Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.
Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Kiriman Makanan Misterius
Pukul enam pagi lewat sepuluh menit. Suasana SMA Internasional Garudatama masih sepi senyap bagaikan kuburan. Gerbang sekolah baru saja dibuka oleh Pak satpam yang masih menguap lebar memegang segelas kopi hitam.
Di koridor lantai dua menuju kelas XI-A, sesosok cowok bertubuh tinggi tegap tampak berjalan mengendap-endap dengan gerakan yang sangat mencurigakan. Dia mengenakan jaket hoodie hitam besar untuk menutupi seragam sekolahnya, lengkap dengan masker medis yang menutupi setengah wajah keturunan Jerman-Sunda miliknya.
Siapa lagi kalau bukan Rendra Adijaya.
Di tangan kanannya, Rendra menenteng sebuah kantong kertas tebal cokelat dari kedai kopi premium internasional, lengkap dengan satu cup iced caramel macchiato berukuran besar yang masih dingin berembun.
“Aman... koridor aman. Gak ada manusia,” batin Rendra berkomat-kamit panik. Jantungnya berdegup kencang bukan karena takut hantu sekolah, melainkan takut setengah mati kalau aksinya ini ketahuan orang lain.
Dia buru-buru menyelinap masuk ke dalam kelas XI-A yang kosong melompong. Tanpa babibu, Rendra melesat ke pojok kanan paling belakang—meja milik Kanaya Putri. Dengan gerakan super hati-hati, dia meletakkan kantong kertas berisi croissant cokelat hangat dan kopi mahal itu tepat di tengah meja Naya.
Rendra menatap makanan itu, lalu merogoh kantongnya untuk menempelkan sebuah stiker kecil bergambar kucing hitam berkacamata—logo server Discord mereka—di permukaan cup kopi.
“Selesai! Sempurna!” batin Rendra bersorak lebay. Dia langsung balik badan dan berlari keluar kelas secepat kilat, membuang masker dan jaketnya ke dalam loker pribadi di lorong sekolah sebelum murid-murid lain berdatangan. Topeng pangeran dinginnya harus tetap terpasang sempurna tanpa cela.
Dua jam kemudian, bel masuk sekolah hampir berdering. Bagi seorang Kanaya Putri, begadang adalah jalan ninjanya demi menjaga ketertiban server Discord dari serbuan bocah-bocah toxic. Tadi malam, Naya baru bisa memejamkan mata tepat pukul tiga pagi setelah sukses menendang keluar puluhan akun perusuh. Akibatnya, pagi ini dia terpaksa melesat ke sekolah tanpa sempat sarapan demi menghindari gerbang sekolah yang hampir dikunci.
Naya melangkah masuk ke ruang kelas XI-A dengan langkah gontai dan mata yang sepet. Perutnya sudah berbunyi keroncongan minta diisi sejak dia turun dari angkot.
"Ah, elah... laper banget gue. Mana duit jajan pas-pasan lagi buat beli kuota," gumam Naya sambil menyeret langkahnya menuju barisan paling belakang di pojok kanan kelas.
Namun, begitu Naya sampai di depan mejanya, langkahnya mendadak terhenti. Matanya yang tadinya sayu langsung melebar sempurna. Dia mengerjap-erjapkan matanya berkali-kali.
Di atas permukaan meja kayunya yang biasanya berdebu, kini tergeletak sebuah kantong kertas tebal cokelat dengan logo kedai kopi premium yang sangat terkenal di pusat kota. Di samping kantong kertas itu, ada satu cup iced caramel macchiato berukuran besar yang permukaannya masih berembun dingin, lengkap dengan sepotong croissant cokelat mahal yang aromanya langsung menusuk hidung.
Naya menoleh ke kanan dan ke kiri dengan tatapan penuh selidik. Kelas mulai agak ramai, tapi sebagian besar murid sibuk menyalin PR matematika di barisan depan.
"Ini punya siapa, nyasar di meja gue?" Naya bergumam bingung. Dia memeriksa kantong kertas cokelat itu, mencari tahu apakah ada secarik kertas atau nama pemiliknya. Hasilnya nihil. Sama sekali tidak ada nama siapa pun. Hanya ada stiker kucing hitam berkacamata yang entah kenapa terasa sangat familier bagi Naya, tapi otaknya yang masih mengantuk belum bisa memproses puzzle tersebut.
Melihat ada barang mewah di meja pojok, Keysha dan beberapa cewek tukang gosip kelas yang kebetulan lewat langsung ikutan berhenti dan ngerubutin meja Naya.
"Eh, Naya! Gila, lo dapet kopi Starbucks premium ya? Dari siapa nih?" tanya Keysha dengan mata berbinar-binar penuh kepo. "Ada surat cintanya ga? Coba liat dong!"
"Kagak ada nama, kagak ada surat. Dateng-dateng udah nongkrong di sini," jawab Naya ketus, risih mejanya mendadak dikerumuni cewek-cewek heboh.
"Wah, gila! Jangan-jangan dari kakak kelas cowok yang ganteng itu? Siapa sih namanya, Kak Dimas anak basket?" celetuk cewek satunya lagi heboh sendiri. "Kan dia kemarin sempet ngeliatin lo pas di kantin!"
Di barisan tengah, Rendra Adijaya duduk tegap dengan posisi memunggungi mereka. Wajah blasterannya terlihat sangat fokus membaca buku paket Fisika tebal di atas mejanya, seolah-olah dia adalah murid teladan yang tidak peduli dengan urusan duniawi.
Namun, di balik buku Fisika yang dia pegang itu, kuping Rendra sebenarnya sudah merah padam menahan amarah rahasia. Buku Fisika di tangannya diremas kuat-kuat sampai kertasnya lecek dan robek tipis di bagian ujung. Auranya mendadak berubah menjadi sangat dingin, gelap, dan mematikan.
“Kak Dimas anak basket siapa, sialan?! Itu dari gue! Uang gue! Keringat sopir gue yang beli subuh-subuh! Awas aja lo ya, Kak Dimas, kalau berani ngaku-ngaku ngirim ini ke Naya, gue pastiin ring basket sekolah ini gue robohin biar lo ga bisa main lagi seumur hidup!” batin Rendra mengamuk histeris dalam mode posesif-obsesif akut skala 10/10.
"Udah deh, bubar-bubar. Kelas mau dimulai. Ini palingan orang salah taruh meja," usir Naya malas pada cewek-cewek gosip itu. Keysha dan gengnya akhirnya bubar sambil mencibir pelan.
Naya akhirnya menarik kursi kayu miliknya lalu duduk. Perutnya kembali berbunyi kruuuk dengan sangat nyaring. Logikanya kalah telak oleh rasa lapar.
"Bodo amat lah, daripada gue mati kelaparan pas jam pelajaran Sejarah," gumam Naya pragmatis. Dia menusuk sedotan ke cup kopi premium itu, lalu menyeruputnya dalam-dalam. "Njir... enak banget gila. Manisnya pas, rasa kopinya elite. Ini mah kopi harga gocap ke atas."
Naya menyambar croissant cokelat yang masih terasa hangat itu lalu menggigitnya dengan lahap. Rasa manis cokelat premium langsung meleleh di lidahnya, membuat suasana hatinya yang buruk akibat kurang tidur mendadak melonjak naik menjadi sangat bahagia.
Aldi yang baru saja duduk di sebelah Rendra menoleh ke belakang, lalu menyenggol lengan Rendra. "Ren, lo liat si Naya kagak? Tumben bener tuh anak sarapannya elite banget hari ini. Sejak kapan dia jadi anak sultan jajan kopi gituan?"
Rendra buru-buru menetralkan ekspresi wajahnya, menatap Aldi dengan pandangan sedingin es batu. "Nggak tahu. Bukan urusan gue," jawab Rendra pendek dengan suara berat fabrikasinya.
"Yaelah, kaku amat lo. Tapi aneh ya, ga ada angin ga ada hujan dapet ginian. Gue curiga ada setan baik hati yang hobi sedekah subuh di sekolah kita," celoteh Aldi ngasal sebelum kembali sibuk dengan HP-nya.
“Setan baik hati itu gue, Aldi. Gue pawang mentalnya,” batin Rendra bangga setengah mati.
Dari posisinya, Rendra pelan-pelan menurunkan buku Fisika-nya sedikit. Dia melirik tipis ke arah belakang melalui sudut matanya. Melihat Naya yang sedang tersenyum puas sambil mengunyah roti kirimannya dengan pipi yang menggembung bulat seperti anak kucing kelaparan, pertahanan dingin Rendra langsung runtuh total di dalam batin. Jiwanya mendadak meleleh menjadi bubur.
“Imut banget... demi Tuhan, Naya pas lagi makan croissant seimut itu. Pipi gembilnya pengen gue cubit,” batin Rendra merona hebat, pipinya terasa panas meskipun ekspresi wajah luarnya tetap sekaku semen pondasi rumah. “Mulai besok dan seterusnya, meja lo ga boleh kosong dari makanan mahal, Nay. Gue bakal jadi setan baik hati pribadi lo seumur hidup. Biarin aja cewek-cewek lain heboh, yang penting lo kenyang.”
Rendra kembali menaikkan buku Fisika-nya dengan seulas senyum obsesif rahasia yang terukir tipis di bibirnya. Rencana kiriman makanan misterius hari pertama sukses besar. Saklar obsesi sang pangeran sekolah kini semakin membara tanpa ada niat untuk padam sedikit pun.