NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Pewaris Dingin

Istri Kontrak Sang Pewaris Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Konflik etika / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fabdul

​Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Aira Kirana terpaksa menerima tawaran nikah kontrak dari Devan Mahendra. CEO dingin yang membutuhkan istri formalitas demi posisinya di Mahendra Group. Bagi Devan, Aira hanyalah transaksi yang bisa dibeli dengan uang.

​Namun, Aira menolak tunduk. Di tengah intrik dan hinaan keluarga Mahendra, ia berdiri tegap mempertahankan harga diri dan ketulusannya sebagai perajin tenun.

​Saat benih kepedulian Devan mulai tumbuh, bayang-bayang masa lalu bernama Clara kembali hadir, membawa ujian baru bagi hubungan mereka.

​Mampukah Devan meruntuhkan egonya demi mempertahankan Aira? Ataukah Aira memilih pergi, membuktikan bahwa ketulusan tak pernah bisa dibeli?

​Sebuah kisah tentang harga diri, penyesalan suami, dan kekuatan ketulusan yang meluluhkan hati yang beku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fabdul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kunjungan dan Persiapan

Setelah menyelesaikan sarapannya, Aira mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Ia kemudian menghubungi Ratih untuk menanyakan kabar mereka.

Panggilan itu tidak berlangsung lama. Aira memastikan adik-adiknya baik-baik saja sekaligus menanyakan kondisi ibu mereka. Ratih mengatakan bahwa kondisi ibu mereka stabil berdasarkan informasi dari perawat. Aira kemudian memberi tahu bahwa ia akan menjenguk ibu mereka hari itu. Ratih ingin ikut, tetapi belum bisa meninggalkan sekolah dan kedua adik mereka di rumah.

Selesai menelepon, Aira menghubungi Arga untuk mengatur kunjungannya ke rumah sakit.

Tidak lama kemudian, Arga menghubunginya kembali untuk memastikan jadwal keberangkatan.

"Nona Aira, saya sudah mengatur kendaraan untuk perjalanan ke Bantul. Jika tidak ada keperluan lain, kita bisa berangkat pagi ini."

"Baik, Pak Arga. Terima kasih sudah membantu."

"Sama-sama, Nona. Saya akan menunggu di lobi."

Setelah mengakhiri panggilan, Aira segera bersiap. Ia mengenakan pakaian sederhana, membawa tas kecil berisi barang-barang yang diperlukan, lalu turun menuju lobi penthouse.

Arga sudah menunggunya di sana. Setelah memastikan semua barang bawaan Aira sudah lengkap, mereka berangkat menuju Bantul.

Sepanjang perjalanan, Aira lebih banyak diam sambil memandang gedung-gedung yang dilewatinya. Pikirannya tertuju pada sang ibu yang sudah beberapa waktu menjalani perawatan.

Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, kendaraan mereka akhirnya tiba di Kota Bantul.

Aira langsung menuju kamar VIP 402, tempat ibunya dirawat.

Ia mengetuk pintu sebelum masuk. Di dalam kamar, ibunya terbaring di ranjang dengan selang infus terpasang di tangannya. Beberapa peralatan medis berada di sisi ranjang untuk memantau kondisinya.

"Ibu," panggil Aira pelan.

Perempuan yang terbaring di ranjang itu menoleh. Wajahnya tampak lebih tenang ketika melihat putrinya datang.

"Aira? Kamu datang, Nak."

Aira mendekat, kemudian menarik kursi di samping ranjang dan duduk di sana.

"Iya, Bu. Bagaimana keadaan Ibu hari ini?"

"Ibu baik-baik saja. Kamu tidak perlu terlalu khawatir."

Aira mengamati wajah ibunya. Meski sang ibu berusaha meyakinkannya, ia tetap bisa melihat bahwa tubuh perempuan itu belum sepenuhnya pulih.

"Apa semalam Ibu bisa tidur nyenyak?"

"Alhamdulillah, bisa. Dokter juga bilang kondisi ibu mulai membaik."

Mendengar jawaban itu, Aira mengembuskan napas lega.

"Syukurlah, Bu."

Ia kemudian meraih tangan ibunya dan menggenggamnya dengan lembut.

"Maaf, Aira baru sempat datang lagi."

Ibunya menggeleng pelan. "Tidak apa-apa. Ibu tahu kamu punya kesibukan sendiri. Yang penting, kamu menjaga kesehatanmu juga."

Aira mengangguk.

Ia tidak ingin membuat ibunya khawatir dengan berbagai persoalan yang sedang dihadapinya. Untuk sementara, ia memilih menemani perempuan itu tanpa menceritakan tentang dirinya.

Mereka berbincang ringan cukup lama. Bagi Aira, kesempatan untuk duduk di samping ibunya seperti itu sangat berarti.

Setelah beberapa waktu, Aira melihat ibunya mulai tampak lelah.

"Ibu istirahat saja, ya. Aira tidak mau Ibu terlalu capek."

Ibunya mengangguk.

"Kamu juga harus menjaga kesehatan. Jangan terlalu memikirkan Ibu."

Aira tersenyum tipis.

"Iya, Bu."

Sebelum meninggalkan kamar, Aira merapikan selimut ibunya dan memastikan semua kebutuhannya berada dalam jangkauan. Setelah berpamitan, ia keluar dengan perasaan sedikit lebih tenang.

Malam itu, Aira menginap di rumah sakit agar bisa menemani ibunya sebelum pulang ke Jakarta keesokan harinya.

...____🍀🍀🍀🍀____...

Waktu berlalu tanpa terasa, paginya, Aira berpamitan setelah berjanji akan datang lagi jika ada kesempatan.

"Aira pulang dulu, ya, Bu. Nanti kalau ada kesempatan, Aira datang lagi."

"Iya, Nak. Hati-hati di jalan."

Aira mengangguk, lalu mencium tangan ibunya sebelum meninggalkan kamar.

Di luar ruangan, Arga sudah menunggunya. Pria itu mengantar Aira kembali ke kendaraan yang telah disiapkan.

Perjalanan kembali ke Jakarta berlangsung cukup panjang. Aira beristirahat selama perjalanan, sementara Arga memastikan mereka tiba dengan aman.

...____🍀🍀🍀🍀____...

Menjelang sore, kendaraan akhirnya memasuki area penthouse.

Setelah tiba, Aira mengucapkan terima kasih kepada Arga sebelum masuk. Ia meletakkan tasnya di kamar, kemudian berganti pakaian dan beristirahat sejenak.

Tidak lama kemudian, ia mendengar suara pintu terbuka.

Devan baru saja pulang dari kantor. Setelah meletakkan jasnya, ia melihat Aira keluar dari kamar.

"Kamu baru sampai?"

Aira mengangguk.

"Iya, Mas Devan. Saya baru saja tiba."

Devan menatapnya sekilas.

"Bagaimana kondisi ibumu?"

"Sudah lebih baik, Mas Devan. Ibu masih harus menjalani perawatan, tetapi kondisinya mulai stabil."

Devan mengangguk singkat.

"Bagus kalau begitu."

Aira tidak menambahkan apa-apa. Ia bersyukur Devan tidak mempersulit keinginannya untuk menjenguk sang ibu.

Setelah mengambil segelas air, Devan kembali membuka suara.

"Mulai besok, jadwalmu akan semakin padat. Ibuku akan datang bersama beberapa perancang busana untuk menyiapkan pakaian yang akan kamu kenakan di acara peringatan ulang tahun Mahendra Group minggu depan," kata Devan dengan nada datar.

Aira menoleh.

"Baik, Mas Devan. Apa aku perlu mempersiapkan sesuatu?"

"Untuk sementara, kamu hanya perlu mengikuti arahan mereka. Urusan pakaian dan penampilanmu akan diatur oleh Ibu."

Aira mengangguk.

"Baik, Mas Devan."

Devan meletakkan gelasnya di atas meja.

"Acara itu cukup penting. Akan ada keluarga besar Mahendra, para pemegang saham, dan tamu undangan lainnya. Jadi, pastikan kamu bisa mengikuti seluruh rangkaian acara dengan baik seperti sebelumnya."

"Aku mengerti. Aku akan berusaha menjalankan semuanya dengan baik."

Devan tidak menjawab lagi. Ia mengambil jasnya dan berjalan menuju kamar.

Aira masih berdiri di ruang tengah selama beberapa saat, memikirkan perkataan suaminya.

Acara peringatan ulang tahun Mahendra Group tentu berbeda dari jamuan makan malam yang sebelumnya ia hadiri. Kali ini, ia harus bersiap menghadapi lebih banyak orang, termasuk mereka yang mungkin masih meragukan keberadaannya di sisi Devan.

Namun, Aira tidak ingin terlalu memikirkan hal itu. Ia hanya berharap bisa menjalankan perannya dengan baik dan melewati acara tersebut tanpa menimbulkan masalah.

Bersambung...

1
Muft Smoker
Devan gengsi ny msh Segede Bulan ,,
Ariany Sudjana
Devan sudah ada hati sama Aira, cuma masih Denial dengan perasaannya sendiri
Jesselyn Runtuwene
lanjut 👍
Jesselyn Runtuwene
lanjut
fabdul
Luar Biasa
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Jesselyn Runtuwene
ijin promosi novel juga Judul Sang Pemain ( yang awalnya tidak suka bermain bola menjadi pemain profesional ) mampir yuk
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Jesselyn Runtuwene
semoga saja Clara tidak menimbulkan masalah
Muft Smoker
Clara mungkin tenang dlm setiap obrolan ,, dan semoga akan ttap seperti tu ,, jgn prnh merusak rumah tangga prempuan lain ,, dan Devan harus selalu bisa mengambil sikap tegas ,,
Ariany Sudjana
kamu harus tegas Devan, jangan sampai si pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan aira, apalagi mama kamu kelihatan sekali masih berharap Clara yang jadi istri kamu, hanya karena pertimbangan sama-sama keluarga konglomerat
Jesselyn Runtuwene
semoga Clara tidak menjadi masalah bagi Devan
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Anvika
Ratih berhenti sejenak, keknya lebih bagus diganti napas Ratih tercekat.
fabdul: siap kak makasih ya atas masukannya, nanti aku baca kembali bab ini sebelum revisinya 😊
total 1 replies
Anvika
Mampir kak
Anvika
Lanjut
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,

semoga aj si Clara gx jdi ulet bulu di tengah2 Aira dan Devan ,,
meski pernikahan mereka di dasari Krn kesepakatan bisnis semata ,,
Muft Smoker: ok siap kak ,,
semangat trus /Grin/
total 2 replies
Muft Smoker
waah nyari masalah aj niih siapa pun org ny😏
Muft Smoker
kasih kopi Aira ,, biar jernih fikiran si Devan ,, 🤭🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!