Rebecca membesarkan si kembar seorang diri sejak kakaknya tiada—dengan satu janji yang ia ucapkan di ranjang kematian sang kakak: jangan pernah mencari ayah mereka.
Selama bertahun-tahun ia menepatinya. Sampai seorang penguntit muncul dari kegelapan, mengirim bunga yang berubah jadi ancaman, lalu foto anak-anaknya di depan gerbang sekolah. Polisi angkat tangan. Waktu Rebecca habis.
Kini hanya ada satu nama yang mungkin sanggup melindungi mereka—nama yang telah ia sumpahi untuk tak pernah diucapkan. Dante. Pengusaha berpengaruh, dingin, tak tersentuh… dan bos sebuah kerajaan mafia yang bahkan tak tahu bahwa ia punya anak.
Untuk menyelamatkan kedua bocah yang ia cintai melebihi nyawanya sendiri, Rebecca harus melanggar janji terpenting dalam hidupnya dan melangkah masuk ke dunia paling berbahaya yang pernah ada—dunia milik pria yang seharusnya tak pernah ia temui.
Tapi Dante bukan sekadar bahaya. Ia posesif. Ia sabar. Dan begitu ia memutuskan sesuatu—atau seseorang—adalah miliknya, ia tak akan pernah melepaskannya.
Di antara ancaman yang mengintai, rahasia masa lalu, dan gairah yang mustahil ditolak, satu janji yang teringkari bisa jadi awal dari segalanya… atau akhir dari semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marilu@123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah Dagingku
Sudut Pandang Dante
Aku sudah mendengar banyak cerita. Kebohongan yang dirangkai apik. Kebenaran yang disembunyikan dengan buruk. Orang-orang putus asa yang mencoba merebut sesuatu dariku.
Tapi yang ini… yang ini berbeda.
Aku tetap diam, membolak-balik dokumen yang dikumpulkan Jason. Akta. Tanggal. Nama. Terlalu banyak detail untuk sekadar rekayasa.
Pandanganku menyusuri halaman-halaman dengan tenang. Dingin. Penuh perhitungan. Seperti biasa. Tapi di dalam… pikiranku bekerja cepat. Menganalisis. Menyambung titik. Mencari celah. Selalu ada celah. Selalu.
Sampai ia bicara. Menunjukkan foto itu. Dan aku terhenti.
Tanganku beku sesaat. Kuamati lebih saksama. Wajah itu. Mata itu. Raut itu.
Lalu… aku ingat.
Bertahun-tahun lalu. Seorang perempuan. Diskret. Pendiam. Bukan bagian dari duniaku. Seharusnya ia tak pernah mendekat. Tapi ia mendekat. Dan aku… lalai.
Aku mengembuskan napas pelan. Nyaris tak terdengar. Jengkel. Pada diriku sendiri.
"Sial…" gumamku, lebih untuk diriku sendiri ketimbang untuknya.
Kututup map itu perlahan. Kuangkat pandangan. Dan kutatap Rebecca.
Ia gugup. Kelihatan jelas. Dari cara ia meremas tangannya. Napasnya yang terlalu ringan. Tubuhnya yang tegang. Ia takut. Padaku.
Dan itu… sudah kuduga. Wajar.
Tapi yang menarik perhatianku… meski takut, ia tak lari. Tak mengalihkan pandang. Ia bertahan. Bicara. Menghadapiku. Sedikit orang yang mampu begitu. Sangat sedikit.
Aku kembali menyimak. Ia bicara tentang pria itu. Penguntitan. Ancaman. Foto. Pengendalian.
Rahangku sedikit mengeras. Ini bukan kebetulan. Bukan pula obsesi biasa. Ini seseorang berkuasa. Atau seseorang yang punya akses. Dan itu… menarik minatku. Sekaligus membuatku geram.
Karena kalau ada yang berani memakai anak-anak…
Anak-anakku.
Kuhentikan pikiran itu. Belum. Belum terkonfirmasi.
Tapi kalau itu benar… kalau kedua bocah itu memang anakku… berarti seseorang telah melewati garis berbahaya. Sangat berbahaya.
Aku sedikit menjauh. Duduk. Tanpa terburu. Kusandarkan siku ke lutut. Kutautkan jari-jariku. Dan aku diam. Mengamatinya. Tiap reaksi. Tiap embusan napas. Tiap detail.
Dan kubiarkan. Kubiarkan hening itu tumbuh. Berat. Mengganggu. Sengaja.
Ia jadi tak tahu harus berbuat apa. Matanya bergerak ke sana kemari. Ketegangan meningkat.
Bagus. Aku ingin melihat sampai di mana ia sanggup bertahan.
"Nama." Kuucapkan tiba-tiba. Suaraku rendah. Langsung.
Ia mengerjap. "Apa?"
"Nama-nama mereka."
Ia menelan ludah. "Heitor dan Henrique."
Kuulang dalam hati. Merekamnya.
"Umur."
"Tujuh belas."
Aku mengangguk sedikit. "Seperti apa mereka?" tanyaku, sambil terus mengamati.
Dan lalu… ada yang berubah. Sepenuhnya.
Raut wajahnya melembut. Bahunya sedikit mengendur. Dan senyum muncul. Kecil. Tapi tulus.
"Henrique…" ia memulai. Nada suaranya berbeda kini. Lebih ringan. "Dia impulsif… sangat terbuka… bicara apa saja tanpa saringan…" Ada kilau samar di matanya. "Dia… meledak-ledak. Nyaris seperti badai."
Aku mengembuskan sedikit napas lewat hidung. Aku sudah kenal banyak yang seperti itu.
"Dan Heitor?" tanyaku.
"Heitor kebalikannya," jawabnya seketika. "Tenang… pengamat… selalu menganalisis segalanya…" Ia berhenti sejenak. Dan senyumnya melebar. "Tapi dia lebih penuh kasih sayang."
Itu menangkapku lengah. Penuh kasih sayang. Kata yang asing… dalam konteks itu. Dalam hidupku. Dalam kenyataanku.
Aku terus mengamatinya saat ia bicara. Dan aku menyadarinya. Cara matanya berkilau. Cara raut wajahnya melunak. Kehati-hatian dalam tiap katanya.
Itu bukan sandiwara. Bukan pamrih. Itu… kasih sayang. Nyata. Kuat. Tulus.
Lalu aku memandangnya lebih saksama. Sungguh-sungguh.
Rebecca. Dua puluh lima tahun. Lelah. Tegang. Tapi… cantik. Jauh lebih cantik dari yang kusadari pada saat pertama. Mungkin karena sekarang… aku memperhatikannya.
Ia mengangkat pandangan. Menatapku. Lebih tegas kali ini.
"Aku tak ingin berada di sini." Suaranya keluar mantap. Tanpa gemetar. "Aku sudah berjanji takkan pernah mencarimu."
Hening.
"Tapi aku takkan membiarkan apa pun terjadi pada mereka." Tatapannya tak beralih. Bahkan sedetik pun. "Tidak akan pernah."
Itu… itu menarik perhatianku dengan cara yang tak kusukai. Atau terlalu kusukai. Aku belum tahu.
Tapi sebelum sempat kujawab, ponselnya berdering. Suaranya memecah keheningan.
Ia terperanjat. Sungguhan. Seluruh tubuhnya bereaksi. Ia meraih ponsel dengan tangan gemetar. Wajahnya… pucat. Matanya terpaku ke layar.
Dan pada saat itu… aku tahu. Ini bukan panggilan biasa.
Sesuatu di dalam diriku waspada. Dingin. Berbahaya.
"Angkat," ucapku. Rendah. Tapi tegas.
Ia menelan ludah. Lalu mengangkatnya.
Dan aku tetap di sana. Mengamati. Menunggu.
Karena ada sesuatu yang membisikiku… bahwa ini… baru permulaan.