NovelToon NovelToon
The Actress Who Fell For A Hidden Heir

The Actress Who Fell For A Hidden Heir

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Duniahiburan
Popularitas:913
Nilai: 5
Nama Author: sphinxeditz77

Alya Renata adalah aktris terkenal yang hidupnya selalu berada di bawah sorotan kamera.

Arka Pratama hanyalah seorang mahasiswa yang terlihat biasa—tenang, sederhana, dan tidak tertarik dengan dunia selebritas.

Pertemuan tak sengaja di tengah hujan membuat dua dunia yang berbeda mulai saling mendekat.

Alya tidak pernah menyangka bahwa pria yang membuatnya merasa nyaman itu menyimpan identitas besar di balik kehidupannya yang sederhana.

Arka bukan sekadar mahasiswa.

Ia adalah pewaris keluarga Pratama, salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini.

Ketika cinta mereka mulai diketahui publik, mereka harus menghadapi usia, keluarga, media, karier, dan perbedaan dunia yang semakin sulit diabaikan.

Karena mencintai seseorang ternyata mudah.

Yang sulit adalah memilih untuk tetap berjalan bersamanya ketika seluruh dunia meminta mereka berpisah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dibawah Satu Payung yang Sama — Part 2

Alya memutuskan untuk memecah keheningan yang nyaman itu.

"Arka."

"Ya?"

"Sebenarnya kamu kuliah jurusan apa sih?"

Arka sedikit menoleh ke bawah. "Bisnis Manajemen."

"Kenapa pilih jurusan itu?"

Arka tidak langsung menjawab. Ia menatap ke arah depan cukup lama. "Awalnya... karena ayah saya."

Alya menatap rahang pria itu dari samping. "Disuruh?"

"Bukan disuruh secara langsung." Arka tersenyum tipis yang sulit diartikan. "Lebih tepatnya... diarahkan. Diberi ekspektasi."

Alya mengangguk pelan, mencoba memahami. "Tapi kamu sendiri suka kuliah di situ?"

"Kadang."

"Cuma kadang?"

"Kalau dosennya enak dan logis ngajarnya, saya suka."

Alya tertawa tertahan. "Kalau dosennya galak?"

"Saya pura-pura sakit terus absen."

"Serius?!"

Arka terkekeh pelan. "Enggaklah. Sayang jatah bolos."

Alya ikut tertawa. Suara tawa mereka berpadu dengan ritme hujan di atas payung.

Beberapa saat kemudian, Alya kembali bertanya. "Berarti kamu sudah punya rencana fix soal mau ke mana habis ini?"

Pertanyaan sederhana itu kembali membuat Arka diam.

Ia memindahkan genggaman payung ke tangan kirinya. "Belum tahu."

Alya mengernyit. "Lho? Sebentar lagi lulus, kan? Masa belum tahu?"

"Belum."

Sebenarnya, Arka sangat tahu. Setelah prosesi wisuda, surat panggilan dari kantor pusat Skysea Group sudah menunggunya. Ia harus mulai mengenakan setelan jas, masuk ke ruang rapat direksi, dan menghadapi ekspektasi ayahnya.

Namun, itu jelas bukan sesuatu yang ingin ia ceritakan pada wanita di sebelahnya. Setidaknya, tidak saat ini.

Alya sepertinya menyadari keengganan Arka, sehingga ia tidak memaksa untuk menggali lebih dalam. "Nggak apa-apa kok kalau belum tahu. Pelan-pelan aja."

Arka membalas tatapannya. "Kalau kamu sendiri gimana?"

"Apanya?"

"Rencana kamu. Setelah semua ini."

Alya terdiam. Pertanyaan Arka itu terasa sangat berbeda dari pertanyaan jurnalis yang biasa ia dengar.

Alya menatap aspal jalanan kampus yang dialiri air hujan. "Entahlah."

"Maksudnya entah? Nama kamu kan sudah lumayan terkenal."

"Justru itu." Alya memaksakan sebuah senyum kecil yang terlihat lelah. "Kadang saya nanya ke diri sendiri... sampai kapan saya harus terus hidup kayak gini."

Arka tidak menyela, memberikan ruang bagi wanita itu untuk berbicara.

Alya menghela napas, suaranya pelan nyaris tertutup derau hujan. "Syuting film, promosi tour, interview di talkshow, datang ke gala premiere, terus tanda tangan kontrak dan syuting proyek baru lagi. Gitu terus looping."

Alya menoleh menatap mata Arka. "Kadang... saya cuma pengin lakuin sesuatu yang sangat biasa."

"Seperti?"

Alya berpikir sejenak, matanya sedikit berbinar. "Seperti... makan mi instan di warkop pinggir jalan tengah malam tanpa ada yang memotret diam-diam."

Arka mengangguk setuju. "Masuk akal."

"Terus?"

"Mungkin belanja ke minimarket cuma pakai celana training dan kaus oblong lusuh, tanpa harus pakai masker dan topi yang bikin sesak."

"Betul banget."

"Atau naik kereta umum jam sibuk?"

Alya tertawa. "Wah, kalau yang itu lumayan berbahaya."

"Kenapa?"

"Kalau sampai ada satu orang yang ngenalin wajah saya di gerbong, bisa jadi satu stasiun kereta bakal chaos minta foto. Saya nggak mau masuk berita lagi karena bikin macet."

Arka ikut tertawa.

Tawa Alya mereda, dan ia menatap wajah tenang Arka dengan serius. "Kalau kamu sendiri gimana, Ka?"

"Kalau saya kenapa?"

"Kalau kamu dikasih kebebasan untuk lakuin apa saja tanpa perlu mikirin ekspektasi orang lain, kamu mau hidup seperti apa?"

Langkah Arka perlahan memelan hingga akhirnya ia berhenti. Alya ikut berhenti.

Hujan masih mengguyur payung mereka dengan lebat. Arka menatap lurus ke arah parkiran di depan.

"Saya cuma pengin hidup biasa."

Alya menatap wajah pria itu dari samping. "Sesederhana itu?"

"Iya."

Suara Arka terdengar lebih dalam. "Saya cuma pengin orang-orang mandang dan memperlakukan saya sebagaimana diri saya. Bukan berbeda hanya karena siapa keluarga yang ada di belakang saya."

Alya tidak tahu bahwa ada penderitaan besar di balik kalimat singkat itu. Ia tidak tahu bahwa menjadi "biasa" bagi Arka bukan sekadar mimpi iseng, melainkan sebuah pelarian dari beban dinasti bisnis konglomerat yang mencekiknya.

Alya memikirkan kalimat itu, lalu tersenyum simpul yang sangat cantik.

"Berarti... kita mirip ya."

Arka perlahan menoleh. "Mungkin."

"Kamu pengin hidup biasa sebagai manusia normal." Alya menatap lurus ke mata pria itu. "Saya juga sama."

Mereka kembali terdiam saling menatap. Tidak ada yang mengatakan apa pun, tetapi untuk beberapa detik, keduanya seperti memahami sesuatu yang selama ini sulit mereka jelaskan kepada orang lain.

Mereka memang berasal dari dunia yang berbeda. Namun ternyata, keinginan mereka untuk menjalani hidup sebagai diri sendiri tidak jauh berbeda.

Mereka melanjutkan langkah hingga akhirnya tiba di depan area parkir utama.

Mobil MPV hitam milik Alya sudah menunggu dalam kondisi mesin menyala. Seorang staf produksi berlari kecil menghampiri sambil membawa payung besar.

"Mbak Alya!"

Alya segera menyingkir dari bawah payung Arka agar stafnya bisa memayunginya. Ia menoleh ke arah Arka.

"Terima kasih payungnya, Arka."

Arka mengangguk santai. "Sama-sama."

Alya menunjuk benda di tangan Arka. "Lho, payungmu kok basah ujung pegangannya?"

Arka refleks melihat gagang payung di tangannya, lalu mengangkat bahu. "Bocor dikit mungkin."

Ia tidak memberi tahu Alya bahwa pundak kirinya juga setengah basah kuyup karena sengaja memiringkan payung itu agar Alya tidak terkena rintik hujan.

"Besok saya kembaliin payungnya ya," canda Alya.

"Enggak usah. Punya saya kok itu."

"Lho kan ini payung pinjaman judulnya waktu kita jalan tadi." Alya memicingkan mata sambil tersenyum.

Arka tertawa pasrah. "Terserah kamu deh."

Alya memegang handle pintu mobil yang sudah dibukakan. Namun sebelum ia masuk ke dalam, ia menoleh kembali.

"Arka."

"Ya?"

"Kamu tadi bilang kamu pengin hidup biasa, kan?"

"Iya."

Alya memberikan senyum termanis yang pernah ia berikan hari itu, senyum murni yang tak pernah terekam kamera mana pun. "Semoga kamu bisa cepat dapetin kehidupan biasa itu ya."

Arka membalas senyumnya dengan tulus. "Semoga kamu juga."

Alya mengangguk, lalu masuk ke dalam kabin mobil yang hangat. Pintu geser tertutup otomatis dengan suara pelan.

Mobil itu pun mulai bergerak perlahan membelah genangan air, meninggalkan area kampus.

Arka masih berdiri terpaku di bawah payungnya, memperhatikan lampu belakang mobil itu hingga menghilang dari pandangan. Anehnya, meskipun ia harus menunggu hujan reda atau naik ojek online, ia tidak merasa terganggu sama sekali.

Ia memutar gagang payung di tangannya, tersenyum kecil melihat air yang terpental dari kainnya.

"Kayaknya besok dia beneran bakal nyamperin lagi."

Di dalam mobil mewah yang hangat, Alya duduk bersandar sambil memeluk tasnya.

Asistennya yang duduk di kursi depan melirik dari kaca spion tengah.

"Mbak Alya."

"Hm?" Alya menyahut tanpa mengalihkan pandangan dari jendela.

"Payungnya... kok basah sih Mbak? Untung tadi ada mahasiswa yang mau barengin ya?"

Alya tidak merespons tentang payungnya. Ia menyentuh kaca jendela yang dingin berembun, mengukir sebuah garis abstrak dengan jarinya.

Sebuah kesadaran tiba-tiba menghantam ulu hatinya.

Besok... adalah hari terakhir jadwal syuting mereka di Universitas Bina Bangsa. Begitu adegan terakhir diteriakkan 'wrap', ia akan langsung kembali ke dunianya yang bising. Ke studio, ke acara penghargaan, ke red carpet.

Dan jika proyek ini selesai besok... secara logis, ia tidak akan memiliki alasan apa pun lagi untuk kembali ke kampus ini, dan tidak akan pernah bertemu Arka secara kebetulan lagi.

Pikiran itu seharusnya biasa saja. Itu adalah bagian dari kehidupan nomaden seorang pekerja film.

Tapi entah kenapa, memikirkan kenyataan bahwa ia tidak akan melihat mahasiswa bernama Arka itu lagi membuat dada Alya terasa sesak dan sedikit tidak rela.

Ia menatap rintik hujan yang berlomba-lomba turun di kaca mobil.

Sebuah senyum tipis, sekaligus nekat, muncul di wajah Alya. "Mungkin besok."

Asistennya menoleh ke belakang dengan bingung. "Besok apa, Mbak? Besok kita kelar syuting lho di sana."

Alya tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya kembali menyandarkan kepalanya.

Untuk pertama kalinya dalam karier profesionalnya yang sangat terencana, Alya Renata mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri:

Kalau besok adalah pertemuan kebetulan terakhir kami... apakah aku benar-benar rela membiarkannya berakhir cuma sampai di sini?

Bersambung...

1
joikendil joikendil
Gokil sih kak, bab ini definisi "kamu boleh masuk ke duniaku, tapi duniaku juga bakal ngebongkar duniamu". Alya pulang happy bawa definisi kampus = liburan, Arka ditinggal sama berita nasional nama lengkap + wajah HD. Jurnalisnya udah mulai ngetik Skysea Group. Gak sabar bom kebohongan besar Arka meledak.
joikendil joikendil
Jujur awalnya agak takut baca age gap karena biasanya cringe, tapi di sini age gap nya justru bikin nyaman.

Arka yang lebih dewasa cara mikirnya "panik juga gak bikin kita bisa terbang" dan kalem nutupin Alya pas ketahuan Dina, bikin Alya yang hidupnya capek jadi artis tuh ngerasa aman, bukan diatur. Bukan yang posesif "kamu gak boleh syuting", tapi yang support "Aku respect sama kamu, Al" habis lihat Alya take 9x.

Itu bedanya age gap yang mateng vs yang maksa. Protective tapi tetap ngasih ruang buat Alya berkarir. Suka banget dinamikanya!

Semangat kak, ditunggu update-nya!
sphinxeditz77: Wah, makasih banyak kak sudah kasih 5⭐ dan review sepanjang ini 😭🙏 Senang banget bacanya, apalagi karena kakak sampai nangkep detail tentang Arka yang protective tapi tetap kasih Alya ruang untuk berkarier.

Aku memang pengin hubungan mereka terasa seperti dua orang yang saling menghargai, bukan sekadar trope age gap. Jadi komentar seperti ini jujur bikin semangat banget buat lanjut nulis 😂🔥

Semoga bab-bab berikutnya tetap bikin kakak betah ngikutin Arka dan Alya. 🙏
total 1 replies
joikendil joikendil
Alya: "Besok datang lagi kan Ka?"

Arka: "Belum tentu, skripsi belum kelar"

AKU SEBAGAI PEMBACA: Arka, skripsimu bisa nunggu, Alya gak bisa! 😭

Next bab tolong Arka jangan ilang dulu, sponsor Alya lagi di ujung tanduk nih!
joikendil joikendil
Bab ini definisi "respect" kak. Arka yang awalnya mikir akting itu cuma hafal dialog + akting manis, sekarang lihat sendiri harus inget blocking, ekspresi, nada suara, arah kamera, vas bunga kesenggol aja harus ulang. Diulang 7x tanpa ngeluh. Terus Arka bilang "Aku respect sama kamu, Al" - bukan "cantik" bukan "akting bagus" yang klise. Alya aja kaget karena jarang ada yang ngomong gitu. Suka banget pergeseran Arka dari lihat Alya sebagai artis terkenal, jadi lihat Alya sebagai manusia pekerja keras. Tapi nomor portal gosip itu masih neror ya? Takut!
sphinxeditz77: Nahhh ini dia 😂🙏 Aku memang pengin momen itu jadi titik perubahan cara Arka melihat Alya. Bukan lagi sekadar “aktris terkenal”, tapi seseorang yang benar-benar bekerja keras di balik kamera. Dan setelah lihat take berkali-kali, menurut Arka kata “respect” jauh lebih tepat daripada sekadar bilang “cantik” atau “aktingmu bagus.” 😭🔥
total 1 replies
joikendil joikendil
Jujur nangis baca part ini kak. Arka gak muji gaun mahal, gak muji cantik, gak muji akting. Dia cuma bilang "Ngerti alasan logis kenapa tiap kita ketemu mata kamu selalu kelihatan sangat capek". ITU DALEM BANGET.

Alya yang udah 10 tahun dianggap trofi, baru kali ini ada yang ngeliat capeknya sebagai manusia. Dan Alya yang bilang 3x "Jangan pulang dulu" itu gemes banget. Tapi endingnya Riko manajer produksi + nomor portal gosip ngechat "Selamat sore Mas Arka Pratama?" MERINDING. Skysea Group mau kebongkar!
sphinxeditz77: Waduh sampai nangis 😭😂 makasih banyak kak! Bagian Arka melihat rasa capek Alya sebagai manusia memang penting banget buat perkembangan hubungan mereka. Tapi soal “Selamat sore Mas Arka Pratama?”... wkwkwk mulai masuk wilayah berbahaya itu 🤣
total 1 replies
joikendil joikendil
Akhirnya! Arka diajak lihat syuting langsung. Suka detailnya kak, bangunan heritage disulap jadi rumah mewah, kabel seukuran lengan, lampu HMI raksasa, take diulang 7 kali cuma gara-gara bayangan mic bocor.

Di sini baru Arka ngerti kenapa Alya bisa jadi aktris bayaran termahal - bukan karena cantik doang, tapi pas kamera nyala, Alya beneran lenyap dan jadi karakternya. Dan Arka yang dateng bawa 2 es kopi langganan mereka 😭 simple tapi sweet banget!
sphinxeditz77: Wkwkwk makasih kak 😂 Aku memang sengaja masukin detail-detail kecil di lokasi syuting supaya Arka dan pembaca sama-sama bisa melihat kalau dunia Alya ternyata nggak sesederhana “datang, cantik, lalu akting” 🤣 Dan 2 es kopi itu memang bentuk perhatian Arka yang paling sederhana 😂
total 1 replies
joikendil joikendil
Arka: "Punya foto kamu bukan keharusan buatku"

Alya seumur hidup: Langsung hangat dadanya

Kalimat paling tulus di novel ini. No gombal, cuma jujur. Love!
joikendil joikendil
Bab ini favorit aku sejauh ini kak! Alya yang biasanya dipuja-puja, histeris dimintain foto, tiba-tiba ketemu Arka yang cuma bilang "Oh." doang pas tau dia Alya Renata. No pansos, no minta tanda tangan. Justru itu yang bikin Alya insecure: "Apa muka aku biasa aja kalau tanpa makeup?" Padahal dia kangen diperlakukan normal. Psikologisnya dapet banget! Dan plot foto buram jaket denim di grup WA angkatan udah mulai nyebar, duhhh...
sphinxeditz77: Wkwkwk ini salah satu bagian yang paling aku suka juga 😂 Karena Alya sebenarnya bukan butuh orang yang terus-terusan mengaguminya, tapi orang yang bisa memperlakukannya sebagai Alya biasa. Dan Arka malah “Oh.” doang pas tahu dia Alya Renata 🤣
total 1 replies
joikendil joikendil
Kak ini bab paling tegang sejauh ini! Dari Alya nge-remas gelas kopi sampe plastiknya bunyi, terus Arka yang langsung "Ikut ke belakang. Percaya sama aku" - itu keren banget, gak banyak cing-cong. Tapi endingnya... ya ampun 😭 yang moto dari balkon lantai 2 fakultas itu siapa?? Foto Alya senyum-senyum sama Arka udah kesebar kayak virus katanya. Plis jangan cliffhanger lama kak!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!