terserah kamu."
Luth membuka pintu ruangan lalu masuk, meletakkan tas di atas meja dan duduk di kursi kerjanya.
Dara menyusul masuk, di tangannya ada HP yang berisi rekaman Valerie kemarin. Ia menutup pintu lalu mendekat ke arah Luth.
"Apa yang ingin kamu tunjukkan?" Luth menatap Dara yang gelisah.
Dara menyalakan layar ponselnya, mencari video kemarin, lalu menyodorkan ponsel tersebut pada Luth.
"Bapak lihat sendiri. Saya tak sengaja melihatnya kemarin pas pulang kerja."
Luth memutar video tersebut. Keningnya tampak mengernyit. Ia sampai mengulang 3 kali menonton video berdurasi 10 detik tersebut.
"Video apa ini? Siapa orang di video ini?"
"Valerie. Wanita yang dibonceng laki-laki itu adalah Valerie."
Luth menatap Dara. "Valerie?"
"Iya, Valerie."
Dalam video tersebut, wajah Valerie memang tidak terlihat karena tertutup pria di depannya. Tapi Dara tahu itu Valerie, ia melihat wajahnya sebelum sempat mengambil video.
"Saya sempat melihat wajahnya dengan jelas. Pakaian yang dipakai wanita dalam video itu, juga sama dengan pakaian yang dipakai Valerie kemarin saat kesini. Valerie terlihat mesra sekali dengan laki-laki itu," lanjut Dara. "Ia memeluknya. Keduanya saling tertawa bersama. Bahkan saya melihat sendiri, laki-laki itu mengusap paha Valerie."
Luth membuang nafas kasar sambil meletakkan ponsel ke atas meja.
"Jadi menurut kamu, Valerie selingkuh?"
Dara mengangguk cepat.
"Kamu kenapa sih, Ra, benci banget sama Valerie? Kenapa kamu selalu cari masalah sama dia?"
"Maksudnya?" Dara mengernyit.
Luth tersenyum miring. "Apa mau kamu dengan memfitnah Valerie seperti ini?"
"Fitnah?" Dara hampir saja teriak saking kagetnya dengan tanggapan Luth.
"Wanita dalam video tersebut tak kelihatan wajahnya, dan kamu langsung bilang itu Valerie." Luth tersenyum sambil geleng-geleng. "Saya sungguh tak habis fikir, bagaimana bisa kamu melakukan hal seperti ini hanya untuk menjatuhkan seseorang."
Dara mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. Ia tersenyum sekaligus pengen nangis. Sumpah, bagaimana bisa Luth sesantai ini menanggapi. Kenapa tidak mencari tahu dulu, tapi malah menuduhnya yang macam-macam? Sial! Kenapa malah dia yang kena?
"Valerie bilang, kamu ingin merebut saya darinya." Luth berdiri, melangkah mendekati Dara. "Awalnya saya tak percaya, karena menurut saya, kamu wanita baik-baik. Tapi setelah apa yang kamu lakukan hari ini, saya jadi mikir. Sepertinya yang dikatakan Valerie benar."
Dara tertawa. Iya, dia tertawa seperti orang gila. Harusnya tadi ia tak perlu menujukan video tersebut pada orang bodoh macam Luth yang saat jatuh cinta selalu bucin dan buta.
"Kenapa kamu tertawa seperti itu, ada yang lucu?" Ekspresi Luth seperti tersinggung.
"Kamu yang lucu Luth." Dara tak lagi memakai bahasa formal karena merasa sudah tak penting lagi. Ia menatap Luth sambil tersenyum mengejek. "Gak dulu, gak sekarang, selalu seperti ini. Setiap kali jatuh cinta dan pacaran, selalu bucin, selalu bego. Mata kamu buta, sampai gak bisa lihat kalau sedang diselingkuhin."
"Dulu?" Luth mengernyit. "Apa maksud kamu dulu?"
Dara seketika panik saat sadar sudah keceplosan.
"Apa maksud kamu selalu seperti ini? Bukankah kamu bilang saya gak punya pacar dulu? Valerie cinta pertama saya. Apa maksud dari ucapan kamu?"
Dara semakin panik saat ekspresi Luth terlihat sangat serius.
"Aku cuma asal ngomong." Dara mengambil ponselnya di atas meja. "Permisi."
"Tunggu!"
Dara kaget saat Luth tiba-tiba mencekal pergelangan tangannya.
"Jelaskan padaku, apa maksud kalimatmu tadi?" Luth menatap Dara tajam.
"Aku hanya salah ngomong." Dara menarik lengannya, tapi Luth tak mau melepaskan. "Pak, lepas!" Ia melotot, tangannya sampai panas karena cengkraman kuat Luth.
"Jelaskan sama saya!" Suara Luth begitu dingin namun sangat menusuk. "Katakan Dara! Apa yang tidak saya tahu di masa lalu!" Ia bersumpah tak akan melepaskan Dara sampai wanita itu memengaku
"Saya cuma asal ngomong." Dara terus berusaha melepaskan tangannya.
"Bohong! Ekspresi wajah kamu, tak seperti orang yang sedang bercanda. Katakan, apa maksud kamu dengan dulu?"
"Lepasin!" Dara masih berusaha menarik lengannya.
"KATAKAN!" bentak Luth.
Sebelah telapak tangan Dara mengepal. Emosinya naik gara-gara bentakan Luth barusan.
"Iya, dulu kamu punya pacar." Dara balas menatap tak kalah tajam.
Luth menyeringai tipis. "Jadi benar, dulu aku punya pacar?"
Dara hanya tersenyum tipis.
"Siapa pacarku dulu?"
Dara tak segera memjawab.
"JAWAB!" sekali lagi Luth membentak tepat di depan wajah Dara.
"Aku!" Akhirnya Dara mengaku lantang di depan Luth. Ia sudah tak peduli lagi jika nanti Luth akan mengorek masa lalu dan akhirnya tahu jika dia koma bukan karena jatuh dari lantai tiga, melainkan karena dihajar Diego dan teman-temannya. "Aku pacar kamu dulu."
"Apa maksud kamu?" Rahang Luth mengeras, nafasnya naik turun. Ia makin mengeratkan cengkeraman tangannya.
"Lepas!" teriak Dara sambil menarik tangannya. Tapi Luth seperti tuli, tak mau melepas tangannya. "Sakit!"
Luth akhirnya melepaskan pergelangan tangan Dara.
Dara bernafas lega, menatap pergelangan tanganya yang memerah dan terasa panas.
"Jelaskan!" Tekan Luth dengan suara rendahnya tatapan penuh intimidasi. "Jelaskan semuanya padaku!" Ia ingin tahu sampai dimana Dara akan jujur.
"Dulu kita pacaran, tapi aku menduakan kamu. Puas kamu!" Dara segera keluar setelah mengatakan itu.
"Dara tunggu!" teriak Luth. "Jelaskan kenapa kemarin kamu bohong, bilang kita gak ada hubungan."
Dara tak memperdulikan ucapan Luth, ia membuka pintu lalu keluar.