Saat Arsenio Malik (29) memilih untuk menikahi kakak kandung Seraphina Allena (25) yang bernama Kalani Gianna (27), hati Seraphina saat itu benar-benar patah. Dia diberi pengkhianatan ganda dari dua orang yang tak pernah ia sangka akan tega menusuknya dari belakang. Kalani ternyata sudah hamil. Dan, kedua orangtua mereka malah berdiri di sisi Kalani untuk membela kesalahan anak pertama mereka.
Saat Seraphina merasa ditinggal sendirian di dunia ini, datanglah Kaivan Lyonel Marvin (30) yang menjadi obat bagi luka hati Seraphina. Karena kelembutan dan perhatian Kaivan, Seraphina akhirnya memutuskan untuk menerima lamaran dari pria itu.
Namun, empat tahun setelah pernikahan mereka, Seraphina baru tahu jika ternyata Kaivan menikahinya hanya supaya Seraphina tidak mengusik pernikahan Kalani dan Arsenio.
Pria yang sudah menjadi suaminya itu ternyata juga mencintai Kalani. Dia bahkan rela berkorban dengan menikahi Seraphina hanya demi memastikan agar Sera tidak balas dendam kepada Kalani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Apa maksudmu, Seraphina?" Arsenio mencengkram tangan Seraphina erat. "Apa kamu ingin menikah dengan pria lain?"
"Ya," jawab Seraphina. "Kamu pikir, aku tempat daur ulang sampah?"
Arsenio menggeram marah. Jelas itu sindiran untuk dirinya.
"Lepas!"
Seraphina menarik tangannya kencang.
"Sera, apa yang kamu katakan? Kamu mau menikah dengan pria lain? Memangnya, kamu punya kenalan pria yang bersedia menikahimu selain Arsen?"
Kalani tersenyum meremehkan.
Cukup menyebalkan untuk dilihat.
"Pasti ada," jawab Seraphina. "Masalahnya, aku jijik pada barang bekas milikmu, Kak. Itu sebabnya, aku menolak Arsen."
"Sera, kamu juga barang bekas," balas Arsenio. Tak terima jika hanya dirinya yang dihina.
"Oh, ya? Yakin?" balas Seraphina sambil tersenyum sinis.
Kening Arsenio sedikit mengernyit. Apa jangan-jangan... Seraphina masih suci? Kaivan... pria ini tak pernah menyentuh Seraphina?
Wah, itu artinya Arsenio dapat jackpot besar.
"Ayah, bagaimana? Mau aku tetap menikah atau tidak?"
"Tentu saja Ayah mau kamu tetap menikah. Tapi, calon suamimu tetap Arsenio. Tidak akan diganti oleh pria manapun. Kamu mengerti?" Romi berkata tegas.
"Tapi, aku tidak menyukai Arsenio."
"Kalau kau menolak menikah, maka Ayah akan membongkar dan memindahkan makam nenekmu ke tempat yang tidak akan pernah kamu ketahui," ancam Romi.
"Curang!" geram Seraphina marah.
" Ayah terpaksa. Semua demi kebaikan mu."
Seraphina tak menjawab. Percuma saja dia berbicara dengan orang-orang yang egois. Mereka semua hanya mementingkan kebahagiaan masing-masing. Tak ada yang peduli pada perasaan Seraphina.
Tak mau mendengarkan omong kosong lebih banyak lagi, Seraphina memutuskan kembali ke kamarnya.
Hanya tempat itu yang merupakan tempat teraman di rumah orangtuanya. Hanya tempat itu satu-satunya sudut yang menawarkan ketenangan.
"Kalian pikir, aku akan menuruti permintaan kalian? Kalian salah."
Seraphina mencengkram kuat sprei dibawahnya. Tekadnya sudah bulat. Jika pernikahan harus tetap terjadi, maka dia akan menikah dengan pria lain. Bukan dengan Arsenio.
*****
"Noah!!! Noaaaahhhh!"
Marco berteriak kencang. Dia menerobos masuk ke ruangan sang atasan dengan napas ngos-ngosan.
"Ish, ada apa? Apa kau tidak lihat aku sedang sibuk, Marco?" omel Noah kesal.
Dia sibuk membolak-balik laporan didepannya. Ada banyak kesalahan dalam laporan tersebut yang membuat moodnya jadi terjun bebas.
"Noah, Seraphina akan kencan buta."
Brak!
Laporan itu dilempar ke belakang. Seolah-olah, benda tersebut tidak berharga sama sekali.
"Oh, ya? Kapan? Dimana?" tanya Noah antusias.
Pucuk dicinta ulam pun tiba.
"Besok hari pertama di kafe pelangi. Jam 10 sampai jam empat sore dengan 12 pria yang berbeda. Dan,kencan butanya akan berlangsung selama empat hari."
Alis Noah reflek mengernyit. "Kok, banyak sekali?"
"Yang mendaftar lumayan banyak. Hampir lima puluh orang."
"Wah, Seraphina ternyata laku juga," kata Noah. "Padahal, wajahnya tidak cantik-cantik amat."
"Dia memang cantik, Noah," ralat Marco.
"Cih, biasa saja," balas Noah. Gengsi. Harga dirinya sedikit terluka karena seleranya ternyata sama persis dengan lima puluh pria lainnya.
Padahal, Noah percaya diri sekali jika seleranya unik dan tak sama dengan pria lain.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Marco.
"Kau masih bertanya?" Noah balik bertanya.
Marco menghela napas panjang. "Baiklah! Aku akan mendaftarkan mu untuk ikut kencan buta itu."
"Bagus. Kau memang cerdas." Noah menjentikkan jarinya. "Dan, kau harus memastikan jika yang hadir besok dan tiga hari berikutnya di acara kencan buta itu hanya aku seorang."
"Noah, itu mustahil. Mana mungkin aku bisa mencegah pria lainnya untuk datang. Mereka terlalu banyak. Aku tidak mungkin bisa mencari tahu semuanya hanya dalam semalam."
Noah tersenyum lebar. Isyarat bahwa neraka untuk Marco sebentar lagi akan datang.
"Marco, sahabat baikku," panggil Noah. Dia berjalan melingkari mejanya. Dipeluknya bahu Marco dengan senyuman lebar yang masih bertahan.
"Apa?" tanya Marco. "Jangan meminta hal yang aneh-aneh, Noah."
"Ku beri cuti dua hari untuk bulan ini jika kau bersedia membantuku!"
"Cih, kau pikir, cuti dua hari bisa meluluhkan pendirian ku?" Marco tertawa sumbang. "Tidak akan."
"Bagaimana dengan tambahan tiket gratis ke Maladewa?"
Glek.
Marco meneguk ludahnya. Maladewa? Pantai? Gadis-gadis cantik?
"Tidak." Marco masih berusaha untuk tidak tergoda.
Mencari tahu identitas lima puluh orang pria dalam waktu semalam sangatlah mustahil. Ditambah lagi, Marco harus menghubungi mereka satu persatu serta bernegosiasi dengan mereka untuk tidak datang ke kencan buta itu.
Pasti sangat melelahkan. Marco tak akan sempat beristirahat di bak mandi besarnya sambil menyesap susu kambing favoritnya.
"Kau juga bisa memakai kartu hitam ku sesuka hati," lanjut Noah.
Dia memamerkan kartu hitamnya di depan wajah Marco.
Lihatlah! Mata Marco sudah mulai hijau. Sedikit lagi, sang sahabat akan luluh pada bujukannya.
"Bayangkan, Marco! Liburan, tiket gratis, Maladewa, kartu hitam, dan bertemu dengan gadis-gadis cantik. Apa kamu benar-benar tidak mau?"
Marco tak menjawab. Matanya masih tertuju pada kartu hitam Noah.
"Baiklah. Kalau kau tidak mau, aku akan..."
Noah hendak memasukkan kartu hitamnya kembali ke saku jasnya.
Namun...
"Siapa bilang aku tidak mau?" sahut Marco cepat. Dia menyambar kartu hitam itu dari tangan Noah lalu mengamankannya didalam saku celana bahannya.
"Oke. Aku akan memastikan jika hanya kamu yang akan Seraphina temui besok."
"Good! Ini baru sahabatku. Terima kasih banyak, Kawan!"
"Kalau begitu, aku pergi dulu!" pamit Marco.
"Silakan!" angguk Noah sambil mempersilakan Marco pergi dengan penuh hormat.
Diluar ruangan Noah, Marco menghentakkan kakinya kesal.
Astaga!
Apa dia baru saja menyerah oleh bujuk rayu Iblis yang terjebak dalam tubuh manusia itu?
"Sial, sial, sial!! Kenapa aku bisa terbujuk, sih? Apa dia menghipnotis ku? Waaaahh! Iblis itu memang brengsek sekali. Berani-beraninya dia menjerumuskanku dalam pekerjaan yang tiada hentinya. Masa' aku harus bekerja selama 24 jam? Memangnya, ini jaman penjajahan? Romusha?"
menyusun rencana merebut lagi
noah & sera kalian keren sekali 🤭🤭🤭🤭