Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.
Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.
Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Dianter Pria Ganteng
Motor tua Devan membelah deretan kendaraan dan berhenti tepat di depan gerbang SMA Bellona yang mulai ramai oleh lalu lalang murid-murid.
Devan mematikan mesin motornya, membiarkan suaranya yang cempreng akhirnya mereda. Pria itu menyisir rambutnya yang agak berantakan memakai jemari, lalu menoleh ke belakang saat Bellona menyodorkan helm kusamnya kembali.
"Nih," kata Bellona singkat.
Devan menerima helm itu, lalu meletakkannya di stang motor. Ia menyandarkan kedua tangannya di stang, menatap Bellona yang sedang merapikan seragam dan rok SMA-nya.
"Gimana? Luar biasa kan servis pengantaran dari gue?" Devan mulai membuka mulut, memasang cengiran tengilnya kembali. "Kapan lagi lo dianter sekolah naik kendaraan klasik begini sama pria keren? Biaya ongkosnya gratis, dapet bonus pemandangan indah sepanjang jalan."
Bellona menaikkan sebelah alisnya, melayangkan tatapan datar yang menusuk. "Klasik mata lo. Motor lo tuh pantesnya masuk museum barang bekas. Berisik, asapnya tebal lagi."
"Dih, kagak ada bersyukurnya!" Devan mengelus dadanya yang berpura-pura sakit hati. "Inget ya, Bocah. Di kelas kagak usah berantem sama orang, belajar yang bener biar makin pinter dari gue. Ntar pas pulang tunggu di depan gerbang, kagak usah keluyuran ke mana-mana."
"Bising ah," cetus Bellona ketus sambil memutar tubuhnya. "Gue masuk dulu."
Namun, saat Bellona baru melangkah beberapa tindak menuju pintu gerbang, ia mulai menyadari suasana di sekitarnya yang terasa aneh. Beberapa siswi yang sedang berjalan bergerombol mendadak melambatkan langkah mereka.
Mata anak-anak SMA di area gerbang tertuju lurus ke arah motor tua Devan. Terutama para siswi—mereka berbisik-bisik heboh sambil melirik ke arah pria yang sedang bersandar santai di atas motornya itu.
Walau pakaian Devan cuma kaus oblong hitam kusam di balik jaket kulit yang agak mengelupas, wajahnya yang bergaris tegas, rahangnya yang tajam, serta gaya unbothered khas rockstar jalanan mendadak menarik perhatian.
"Eh, anjir... itu siapa yang nganter si Bellona?" bisik seorang siswi berambut panjang di dekat gerbang.
"Ganteng banget woi! Mukanya mirip vokalis band indie gitu!" timpal temannya dengan mata berbinar-binar. "Kakaknya Bellona apa gimana ya? Karismanya dapet banget parah!"
"Gaya bad boy-nya dapet banget, anjir. Si Bellona hoki amat punya cowok/kakak bentukan begitu!"
Bellona yang mendengar samar-samar bisikan itu seketika menghentikan langkahnya. Mukanya memerah padam—bukan karena malu-malu kucing, melainkan karena rasa jijik dan jengkel yang luar biasa mendengar Devan dipuji-puji seperti itu.
Ia menoleh ke belakang. Devan rupanya sadar sedang jadi pusat perhatian beberapa siswi. Pria itu bukannya canggung, justru malah makin bertingkah: menyandarkan siku di stang motor, melempar senyum tipis sok misterius, dan berpura-pura membetulkan kerah jaket kulitnya.
Bellona melangkah lebar kembali ke dekat motor Devan, menatap pria itu dengan mata membelalak galak.
"Kagak usah tebar pesona, Bego!" desis Bellona dengan suara tertahan agar tidak terdengar murid lain. "Muka lo tuh kayak saringan tahu, kagak usah sok ganteng di depan anak sekolah!"
Devan terkekeh renyah, senyumnya makin lebar melihat respons emosional Bellona.
"Yee... salah gue apa? Muka ganteng ini kan pemberian Tuhan, Bocah," goda Devan pelan sambil mengedipkan sebelah matanya. "Buruan masuk sana! Ntar fans-fans gue makin banyak yang ngelilingin motor ini nih!"
"Gila lo!" bentak Bellona ketus, memutar tubuhnya cepat dan berlari kecil menerobos gerbang sekolah dengan wajah memerah tahan malu.
Devan menatap punggung gadis itu sampai menghilang di belokan koridor sekolah. Kekehan pelan kembali terdengar dari mulut Devan sebelum ia memutar kunci motornya, menyalakan mesin tua yang meraung itu, dan melaju pergi meninggalkan area sekolah dengan perasaan yang jauh lebih ringan.
***
Bel istirahat pertama berbunyi nyaring, memicu keriuhan di sepanjang koridor SMA. Murid-murid berhamburan keluar kelas, tetapi Bellona melangkah dengan tujuan yang sangat spesifik: kantin belakang sekolah.
Ia berjalan menyusuri deretan stan makanan hingga berhenti di depan Warung Bu Sumi. Di etalase kaca warung itu, biasanya tempat Bellona menitipkan makanan buatannya sebelum seluruh kekacauan dalam hidupnya terjadi.
Bu Sumi yang sedang menyendokkan es teh manis mendadak menengadah. Wajah hangat wanita paruh baya itu seketika berbinar begitu mengenali Bellona.
"Aduh, Bellona!" seru Bu Sumi ramah, mengelap tangannya di serbet. "Ibu kira kamu kemana aja beberapa hari kagak masuk tanpa kabar! Kamu sakit, Neng?"
Bellona menggeleng tipis, memasang senyum kaku. "Kagak, Bu. Ada urusan keluarga dikit kemarin."
"Oalah... kirain kenapa," Bu Sumi lalu merogoh laci meja kasirnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat kecil yang sudah agak lusuh. "Nih, untung kamu dateng. Ini uang hasil jualan dagangan kamu yang minggu lalu. Udah laku semua dari dua hari lalu, tapi belum sempat Ibu serahin gara-gara kamu kagak masuk."
Bellona menerima amplop itu. Saat jemarinya merasakan tebalnya lembaran uang di dalam amplop, ada desakan lega yang tak tertahankan di dadanya.
Ia membuka amplop itu tipis-tipis, menghitung jumlahnya. Uang hasil keringatnya sendiri dari menitipkan makanan gulung dan sandwich. Jumlahnya memang tidak fantastis, tapi cukup untuk membeli bahan-bahan makanan yang jauh lebih layak, atau bahkan sekadar membeli token listrik sendiri tanpa harus mengandalkan uang utangan Devan yang tidak jelas itu.
"Makasih banyak ya, Bu," ujar Bellona, menyelipkan amplop itu rapat-rapat ke dalam saku rok seragamnya.
"Sama-sama, Neng. Besok-besok kamu mau titip jualan lagi kagak? Dagangan kamu tuh laku keras, anak-anak pada nanyain," tawar Bu Sumi antusias.
Bellona sempat terdiam sejenak. Pikiran tentang dapur kusam Devan yang minim bahan makanan melintas di kepalanya. Tapi di sisi lain, bayangan Devan yang melahap masakan sederhananya kemarin sampai menepuk meja membuat sudut bibirnya terangkat tipis tanpa sadar.
"Lihat besok ya, Bu," jawab Bellona pelan. "Nanti kalau saya bikin lagi, saya antar pagi-pagi."
Dengan uang simpanannya sendiri di dalam saku, Bellona melangkah keluar dari area kantin.
***
Baru saja Bellona keluar dari area kantin menuju lorong kelas, langkahnya mendadak terhenti. Dari arah berlawanan, berjalan seorang gadis berpita biru dengan beberapa buku di pelukannya—Viola, sahabat dekatnya sejak awal masuk SMA.
Hubungan mereka yang dulu menempel seperti perangko perlahan meregang beberapa bulan terakhir. Semenjak Sarah sibuk memamerkan Rizal dan masalah rumah makin menghimpit, Bellona memilih menarik diri rapat-rapat. Rasa malu akan keluarganya yang berantakan serta ego yang tinggi membuat Bellona menutup diri dan sering menolak secara dingin setiap kali Viola mencoba bertanya atau mengajak jalan.
Viola menghentikan langkahnya tepat di depan Bellona. Ekspresi wajahnya bercampur antara kaget, canggung, dan sedikit kecewa.
"Bellona..." panggil Viola pelan. "Kamu... udah masuk sekolah lagi?"
Bellona merapatkan jemarinya di saku rok, menekan amplop uangnya. "Iya. Baru hari ini."
"Oh..." Viola membetulkan ikatan bukunya, matanya bergulir canggung. "Kemarin aku sempet chat kamu nanyain kabar pas kamu bolos, tapi cuma di-P-in doang, gak dibalas."
Rasa bersalah berdesir tipis di dada Bellona. Saat itu ponselnya memang dipegang Devan dan dalam kondisi mati total gara-gara habis token listrik, tapi Bellona terlalu gengsi untuk menjelaskan situasi memalukannya.
"Sori," bisik Bellona kaku, suaranya pelan. "HP gue sempet mati kemarin."
Viola mengembuskan napas pendek, menyunggingkan senyum tipis yang terasa agak berjarak. "Gak apa-apa kok. Lagian aku paham, kamu kan emang sekarang makin sibuk dan... makin tertutup sama aku. Kalau ada apa-apa juga kamu gak pernah cerita lagi."
Kata-kata Viola menyengat pelan, namun Bellona tak mampu membela diri. Jarak yang tercipta di antara mereka memang adalah hasil dari benteng tebal yang dibangunnya sendiri.
"Yaudah deh, Bell," lanjut Viola lembut sambil mengangguk pelan. "Bel masuk bentar lagi bunyi. Aku balik ke kelas duluan ya."
"Vi," panggil Bellona refleks sebelum Viola benar-benar melangkah pergi.
Viola menoleh kembali. "Kenapa?"
Bellona menelan ludahnya, lidahnya terasa kelu. Keinginan untuk meluapkan segalanya—bahwa ibunya meninggalkannya, bahwa Oma sudah tiada, dan ia kini tinggal bersama pria slengean yang mengaku papanya—bertarung hebat di dalam benaknya. Tapi rasa takut dihakimi kembali menahannya.
"...Gak apa-apa," jawab Bellona akhirnya dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Nanti gue bales chat lo."
Viola menatapnya sejenak, lalu mengangguk paham dan berjalan melintasinya. Bellona berdiri di tengah koridor yang mulai sepi, menatap punggung sahabatnya yang makin menjauh dengan perasaan hampa yang mengendap di dada.