Nabila tidak pernah menyangka jika putri yang selama enam tahun ia besarkan dengan kemewahan ternyata adalah anak palsu. Darah dagingnya yang asli, Luna Wegan, diam-diam ditukar saat lahir oleh keluarga suaminya sendiri dan terpaksa hidup menderita sebagai pengemis jalanan. Takdir akhirnya mempertemukan Nabila dengan seorang gadis kecil penuh luka memar di depan mall, di mana sebuah tahi lalat di balik telinga membongkar pengkhianatan keji masa lalu. Bersama suaminya, sang CEO kejam Leon Wegan, Nabila kini siap menghancurkan siapa pun yang telah berani menyiksa putri kandung mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Kebencian antar keluarga ternyata bisa membuat seseorang bertindak sekejam ini pada bayi yang baru lahir.
Leon berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sangat cepat dan mengintimidasi.
"Bawa perawat ini ke sel penjara paling gelap dan biarkan dia membusuk di sana," perintah Leon pada pengawalnya.
"Tuan! Anda sudah janji tidak akan menyakiti keluarga saya!" jerit Suster Rini saat tubuhnya diseret pergi.
"Aku tidak menyakiti keluargamu, tapi aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa melihat mereka lagi seumur hidupmu," jawab Leon tanpa ampun.
Pintu besi itu kembali tertutup rapat mengurung Suster Rini dalam kegelapan abadi penjara bawah tanah Wegan.
Leon berjalan keluar dari ruang interogasi itu dan menghela napas panjang menetralkan emosinya.
"Asisten Budi, siapkan laporan lengkap tentang semua bisnis gelap milik Tante Rosalina," perintah Leon sambil berjalan.
"Aku ingin semua aset perusahaannya dihancurkan minggu depan. Jangan tinggalkan satu peser pun uang untuknya," tambahnya dengan nada mematikan.
"Baik, Tuan. Saya akan menghubungi tim akuisisi kita untuk mulai menyerang saham perusahaannya besok," jawab Asisten Budi sigap.
Sementara Leon sedang merencanakan kehancuran tantenya, di jalanan ibu kota yang panas, nasib Bianca sangatlah menyedihkan.
Gadis kecil bergaun sutra itu kini sedang berjalan tertatih-tatih di pinggir trotoar yang penuh debu.
Gaun mewahnya sudah kotor oleh lumpur dan cipratan air genangan.
Perutnya berbunyi sangat kencang menuntut makanan karena sejak pagi belum diisi.
"Aku lapar sekali, Papa kenapa tidak segera menjemputku sih," keluh Bianca menghapus keringat di dahinya.
Bianca melihat sebuah toko roti yang memajang banyak roti manis di etalasenya.
Aroma roti yang baru dipanggang itu membuat air liur Bianca menetes.
Dia langsung berjalan masuk ke dalam toko itu dengan kepala terangkat sombong seperti biasa.
"Pelayan! Ambilkan aku lima roti cokelat yang paling besar di sana!" perintah Bianca menunjuk etalase.
Pelayan toko roti itu mengerutkan kening melihat anak kecil berpakaian kotor yang berteriak-teriak sok kaya.
"Mana orang tuamu, Dek? Bayar dulu rotinya baru Ibu ambilkan," ucap pelayan itu dengan nada meremehkan.
Bianca melotot marah mendengar ucapan pelayan itu.
"Aku ini anak dari Leon Wegan! CEO Wegan Group! Berani sekali kau meminta uang padaku!" bentak Bianca memukul meja kasir.
Pelayan toko itu tertawa keras mendengar bualan anak jalanan di depannya ini.
"Hahaha! Anak konglomerat? Berpakaian seperti gembel dan jalan kaki sendiri? Jangan mimpi di siang bolong, Dek!" ejek pelayan itu.
"Pergi sana jauh-jauh! Jangan merusak pemandangan di tokoku!" usir pelayan itu sambil mendorong bahu Bianca keluar.
Bruk!
Bianca terjatuh di depan pintu toko roti itu dan sikunya tergores aspal hingga berdarah sedikit.
"Kau jahat! Aku akan suruh Papaku memecatmu!" jerit Bianca menangis meraung-raung.
Orang-orang yang lewat hanya menatapnya sekilas dan berlalu begitu saja tanpa ada yang mau menolong.
Di mata orang-orang, Bianca sekarang tidak lebih dari sekadar anak gembel pemarah yang suka membual.
Kenyataan keras tentang kehidupan tanpa perlindungan kekayaan Leon mulai menghantam kesombongan Bianca.
Tidak ada lagi pelayan yang membungkuk hormat padanya.
Tidak ada lagi gaun mahal, mainan mewah, dan makanan enak yang selalu tersedia di meja.
Dia sekarang harus menghadapi kejamnya dunia nyata dengan perut kosong dan pakaian kotor.
"Papa, Mama, tolong aku, aku mau pulang ke istana," tangis Bianca memeluk lututnya di pinggir jalan yang berdebu.
Di saat Bianca sedang menangis menyesali nasibnya, Luna sedang merasakan kebahagiaan yang belum pernah dia rasakan.
Di dalam kamar perawatan VVIP rumah sakit, beberapa pelayan datang membawa puluhan kotak hadiah berukuran besar.
"Ini semua pakaian baru untukmu, Luna sayang," ucap Nabila tersenyum lembut membuka salah satu kotak.
Di dalam kotak itu terdapat sebuah gaun berwarna biru muda dengan renda putih yang sangat cantik.
"Wah! Gaunnya bagus sekali, Nyonya! Seperti baju putri raja di buku cerita bergambar!" seru Luna dengan mata berbinar-binar.
Luna tidak berani menyentuh gaun itu karena takut tangannya akan mengotori kain mahalnya.
"Mulai sekarang panggil aku Mama, ya sayang? Aku ini ibumu," bujuk Nabila mengelus rambut Luna.
Luna menatap Nabila dengan wajah ragu-ragu.
"Tapi kata Ibu Siska, ibu kandungku sudah membuangku ke tempat sampah waktu aku masih bayi," ucap Luna dengan polos.
Hati Nabila kembali berdenyut nyeri mendengar kebohongan jahat Siska itu.
"Ibu Siska bohong padamu, Nak. Mama tidak pernah membuangmu," jelas Nabila dengan sabar menahan tangis.
"Siska mengambilmu secara diam-diam dari Mama saat kau baru lahir, Mama sangat sedih mencarimu ke mana-mana," bohong Nabila sedikit agar anaknya mengerti.
"Jadi Nyonya sungguh ibu kandung saya?" tanya Luna masih belum sepenuhnya percaya.
Nabila mengangguk cepat sambil meneteskan air mata bahagia.
"Iya sayang, Mama ibu kandungmu, dan Paman yang semalam adalah papa kandungmu," jawab Nabila memeluk putrinya erat.
Luna terdiam sejenak merasakan kehangatan dari pelukan wanita cantik yang mengaku sebagai ibunya ini.
Ada perasaan aman dan nyaman yang membuat hati gadis kecil itu tenang.
"Ma-Mama," panggil Luna dengan suara pelan dan sedikit canggung.
Tangisan Nabila langsung pecah mendengar kata Mama akhirnya keluar dari mulut anak kandungnya setelah enam tahun berlalu.
"Iya, anakku. Ini Mama. Mulai sekarang tidak ada lagi air mata kesedihan untuk putri kecil Mama," janji Nabila mengecup seluruh wajah putrinya.
Luna balas memeluk pinggang Nabila dan tersenyum sangat lebar untuk pertama kalinya.
Ikatan batin yang sempat terputus oleh konspirasi jahat akhirnya terhubung kembali dengan sangat kuat.
Takdir telah mengembalikan putri mahkota Wegan Group ke tempat asalnya.
Dan Leon Wegan akan memastikan bahwa semua orang yang pernah menghalangi jalan putrinya akan hancur lebur tanpa sisa.
baru mulai baca
Cerita nya bagus banget