NovelToon NovelToon
Batal Cerai Setelah Suami Mendengar Isi Pikiran Sang Istri

Batal Cerai Setelah Suami Mendengar Isi Pikiran Sang Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:640.9k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Lorenzo Matteo Romano sudah mantap menceraikan Alina Seraphine Bellamy, setelah tiga tahun menikah.

Namun, kecelakaan terjadi tepat setelah Lorenzo mengajukan perceraian. Ketika sadar, Lorenzo justru mendapatkan kemampuan aneh—ia bisa mendengar isi pikiran Alina.

Betapa terkejutnya Lorenzo saat mengetahui bahwa wanita yang selama ini terlihat begitu patuh ternyata menyimpan segudang rahasia, keluhan, dan komentar pedas yang tak pernah berani diucapkannya.

Lorenzo akhirnya memutuskan berpura-pura amnesia agar perceraian mereka batal.

Sayangnya, rencana itu justru membuat Alina semakin stres. Sebab, di depan Lorenzo, Alina harus tetap menjadi istri yang lembut dan penurut.

Sementara di dalam hatinya, “Ya Tuhan, kenapa orang ini belum juga ingat kalau dia mau menceraikanku?!”

Sejak saat itu, pernikahan mereka berubah menjadi permainan rahasia: seorang istri yang tak sadar isi kepalanya bisa didengar, dan seorang suami yang berbalik mati-matian mempertahankan pernikahannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Cahaya matahari pagi menyusup perlahan melalui celah tirai. Sinar keemasan jatuh di atas ranjang yang masih berantakan, menyentuh ujung selimut dan lantai kayu di samping tempat tidur.

Alina mengerjapkan mata. Kesadarannya belum sepenuhnya kembali. Kepalanya masih berat, tubuhnya terasa hangat, dan ada sesuatu yang terasa nyaman di lengannya.

“Hmmm, hangat dan wangi.” Alina mengerakkan kepalanya mencari posisi yang lebih nyaman lagi.

“Wangi apa ini, ya? Kayaknya aku kenal.” Alina mengendus-endus dengan hidung mancungnya.

Perlahan Alina mengusap wajah dengan malas, lalu mencoba mengingat di mana dirinya berada. Beberapa detik kemudian, matanya terbuka sedikit lebih lebar. Ada dada bidang tepat di depan wajahnya.

Alina membeku. Pandangan matanya perlahan naik. Dada bidang yang telanjang. Bahu lebar. Lalu turun sedikit. Perut yang terbentuk jelas dengan kotak-kotak yang selama ini hanya pernah ia lihat di majalah atau layar ponsel.

Alina masih belum bergerak. Otaknya seperti membutuhkan waktu untuk memproses pemandangan di depan mata.

Kemudian Alina menyadari satu hal yang jauh lebih memalukan. Lengannya melingkar erat di pinggang Lorenzo. Ia sedang memeluk suaminya yang dalam keadaan topless. Di satu ranjang.

Alina langsung tersentak.

"Astaga!"

Wanita itu buru-buru menarik kedua tangannya, seolah baru saja memegang benda panas. Tubuhnya mundur beberapa sentimeter. Wajahnya memerah sampai ke telinga.

“Apa yang aku lakukan semalaman?!”

Alina menatap Lorenzo dengan napas tertahan.

Pria itu masih tertidur pulas. Wajahnya terlihat tenang, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mengetahui bahwa istrinya baru saja mengalami krisis harga diri di sebelahnya.

Alina menelan ludah.

“Tunggu. Kenapa aku bisa sampai memeluk dia?Bukankah semalam aku tidur di ujung ranjang?”

Alina berusaha mengingat, tetapi tidak ada jawaban. Yang ia ingat hanya dirinya terlalu lelah, lalu berbaring dan menutup mata. Setelah itu, kosong.

Alina mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

“Jangan-jangan aku yang bergerak mendekat saat tidur?” Pikiran itu membuat wajah Alina semakin panas.

“Tidak. Tidak mungkin. Aku tidak mungkin punya kebiasaan memeluk manusia saat tidur. Apalagi manusia ini.”

Alina baru saja hendak bergeser menjauh ketika Lorenzo bergerak. Tubuh pria itu bergeser sedikit di atas kasur.

"Mmm ...." Lorenzo menggumam pelan dalam tidurnya.

Alina belum sempat bereaksi ketika sebuah lengan panjang tiba-tiba bergerak dan melingkar di sekitar perutnya. Tubuh Alina kembali kaku. Mata wanita itu membulat.

Lorenzo memeluknya. Sekarang gantian.

Alina menunduk melihat tangan Lorenzo yang melingkar di pinggangnya. Pikirannya yang baru bangun seolah langsung mendapat suntikan energi.

”Lho? Kenapa dia malah memelukku?!”

Niat Alina mencoba melepaskan tangan itu perlahan. Namun, sebelum sempat berpikir jernih, tubuhnya sudah bereaksi lebih dulu. Seketika ia mengangkat kaki.

Duk!

Tendangan itu mengenai tubuh Lorenzo dengan cukup keras. Tubuh pria itu terdorong ke samping hingga hampir terlempar dari ranjang.

Brak! Punggung Lorenzo menghantam lemari pakaian.

"Aduh!" Suara Lorenzo menggema memenuhi kamar.

Alina langsung membeku. Matanya menatap Lorenzo yang kini terduduk di lantai dengan wajah meringis.

Beberapa detik berlalu. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bicara. Alina bahkan lupa bernapas.

“Oh, tidak! Apa yang sudah aku lakukan kepadanya?!”

Jantung Alina berdegup begitu keras sampai rasanya terdengar di telinganya sendiri.

Lorenzo memegang bagian tubuhnya yang terasa sakit. Napasnya berat. Wajahnya memerah karena menahan nyeri.

"Alina ...." Suaranya terdengar berat.

Alina tersentak. "I-iya?"

Lorenzo mengangkat wajah. Tatapannya langsung tertuju kepada Alina.

"Alina, kamu mau membunuhku!" pekiknya sambil meringis kesakitan.

Alina langsung duduk tegak. "Maaf!"

Wanita itu lalu turun dari ranjang dengan terburu-buru. "Maaf ... maaf! Aku tidak sengaja!"

Lorenzo mengusap punggungnya sambil mengernyit.

"Tidak sengaja?" ulangnya dengan suara meninggi. "Kamu menendang ku sampai tubuhku terbang dan membentur lemari!"

"Aku benar-benar tidak sengaja!"

"Kalau barusan itu tidak sengaja, aku mau tahu seperti apa kalau kamu sengaja!"

Alina membuka mulut, tetapi tidak langsung bisa menjawab. Ia melirik tubuh Lorenzo yang masih terduduk di lantai.

Pria itu memang terlihat kesakitan. Wajar saja. Baru beberapa hari lalu dia mengalami kecelakaan parah, masih dalam masa pemulihan, dan sekarang istrinya sendiri malah menendangnya sampai membentur lemari.

Alina meremas ujung bajunya.

“Maaf, tapi ini gara-gara kamu yang tiba-tiba memelukku! Itu bukan sepenuhnya salahku. Aku bahkan baru membuka mata! Kalau tadi kamu tidak memelukku, kakiku juga tidak akan bergerak sendiri!”

Lorenzo mendadak menyipitkan mata.

Alina langsung terdiam. Ia buru-buru mengalihkan pandangan.

Lorenzo masih memegang punggungnya. "Kamu benar-benar tega," gerutunya.

"Aku kaget."

"Kaget sampai kakimu ikut berpikir?"

Alina hampir menjawab, tetapi urung.

Kalau dipikir-pikir, memang tidak ada jawaban yang bisa membuat dirinya terlihat masuk akal. Ia menatap Lorenzo lagi.

Pria itu masih duduk di lantai dengan rambut sedikit berantakan. Wajahnya kesal, tetapi kondisinya membuat kemarahannya justru terlihat menyedihkan.

Rasa bersalah Alina semakin besar. Namun, rasa malu juga tidak kalah besarnya.

“Bagaimana bisa pagi-pagi begini aku memeluk dia? Dan kenapa tubuhnya harus sebagus itu?”

Alina segera menggeleng kuat-kuat.

“Tidak. Bukan waktunya memikirkan itu. Aku baru saja melakukan kejahatan terhadap suamiku sendiri.”

Lorenzo mencoba berdiri. Tangannya berpegangan pada sisi meja rias yang dekat lemari.

"Hati-hati!" seru Alina refleks.

Lorenzo berhenti.

Alina mendekat satu langkah. "Kamu masih sakit. Jangan berdiri dulu."

"Aku tahu."

"Kalau begitu duduk saja."

"Aku sedang berusaha duduk dengan harga diriku yang tersisa."

Alina terdiam. Ia ingin membantu, tetapi wajah Lorenzo yang begitu kesal membuatnya ragu. Akhirnya ia memberanikan diri mendekat dan memegang lengannya. "Pelan-pelan."

Lorenzo membiarkan Alina membantunya kembali duduk di tepi ranjang. Begitu tubuhnya sudah berada di atas kasur, Lorenzo menghela napas panjang.

"Punggungku sakit."

Alina langsung merasa bersalah. "Maaf."

"Pinggangku juga."

"Maaf."

"Kepalaku ...."

"Maaf."

Lorenzo menoleh. "Apa kamu tidak punya kata lain selain maaf?"

Alina menunduk. "Tidak ada."

Jawabannya begitu jujur sampai Lorenzo tidak langsung membalas.

Alina berdiri di samping ranjang dengan kedua tangan saling menggenggam. Bahunya sedikit menegang.

Lorenzo melihat wajah istrinya yang pucat. Kemarahan yang tadi sempat membara perlahan mereda.

Namun, Alina sudah lebih dulu mundur. "Aku ambil air."

"Alina."

Langkah Alina berhenti beberapa langkah di depan pintu.

"Kamu mau ke mana?"

Alina menggigit ujung bibirnya. “Mau ambil air minum buat kamu.”

“Kalau aku tetap di sini lebih lama, aku bisa mati karena malu.”

Lorenzo masih menatapnya dengan curiga.

Lalu sebelum Lorenzo sempat mengatakan apa pun, Alina berbalik dan berjalan cepat menuju pintu. Begitu tangannya menyentuh gagang pintu, suara Lorenzo terdengar dari belakang.

"Alina."

Alina berhenti. "Ya?"

"Jangan kabur."

Alina menutup mata sesaat.

“Kabur? Aku tidak kabur. Aku hanya sedang menyelamatkan nyawaku dari rasa malu.”

Tanpa menjawab, Alina membuka pintu dan keluar. Pintu langsung ditutup.

Begitu pintu tertutup rapat, tubuh Alina kehilangan tenaga. Ia menyandarkan punggung ke pintu, kemudian perlahan melorot hingga jatuh terduduk di lantai.

Kedua tangannya menutup wajah. Napasnya masih tidak teratur. Kakinya terasa lemas. Tangannya bahkan sedikit gemetar.

"Ya Tuhan ...." bisiknya pelan.

Bayangan kejadian beberapa menit lalu kembali muncul di kepalanya. Dirinya memeluk Lorenzo. Lalu, Lorenzo yang balas memeluknya.

Alina menurunkan kedua tangannya. Ia menatap kosong ke lantai. "Kenapa hidupku jadi seperti ini?"

“Ya Tuhan! Bisa-bisanya aku menendang keras suamiku yang baru saja pulang dari rumah sakit.”

Pikirannya langsung melompat pada satu hal yang membuat wajahnya semakin pucat. Keluarga besar Romano. Kalau sampai mereka tahu bahwa Lorenzo baru pulang dari rumah sakit, lalu pada pagi pertama di rumah justru ditendang istrinya sampai membentur lemari.

Alina membayangkan wajah Valentina dan Isabella yang murka. Alina bergidik.

“Tidak. Aku tidak sanggup. Kalau keluarganya tahu, aku bisa-bisa mati berdiri kena amukan mereka.”

Alina merapatkan kedua lutut ke dada. "Ini semua gara-gara dia." Alina mengerucutkan bibir.

"Ya. Benar." Alina mengangguk kecil, seolah sedang membela diri di depan pengadilan. "Aku tidak salah sepenuhnya."

Dari dalam kamar terdengar suara Lorenzo. "Alina!"

Alina langsung mengangkat kepala. "Iya!"

"Kamu jadi ambil air atau tidak?"

Alina memejamkan mata sejenak dan menarik napas dalam-dalam. Ia bangkit perlahan sambil memegang gagang pintu.

"Sebentar!"

Alina berjalan menuju dapur dengan langkah masih sedikit goyah. Di sepanjang jalan, satu hal terus berputar di kepalanya.

“Semoga luka Lorenzo tidak bertambah parah. Semoga dia tidak menceritakan ini kepada siapa pun. Dan yang paling penting semoga aku tidak perlu satu kamar lagi dengannya malam ini.”

1
Pudkeciput
tidak ada yg typo kak...kali misal ada...aku yakin netizen indonesia masih bisa membacanya dan mengartikannya🤣🤣.semangat updetnya kak..aku selalu tungguu2☺️
Ummee
ya allah kak... kok bisa hilang?
semangat kk💪
Muft Smoker
harus ny km cari informasi yg bnr2 akurat dluu ,, baru bertindak ,, setelah tau semua kebenaran ny ,, gmn rasanya ed ,, penyesalan udh pasti , malu mungkin ad , duka tentu km rasakan ,, tp di balik semua tu pertanggung jawaban ttap harus km jalani ,,
Felycia Fernandez
pantesan gak update ya kk Thor,semoga cepat sembuh ya kk.banyak minum air putih hangat kk...
Hadi Mulyono
ini bab panjaang
Atik Kiswati
next......
RiriChiew🌺
emang salah nya kamu ed , dulu hrusnya tanya Lorenzo dulu gimana kejadian nya bukan langsung menuduh dan balas dendam kaya beginii 😔
Inooy
setelah semua misteri kematian Xavier terbuka dengan jelas, nyesel kan kamu Ed?
maka nya sebelum kamu benar2 menyalahkan seseorang atas kematian kaka mu..sebaik nya kamu telusuri dulu kebenaran nya sampai sedetail detail nya, jangan hanya meliat sepotong video yg g lengkap kamu langsung menyalahkan orang tanpa tau kebenaran yg sebenar benar nya....
setelah smua nya terbuka, sekarang kamu tanggung konsekuensi dendam mu Ed..karena akibat dendam mu kamu mencelakai Lorenzo yg notabene telah berusaha menyelamatkan kaka kamuu...
jadiiii siap2 hukum yg akan mengambil alih masalah kamu, Ed....
ryuka
haduuhh edgar kamu terlalu sulit mempercayai nya ya
Inooy
Ya Allah aq kira kaka sehat2 aj, pantesan up nya lama..aq pikir lg rehat sejenak utk mengembalikan mood yg suka naik turun, ternyata rehat nya benar2 rehat karena sakit 🥺
cepet sehat dn pulih lg y ka Santi,,biar Alina dn Lorenzo nya g kesepian 🤭
sehat selalu kakaaaa...!!!!
Inooy
sekarang kamu mengakui klo Lorenzo membantu kalian utk bebas dr penyekapan..kenapa waktu om Roberto belum datang dn belum berbicara soal kebebaran tetang kejadian belasan tahun k belakang,,kamu dn Pabio dengan yakin nya menyalahkan Lorenzo..kamu takut ama kemarahan om Roberto yg sangat amat melindungi alorenzo??
maka nya klo mo ngomong kebenaran itu d pikirin dulu baik buruk nya,,jangan hanya demi menyelamatkan diri sendiri kalian mengorbankan orang lain...lagian udh jelas2 4 kluarga udh berbicara tentang kejadian itu dn udh saling menerima dn memahami nya..kenapa kalian tiba2 seolah olah g tau apa2??? 😡
Inooy
nah lhoo saksi hidup lain nya masih ada, dn saksi hidup nya bakalan murka ama kalian Pabio dn Darius..karena pernyataan kalian yg asal bunyi udh bikin seorang Lorenzo d siksa Edgar....
siap siaaaap kalian menerima erupsi nya seorang Robertoo!!!! ha ha haaaa
Inooy
tuuuh kaan kalian g bisa menjelaskan secara rinci, padahal kalian jg korban penculikan tersebut..aneh aj kalian langsung menyalahkan Lorenzo, padahal dr awal kalian d sekap kalian tau Lorenzo jg tertangkap..dn tau jg gimana berusaha keras nya Lorenzo membantu kalian utk bebas,,tp koq sekarang malah seolah olah Lorenzo yg bersalah atas kematian Xavier..ada apa dengan kalian??

bikin emosi aj s Pabio ama s Darius inii..😤
Inooy
dn kalian jg jangan asal men-judge Lorenzo..tooh video kalian cuma sepotong d tambah lg kalian keburu pingsan kaan..jd kronologi keseluruhan nya tidak tau pasti.....
hati2 atas pernyataan kalian, orang yg kalian fitnah bukan orang sembarangan..kalian seolah olah menuduh Lorenzo 100% bersalah, kalian menuduh Lorenzo menjadikan Xavier tameng bagi diri nya..padahal kalian tidak tau d balik tubuh Xavier yg tidak secara langsung membentengi tembakan bagi Lorenzo...kalian hanya berasumsi sendiri, ato mungkin kalian hanya berlindung dr kemarahan Edgar?
tp kalian menyepelekan kemarahan nya Alina dn papa Alessandro klo terbukti pernyataan kalian membuat Lorenzo menderita dn terluka!!!
Ummee
iyaa... knp si edgar bebal banget, gengsi kali ya mau ngaku salah

semoga lekas sembuh kak, sehat²...
Arin
Biar Edgar tau sebab dan akibatnya karena berusaha mencelakai Lorenzo. Akibat dendam lama yang salah sasaran
Ummee
lah... ternyata pengkhianat nya orang yg ditolong dulu, apa motifnya coba?
tau gitu dulu jgn ditolong
Inooy
ternyata teman lucknat yg udh bikin Edgar salah paham dn mengakibatkan Lorenzo jd bulan bulanan dendam nya Edgar....
Pabio dn Darius kalian layak nya anjing yg lg kejepit d tolongin, tp ngebalas gigit orang yg nolongin kalian ckckck....
seandai nya dulu kalian g d tolongin Lorenzo, aq yakin kalian g akan hidup kaya sekarang..kalian benar2 teman durjanaa, g mikir apa ketika Lorenzo mati matian nolongin kalian..sampe2 Lorenzo mempertaruhkan nyawa nya jg??? 😡
sekarang malah kalian memutarbalikkan fakta..ingaaat hukum tabur tuai Pabio, Dariuuus!!!! 😤
Halimah
Makanya Gar....Edgar jd orang tuh yg pinter jgn bodoh.Cuma dr potongan sebuah video singkat km lgsg menyimpulkan sendiri tanpa km cari tau kejadian sebelumnya gmn Malu ga Lo skrg???? pasti malu laaaah
Halimah
Emang iya bebal bgt si Edgar...Getok aja thor pake palu biar pinteran dikit🤣🤣🤣
Semangat thor semoga lekas sehat ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!