Dimadu di Hari Pernikahannya. Ditolak mentah-mentah lewat pesan, Naura Kirana, gadis bercadar yang harus menanggung malu di hari pernikahannya.
Demi menyelamatkan keluarga, Cakra, adik mempelai pria terpaksa menggantikan posisi kakaknya.
Namun, alih-alih melindunginya, Cakra yang sejak awal membenci wanita bercadar itu justru langsung membawa dan menikahi kekasihnya sendiri tepat di hari yang sama, memadu Naura di depan mata.
Di balik itu semua, ternyata, Komandan Anggara yang merupakan calon suami Naura, tidak pernah menolaknya, semua terjadi hanya salah paham.
Pembatalan itu murni ulah licik bawahan Anggara yang merupakan seorang wanita yang terobsesi padanya.
Lalu, bagaimana kelanjutan nasib Naura? Apakah Anggara berhasil meluruskan semuanya? bagaimana kisahnya saat tiba-tiba hadirnya seorang gadis yang berusia 6 tahun yang ternyata merupakan anak kandung Naura? siapakah ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Anggara
Anggara sudah tiba di masjid tempat pernikahan yang seharusnya baru saja dilangsungkan pukul 03.00 sore sesuai perjanjian bersama ahli keluarga sebelumnya.
Pemuda itu melangkah masuk ke dalam masjid.
Sunyi... tak ada siapapun di dalam sana.
Ke mana mereka semua? Perasaan aku tidak telat. Batin pemuda itu dalam hati sembari melihat arloji yang melingkar di tangan kekarnya. Ternyata memang benar, dia tidak telat.
Pria itupun berniat untuk menelepon sang Mama guna menanyakan keberadaannya. Namun sebelum sempat dia merogoh saku.
Pandangan mata pria itu tak sengaja melihat seorang marbot masjid: pria paruh baya.
Pemuda itu pun jalan mendekat. "Assalamualaikum, Pak," sapa Anggara dengan sopan.
Pria paruh baya itu menoleh, dan mendapati seorang pria tampan dengan tubuh yang nyaris sempurna, bahkan terlihat otot-ototnya yang menonjol dari balik jas yang pria itu pakai.
"Waalaikumsalam, anak muda ada apa ya?" Tanya pria paruh baya itu.
"Saya mau tanya Pak, apa tadi ada yang datang kemari untuk melangsungkan pernikahan di masjid ini?"
Pria paruh baya itu mengangguk kan kepala tanda mengiyakan.
"Ada anak muda, pernikahannya sekitar jam 08.00 pagi. Berlangsung tidak lama mungkin dalam beberapa jam, kalau tidak salah sekitar jam setengah 1 tadi mereka baru pergi dari sini," jelas si pria paruh baya tersebut.
Anggara mengerutkan dahinya karena yang dia tahu tempat itu sudah dibooking oleh keluarganya untuk melangsungkan pernikahan.
Lantas, siapa lagi yang mendahului pernikahan di hari yang sama? Kalau benar seperti itu terus mana keluarganya yang seharusnya sudah hadir di sana. Karena jika mengikut perjanjian acara pernikahan akan berlangsung tidak lama lagi, pikir Anggara.
"Kalau begitu, terima kasih, Pak."
"Sama-sama anak muda,"
Anggara pun memutuskan untuk menghubungi nomor telepon Mama Safira. Namun, setelah beberapa kali dia menghubungi wanita paruh baya itu, tetap tidak diangkat.
Daripada pusing memikirkan apa yang terjadi, Anggara memutuskan untuk pulang ke kediaman dan menanyakan langsung pada sang mama.
Dia naik ke atas mobil dan langsung membanting setir pulang rumah dengan kelajuan tinggi.
Tak lama kemudian dia sudah tiba di depan kediaman keluarga besar. Segera pria itu turun dari mobil dan masuk ke dalam sembari memanggil nama mama.
"Assalamualaikum, Ma!" panggil pemuda itu. Melangkah cepat ke dalam.
"Waalaikumsalam," terdengar suara wanita paruh baya itu yang berdiri di ruang keluarga dengan tatapan tajam ke arah putra sulungnya.
"Ma, apa yang ter--" belum sempat pria itu menyelesaikan kalimatnya dia sudah disekat oleh sang mama.
"Dari mana saja kamu Anggara!" suara Safira benar-benar tidak bersahabat.
Anggara yang tidak mengerti, tentu saja bingung, "Maksud Mama apa? Seharusnya Anggara yang bertanya. Kok Mama ada di rumah? Bukannya kita seharu---"
"Harusnya apa!" lagi-lagi wanita itu memotong ucapan putranya.
"Bisa-bisanya kamu pura-pura tidak mengerti. Kamu tahu apa kesalahanmu?"
Kesalahan? Batin Anggara yang merasa dia tidak pernah melakukan kesalahan apapun.
"Anggara, Anggara... mama itu heran sama kamu. Jelas-jelas Kamu yang membatalkan pernikahan sampai adikmu Cakra terpaksa menikahi calon istrimu. Bukan cuma itu adikmu juga menikahi kekasihnya si Nada di acara yang sama." Menghela nafas kecewa pada kedua putra-putranya.
"Kalian berdua ini, apa memang sengaja ingin membuat Mama mati muda?" Lanjutnya mengomeli.
Pemuda 35 tahun itu berusaha mencerna, karena dia berpikir tidak pernah mengatakan kalau dia membatalkan pernikahan. Tapi kenapa sang mama justru mengatakan hal demikian?
Anggara sedikit mendekati wanita yang sudah melahirkannya itu. "Ma, tapi Anggara serius tidak pernah membatalkan pernikahan yang sudah Mama atur," tutur Anggara berusaha menjelaskan.
Wanita paruh baya itu kembali menatapnya tajam. "Kamu lupa? Semalam itu Mama kirim pesan ke kamu. Mama bilang kalau pernikahan kamu itu diundur ke belakang, sebelumnya kan kita janjian itu jam tiga sore akan melanjutkan pernikahan. Tapi semalam sekitar jam tujuh malam Mama sudah kirim pesan ke kamu, Mama bilang pernikahannya jam delapan pagi.
Kamu juga balas bilang 'iya' tapi di detik-detik terakhir saat upacara akad akan dimulai, kamu tiba-tiba kirim pesan dan bilang kalau kamu tidak mau menikahi calon istrimu! Apa sekarang kamu masih mau pura-pura amnesia Anggara?" Geram Safira.
Anggara semakin kaget mendengar penjelasan sang mama. Pemuda itu menggeleng.
"Aku tidak pernah terima pesan dari Mama, tentang acara yang mau dilakukan pagi hari. Dan aku juga tidak pernah mengirim pesan kalau aku tidak mau menikah dengan wanita pilihan Mama itu," jelas Anggara membuat Safira juga ikut kaget.
Lah? Lantas, siapa yang melakukannya?
dan anggara ayah anakmu...duhhh hanya di novel yang bisa gini.
jatuh cinta pada bapak anak sendiri🤭
masak mencintai org yg mencintai kakaknya terulang kembali..kasihan juga cakra🤭😭
wah sip anggara 👍buruan tes dna kiki biar sgra jls