Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERBANGUN DALAM RANTAI
Bau alkohol medis yang terlampau tajam adalah hal pertama yang langsung menusuk indera penciuman Leo, disusul oleh aroma karat logam dan bau tembaga dari darahnya sendiri yang sudah mengering. Kepalanya terasa sangat berat, berdenyut-denyut seolah baru saja dihantam godam baja berulang kali. Sayup-sayup, telinganya menangkap suara dengungan monoton dari kipas pendingin puluhan mesin server yang terus menyala tanpa henti.
Leo mencoba membuka kelopak matanya perlahan. Cahaya silau dari tiga layar monitor berukuran raksasa di sudut ruangan memaksanya untuk kembali menyipitkan mata, berusaha keras menyesuaikan diri dengan penerangan ruangan bawah tanah yang remang-remang. Tenggorokannya terasa kering seperti diisi pecahan kaca, dan saat ia mencoba menelan ludah, rasa perih menjalar di sepanjang lehernya.
Ingatan terakhirnya kembali menghantamnya seperti ombak badai—tembakan Vargas, jatuh ke sungai yang membeku, rasa sakit neraka saat peluru dicabut paksa dari bahunya tanpa obat bius, dan wajah seorang gadis berjas hujan kuning.
Secara refleks, Leo mencoba bangun untuk duduk. Namun, tubuhnya menolak bergerak. Bukan hanya karena rasa ngilu luar biasa yang meledak serentak di pundak kanan dan betis kirinya, melainkan karena ada sesuatu yang menahan pergelangan tangan dan kakinya dengan sangat kuat.
Klotak! Brak!
"Sialan!" umpat Leo seraya menarik tangan kirinya dengan paksa, tapi yang terdengar hanyalah suara gesekan sabuk kulit tebal yang mengikat pergelangan tangannya kuat-kuat ke kaki meja baja.
Ia segera mencoba menggerakkan kakinya, namun kabel pengaman tebal yang melilit pergelangan kakinya mengunci pergerakannya dengan sangat sempurna. Pangeran klan Valenti itu menyadari realitas pahitnya; ia kini terbaring telentang tak berdaya di atas meja logam berlumuran darahnya sendiri, diikat layaknya hewan buruan yang siap dieksekusi.
"Lepaskan benda sialan ini!" teriak Leo dengan suara serak dan napas yang memburu.
Ia kembali meronta, mencoba memanfaatkan sisa tenaganya, namun ikatan itu tidak bergeser sedikit pun. Rasa sakit di bahunya makin menyiksa akibat pergerakan kasarnya.
Dari sudut ruangan yang gelap, terdengar suara derap langkah kaki pelan dan teratur mendekat. Sebuah bayangan bergeser dari balik deretan rak server hitam yang menjulang tinggi. Elena muncul ke bawah cahaya remang, memegang sebuah cangkir keramik berisi kopi hitam yang masih mengepulkan asap tipis. Ia mengenakan kaus hitam ketat dan celana kargo, menatap Leo dengan sorot mata yang luar biasa tenang, sangat kontras dengan kepanikan dan kemarahan yang sedang Leo rasakan.
"Kau baru saja kehilangan hampir seliter darah, tulang selangkamu hancur retak, dan aku harus menjahit betismu belasan kali semalaman," ucap Elena santai seraya menyesap kopinya perlahan, seolah sedang menonton televisi. "Berteriak dan meronta seperti orang gila hanya akan membuat jahitanku robek kembali, dan aku sungguh tidak punya niat untuk menjahitmu kedua kalinya malam ini."
"Siapa kau? Lepaskan ikatannya sekarang juga!" gertak Leo menatap tajam mata gadis itu, tangannya kembali menarik sabuk kulit keras-keras tanpa memedulikan peringatan Elena.
"Sudah kubilang semalam saat kau merengek kesakitan, panggil aku Elena," balas Elena berjalan mendekati meja baja, meletakkan cangkir kopinya di atas rak perkakas kecil di sebelah meja operasi dadakan itu. "Dan mengenai ikatan itu, kurasa kau akan tetap berada di posisi itu sampai aku yakin kau tidak akan mencekikku sampai mati setelah kau bisa berdiri."
"Aku tidak punya urusan denganmu, Elena, atau siapa pun dirimu sebenarnya. Aku harus pergi dari sini sekarang juga!" Leo mendesis penuh amarah, memaksakan kepalanya terangkat untuk menatap gadis berambut sepundak di depannya.
"Pergi ke mana?" tawa Elena terdengar mengejek dan sinis. "Ke jalanan? Ke pelabuhan tua tempat aku memungutmu? Seluruh anjing penjaga Marco sedang menyisir setiap jengkal kota ini untuk mencari kepalamu, Pangeran. Namamu sedang disiarkan di seluruh frekuensi radio bawah tanah dan polisi korup sebagai pembunuh keji Don Antonio. Kau keluar dari pintu baja di atas sana dengan kondisi setengah mati seperti ini, kau akan tamat dalam waktu kurang dari sepuluh menit."
Leo terdiam kaku. Rentetan kata-kata Elena meredam amarahnya seketika, digantikan oleh realita pahit yang kembali menghantam ulu hatinya. Ayahnya telah tiada. Marco sang pengkhianat telah menguasai seluruh takhta klannya. Dan ia sekarang bukan siapa-siapa, hanya buronan yang nyaris mati menjadi makanan ikan jika gadis peretas gila ini tidak menemukannya di tepi dermaga.
"Kenapa kau menyelamatkanku?" tanya Leo dengan nada yang jauh lebih rendah, walau masih diselimuti kecurigaan tebal. "Orang-orang di dunia bawah tahu siapa Phantom. Jaringanmu tidak pernah bekerja secara cuma-cuma. Apa yang kau inginkan dari keluarga Valenti? Uang tebusan? Perlindungan?"
"Keluarga Valenti?" Elena tersenyum miring, sebuah senyuman dingin yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Keluarga Valenti sudah berakhir semalam, Leo. Saat ini, kau hanyalah pria gelandangan yang kebetulan memiliki nama belakang yang kelewat berat untuk ditanggung. Dan soal uang, kau pikir kau masih punya akses ke rekening klanmu? Marco pasti sudah membekukan dan meretas seluruh asetmu sebelum darah ayahmu mengering di atas panggung Grand Royale."
"Marco keparat," geram Leo pelan, giginya bergemeretak menahan amarah yang kembali mendidih di dada. "Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri."
"Dengan apa? Tangan kirimu yang kuikat pakai sabuk kulit? Atau kaki pincangmu yang baru saja kujahit?" ejek Elena terang-terangan tanpa belas kasihan.
Ia menarik sebuah kursi roda yang bannya sudah dimodifikasi, lalu duduk bersandar santai tepat di samping meja Leo.
"Mari kita bicara soal realita, Tuan Valenti. Kau berutang nyawa padaku. Aku menarikmu dari sungai, mencabut dua peluru yang meremukkan tulangmu, dan menyembunyikanmu dari pasukan kematian Marco. Dan kau benar tentang satu hal, aku tidak pernah melakukan apa pun secara cuma-cuma."
"Katakan saja apa maumu," sahut Leo membalas tatapan tajam mata cokelat gadis itu tanpa berkedip. "Asal kau melepaskan ikatan ini dan membiarkanku merencanakan pembalasanku, aku akan berikan apapun yang kau minta nanti."
"Aku tidak butuh uangmu yang sudah disita itu," ucap Elena santai seraya menyilangkan kakinya, menatap Leo seperti sedang menilai barang dagangan. "Aku butuh informasi tingkat tinggi. Aku butuh akses ke jaringan paling dalam milik mafia kota ini, sesuatu yang hanya diketahui oleh keluarga inti Valenti. Password server utama perbankan gelap kalian, letak brankas rahasia, dan daftar lengkap nama pejabat kota yang disuap oleh ayahmu selama sepuluh tahun terakhir."
Leo mengernyitkan dahinya, merasa terkejut dengan permintaan tersebut.
"Untuk apa kau menginginkan semua itu? Kau hanya seorang makelar data bayaran. Informasi sebesar itu hanya akan membunuhmu jika kau mencoba menjualnya ke klan musuh."
"Itu urusanku dan bukan urusanmu," potong Elena dingin, sorot matanya mendadak berubah tajam bagai belati yang siap menggorok leher. "Kau tidak ada dalam posisi untuk menawar, memberi nasihat, atau bertanya. Jika kau tidak mau memberikan apa yang aku minta, aku bisa membiusmu sekarang, memasukkanmu ke dalam bagasi mobil curianku, dan mengantarkanmu langsung ke depan pintu rumah Marco untuk mengambil hadiah sayembara sepuluh juta dolarku. Uang sebanyak itu juga terdengar tidak buruk untuk modal kabur ke luar negeri."
Leo menatap lekat-lekat wajah gadis itu. Ia tahu Elena tidak sedang sekadar menggertak. Dari cara Elena melakukan operasi bedah tanpa ampun padanya semalam, Leo sadar bahwa peretas di depannya ini memiliki mental baja yang ditempa oleh kerasnya kehidupan dan kekejaman bawah tanah. Ia tidak peduli pada siapa pun kecuali dirinya sendiri.
"Aku tidak akan membiarkan Marco duduk tenang di atas takhta ayahku lebih dari yang seharusnya," gumam Leo, matanya menatap langit-langit beton dengan rahang yang mengeras keras. "Jika kau melepaskanku dan membantuku menghancurkannya, kau bisa mendapatkan semua data dan akses yang kau mau dari klan Valenti. Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa kalau kau mengikatku seperti babi guling di atas meja berdarah ini."
Elena terdiam sejenak, menimbang-nimbang kata-kata pangeran mafia tersebut. Ia tahu Leo tidak berbohong soal dendamnya; matanya memancarkan api kebencian yang murni. Namun, mempercayai seorang Valenti—apalagi yang sedang terluka dan putus asa—adalah sebuah pertaruhan nyawa yang bisa berakhir dengan peluru di kepalanya sendiri.
"Aku akan melepaskan ikatanmu," ucap Elena akhirnya seraya bangkit berdiri dari kursi rodanya. "Tapi ingat satu hal baik-baik, Leo. Ini adalah wilayahku. Tidak ada pengawal setiamu di sini. Jika kau mencoba melakukan gerakan bodoh, mencoba menyentuhku, atau berniat mencuri senjataku, aku berani jamin peluru berikutnya tidak akan mengenai bahumu, tapi akan bersarang tepat di antara kedua matamu. Kita sepakat?"
"Sepakat," jawab Leo singkat dengan nada berat, menyadari ia benar-benar tidak punya pilihan lain malam ini.
Elena melangkah mendekati pergelangan tangan kiri Leo. Ia menarik napas pelan, lalu dengan gerakan cekatan dan waspada, ia membuka gesper logam dari sabuk kulit yang mengunci tangan pria itu. Begitu ikatan tangannya terlepas, Leo langsung memegang pundak kanannya yang terbalut perban tebal, meringis menahan sakit yang masih berdenyut-denyut hingga ke pangkal leher.
Elena kemudian berpindah ke bagian kaki meja logam, membongkar simpul kabel pengaman yang melilit pergelangan kaki Leo dengan tangkas. Setelah semua ikatan terlepas, Elena segera mundur tiga langkah lebar, menjaga jarak aman, sementara tangan kanannya sengaja diletakkan bersandar di pinggang tempat pistol Glock-nya berada.
Dengan susah payah dan menahan napas, Leo memaksakan tubuhnya untuk duduk di atas meja logam yang dingin. Kepalanya berputar hebat, pandangannya berkunang-kunang sesaat. Ia harus bertumpu pada lengan kirinya agar tidak kembali terjatuh telentang. Ia menunduk, menatap celananya yang kotor dan perban tebal di pundaknya yang masih menyisakan sedikit bercak merah darah.
"Sial... rasanya sekujur tubuhku seperti baru saja dilindas truk pengangkut pasir," keluh Leo seraya memijat pelipisnya dengan tangan kirinya yang bebas.
"Kau selamat dari dua tembakan mematikan jarak dekat, jatuh dari ketinggian, dan tenggelam di Sungai Acheron saat badai," balas Elena datar tanpa intonasi simpati sedikit pun. "Kupikir kau harus bersyukur pada Tuhan karena masih bisa merasakan sakit di tubuhmu."
Leo mendongak, menatap gadis peretas itu dengan pandangan yang rumit. Di satu sisi, Elena adalah ancaman yang berbahaya, pihak luar oportunis yang memanfaatkan kelemahannya untuk mencuri rahasia klan. Tapi di sisi lain yang tak bisa dibantah, tangan-tangan kasar gadis inilah yang mengulurkan hidup kedua untuknya.
"Kau punya air minum?" tanya Leo serak, menelan ludah yang terasa perih di kerongkongannya.
Elena menggerakkan kepalanya, menunjuk ke arah meja kecil di sudut ruangan yang dipenuhi kabel.
"Ada botol air mineral di sana, dan sisa botol wiski dari operasimu semalam kalau kau butuh pereda nyeri tambahan. Minum dan istirahatlah sepuluh menit. Aku harus mengecek kamera keamanan di pelabuhan dan perempatan kota untuk melihat apakah anjing-anjing Marco masih mengendus di sekitar sini," ucap Elena sebelum membalikkan badannya dan berjalan menghadap ke deretan layar monitor raksasanya, mulai mengetikkan barisan kode dengan cepat.
Leo menggeser kakinya turun dari meja operasi perlahan-lahan. Saat telapak kakinya yang pucat menyentuh lantai beton bawah tanah yang dingin, kakinya gemetar hebat menahan berat badannya sendiri. Ia memejamkan mata, membiarkan kemarahan dan dendam yang membara di dadanya menjadi bahan bakar untuk menahan rasa sakit.
Sumpah di atas atap hotel itu kembali terngiang di telinganya. Malam ini, pewaris takhta klan Valenti mungkin telah mati terbunuh dalam sejarah kota. Tapi dari dalam ruang bawah tanah yang lembap dan tersembunyi ini, sang pembalas dendam baru saja terbangun dari rantainya.