"Aku milih kamu."
"Tapi kita berbeda, Tuan."
"Berbeda?" Arnold mengernyitkan dahinya heran, pasalnya gadis di depannya ini dari kasta yang setara dengannya. "Apanya yang berbeda?"
"Agama." lirih Arini dengan menggelengkan kepalanya, "agama kita berbeda, Tuan."
"Gampang! Aku bisa mengikuti agamamu kalau kamu mempersoalkan itu."
Ikuti perjalanan kisah beda agama antara Arini dan Arnold ya readers, apakah mereka akhirnya bisa menikah? atau itu hanya angan-angan seorang Arnold saja? Dan apa sebenarnya motif Arnold memilih Arini untuk menjadi istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inisial EY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Awal
Panggilan tersambung...
Chandra : Halo, Arnold. Pernikahan kalian tidak bisa dipercepat apapun alasannya.
Arnold : Pak Chandra, Saya hanya ingin yang terbaik untuk Arini.
Chandra : Yang terbaik untuk Arini tetap menunggu keluarganya.
Arnold : Pak, Anda harus mengerti dengan keputusan yang Saya buat.
Chandra : Dan kamu pun harus mengerti dengan keputusan yang Saya buat di awal yang sudah kita sepakati bersama.
Arnold : Pak Chandra...
Chandra : Keputusan tetap sama, Arnold. Tidak bisa diganggu gugat. Dan kamu tidak bisa mengubahnya seenaknya.
Arnold : Pak..
Chandra : Kalian hari ini ada jadwal ke butik. Lebih baik kalian fitting baju dan persiapan pernikahan sesuai jadwal.
Arnold : Baiklah.
Panggilan terputus.
"Gimana Uncle?" Arini bertanya mendesak, "Jadi hari ini Arini menikah?"
Chandra menggelengkan kepala sebagai jawaban, "Tetap keputusan awal, Arini."
"Terimakasih Uncle." Arini mengambil tangan Chandra lalu ia taruh di pipi sembari meneteskan air mata karena akhirnya ada orang yang bisa menggagalkan rencana Arnold yang tidak masuk akal menurutnya.
Mau bagaimanapun bentuk keluarganya, keluarganya tetaplah keluarganya dan ia tidak mungkin bisa menghancurkan hati Bunda Jennifer -- wanita yang telah melahirkannya ke dunia jika ia tetap menikah tanpa kehadiran Bundanya.
"Lebih baik kamu siap-siap, Rin. Uncle sudah bilang ke Arnold agar kalian fitting baju ke butik." Chandra mengusap hijab pet instan yang membalut kepala Arini, "Devano bakalan nemenin kamu, karena Uncle yang hari ini bakal ke perusahaan."
"Siap, Uncle."
***
Berita yang menayangkan tentang Jessica yang dianggap pilih kasih dan seperti membenci Arini membuat saham Diamond Grup turun drastis.
Raka sebagai pemilik tentu langsung menepuk jidatnya berulang kali dan memanggil sang putri untuk menyelesaikan masalah yang timbul karena keegoisan putrinya itu.
Putrinya yang akan menjadi pewaris Diamond Grup itu harus melakukan sesuatu agar saham Diamond Grup berangsur-angsur naik kembali.
"Papa enggak mau tau. Pokoknya kamu harus melakukan sesuatu, Jess." Raka mengembuskan napasnya kasar, "Papa sudah memperingatkan kamu dari awal, tapi kamu tetap egois. Pengusaha sukses itu harus profesional, Jess. Apapun masalah pribadinya, jangan diperlihatkan di hadapan publik. Kamu sekarang menanggung akibatnya kan?" Raka begitu geram dengan putrinya yang malah acuh tak acuh.
"Kamu mengerti dengan apa yang harus kamu lakukan?" Raka bertanya lagi yang membuat Jessica mengangguk lalu seketika melangkah pergi ke ruangan ia sendiri.
***
Panggilan tersambung...
Jessica : Halo, Tante. Jessica bisa minta tolong sama Tante enggak?
Mom Celia : Bisa. Kamu mau minta tolong soal kamu dan Arini, Sayang?
Jessica : Iya, Tante. Saham perusahaan Jessica turun drastis gara-gara dia.
Mom Celia : Kamu tenang aja sayang, kamu enggak salah kok. Tante bakalan bantuin kamu.
Jessica : Gimana caranya Tante? Apa tante bisa bikin Kak Arnold ganti milih aku?
Mom Celia : Kalau itu Tante enggak bisa janji karena kamu tau sendiri kayak gimana Arnold, Jess. Tapi kali ini Tante bakal temenin kamu nemui mereka yang lagi fitting baju pengantin di butik Mas Haji.
Jessica : Fitting baju pengantin? Memangnya kapan mereka menikah Tante? Kenapa Jessica belum dapat undangan?
Mom Celia : Mereka menikah minggu depan, Jess. Enggak ada undangan, karena mereka maunya intimate wedding.
Jessica : Intimate wedding? Tante, aku kan kata Tante bukan orang lain, ajak aku ke nikahan kak Arnold ya Tan, aku mau ngasih selamat ke dia.
Mom Celia : Gampang, nanti Tante atur Jess. Pokoknya kamu sekarang siap-siap ya, jangan lupa hubungi wartawan untuk menaikkan pamor kamu lagi.
Jessica : Oke Tante. See you. Makasih banyak tante.
Mom Celia : Sama-sama sayang.
Panggilan terputus.
***
Devano dan Arini pergi ke butik Mas Haji dengan mobil yang dikendarai sendiri oleh Devano dengan kecepatan begitu rendah karena Arini yang memintanya.
Arini sebenarnya belum siap untuk ketemu Arnold lagi, karena laki-laki bermuka bengis yang akan jadi suaminya itu tidak pernah berkata lembut dan menatapnya manis.
Arnold selalu menatapnya tajam dan selalu mengambil keputusan seenaknya.
Kalau tidak karena Bagas yang tiba-tiba membatalkan lamarannya dengan sepihak, Arini tidak akan mau menikah dengan Arnold.
"Kak.. Mampir ke toko biru dulu yuk! Aku mau beli kopi." pinta Arini yang dijawab anggukan oleh Devano.
"Kamu jangan kebanyakan minum kopi, nanti asam lambungnya kambuh." Devano mengingatkan saat Arini menarik handle pintu mobilnya, dan dijawab acungan jari jempol oleh Arini.
Usai mendapat kopi Americano latte favoritnya, Arini pun masuk kembali ke dalam mobil Devano dengan tak lupa memberi roti untuk cemilan mereka di jalan.
Sesungguhnya ia butuh tenaga untuk menghadapi Arnold yang menurutnya akan marah-marah karena ia memilih tetap pada keputusan awal.
**
BUTIK MAS HAJI
Mereka tidak janjian akan datang bersamaan, tapi mobil yang dikemudikan driver Arnold dan Devano sama-sama masuk ke halaman butik dan kebetulan lagi mendapat tempat parkir sebelahan.
Belum turun dari mobil, namun Arini sudah mengembuskan napasnya kasar saat melihat manik biru Arnold menatapnya tajam dari dalam mobil pria itu.
"Kenapa Lo, Rin?" Devano begitu peka pada mimik muka resah Arini yang begitu kentara.
"Gue takut, Kak." Arini menunduk lalu menatap Arnold, "Apa sebaiknya gue batal nikah aja sama Arnold ya kak?"
"Rin! Jangan bercanda. Lo tau kan siapa Arnold." Devano mengingatkan namun malah membuat Arini semakin pias sembari menggigit bibirnya.
"Nanti kalau dia marah gimana, Kak?" tanyanya lagi sembari menatap Arnold yang kini sudah turun dari mobil.
"Telpon Daddy. Biar dia dimarahin sama Daddy." usul Devano yang membuat Arini mengerutkan keningnya.
"Kok Uncle sih Kak? Kan yang Deket sama gue disini Lo." Arini tidak terima.
"Lo mau ngajak debat apa cepat nyusul calon laki Lo yang udah masuk butik?"
"Hm--"
"Cepet Arini. Lo enggak mau Arnold marah, tapi Lo lambat kayak gini."
"Kak.. Kok Lo ngomel-ngomel kayak gini sih." gerutu Arini yang membuat Devano akhirnya diam dan membiarkan Arini keluar dari mobilnya lalu berjalan masuk ke dalam butik dengan ia yang menemani adik sepupunya itu.
"Dev!" Arnold duluan menyapa Devano yang dijawab anggukan sekilas dari Devano.
"Kamu masuk duluan." Arnold lalu berkata pada Arini yang duduk di sofa tunggal di sebelahnya.
"Kenapa harus Saya duluan?" Arini bertanya, karena ia belum melihat Arnold fitting.
"Aku udah."
"Udah?" Arini menegakkan duduknya, namun saat ia mau bertanya sang desainer sudah memanggilnya dan menyuruhnya masuk ke dalam ruang ganti.
Tidak perlu lama karena baju itu memang didesain khusus untuk Arini dari setelah lamaran kemarin, dan saat fitting Arnold hanya mengangguk sekilas tanda persetujuan dan membuat Arini tiba-tiba mengembuskan napas lega.
"Ini calon mantu Mom, Arnold?" Mom Celia tiba-tiba berkomentar, yang membuat Arnold seketika menoleh.
"Ada apa Mom kesini?" tanya Arnold sembari menaikkan alisnya, ia yakin Mom Celia merencanakan sesuatu karena dari awal Mom Celia tidak menyukai Arini.
"Mom hanya ingin melihat kalian fitting baju dan menilai baju pengantin yang mau kamu pakai." Mom Celia menaikkan dagunya lalu memanggil Jessica dengan lambaian tangannya.
"Jessica mau minta maaf sama Arini, dan Arini harus memaafkannya, Arnold. Mom tidak mau mendengar penolakan."
Detik belum berganti menit, tiba-tiba Jessica berlari dengan kamera di belakangnya yang terus membidiknya lalu bersimpuh di depan Arini yang kini tengah memakai baju pengantinnya.
"Arini, Maafkan aku." Jessica mengeluarkan air mata palsunya, "Aku tidak benar-benar melarangmu bertanya kemarin, aku hanya ingin menguji mentalmu. Itu saja, Arini."
Arini menatap Arnold lalu Devano, dan keduanya menggelengkan kepalanya agar Arini tidak mau begitu saja memaafkan drama minta maaf Jessica.
"Terimakasih sudah menguji mentalku, Nona." jawab Arini yang membuat Jessica mengerutkan keningnya.
"Kamu memaafkanku?" tanya Jessica yang membuat Arnold kembali menggelengkan kepalanya.
"Saya--"
"Kamu ganti baju dulu, Rin." Arnold yang mengambil alih, karena Arini hampir saja menganggukkan kepalanya.
"Arnold!" teriak Mom Celia melarang, karena permintaan maaf Jessica belum dimaafkan oleh Arini dan publik pasti belum bisa berhenti menghujat Jessica jika hanya ucapan terimakasih yang diucapkan Arini.
"Biarkan Arini ganti baju dulu, Mom. Dan biarkan Jessica menunggu. Bukankah dia mau minta maaf. Jadi, tunggu Arini selesai ganti baju." tegas Arnold yang membuat Devano tersenyum tipis menyaksikan ketegangan di raut wajah Jessica.
Bersambung...