Tiga tahun menjadi istri Anugrah Pratama, Cynara hanya dianggap sebagai beban. Pernikahan mereka bahkan disembunyikan karena Anugrah mengaku lajang demi mendapatkan pekerjaan. Ketika Anugrah memilih membuka hati untuk perempuan lain, Cynara menyerah dan perceraian pun terjadi.
Dua bulan kemudian, Cynara mengetahui dirinya hamil.
Lima tahun berlalu. Cynara kembali sebagai pemimpin Narendra Group, bersama putranya, Naren. Takdir mempertemukannya kembali dengan Anugrah, kini menjadi seorang manajer di perusahaan besar. Namun, bukan Anugrah yang akan mengubah hidupnya.
Ada Alvin Mahendra, CEO dingin yang diam-diam menyimpan luka kehilangan istrinya.
Pertemuan mereka membuka kembali rahasia masa lalu yang seharusnya terkubur.
#anakrahasia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Pertemuan yang Diatur
Beberapa hari kemudian, Cynara kembali datang ke JM Corporation.
Hari ini bukan sekadar pertemuan biasa.
Setelah beberapa kali pembahasan, kerja sama antara Narendra Group dan JM Corporation akhirnya mencapai tahap akhir.
Tinggal tanda tangan.
Cynara memasuki ruang rapat dengan langkah tenang. Di tangannya terdapat dokumen kontrak yang sudah diperiksa oleh timnya.
Ia duduk di salah satu sisi meja. Rania duduk di sampingnya.
“Semoga hari ini selesai,” bisik Rania.
Cynara mengangguk. “Seharusnya.”
Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Alvin masuk bersama Candra. Namun, bukan hanya mereka berdu.
Ada seseorang yang membuat Rania langsung melirik Cynara. Anugrah ikut masuk dengan wajah kakunya.
Cynara hanya menatapnya selama satu detik. Kemudian kembali membuka dokumen di hadapannya.
Tidak ada keterkejutan. Tidak ada perubahan ekspresi. Tidak ada pula luka lama yang terlihat di wajahnya.
Sementara Anugrah... benar-benar membeku.
“Cynara?”
Alvin berjalan melewati Anugrah dan duduk di kursinya. “Duduk.”
Anugrah masih berdiri. “Pak…”
Alvin menatapnya. “Ada masalah?”
Anugrah membuka mulut. Namun tidak ada suara yang keluar.
Candra yang berdiri di belakang Alvin hampir tersenyum. Ia sudah tahu persis apa yang sedang terjadi. Alvin sengaja membawa Anugrah ke ruang rapat ini. Dan ia sengaja tidak memberitahukan siapa pihak yang akan mereka temui.
Alvin membuka dokumen. “Pak Anugrah akan ikut dalam pembahasan akhir sekaligus menjadi penanggung jawab dari pihak JM Corporation.”
Cynara mengangguk.“Baik.”
Hanya itu. Anugrah akhirnya duduk. Namun, tubuhnya terlihat sangat kaku.
Berbeda dengan Cynara yang tampak begitu tenang.
Alvin memperhatikan keduanya. Ia hampir merasa geli. Beberapa waktu lalu, ia sudah mengetahui rahasia besar Anugrah.
Hari ini, ia sengaja membawa pria itu ke hadapan mantan istrinya.
Bukan sekedar untuk mempermalukannya.
Tetapi juga membuat Anugrah mati kutu hingga kehilangan kata-kata seperti sekarang...
Alvin ternyata cukup menikmatinya. “Baik,” ujar Alvin. “Mari kita mulai.”
Cynara langsung membuka dokumen. “Untuk distribusi tahap pertama, Narendra Group akan menangani wilayah Sumatra dan beberapa wilayah Jawa sesuai kesepakatan.”
Anugrah menatapnya. Perempuan yang dahulu selalu menunggunya pulang... sekarang berbicara di hadapannya bagai sedang berbicara dengan klien biasa.
“Apakah pihak JM Corporation menyetujui skema pembagian keuntungan?”
Anugrah tersadar. “Ya.”
Cynara mengangguk. “Baik.”
Tidak ada percakapan lain. Tidak ada Mas. Tidak ada Cynara. Hanya Pak Anugrah dan Ibu Cynara.
Anugrah beberapa kali mencoba mencari celah untuk berbicara secara pribadi. Namun, Cynara selalu mengembalikan pembicaraan kepada urusan bisnis.
“Kalau tidak ada perubahan, kita bisa masuk ke halaman terakhir.”
Anugrah mengangguk. “Baik.”
Alvin diam-diam memperhatikan. Ia ingin tahu seperti apa Cynara menghadapi pria yang pernah menjadi suaminya ini.
Ternyata jawabannya sederhana. Cynara sudah benar-benar melepaskan masa lalunya.
Setelah semua poin disepakati, Alvin mengambil pena.
“Kalau begitu, kita tanda tangan.”
Cynara menandatangani dokumen terlebih dahulu. Kemudian menyerahkan pena kepada Alvin. Alvin menandatangani.
Terakhir, dokumen diberikan kepada Anugrah. Tangannya menggenggam pena. Tetapi ia belum juga menandatangani.
Alvin mengangkat alis. “Pak Anugrah?”
Anugrah tersadar. “Ya.”
Ia segera membubuhkan tanda tangan. Kontrak pun akhirnya resmi.
Cynara menutup map. “Terima kasih atas kerja samanya.” Ia langsung berdiri.
Alvin ikut berdiri. “Sama-sama.”
Cynara mengangguk kepada semua orang. Kemudian berbalik.
Anugrah menatap punggungnya. “Cynara.”
Perempuan itu berhenti. Anugrah segera berdiri. Ada banyak hal yang ingin ia katakan.
Tentang lima tahun lalu. Tentang Naren. Tentang pertemuan mereka kemarin.
Tetapi di dalam ruangan itu, ia tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya. Apalagi ada kakak iparnya, yang sedari tadi terus mengamati.
Cynara menunggu.
Anugrah akhirnya hanya berkata, “Semoga kerja sama ini berjalan lancar.”
Cynara mengangguk. “Amin.”
Kemudian ia pergi. Pintu tertutup. Anugrah masih berdiri.
Alvin menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Duduk.”
Anugrah perlahan duduk.
Alvin menatapnya dengan datar. “Kenapa wajahmu seperti baru kehilangan sesuatu?”
Anugrah sedikit tersentak. “Tidak, Pak.”
Alvin tersenyum tipis. “Yakin?"
Ia hanya mengangguk kaku mengambil dokumen kontrak itu.
“Apa kalian memiliki masalah pribadi?" tanya Alvin, kepalanya sedikit miring dengan tubuh tersandar di kursi kerja.
Kepala Anugrah bangkit kaku perlahan bagai robot menatap ke arah Alvin. "A-apa maksud Anda?"
"Saya tidak ingin masalah pribadi mengganggu pekerjaanmu.”
Anugrah menelan ludah. “Ti-tidak. Tentu saja tidak.”
Alvin pun duduk dengan tegak lalu mengangguk. “Bagus.”
Namun, senyum tipis di wajahnya membuat perasaan Anugrah menjadi tidak nyaman.
Entah kenapa, ia merasa bahwa Alvin merencanakan sesuatu yang tak ia pahami.
*bersambung*
Seru nih apalagi kalau mereka bertiga kompak kerjasama, bikin Anugrah tidak berkutik😂
terimakasih sudah update mskipun kondisi tidak fit