“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara
Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.
“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”
Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.
Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berangkat Bersama??...
Di ruang makan, suasana terasa seperti panggung sandiwara. Adrian Bagaskara duduk di kepala meja sambil membaca koran, sementara Livia Anggriani sibuk menyesap kopi dengan pandangan yang tidak lepas dari ponselnya.
Reja duduk di seberang ayahnya, tampak acuh tak acuh sambil memainkan sendoknya.
"Pagi, Pa... Ma," ucap Celin pelan sambil menarik kursi di samping Reja.
"Pagi, Celin. Tidurmu nyenyak?" tanya Adrian dengan nada kebapakan yang tulus.
"Sangat nyenyak, Pa," jawab Celin bohong. Ia bisa merasakan tatapan sinis Reja dari samping, namun ia mengabaikannya.
"Bagus. Reja, Papa sudah minta sopir untuk mengantar kalian bersama mulai hari ini. Tidak ada lagi Reja bawa mobil sendiri dan Celin naik angkot. Kalian adalah suami istri, jaga martabat keluarga ini," perintah Adrian tanpa bisa dibantah.
Reja membanting sendoknya ke piring. "Tapi Pa, kalau anak-anak sekolah lihat—"
"Itu perintah, Reja!" suara Adrian meninggi.
Livia mendengus pelan. "Sudahlah Reja, turuti saja papa kamu. Lagipula, siapa yang peduli dengan apa yang dipikirkan anak-anak sekolah itu?"
Celin hanya menunduk, menyuap sarapannya perlahan. Ia tahu ini adalah awal dari bencana baru. Di sekolah, Reja punya reputasi sebagai pangeran sekolah yang single dan berkelas.
Masuk ke sekolah bersama gadis beasiswa adalah mimpi buruk bagi Reja, dan Celin tahu dialah yang akan menjadi sasaran amarah pria itu nanti.
Begitu mobil mewah itu memasuki area belakang sekolah yang agak sepi, Reja langsung memberikan perintah dingin.
"Turun lo sekarang. Jangan sampai ada yang lihat lo keluar dari mobil gue."
Celin tidak membantah. Ia membuka pintu mobil, namun sebelum benar-benar keluar, ia menoleh ke arah Reja. "Gue juga nggak sudi orang-orang tahu kalau gue terikat sama cowok kayak lo. Jadi tenang aja, rahasia lo aman sama gue."
Brak!
Celin menutup pintu dengan keras dan berjalan menuju kelas dengan langkah tegap. Di koridor kelas XII-IPA 2, Kirei sudah menunggunya dengan wajah cemas.
Begitu melihat Celin, Kirei langsung menariknya ke sudut yang sepi. "Celin! Lo telat lima menit tadi. Gue takut lo kenapa-kenapa di jalan,"
Kirei meneliti wajah Celin. "Bibir lo... kok makin jelas biru-birunya? Celin, jujur sama gue, bokap lo mukul lo lagi?"
Celin menggeleng, mencoba memberikan senyum yang meyakinkan. "Gue cuma jatuh di kamar mandi tadi pagi, Rei. Serius, gue oke."
"Lo nggak pernah oke, Celin!" Kirei memegang bahu sahabatnya. "Nanti sore di kafe, nyokap gue masak makanan kesukaan lo. Lo harus makan banyak. Lo keliatan makin kurus."
Hati Celin berdesir. Kebaikan Kirei adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa masih memiliki bagian dari masa lalunya yang indah.
"Makasih ya, Rei."
Jam istirahat tiba. Celin sedang berada di perpustakaan, mencoba memperbaiki catatan Kimia-nya yang rusak karena kopi semalam. Tiba-tiba, bayangan seseorang menutupi mejanya.
Bukan Reja, melainkan Tania.
Gadis itu berdiri dengan tangan bersedekap, diikuti oleh dua orang temannya yang menatap Celin dengan pandangan merendahkan.
"Heh, anak beasiswa," panggil Tania dengan nada tinggi. "Gue denger semalam lo ada di rumah Reja ya? Bu Livia bilang lo cuma tukang cuci piring baru di sana. Kok lo berani banget ya jawab gue kayak gitu semalam?"
Celin tidak mengangkat wajahnya dari buku. "Gue cuma bicara fakta. Kalau lo merasa tersinggung, itu bukan urusan gue."
Tania menggebrak meja perpustakaan, membuat beberapa siswa menoleh. "Lo itu nggak sadar posisi ya? Lo cuma sampah yang dipungut keluarga Bagaskara karena bokap lo itu tukang judi! Jangan harap lo bisa ambil Reja dari gue cuma karena lo tinggal di sana."
Celin perlahan menutup bukunya. Ia berdiri, menatap Tania dengan sorot mata yang begitu dingin hingga membuat Tania sedikit mundur.
"Reja? Lo mau dia? Ambil," ucap Celin pelan namun tajam. "Gue nggak butuh cowok yang bahkan nggak punya harga diri buat berdiri di atas kakinya sendiri. Dan soal bokap gue... seenggaknya dia nggak pura-pura baik di depan orang lain kayak lo."
"Lo—!" Tania mengangkat tangannya, hendak menampar Celin.
Namun, sebuah tangan kekar menangkap pergelangan tangan Tania di udara.
"Reja?" Tania terkejut melihat Reja sudah berdiri di belakangnya. "Reja, liat! Anak ini berani ngehina aku! Dia bilang aku nggak punya harga diri!"
Reja menatap Tania datar, lalu beralih menatap Celin yang masih berdiri dengan tenang tanpa rasa takut sedikit pun. Reja teringat kata-kata Celin semalam tentang 'rasa sakit yang tidak bisa ia kontrol'.
"Pergi, Tan," ucap Reja pendek.
"Tapi Rej—"
"Gue bilang pergi!" bentak Reja.
Setelah Tania dan gengnya pergi dengan wajah kesal, suasana perpustakaan yang sepi itu terasa semakin mencekam.
Reja menatap Celin, tangannya merogoh saku celana dan mengeluarkan sebuah jam tangan baru yang masih berada dalam kotak. Ia meletakkannya dengan kasar di atas meja Celin.
"Pakai itu. Gue nggak mau Papa lihat jam lo yang pecah kemarin dan mikir gue yang lakuin," ketus Reja.
Celin menatap kotak jam tangan mahal itu, lalu menatap Reja. "Gue nggak butuh pemberian dari lo."
"Ini bukan pemberian, ini perintah!" Reja mendekat, berbisik di telinga Celin. "Tutupin luka sialan di tangan lo itu. Gue nggak mau reputasi gue hancur karena lo keliatan kayak orang depresi di sekolah ini."
Reja berbalik pergi, namun langkahnya terhenti saat Celin berbicara.
"Lo takut orang tahu gue depresi, atau lo takut orang tahu kalau lo adalah alasan kenapa gue lebih suka nyayat tangan gue sendiri?"
Reja tidak menjawab. Ia mempercepat langkahnya keluar dari perpustakaan, meninggalkan Celin yang menatap jam tangan baru itu dengan perasaan campur aduk.
Di antara rasa benci dan penderitaan, ada sesuatu yang mulai retak di dalam dinding pertahanan mereka berdua.
Celin menatap kotak jam tangan bermerek itu dengan pandangan kosong. Ia tidak merasa senang, justru merasa terhina. Baginya, setiap barang mewah yang diberikan keluarga Bagaskara adalah rantai baru yang mengikat lehernya.
Namun, ia juga tahu bahwa jika ia menolak, Reja akan mencari cara lain untuk menyiksanya atau bahkan mengancam ayahnya lagi.
Perlahan, Celin membuka kotak itu dan memasang jam tangan tersebut di pergelangan tangan kirinya. Besinya yang dingin menyentuh kulitnya yang masih terbalut perban tipis, seolah-olah besi itu mencoba membekukan rasa sakit yang ada di sana.
---
Celin memakai helmnya, mencoba mengunci fokus hanya pada punggung Kirei. Ia tidak ingin hari ini rusak.
Namun, saat motor Kirei mulai bergerak perlahan melewati gerbang sekolah, pemandangan di depan sana membuat suasana seketika membeku.
Di dekat deretan mobil mewah, Reja berdiri dikelilingi gengnya. Di sampingnya, Tania tertawa manja sambil menggelayut di lengan Reja.
Begitu motor Kirei melintas tepat di depan mereka, Reja sengaja tidak memalingkan wajah. Matanya mengunci mata Celin di balik kaca helm yang bening.
Dengan gerakan lambat yang sengaja dipamerkan, Reja menunduk dan mengecup pipi Tania dengan mesra. Teman-teman Reja bersiul nakal, sementara Tania tersenyum penuh kemenangan, seolah baru saja mendapatkan piala paling berharga.
Reja kemudian mengangkat wajahnya, menatap Celin langsung dengan smirk yang menghina. Ia ingin melihat Celin hancur, marah, atau setidaknya menunjukkan gurat cemburu.
Namun, Celin tetaplah Celin. Di balik kaca helm, mata Celin menatap Reja dengan kekosongan yang mematikan. Tidak ada kemarahan, tidak ada air mata.
Hanya ada tatapan dingin seolah ia baru saja melihat seonggok sampah di pinggir jalan yang tidak layak diberi perhatian. Ia mengalihkan pandangannya kembali ke depan, mengabaikan Reja seolah pria itu tidak pernah ada.
Bersambung...