NovelToon NovelToon
Sang Putri Pilihan Rakyat

Sang Putri Pilihan Rakyat

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Fantasi
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Ketika mahkota kekaisaran ternoda oleh keserakahan dan tirani seorang saudara kandung, seorang putri yang terbuang harus bangkit dari abu pembantaian.

Diasingkan sejak lahir di Desa Bunga Lotus, Zhao Lianhua tidak pernah tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah kekaisaran. Namun saat pedang istana membakar rumah dan menghancurkan kedamaiannya, ia terpaksa mengambil pedang demi keadilan rakyat jelata!

Bisakah seorang putri terbuang menumbangkan kerajaan yang dipimpin oleh saudara kandungnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Serangan Fajar

Sementara itu...

Lentera-lentera di Aula Giok Merah bergoyang ke kiri dan ke kanan, memantulkan bayangan-bayangan panjang yang menari di atas pilar ukiran naga. Bau dupa cendana yang menyengat tak lagi mampu menutupi aroma ketakutan yang merebak di udara.

Di atas takhta kayu cendana bertatahkan mutiara, duduk Permaisuri Shen. Gaun kebesarannya yang berwarna merah tua berhias sulaman benang emas tampak berkilauan, tetapi wajahnya yang seputih porselen kini mengeras bagai batu, dan dipenuhi murka yang tertahan.

Di hadapannya, Panglima Gao berlutut bersujud. Dahi prajurit berpengalaman itu menempel erat di atas lantai batu giok yang dingin. Di sampingnya, beberapa kasim dan pengawal menunduk rapat, dan tak berani menatap sang ratu tanpa mahkota malam itu.

"Satu bayi," suara Permaisuri Shen terdengar tenang, tetapi dinginnya menembus hingga ke tulang sumsum. Ia memutar-mutar cincin giok di jari kelingkingnya dan melanjutkan. "Satu bayi mungil yang baru lahir dan seorang dayang yang terluka... dan kau membiarkan mereka meloloskan diri?"

"Hamba pantas dihukum mati, Yang Mulia Permaisuri!" ucap Panglima Gao dengan suara bergetar. "Tabib Lin menggunakan racun bubuk belerang yang sangat pekat di tengah kegelapan hutan. Kami berhasil mengeksekusi sang tabib dan seorang dayang lainnya, tetapi Dayang Xiu berhasil memanfaatkan medan yang gelap untuk menghilang ke arah lembah."

PRANG!

Cawan teh dari porselen terbaik dilemparkan oleh Permaisuri Shen, hingga hancur berkeping-keping tepat beberapa inci dari kepala Panglima Gao. Air teh yang masih panas menyiprat ke wajah sang panglima, tetapi ia tidak bergeming sedikit pun.

"Alasan!" teriak Permaisuri Shen sambil berdiri melompat dari takhtanya. Keanggunannya runtuh digantikan oleh kebencian yang membara. "Aku tidak butuh mayat tabib tua itu! Aku tidak butuh nyawa dayang tak berguna! Yang kukendaki adalah bayi itu mati! Apakah kau tahu apa artinya jika benih Selir Meizhen masih bernapas di luar sana?!"

Kasim Agung Li, pria tua bertubuh bungkuk yang selalu berada di samping Permaisuri, melangkah maju dengan hati-hati. "Yang Mulia, haruskah Hamba menyebarkan pasukan bayangan untuk menyisir seluruh desa di wilayah selatan?"

"Tentu saja, Bodoh!" Permaisuri Shen menatap Kasim Li dengan mata membelalak penuh kemarahan. "Raja sedang terluka parah di perbatasan utara! Jika para bangsawan setia dan veteran perang mengetahui bahwa Selir Meizhen melahirkan seorang keturunan sebelum ia wafat, mereka akan menggunakannya sebagai alasan untuk menentang penobatan putraku, Pangeran Agung!"

Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kuku-kukunya yang dipoles merah menancap ke telapak tangan. Selir Meizhen telah mati, tetapi ketakutan akan ramalan masa lalu terus menghantuinya. Seorang putri yang lahir di bawah naungan Bulan Merah dikabarkan akan meruntuhkan tahta tirani.

"Panglima Gao!" perintah Permaisuri Shen dengan nada penuh ancaman. "Bawa seratus prajurit berkedok kawanan penyamun. Periksa setiap desa di lembah selatan! Periksa setiap bayi perempuan yang baru lahir dalam tiga hari terakhir. Jika ada keluarga yang menyembunyikan bayi tanpa surat kelahiran resmi dari desa... bakar seluruh desanya dan ratakan dengan tanah!"

"Menerima perintah, Yang Mulia!" tegas Panglima Gao sambil menegakkan dadanya.

"Ingat," bisik Permaisuri Shen sambil membungkuk, dan menatap langsung ke mata Panglima Gao dengan pendar kekejaman yang mengerikan. "Jangan tinggalkan jejak bahwa ini adalah perintah dari Istana Terlarang. Buat seolah-olah itu adalah serbuan kelompok pemberontak atau penyamun liar. Rahasia ini harus dikubur bersama tanah yang mereka pijak."

Sementara itu, di sudut kegelapan paviliun utama, seorang anak laki-laki berusia belasan tahun berdiri di balik tirai sutra. Ia memakai jubah kebangsawanan berwarna biru tua dengan sulaman naga emas bermata tiga.

Dialah Pangeran Agung, saudara kandung dari bayi yang baru saja melarikan diri, sekaligus calon penguasa tirani di masa depan.

Matanya yang dingin menatap riak amarah ibunya tanpa simpati sedikit pun. Di dalam hatinya, benih kekuasaan mutlak telah tertanam, dan siapa pun yang berani merintangi jalan hidupnya, termasuk saudaranya sendiri, harus dimusnahkan tanpa sisa.

Panglima Gao bangkit dan mengundurkan diri bersama para pengawalnya, lalu menghilang ke dalam kegelapan malam yang pekat. Perintah eksekusi telah dijatuhkan, dan badai pembantaian kini sedang bergerak menuju Lembah Bunga Lotus, tempat sang putri kecil baru saja menemukan pelindungnya.

______

Mentari pagi melayang anggun di atas Pegunungan Selatan, menyebarkan sinar keemasan yang memantul di atas permukaan embun di daun-daun lotus.

Di Desa Bunga Lotus, kehidupan rakyat berjalan penuh kesederhanaan. Bau asap kayu bakar bercampur aroma gurih bubur gandum menusuk hidung, diiringi gelak tawa anak-anak yang berlarian di jalanan tanah.

Namun, di balik kedamaian yang tampak di permukaan, sebuah bahaya mematikan sedang merayap dari balik bukit.

Di dalam rumah beratap jerami di ujung desa, Tuan Zhao berdiri membelakangi jendela kayu yang terbuka sedikit. Matanya yang tajam mengawasi kabut tipis di pinggir hutan.

Di sampingnya, Dayang Xiu yang baru saja terjaga dari pingsannya sedang terduduk di atas bale-bale bambu dengan tubuh yang masih lemas dan terbungkus perban tipis.

Di dalam pelukan Tuan Zhao, bayi Zhao Lianhua terbangun. Jemari mungilnya bergerak-gerak di udara, seakan ingin menggapai sinar matahari pagi tanpa sedikit pun menyadari takdir besar dan bahaya yang sedang mengintainya.

"Xiu, kau harus beristirahat," ujar Tuan Zhao tanpa memalingkan pandangan dari luar. Suaranya serak namun penuh kewaspadaan. "Luka di punggungmu belum sepenuhnya rapat."

"Hamba tidak bisa tenang, Tuan Zhao..." jawab Xiu dengan suara parau. Ia mencoba bangkit, tetapi rasa nyeri melilit pinggangnya. "Panglima Gao bukan orang yang gegabah. Jika ia kehilangan jejak hamba di dekat lembah ini, ia pasti akan mendatangi tempat ini. Istana tidak akan pernah membiarkan rahasia ini tetap hidup."

Tuan Zhao membalikkan badan, dan menatap wajah polos Lianhua. Senyum tipis terukir di bibirnya yang penuh luka parut. "Tempat ini adalah rumah bagi para veteran perang yang dilupakan kekaisaran. Mereka tahu cara memegang cangkul, tetapi mereka juga tidak lupa cara mengayunkan pedang. Jika prajurit istana datang dengan niat jahat, tanah ini yang akan menelan mereka."

Tiba-tiba, suara tembakan anak panah berapi membelah udara pagi!

Ssssh... BUM!

Anak panah berapi menghantam atap jerami rumah tetangga Tuan Zhao, hingga menyulut kobaran api merah yang dengan cepat dilalap angin pagi. Teriakan histeris warga desa pun pecah seketika.

"Penyamun! Penyamun menyerang desa!" jerit seorang wanita dari luar.

Bersambung...

1
Fitri 066
cerita nya sangat sangat bagus kk...terus semangat ya kk..💪💪💪
Aurora: makasih Kaka... siap, JD tambah semangat 😃🤗🙏
total 1 replies
Amy Asmeera
itulah pelik baca atas bawah atas bawah🤣terima kasih cerita nya menarik.hari2 tunggu update nya
Aurora: iya kak, othor baru ngeh, Lo episode 42 nya mana 😅
total 1 replies
chelsea dian
amazing
Murni Dewita
👣
Rubi Yati
merinding aku bacanya Thor,secangkir kopi☕ untukmu ,semangat nulisnya y💪💪💪
Aurora: makasih Kaka.... secangkir kopi nya bikin author jadi tambah semngat nulisnya 🤗
total 1 replies
Arix Zhufa
seruuu😍😍
Aurora: Alhamdulillah... makin semangat deh bikin ceritanya 😃🤗🙏
total 1 replies
Arix Zhufa
up
Arix Zhufa
saya terharu
Arix Zhufa
cerita nya bagus
Arix Zhufa
Mampir thor...semoga sampai tamat
Aurora: Makasih kakak... aamiin... semoga suka🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!